
...***...
Mereka semua saat ini sedang berhadapan dengan Selendang Merah. Namun sepertinya wanita itu tidak menyerah begitu saja. Ia melakukan perlawanan terhadap mereka. Sehingga suasana di halaman rumah mewah itu menjadi sangat kacau. Selendang Merah dengan ganasnya menyerang mereka semua. Tanpa kecuali, dua Patih serta Senopati, Dharmapati yang ikut dalam penyerangan itu.
"Heh!. Kalian bukanlah tandingan ku. Lebih baik kalian menyerah saja." Dengan sombongnya ia berkata seperti itu, dan ia tidak menyangka akan ada suara lain yang ikut campur dalam situasi itu.
"Jika mereka bukan lah lawanmu, maka aku yang akan menjadi lawan mu."
Mereka semua terkejut, karena melihat ada dua Selendang Merah?. Bagaimana bisa itu terjadi?. Tapi sepertinya Selendang Merah yang baru muncul itu, ia datang bersama Prabu Praja Permana, dan juga Kelalawar Hitam. Mereka semua berbisik tidak percaya, dengan apa yang mereka lihat.
"Kau?. Siapa kau?. Mengapa kau malah meniru wajahku?."
"Heh!. Kau tidak perlu bersandiwara di hadapanku nila ambarawati. Aku sangat mengenali bau busuk mu itu. Jadi kau tidak perlu berpura-pura dihadapanku."
"Apa maksudmu nini?."
"Hei!. Selendang merah. Kau telah terbukti melakukan pengkhianatan terhadap gusti prabu praja permana. Jadi kau tidak usah mencari alasan untuk membela diri."
"Bisa jadi itu adalah jurus belah raga yang kau gunakan untuk mengelabui kami semua."
"Ya!. Itu sangat masuk akal!. Bisa jadi kau yang telah merencanakan semua ini."
"Diam kalian semua!."
Mereka semua terkejut mendengarkan suara bentakan keras dari Selendang Merah yang menatap tajam ke arah mereka semua. Sedangkan Selendang Merah, dengan penuh kemarahan ia berkata pada mereka semua.
"Aku telah membuat sumpah tali darah." Ucapnya dengan geramnya. "Janji itu adalah sumpah setia dari seorang pendekar pembunuh bayaran terhadap tuannya. Bahkan ia akan mengabdi seumur hidup pada tuannya. Hanya kematian yang akan memisahkan mereka. Jika ia berkhianat, maka ia akan mati dengan cara yang mengenaskan." Suara itu seakan menggelegar di telinga mereka. Suara yang sedang dipenuhi oleh amarah yang membuncah.
"Janji darah, janji yang telah menyatakan pengabdian pada seseorang. Dan tidak akan mudah lepas begitu saja, kecuali mati." Kelalawar Hitam mengingat sumpah tali darah. "Apa karena itu, nini baik-baik saja, karena nini tidak melanggar janji darah itu?."
"Kau benar adi. Aku tidak mati, karena bukan aku yang berkhianat."
__ADS_1
"Meskipun kau meniru wajahku, ataupun penampilanku, itu percuma saja. Karena yang asli adalah aku. Jika aku berkhianat pada gusti prabu, maka aku akan mati dengan cara yang mengenaskan. Tapi sayangnya aku masih baik-baik saja. Itu artinya aku tidak melakukan pengkhianatan apapun."
"Kurang ajar!. Ternyata aku salah perhitungan." Setan Selendang Jingga Kematian merasa marah, karena ia merasa dipermainkan.
"Janji darah?." Dalam hati Prabu Praja Permana bertanya-tanya. Kapan ia membuat janji darah itu?. Atau hanya bualan Selendang Merah saja yang ingin mengelabui musuh?. Tidak!. Rasanya Prabu Praja Permana mengingat sesuatu ketika saat itu. Namun ketika ia ingin bertanya, Setan Selendang Jingga Kematian telah menunjukkan siapa dirinya dihadapan mereka semua.
"Hari ini kau boleh menang wanita laknat!. Tapi aku masih akan memburu orang seperti kau!."
"Tidak usah menunggu nanti. Malam ini juga mari kita selesaikan permasalahannya. Karena aku sangat benci orang seperti kau, yang telah berani menggunakan nama orang lain untuk melakukan kejahatan." Selendang Merah melompat ke depan, tepat dihadapan Setan Selendang Jingga Kematian. Menantang wanita itu untuk bertarung.
"Sayang sekali. Usahamu untuk menjatuhkan aku semuanya gagal. Sejak terakhir kali kita bertemu, aku sangat yakin kau akan berbuat curang dalam keadaan apapun. Karena itulah aku membuat janji darah. Karena aku tidak ingin kau menggunakan cara yang kotor untuk menjatuhkan aku."
