
...***...
Di sebuah tempat yang cukup sepi. Kelalawar hitam masih teringat dengan pertarungannya dengan selendang Merah. Pertarungannya dengan selendang merah cukup menarik.
"Kenapa pendekar wanita itu memiliki mata elang yang sama denganku?." Dalam hatinya bertanya-tanya, ia begitu penasaran hingga memikirkannya.
"Ayahanda pernah berkata, orang yang memiliki mata elang tidaklah banyak. Termasuk aku, ayah dan juga pendekar wanita itu?." Ia pernah mengingat perkataan ayahnya.
"Aku semakin penasaran." Kelalawar Hitam juga mengingat jurus-jurus yang dimainkan oleh wanita itu, jurus yang cukup mematikan. "Pantas saja ia menjadi pendekar pembunuh bayaran." Ia merasa kagum dengan pendekar wanita itu.
"Apakah dia?. Pendekar pembunuh bayaran, dengan julukan selendang merah penebar maut?." Kelalawar Hitam tidak sengaja mendengarkan nama itu disebut, ketika ia baru memulai pekerjaannya sebagai pendekar pembunuh bayaran dengan julukan Kelalawar Hitam.
"Jika benar. Aku bisa berguru padanya mengenai dunia pembunuh bayaran darinya." Ya, ia telah memutuskan untuk belajar banyak dari pendekar wanita itu.
Tapi tunggu.
"Bukankah mangsaku bersamanya?. Itu pasti tidaklah mudah." Ia mulai ragu. Karena ingat, jika incarannya Gusti Prabu Praja Permana bersamanya waktu itu?. "Apa yang harus aku lakukan?." Ia mulai gelisah, sepertinya tidak mudah baginya untuk menjadikan pendekar wanita itu sebagai gurunya. Karena sang prabu adalah incarannya.
"Tunggu. Tunggu dulu." Ia juga teringat sesuatu yang hampir saja ia lewatkan. apakah itu?.
"Yah, benar juga. Aku,,, Aku harus melakukan secepatnya." Ia baru saja ingat dengan permintaan seseorang, yang menginginkan kematian seseorang bukan?. Ya, benar juga. Ia bisa melakukan itu, supaya bisa dekat dengan pendekar wanita itu. Tidak akan ia sia-siakan kesempatan itu.
...***...
Di satu tempat.
Tengah hari sudah berlalu, matahari tidak berada di atas puncak kepala lagi, di hutan yang sepi. Sang prabu mengerjakan sholat Zhuhur. Ia terlihat sangat khusuk mengerjakan kewajibannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Salam kanan, ke kiri, setelah itu sang prabu berzikir, dan membaca doa.
__ADS_1
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kasih sayang yang tiada batas. Ampunilah dosa hamba, dan dosa-dosa ayahanda serta ibunda hamba." Itulah do'a utama dari sang Prabu.
"Ya Allah. Hamba memohon petunjuk-Mu. Kemana arah yang harus hamba tuju, untuk mencari keberadaan selendang merah. Hamba mohon kepada-Mu, hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan." Kali ini sang Prabu meminta petunjuk, untuk bertemu dengan seseorang.
"Hamba percaya, hanya engkaulah tempat hamba meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya kecuali pertolongan-Mu, melalui selendang merah hamba berharap hamba bisa menjaga negeri ini dari marabahaya ya Allah, karena itu ridoilah apa yang akan hamba lakukan ini ya Allah. Roditubillahi robba wabil islami dina wabimuhammadin sallallahu a'laihiwasallama nabia. Robbana atina fiddunya Hasanah wafil aqhirati hasatau waqhina a'zabannar walhamdulillahirobbil a'lamin." Sang prabu telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, ia merasakan kedamaian setelah melakukan sholat dzuhur.
"Semoga saja aku bisa menemukanmu nimas." Dalam hatinya berharap akan segera menemukan apa yang ia cari.
...***...
Di pondok Rembulan Indah
Rembulan indah nampak berkemas-kemas, sepertinya ia hendak pergi lagi?. Dan putranya Andara Wijaya melihat itu.
"Apakah ibunda akan pergi lagi?." Dari sorot matanya terlihat sorot mata kesedihan. Ia seakan tidak mau ibundanya pergi lagi.
"Ibunda. Bolehkah aku meminta sesuatu pada ibunda?." Andara Wijaya agak berat mengatakan keinginannya pada ibundanya.
"Apa yang kau inginkan nak?. Katakan saja pada ibunda." Rembulan Indah tersenyum kecil. Ia sering mendengar permintaan anaknya, tapi apa yang diinginkan anaknya kali ini?.
