
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Kelalawar Hitam telah bangun. Meskipun ia masih merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.
"Syukurlah kau telah sembuh adi." Selendang Merah memeluk adiknya dengan sayang. "Aku takut terjadi sesuatu padamu adi." Ia menatap wajah adiknya yang masih pucat.
"Aku baik-baik saja ayuk." Ia hanya tersenyum kecil. "Terima kasih karena telah menyelamatkan aku ayuk." Jantungnya terasa berdebar-debar setelah dipeluk kakaknya. "Apakah perasaan cinta ini tidak bisa diganti dengan perasaan sayang pada saudara sendiri?." Dalam hatinya merasa sakit, mengingat kenyataan bahwa ia adalah adik dari wanita ini.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir sekali. Akan aku bunuh kakek tua itu, jika terjadi sesuatu padamu."
"Jangan galak seperti itu ayuk. Aku yakin dia tidak akan bangun lagi. Karena dia terkena jurusnya sendiri." Ia sangat takut melihat ekspresi kakaknya saat ini.
"Baiklah. Kalau begitu kau istirahat lah. Pulihkan tenagamu, karena masih ada tugas yang harus kita lakukan."
"Baiklah ayuk. Ayuk juga istirahatlah. Aku baik-baik saja." Ia berusaha meyakinkan kakaknya, jika ia baik-baik saja.
"Ya. Aku akan kembali ke kamarku. Besok ada yang harus kita bahas."
"Selamat malam ayuk."
"Selamat malam adi. Semoga kau cepat sembuh." Setelah itu Selendang Merah pergi meninggalkan tempat itu. Ia pergi ke kamarnya, karena ia juga butuh istirahat.
"Ayuk. Andai saja kita bukan saudara kandung. Apakah kau juga memiliki perasaan yang sama denganku?. Atau kau memang mencintai gusti prabu praja permana?. Sehingga kau membuat janji darah itu?." Ada perasaan cemas di dalam hatinya saat mengetahui jika wanita yang ia cintai telah membuat janji darah. Mau tak mau ia harus menerima kenyataan itu. Apalagi Selendang Merah terbukti adalah kakak kandungnya. Karena mereka berasal dari orang tua yang sama. Takdir yang tidak bisa ditolak lagi. Harus ia apakan perasaan cinta itu?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
...***...
Sementara itu di sebuah tempat. Di sebuah rumah pondok. Tubuhnya masih terasa kaku. Tapi kenapa ia bisa berada di tempat ini?. Itu karena sebelum malam datang, Selendang Merah datang padanya. Ia pikir wanita itu akan membunuhnya, tetapi malah memindahkannya ke tempat lain.
"Aku hanya tidak ingin kau digarong celeng hutan." Ucap Selendang Merah pada saat itu. "Kau adalah seorang wanita. Dan aku juga seorang wanita." Mata itu melirik tajam ke arahnya. "Sebagai sesama wanita, aku tidak mau kau rusak karena laki-laki. Tapi tidak semua laki-laki itu perusak wanita. Kau harus lebih berhati-hati pada siapapun. Jaga dirimu dengan baik, dan jangan sampai terbujuk rayuan maut mulut laki-laki yang hanya pandai menggombal rayuan maut saja. Tapi laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab atas dirimu lahir dan batin." Ucpanya panjang lebar. "Jika kau sudah mengetahui kebenarannya, kau baru boleh menemui aku. Jika tidak, jangan pernah kau injakkan kakimu di daerah sini." Ia menatap tajam ke arah Suliswati. "Aku membunuh cucu kakek tua bangka itu, karena pemuda itu telah merusak harga diri wanita, serta menanamkan benih laknat pada mereka. Apakah kau mau mengalami hal serupa?. Jika kau tidak mau, maka dengarkan apa yang aku katakan padamu dengan baik." Setelah berkata seperti itu, Selendang Merah pergi meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia menutup pintu pondok itu. "Untuk sementara waktu kau akan aman berada di sini. Kau akan bisa bergerak lagi setelah satu hari lagi. Tapi kau harus mengatur hawa murnimu dengan baik. Supaya kau tidak lumpuh oleh jurus selendang lebur abu milikku itu." Selendang Merah menutup pintu itu dengan pelan. Ia benar-benar pergi dari sana. Membuat wanita itu merasa kesal. "Kenapa wanita itu terlihat sangat kuat sekali?." Dalam hatinya merasa sangat kesal, dan merasa dipermainkan. Apakah ia memang harus menuruti apa yang dikatakan oleh wanita bercadar merah itu?. Atau itu hanya sekedar kata-kata saja agar ia tidak kembali mencarinya?.
