
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam sedang mengintai kawanan perampok yang masih tersisa. Mereka melihat ada sekitar empat orang kawanan perampok yang sedang melakukan pemerasan terhadap penduduk desa Layang.
"Benar-benar orang rendahan. Hanya berani pada orang lemah." Sorot mata Selendang Merah berubah menjadi tajam. Emosinya benar-benar bergejolak melihat apa yang terjadi di depan matanya.
"Kita harus-."
Belum selesai Kelalawar Hitam berbicara, Selendang Merah melangkahkan kakinya buru-buru mendekati mereka semua.
"Tunggu nini. Jangan tinggalkan aku." Kelalawar Hitam mengejarnya. "Dia itu kenapa ya?. Tiba-tiba bertindak cepat gitu." Ia merasa heran dengan tingkah laku Selendang Merah.
"Hei!. Kalian para sampah tidak berguna." Dengan keadaan marah ia membentak para kawanan perampok itu.
"Hei!. Siapa kau?. Berani sekali kau datang mengganggu kami."
"Benar!. Apakah kau ingin kami hajar hah?."
Kelalawar Hitam mendekati Selendang Merah. Ia melihat mereka yang berbicara tidak sopan sama sekali.
"Wanita macam kau bisa apa?. Aku yakin wajahmu sangat jelek, sehingga kau menutupi wajahmu dengan cadar merah itu."
"Wanita lemah seperti kau bisa apa?."
Mereka malah tertawa keras dengan ucapan salah satu teman mereka. Sementara itu, para penduduk yang diperas merasa takut. Mereka mencoba untuk berdiam diri karena tidak mau terlibat dengan pertengkaran mereka.
"Lihatlah, wanita ini-."
DUKAH
Tanpa banyak bicara Selendang Merah menghajar lelaki kurus itu dengan pukulan yang sangat keras. Hingga lelaki kurus itu terjajar ke belakang sambil berteriak kesakitan. Karena pukulan itu bukan pukulan biasa. Pukulan yang dilambari dengan tenaga dalam dan jurus pukulan tembang macapat pangkur. Pukulan yang sangat kuat, saking kuatnya menimbulkan bekas pukulan di dada orang itu.
"Banyak bicara. Mulut besarmu itu akan tidak akan berpengaruh padaku. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku."
Sementara itu mereka melihat itu terkejut, karena pendekar wanita itu menghajar teman mereka.
"Kau!. Berani sekali kau menghajar teman kami!."
__ADS_1
"Bukankah kalian yang mengatakan jika aku lemah?. Baru saja disenggol sedikit sudah terbang. Kalian lah yang lemah."
"Kurang ajar!."
Mereka bertiga menyerang Selendang merah. Mereka sama-sama dalam keadaan marah. Sehingga pertarungan diantara mereka semua.
"Nini selendang merah sepertinya memang sedang marah. Aku takut mereka tidak akan selamat satupun dari cengkeramannya." Kelalawar Hitam malah ngeri melihat kemarahan itu. Rasanya ia benar-benar merinding melihat itu.
Kelalawar Hitam mencoba untuk melupakan apa yang ia lihat. Karena matanya melihat penduduk desa Layang yang terlihat ketakutan. Ia mendekati mereka semua, dan mencoba untuk menenangkan mereka semua.
"Maaf, jika apa yang kami lakukan menakuti kalian semua."
"Siapa tuan pendekar?. Mengapa ada di desa kami?."
"Apakah tuan pendekar juga ingin menguasai desa kami?."
"Jangan tuan pendekar. Sudah cukup kami menderita dibawah tekanan mereka semua. Kami tidak sanggup lagi tuan."
"Aku harap kalian semua tenang. Aku bukanlah orang jahat yang ingin menguasai desa ini. Aku ini adalah utusan gusti prabu praja permana."
Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kelalawar Hitam. Apakah mereka tidak salah?.
"Apakah tuan pendekar tidak salah dalam berucap?."
"Untuk apa gusti prabu membantu kami setelah sekian lama tidur di istananya yang nyaman itu?."
"Mohon maaf semuanya. Gusti prabu praja perma tidak seperti itu. Gusti prabu praja permana sedang memperbaiki negeri ini. Setelah beliau melakukan pengembaraan sambil melihat kondisi negeri ini. Gusti prabu praja permana menangis sedih melihat negeri yang dibangun leluhurnya sedang dalam tekanan besar. Beliau selama ini telah dibohongi oleh penggawa istana. Karena itulah gusti prabu sekuat tenaga untuk memperbaiki negeri ini." Kelalawar Hitam mencoba untuk menjelaskan pada mereka semua.