"Ibunda. Aku sudah mempelajari ilmu Kanuragan yang ibunda ajarkan padaku." Ucapnya dengan hati-hati. "Tapi, jika aku tidak menerapkannya. Sama saja tidak ada artinya ibunda." Andara Wijaya mencoba menjelaskan pada ibundanya apa yang menjadi keinginannya kali ini.
"Apa maksudmu nak?. Jelaskan kepada ibunda." Rembulan indah masih belum mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya.
"Izinkan aku belajar sesuatu di luar sana ibunda. Meskipun aku tidak bisa mengikuti apa yang ibunda kerjakan saat ini, setidaknya izinkan aku belajar banyak hal di desa lembung basa. Aku mohon izinkan aku berada di keramaian ibunda." Andara Wijaya sangat memohon kepada ibundanya bahkan sampai mencium kedua tangan ibundanya.
Hati Rembulan Indah bergetar bergemuruh. Jadi itu yang diinginkan oleh anaknya?. Apakah ini saatnya ia melepaskan anaknya untuk melihat dunia luar?. Sanggupkah ia melepaskan anaknya pergi ke dunia luar yang kejam?.
Disisi lain ia mengerti. Tidak selamanya anaknya berada di sini. Ia mengetahui betul di usia anaknya yang sekarang penasaran akan kehidupan luar. Ia pernah mengalami hal yang sama, dengan anaknya yang sekarang. Bahkan dulu ia nekad pergi, hanya karena mengikuti rasa ingin tahunya yang membuncah di dalam dirinya yang bergejolak ingin berontak.
__ADS_1
"Aku mohon ibunda. Bawalah aku ke sana ibunda." Andara Wijaya memohon kepada ibundanya dengan tulus.
Rembulan Indah mengusap kepala anaknya, hatinya sangat sedih, melepaskan kepergian anaknya?. Hatinya sangat berat untuk melepaskan kepergian anaknya.
Tapi apa boleh buat, kan?. Anaknya seorang laki-laki, dan ia memahami apa yang menjadi keinginan seorang anak laki-laki.
"Apakah ini sudah menjadi keputusanmu nak?. Apakah sebaiknya pikir-pikir lagi, jika kau ingin meninggalkan pondok ini." Rembulan indah hanya ingin memastikan jika apa yang dikatakan anaknya ini sudah tepat.
"Tentu saja ibunda. Aku juga tidak mau membuat ibunda cemas, hanya memastikan keselamatanku selama berada di sini sendirian." Dari sorot matanya, anaknya memang telah membuat keputusan sesuai yang ia inginkan.
"Baiklah nak. Jika memang itu keputusanmu, ibunda tidak bisa mencegahnya." Mau tidak mau, Rembulan Indah merelakan anaknya ini keluar dari hutan ini. selama sepuluh tahun belakangan ini, ia memang kerap meninggalkan anaknya sendirian.
Sepuluh tahun belakangan ini ia menekuni dunia hitam, hanya untuk membasmi kejahatan menurut pandangannya. Jadi saatnya ia melepaskan anaknya, untuk melangkah mengenali dunia luar yang berbahaya.
"Terima kasih ibunda." Andara Wijaya sangat senang sekali, ia tidak menyangka bahwa ibundanya akan memberikan izin padanya untuk belajar di luar sana.
"Kalau begitu persiapkan dirimu nak. Kita berangkat nanti malam ke desa lembung basa." Rembulan indah menyuruh anaknya bersiap-siap. Ia juga akan menyiapkan beberapa helai pakaian yang akan di bawa anaknya nanti.
"Dewata yang agung. Semoga saja keputusanku ini tepat membiarkan putraku untuk keluar dari sini." Meskipun hatinya terasa berat, namun ia juga tidak bisa menahan anaknya selamanya di sini bukan?.
Apalagi anaknya seorang laki-laki. Anak laki-laki pasti bisa menjaga dirinya, dan ia telah membekali anaknya dengan beberapa ilmu kanuragan yang bisa ia gunakan untuk menjaga dirinya.
Hal yang paling membuat sedih hati seorang ibu adalah, ketika ia melepaskan anaknya yang mulai memiliki jiwa penasaran akan sesuatu. Haus akan ilmu pengetahuan yang baru.
Tapi disaat yang bersamaan, hatinya harus kuat membayangkan jika anaknya sakit. Terluka atau disakiti diluar sana, namun ia tidak berada di sampingnya. Ia harus kuat menahan rindu saat anaknya tidak bisa ia genggam lagi.
Bagaimana kelanjutannya?. Baca terus ceritanya.
...***...
__ADS_1