
Saat ini Selendang Merah sedang bersama Ratu Sawitri Dewi. Karena banyak hal yang ingin diceritakan oleh sang ratu. Percakapan rahasia yang hanya mereka saja yang mengetahuinya?.
"Tenang saja. Ini hanyalah pembicaraan yang ringan saja." Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil melihat sikap kaku dari Selendang Merah.
"Maafkan hamba gusti ratu. Karena baru kali ini hamba berbicara seperti ini." Selendang Merah hanya merasa tidak enak hati saja. Karena ia tidak mau bersikap kurang ajar pada seorang ratu.
"Baiklah. Aku langsung saja pada ceritanya." Ratu Sawitri Dewi mencoba memakluminya. "Putraku praja Permana sebenarnya dulu juga bukanlah anak yang baik seperti sekarang."
"Apa maksud gusti ratu?." Tentu saja heran, siapa yang tidak akan bertanya jika seorang ibu berkata seperti itu tentang anaknya.
"Nanda prabu sebenarnya anak baik. Namun karena tidak tahan, karena banyak yang menuduhnya melakukan perbuatan yang tidak ia lakukan. Hingga akhirnya ia menjadi pribadi yang pemarah. Termasuk wira wijaksana ambil adil dalam perubahan sikapnya saat ini." Ratu Sawitri Dewi sangat ingat bagaimana anaknya.
"Putraku praja permana bukanlah orang yang baik dulunya, karena keadaan yang membuatnya menjadi jahat. Masa lalu yang sulit ia lalui sebelum ia menjadi seorang raja." Ratu Sawitri Dewi sangat ingat bagaimana anaknya kala itu. "Putraku praja permana juga bukan orang yang sempurna. Jadi nini jangan merasa tidak enak hati padanya. Karena pada dasarnya manusia ini tidak ada yang terlalu baik, ataupun terlalu jahat." Ia menatap Selendang Merah dengan lembut. "Tapi manusia yang lebih baik, adalah mereka yang berusaha untuk berjalan ke arah kebaikan."
"Jadi begitu?. Rasanya hamba hampir tidak percaya dengan apa yang gusti katakan. Jika gusti prabu masa lalunya mengalami hal yang sulit."
"Karena tidak tahan dengan apa yang terjadi di istana ia memutuskan untuk mengembara. pengembaraan yang ia lakukan sampai ia diangkat menjadi raja." Lanjutnya.
Kembali ke masa itu.
Di Kerajaan Sendang Agung. Ketika Prabu Praja Permana berusia 20 tahun. Pangeran Wira Wijaksana 15 tahun.
Pangeran Praja Permana saat ini sedang dipanggil ayahandanya Prabu Bima Negara. Sudah banyak kabar yang tersebar mengenai putranya. Sehingga ayahandanya sangat murka.
"Praja Permana!. Apakah seperti itu sikap seorang putra mahkota ketika berada di luar istana?. Apakah kau tidak malu dengan berita yang tersebar tentang dirimu hah?." Suara itu terdengar sangat keras dan membentak Pangeran Praja Permana.
"Tidak semua kabar yang ayahanda dapatkan itu benar." Pangeran Praja Permana membantah ucapan ayahandanya. "Ayahanda harusnya mencari tahu kebenarannya. Bukan hanya menerima laporan saja dari mereka."
"Kau masih saja mau membantah apa yang telah mereka buktikan padaku Praja Permana!." Prabu Bima Negara sangat murka karena anaknya masih saja melawannya?.
"Karena itulah kenyataannya ayahanda. Karena nanda sama sekali tidak melakukan perbuatan keji itu pada mereka!. Nanda tidak mungkin merusak anak gadis mereka!. Sementara itu nanda sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka!." Suara Pangeran Praja Permana juga meninggi. Ia tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan padanya.
DUAKH!.
Tanpa diduga, Prabu Bima Negara menghantam dada anaknya dengan tenaga dalamnya, hingga Pangeran Praja Permana terjajar dan terjerembab di lantai.
"Akh!." Ia meringis kesakitan. Dadanya terasa sesak karena pukulan keras itu. Saat itu Ratu Sawitri Dewi datang mendekati putranya dengan raut wajah penuh kecemasan.
__ADS_1
"Kenapa kanda selalu saja menggunakan kekerasan pada putra dinda?." Hatinya sakit melihat anaknya yang meringis kesakitan. Ia seka darah yang menempel di bibir anaknya. "Kenapa kanda tidak menyelidikinya terlebih dahulu?. Apakah kanda telah terbawa amarah?. Sehingga kanda prabu tidak mau mendengarkan apa yang putra kanda katakan?." Ia berusaha menahan tangisnya. Ia membantu anaknya untuk duduk.
"Tidak apa-apa ibunda. Jika itu membuat hati ayahanda merasa puas. Nanda terima pukulan dari ayahanda prabu dengan senang hati. Biarkan saja nanda dihajar ayahanda, jika memang membuat ayahanda merasa puas." Pangeran Praja Permana telah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahandanya.