Mereka mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Kelalawar Hitam. Mereka tidak menyangka Prabu Praja Permana memperhatikan rakyatnya.
Namun dalam waktu yang sama, mereka semua mendengarkan suara teriakan kesakitan dari arah tempat pertarungan. Tenyata itu adalah Selendang Merah yang masih berhadapan dengan kawanan perampok. Selendang merah berhasil menghajar mereka semua.
"Jika kalian hanya bermodalkan suara besar dan mulut kurang ajar kalian, yang beraninya menakuti rakyat kecil. Jangan berani-beraninya kalian menunjukkan kekuatan lemah kalian padaku. Kalian pikir aku ini pendekar seperti apa?. Akan aku bunuh kalian dengan mudahnya."
Sedangkan mereka hanya meringis kesakitan kesakitan setelah dihajar habis-habisan oleh Selendang Merah.
"Kalian semua, carilah tempat aman. Biarkan kami atasi tempat ini."
__ADS_1
"Terima kasih tuan pendekar. Sampaikan salam kami pada gusti prabu praja permana."
Mereka meninggalkan tempat, karena mereka tidak ingin kena dampak pertarungan kejam itu. Sepertinya Selendang Merah sedang dikuasai kemarahannya sendiri.
"Nini!." Kelalawar Hitam mendekati Selendang Merah. Ia melihat keadaan mereka yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Wajah mereka babak belur semua karena serangan yang lancarkan Selendang Merah sangat bertenaga.
"Apa yang nini lakukan?. Bagaimana jika mereka tewas, dan mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dihadapan gusti prabu praja permana?."
Selendang Merah hanya menghembus nafasnya dengan kasar. Karena ia benar-benar merasakan amarah yang berlebih dihatinya, setelah ia bertemu dengan Wira Wijaksana.
"Tenangkan diri nini. Jangan terlalu bernafsu untuk membunuh mereka meskipun kita ini adalah pendekar pembunuh bayaran."
"Aku hanya kesal saja. Mereka benar-benar tidak memiliki nurani sedikitpun. Berani sekali mereka menyerang penduduk yang tidak berdaya melawan mereka."
Kelalawar Hitam menghela nafasnya dengan pelan. "Sangat mengerikan sekali jika ia sedang marah." Dalam hatinya berjanji tidak akan pernah membuat wanita bercadar merah itu marah, atau nyawanya akan melayang.
Namun ketika mereka diserang oleh seseorang dari jarak jauh dengan senjata berupa jarum. Akan tetapi, naluri mereka yang selalu waspada terhadap bahaya membangkitkan jiwa mereka, sehingga keduanya bisa menghindari serangan itu dengan baik.
"Boleh juga kalian bisa menghindari serangan ku."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam melihat ada tiga orang yang mendekati mereka.
"Kau!. Bukankah kau wanita yang telah berani menghina ketuaku waktu itu?."
"Hooo, ternyata mau setan tombak pencabut nyawa. Aku kira siapa yang berani menguasai desa ini dengan lancangnya."
"Tutup mulut busuk mu itu!. Wanita kurang ajar."
"Aku telah menutup mulutku, bahkan hidungku dengan cadar merah ini. Agar aku tidak mencium bau bangkai kematian dari tubuhmu."
"Kurang ajar!. Akan aku habisi kau." Setan Tombak Pencabut Nyawa langsung menyerang Selendang Merah. Ia benar-benar tidak tahan lagi dengan ucapan pendekar wanita itu.
"Ya ampun. Mereka tidak bisa menahan diri lagi." Kelalawar Hitam sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana sikap liar mereka yang memiliki tingkatan yang berbeda.
"Dia juga ikut menyerang teman-teman kami nyai. Dan lihatlah mereka tidak berdaya semua." Respana melihat teman-temannya yang meringis kesakitan. Dan bahkan ada yang pingsan.
Nyai Petik Bidadari melihat keadaan luka mereka yang tidak biasa. "Itu adalah pukulan tembang macapat pangkur. Pukulan tenaga dalam yang sangat luar biasa kuatnya. Tubuh bagian dalammu akan hancur, saking kuatnya pukulan tersebut."
__ADS_1
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya pembaca tercinta.
...***...