__ADS_1
"Wanita itu tidak bisa aku lawan dengan mudah. Tapi ucapanya ada benarnya juga. Aku akan menyelidiki kebenarannya. Jika ia berani berbohong padamu. Maka akan aku bunuh dia." Dalam hatinya merasa dendam pada Selendang Merah. Ia tidak akan mengampuni wanita itu jika berani mempermainkan dirinya. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Keesokan paginya.
Selendang Merah sedang melatih Andara Wijaya dan Sandi Praha. Keduanya sangat serius mengikuti jurus-jurus yang dimainkan oleh Selendang Merah. Sedangkan Prabu Praja Permana, Ratu Sawitri Dewi dan Kelalawar Hitam memperhatikan mereka di pendopo.
"Meskipun ia seorang wanita, namun ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam ilmu bela diri." Ratu Sawitri Dewi merasa kagum dengan sosok Selendang Merah.
"Kita memiliki kelebihan masing-masing yang dibawa sejak lahir ibunda. Tapi belajar juga hal yang sangat penting, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan." Prabu Praja Permana hanya tersenyum kecil mendengarkan apa yang dikatakan ibundanya. Ia memaklumi apa yang diucapkan ibundanya.
"Tapi tidak semua wanita itu sama. Aku benar-benar kagum pada ketulusannya dalam membesarkan andara wijaya."
"Ya. Ibunda benar." Prabu Praja Permana juga mengakui perbedaan itu pada diri Selendang Merah. "Tidak semua wanita mampu bersikap ikhlas, apalagi membesarkan anak seorang diri. Itu pasti sulit ia lakukan." Dalam hati sang prabu membayangkan bagaimana Selendang Merah pada saat itu.
"Tidak perlu terburu-buru, yang penting mau mempelajarinya dengan baik." Selendang Merah malah terkekeh kecil melihat raut wajah keduanya yang kesulitan.
"Aku akan berusaha dengan lebih baik lagi ibunda."
"Saya juga akan berusaha lebih baik lagi bibi."
Keduanya terlihat begitu bersemangat, dan tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan mempelajari jurus itu dengan baik, sampai mereka bisa.
"Baiklah kalau begitu, kita istirahat dulu. Gusti prabu, gusti ratu juga paman kelalawar hitam telah menunggu kalian." Selendang Merah menunjuk ke arah mereka yang sedang duduk di pendopo.
Setelah itu mereka mendekat, dan tentunya disambut dengan baik oleh mereka semua.
__ADS_1
"Latihan yang sangat mengesankan sekali ayuk. Sangat luar biasa." Kelalawar Hitam memuji kakaknya.
"Mereka yang luar biasa adi. Semoga saja mereka bisa menjadi lebih baik lagi." Balasnya.
"Baiklah, kalau begitu minumlah dahulu. Pasti kalian haus setelah latihan kan?." Ratu Sawitri Dewi memberikan air minum untuk mereka bertiga.
"Terima kasih nenek ratu."
"Terima kasih gusti ratu."
"Terima kasih gusti ratu."
Ketiganya mengucapkan terima kasih, atas kebaikan Ratu Sawitri Dewi. Mereka minum dengan tenang, sambil melepaskan dahaga setelah latihan tadi.
"Nanti kita berbicara berdua saja. Ini pembicaraan rahasia antara kita berdua." Ratu Sawitri Dewi mengedipkan matanya ke arah Selendang Merah.
"Baiklah gusti ratu." Selendang Merah memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi.
"Jadi ibunda mau main rahasia pada kami ya?." Rasanya ada kecemburuan diraut wajah Prabu Praja Permana, sehingga mereka tertawa kecil.
"Ini hanyalah pembicaraan antara wanita saja. Jadi nanda tidak boleh ikut." Balas Ratu Sawitri Dewi.
"Baiklah. Tapi nanda harap ibunda tidak boleh memaksa nimas untuk mengikuti keinginan ibunda."
Apakah yang akan mereka bahasa berdua nantinya?. Sehingga Prabu Praja Permana menjadi penasaran?. Apakah masih membahas masalah perjodohan?. Jangan ketinggalan lanjutannya. Baca terus ceritanya.
...***...
__ADS_1