"Dinda tidak perlu membela putra dinda. Seharusnya dia menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan."
"Itulah yang salah dari kanda prabu. Kanda menyuruh putra dinda untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan, tapi kanda sendiri yang yang tidak bisa bertanggung jawab." Ratu Sawitri Dewi tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh prabu Bima Negara. "Mari kita pergi nak. Ibunda akan mengobati luka nanda." Ratu Sawitri Dewi membantu anaknya berjalan, untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Apa yang harus aku lakukan jika masalahnya malah seperti ini." Prabu Bima Negara merasa heran dengan apa yang terjadi. Apakah ia harus menyelidikinya?. Raja macam apa ia sehingga merasa ragu dalam keadaan seperti ini?.
Kembali ke masa ini.
Selendang Merah menyimak apa yang diceritakan oleh Ratu Sawitri Dewi. Ia masih belum menemukan dimana letak kesalahan yang dilakukan Prabu Praja Permana dimasa lalu?.
"Mungkin cerita yang aku katakan padamu tadi, itu penyebab ia semakin membangkang pada ayahandanya." Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil.
"Jadi gusti prabu tidak terkendali sejak dipukuli gusti prabu bima negara?." Selendang Merah sedikit heran.
"Benar nini."
"Kala itu-."
Kembali ke masa itu.
Pangeran Praja Permana hari itu jalan-jalan di pasar kota raja. Namun tiba-tiba ada beberapa orang wanita yang mendekatinya. Tentunya membuat ia merasa heran dan mengapa mereka menatapnya seperti itu?.
"Maaf?. Kalian siapa?. Mengapa kalian mendatangi aku?."
Akan tetapi mereka malah tertawa geli melihat sifat kaku Pangeran Praja Permana. Terlihat menggemaskan oleh mereka yang ingin menggoda Pangeran Praja Permana.
"Gusti pangeran jangan berkata seperti itu."
"Bukankah kita sering bertemu?. Kenapa malah malu-malu seperti itu gusti pangeran?."
"Bukankah setiap malam kita selaku memadu kasih?."
Kembali mereka tertawa cekikikan karena mengingat apa yang mereka lakukan setiap malam?.
__ADS_1
"Maaf!. Aku tidak pernah melakukan apapun yang kalian katakan. Dan mungkin ada seseorang yang menipu kalian dengan meniru wajahku." Pangeran Praja Permana tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Dan ia terus berjalan untuk melihat sekitar. Namun sedangkan mereka malah dengan senang hati mengikuti Pangeran Praja Permana.
Namun siapa sangka, ada beberapa pasang mata yang memperhatikan itu dari jauh. Orang-orang yang ingin mencari kesalahan dari pangeran Praja Permana.
Kembali ke masa ini
"Putraku difitnah telah banyak bermain dengan wanita. Dan ia sangat benci dengan wanita sejak saat itu juga." Ratu Sawitri Dewi mengingat bagaimana anaknya saat itu.
"Apakah termasuk membenci gusti ratu?."
"Mana mungkin putraku membenciku. Semarah apapun, dan bagaimana kecewa yang ia rasakan pada saat itu, ia tetap menghormati aku sebagai ibundanya." Ratu Sawitri merasa sangat bangga dengan anaknya.
"Kesedihan yang ia rasakan pada saat itu membuatnya semakin menjadi saat kejadian hari itu."
Kembali ke masa itu.
Kedua tangan Pangeran Praja Permana diikat dengan tali, dan membuatnya terentang lebar. Wajahnya penuh luka, dan bahkan tubuhnya penuh luka karena dicambuk, dipukul Prabu Bima Negara.
"Uhuk." Pangeran Praja Permana sedikit terbatuk, karena dadanya terasa sesak. Nafasnya naik turun setelah dihajar habis-habisan oleh ayahandanya.
"Sudah banyak yang melihat kau berjalan dengan banyak wanita, dan kau masih saja membantah?." Emosinya benar-benar memuncak karena perangai anaknya. "Kau itu masih muda!. Tapi mengapa kau malah berbuat yang tidak-tidak!. Apa yang kau inginkan sebenarnya!."
Bukan hanya mulut saja, bahkan tangannya pun melepaskan lecutan cambuk ke arah tubuh anaknya itu. Ia sudah cukup bersabar dengan apa yang dilakukan anaknya. Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Pangeran Praja Permana.
"Baik!. Kalau kau masih saja belum mengaku!." Ia masih bisa menahan emosinya. "Prajurit!." Teriaknya dengan suara yang sangat keras.
"Hamba gusti prabu."
"Cepat!. Bawa wanita yang kini sedang mengandung anak dari lelaki biadab ini!."
"Sandika gusti prabu." Prajurit tersebut melakukan perintah dari Prabu Bima Negara.
"Aku harap kau tidak akan menghindar lagi setelah mendengarkan pengakuan dari wanita itu. Jangan kau lempari banyak kotoran ke wajahku ini."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1