ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
HAL YANG MUSTAHIL


__ADS_3

...****...


Selendang Merah menemui Ratu Sawitri Dewi. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang membuat seorang Ratu terhormat memanggil dirinya?.


"Hormat hamba gusti ratu."


"Silahkan duduk nimas selendang merah."


"Terima kasih gusti ratu."


"Pastinya kau bertanya-tanya, mengapa aku memanggilmu."


"Benar gusti prabu. Ada apa gerangan yang membuat gusti ratu memanggil hamba?."


Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil, senyuman yang sangat tulus. Begitu ramah, dan juga menenangkan hati.


"Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Mungkin ini sangat mengejutkan untukmu."


Selendang Merah masih diam, tidak menanggapinya. Karena ia begitu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ratu Sawitri Dewi.


"Aku akan menjodohkanmu dengan nanda prabu. Aku harap kau tidak menolaknya."


"Me-me-me-menjodohkan hamba dengan gusti prabu?."


"Ya, aku ingin kau menjadi permaisuri kerajaan ini. Namun aku ingin dengan nama aslimu, wajah aslimu."


"Tapi gusti ratu. Hamba adalah seorang pendekar pembunuh bayaran, serta hamba memiliki seorang anak."


"Aku tahu kau adalah orang yang jujur. Orang seperti kaulah yang pantas menjadi pendamping anakku. Kau berani bertindak, dan kau bisa menjadi penasihat yang luar biasa untuk nanda prabu."


"Mohon ampun gusti ratu. Bukan hamba bermaksud untuk menolak kesempatan bagus ini. Namun rasanya hamba tidak pantas saja mendampingi gusti prabu. Hamba seorang pendekar pembunuh bayaran gusti ratu."


"Sebaiknya pikirkan baik-baik masalah perjodohan ini. Aku akan menerima kau sebagai menantuku apa adanya. Yang aku sukai darimu adalah keberanianmu, keputusan yang kau ambil, serta tindakanmu. Aku yakin negeri ini akan lebih baik, jika memiliki ratu yang hebat sepertimu."

__ADS_1


"Mohon ampun sekali lagi gusti ratu. Sekali lagi hamba katakan, hamba terlahir dari keluarga keluarga pembunuh bayaran. Hamba tidak mau gusti ratu kecewa dengan hamba."


"Nanda prabu telah menceritakan semuanya tentang dirimu. Aku harap kau memikirkannya. Mari kita bangun negeri ini bersama-sama. Mari kita ubah negeri ini ke arah yang lebih baik lagi."


"Terima kasih atas kepercayaan gusti ratu pada hamba. Tapi hamba tidak bisa berjanji. Karena hamba hanyalah manusia yang penuh noda. Tangan hamba telah dilumuri darah. Hamba tidaklah baik, karena darah hamba juga darah pemburu mangsa."


Ratu Sawitri Dewi sangat kagum dengan apa kejujuran dari Selendang Merah. Dan ia sangat yakin, jika Selendang Merah adalah menantu yang baik.


"Jika masalah anak, aku akan menerimanya. Tapi aku tidak yakin kau memiliki suami."


"Apa maksud gusti ratu berkata seperti itu?."


"Apakah kau benar-benar telah menikah dan memiliki suami?. Meskipun kau adalah orang yang jujur. Aku yakin, ada hal yang tidak bisa kau katakan pada siapapun. Termasuk masalah pernikahanmu."


"Mohon ampun gusti ratu. Hamba tidak bisa mengatakannya pada gusti ratu. Maafkan hamba gusti ratu."


"Aku mengerti apa yang kau lakukan. Terkadang kita terpaksa melakukan itu, demi melindungi diri, atau melindungi seseorang. Atau bahkan memang tidak ingin berhubungan dengan orang itu, sehingga kau mengatakan. Jika kau telah memiliki suami dan anak. Maka orang itu tidak akan mengejarmu lagi."


Selendang Merah hanya terdiam. Ia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Ratu Sawitri Dewi. Ia tdiak membantah, karena apa yang dikatakan oleh Ratu Sawitri Dewi hampir benar.


"Hamba juga berharap, jika gusti ratu tidak menyesal. Karena hamba bisa saja berkhianat suatu hari nanti. Hati manusia bisa bercabang, jika ia memiliki hal yang lebih. Bahkan jika ia berada di atas puncak, bisa jadi ia lupa diri dan menginginkan hal yang lebih gusti ratu. Maafkan jika hamba lancang berkata seperti itu."