"Heh!. Tidak usah banyak bicara kau. Berikan saja nyawamu padaku."
"Kau memang tidak bisa didiamkan lagi laknat!. Akan aku tunjukan bagaimana rasa sakit hatiku atas pengkhianatan yang telah kalian lakukan padaku."
Kedua wanita itu bertarung dengan kekuatan yang mereka miliki, sedangkan yang lainnya hanya melihat saja. Karena mereka sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa ada dua Selendang Merah?.
"Aku rasa jangan dulu adimas. Karena ini pertarungan dua orang yang sedang mempertahankan identitas mereka."
"Baiklah gusti prabu. Hamba mengerti."
Sedangkan Patih Mandala Restu, Patih Arya Serupa, juga yang lainnya saat ini juga mengamati pertarungan itu.
"Kita lihat saja, siapa yang akan menang. Aku yakin dia adalah selendang merah yang asli."
"Ya. Itu benar. Tapi kita harus bisa menuntut dan mengusir wanita itu dari istana. Aku sudah muak dengan tingkahnya itu."
"Kalau begitu kita harus menunggu dengan sabar."
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Mereka kembali menyimak bagaimana kedua pendekar wanita itu mengadu kesakitan mereka. Meskipun seorang wanita, akan tetapi tenaga dalam mereka tidak bisa dianggap remeh. Lihat saja ketika mereka mengadu pukulan, serta sepakan. Mereka sama-sama meringis sakit, dan bahkan ketika ilmu kanuragan mereka disalurkan, menghasilkan ledakan yang membuat jantung mereka berpacu.
Keduanya mengatur hawa murni, supaya tenaga dalam mereka tidak kacau. "Kau tidak usah berbangga hati dulu. Aku masih sanggup melawan mu!." Nila Ambarawati menyeka darah di sudut bibirnya.
"Kau dari dulu memang seperti itu. Tidak pernah terima dengan kekalahan. Dan kali ini aku akan menangkapmu. Karena ada hal penting yang harus kau pertanggungjawabkan!." Selendang Merah hendak menyerang, namun tiba-tiba ia mendapatkan sebuah serangan yang sama sekali tidak ia duga dari mana arahnya. Serangan tenaga dalam itu menghantam tubuhnya, sehingga tubuhnya terjajar jauh.
"Nini." Kelalawar Hitam sangat terkejut melihat itu, ia segera menangkap tubuh Selendang Merah, agar tidak terlempar jauh.
"Ohok." Prabu Praja Permana memuntahkan sesuatu. Disaat yang bersamaan, ia merasakan sakit di tubuhnya ketika Selendang Merah menerima serangan itu.
"Nanda prabu." Patih Arya Serupa yang melihat itu sangat terkejut. Ia segera mendekati Prabu Praja Permana.
"Kegh. Aku rasa aku percaya dengan apa yang dikatakan oleh nimas tentang janji darah itu." Dalam hatinya mulai mengetahui mengapa dirinya selama ini sakit tanpa alasan.
"Nanda prabu. Apakah nanda prabu baik-baik saja?."
"Aku baik-baik paman." Prabu Praja Permana mengatur tenaga dalamnya. Agar ia tidak merasakan sakit.
Sementara itu, Kelalawar Hitam menurunkan Selendang Merah yang sedang terluka dari gendongannya. Matanya menatap tajam ke arah seorang laki-laki yang sudah tidak muda lagi. Hatinya sangat membenci, dan ingin segera membunuh orang itu.
"Berani sekali kau menyerang kakakku. Pak tua!. Tenyata kau sudah bosan hidup!."
"Adi. Sepertinya dia orang yang cukup berbahaya. Kita harus waspada."
"Hei!. Rembulan indah!. Apakah kau sudah terlalu lemah!. Sehingga kau membutuhkan bantuan dari berondong hah?."
"Tutup mulutmu bangsat!. Aku tidak mengetahui dendam apa yang kau bawa dimasa lalu dengan kakakku. Tapi kau telah berani berbuat kejahatan atas nama kakakku. Maka kau akan aku bunuh!."
"Kakak?. Memangnya kau ini adiknya?. Sehingga kau memanggil kakak padanya hah?. Bocah ingusan!."
"Aku adalah adiknya. Kami telah lama terpisah. Kami lahir dari keluarga pembunuh bayaran. Kau telah berani bermain-main dengan kakakku. Maka kau akan ku bunuh!." Kelalawar Hitam telah menunjukkan taring jiwa berburunya. Ia tidak terima kakaknya diserang begitu saja. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...