"Ya. Aku akan memikirkannya lagi, dan aku harap suatu hari nanti. Kau akan menunjukkan siapa dirimu. Siapa yang berada dibalik cadar merah itu. Dan aku yakin, dengan tanganmu. Pikiranmu, serta tindakanmu. Kau mampu mengubah negeri ini bersama nanda prabu."


"Suatu kehormatan bagi hamba, diberikan kepercayaan oleh seorang ratu yang agung. Hamba akan memikirkannya gusti ratu. Semoga hamba tidak mengecewakan gusti ratu suatu hari nanti."


Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Ia sangat yakin, jika Selendang Merah adalah orang yang tepat untuk mendampingi anaknya Prabu Praja Permana.


"Rasanya sangat mustahil aku menjadi seorang permaisuri raja. Apalagi aku hanyalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Sementara itu, masih banyak yang putri raja yang menginginkan dirinya menjadi permaisuri gusti prabu." Dalam hati Selendang Merah merasa tidak yakin. "Apakah gusti prabu mencintaiku?. Atau hanya sekedar kagum saja?. Karena aku telah membantunya selama ini." Dalam masalah perasaan, Selendang Merah sangat ragu. Apakah itu hanya sekedar permintaan dari Ratu Sawitri Dewi, atau keinginan sang Prabu?. Tidak ada yang tahu dengan garis nasib seseorang masalah jodoh. Karena rasa sakit hati yang ia terima dari Pangeran Wira Wijaksana, sangat membekas dibenaknya.


Hal yang mustahil di dalam hidupnya adalah menjadi pendamping hidup seorang raja. Maka hidupnya setelah ini akan serba diatur, juga menjadi sorotan rakyat. Apa jadinya jika seorang pendekar pembunuh bayaran mendampingi seorang raja?. Apa kata dunia?. Ya, bukan dunia, tapi apa kata rakyat. Jika pemimpin mereka menikah dengan seorang pendekar pembunuh bayaran?. Hatinya sangat gelisah luar biasa. Belum lagi bagaimana ia memikirkan nasib anaknya Andara Wijaya yang sama sekali tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


Di suatu tempat.


Syetan Cambuk Neraka saat ini sedang berada di sebuah desa bersama gurunya. Seperti janji, mereka yang akan menemui Selendang Merah. Saat ini mereka sedang mencari keberadaan Selendang Merah. Dan kebetulan, mereka tidak sengaja menguping pembicaraan orang-orang yang ada di warung makan.


"Alhamdulillah ya, jika memang gusti prabu telah membebaskan kita dari jeratan kawanan perampok."


"Alhamdulillah. Apalagi beberapa desa yang lain juga sudah terbebas dari kawanan perampok."


"Dan yang lebih membuat kita bersyukur adalah, gusti prabu memberikan bantuan pada warga yang membutuhkan, dari hasil denda para petinggi istana yang terbukti melakukan kesalahan."


"Wuaaaah. Sungguh luar biasa sekali gusti prabu. Kita semua merasa bersyukur dengan perubahan gusti prabu."


"Namun semua tidak terlepas dari bantuan pendekar selendang merah, juga kelalawar hitam."


"Pendekar selendang merah?. Kelalawar hitam? Siapa mereka?."


"Menurut kabar yang beredar, mereka yang membasmi para perampok itu."


"Oooh iya ya. Menurut kabar yang aku dapatkan dari warga desa lembung basa, pendekar selendang merah membantu mereka terbebas dari cengkraman kawanan perampok."


"Luar biasa sekali ya. Meskipun dia wanita, akan tetapi dia sanggup melawan para penjahat yang mengancam keselamatan negeri ini."


"Tapi bukankah itu kabar yang bagus?. Jika memang pendekar selendang merah membantu gusti prabu praja permana?. Jika memang begitu, negeri ini akan aman."


Mereka semua benar-benar mendapatkan kabar itu. Bahwa Selendang Merah, Pendekar wanita yang membantu sebuah desa dari cengkraman kawanan perompak.


"Itu artinya kita bisa mendatangi istana kerajaan Sendang agung. Atau kita mencari tahu, desa mana lagi yang akan diselamatkan oleh wanita itu guru."


"Kita lihat situasi istana. Jika kita tidak melihat keberadaannya di sana, maka kita cari dia sampai dapat."


"Baiklah kalau begitu guru."


"Segera mungkin dendam ini harus terbalaskan. Aku sudah muak menanggung pikiran sedih, atas kehilangan anakku."

__ADS_1


Hatinya yang panas, suasana hatinya yang sangat sedih. Mau sampai kapan ia menahan perasaan sakit hatinya selama ini?. Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2