
...***...
Saat ini Selendang Merah sedang bersama Ratu Sawitri Dewi, dan juga Prabu Praja Permana. Mereka tidak menyangka akan kedatangan tamu istimewa. Prabu Tenggara Dewa, raja yang terkenal dengan kekuasaannya.
Semua petinggi istana saat ini sedang berkumpul di balai pertemuan, karena menyambut tamu istimewa tersebut. Termasuk Kelalawar Hitam juga turut hadir, karena hari itu ia tidak sedang bertugas.
"Apa gerangan yang membuat paman prabu datang ke istana ini. Tentunya paman prabu memiliki kepentingan yang sangat istimewa."
"Apakah aku tidak boleh datang mengunjungimu nanda prabu?." Ia tersenyum kecil menatap Prabu Praja Permana. "Sudah lama aku tidak berkunjung ke istana ini."
"Tentu saja boleh paman prabu. Biasanya paman prabu akan melakukan hubungan penjualan tanaman obat. Sayangnya setelah mendiang ayahanda prabu meninggal, hubungan itu tidak lagi dilanjutkan. Sangat disayangkan sekali paman prabu."
"Nanda prabu benar. Sangat disayangkan sekali, hubungan baik seperti itu tidak diteruskan."
"Maaf paman prabu. Karena fokus pada oernaia, nanda lupa mengirim surat pada paman prabu."
"Tidak apa-apa nanda prabu. Tapi setidaknya negeri ini sepertinya sudah aman dari kawanan perampok. Kami bisa melewati perbatasan negeri ini dengan lancar tanpa adanya pembegalan."
"Jika masalah itu, Alhamdulillah hirobbil'alamin, semuanya berjalan dengan lancar paman prabu."
"Nanda telah berusaha dengan baik, untuk menyelamatkan negeri ini. Sungguh sangat luar biasa."
"Paman prabu jangan terlalu memuji. Semuanya karena Allah SWT, juga karena usaha bersama paman prabu."
"Syukurlah kalau begitu nanda prabu. Aku senang mendengarnya." Ia tersenyum lagi. "Namun, rasanya istana ini rasanya masih kurang lengkap nanda prabu."
"Kurang lengkap?. Apa maksud paman prabu?." Tentunya jadi tanda tanya bagi Prabu Praja Permana, juga mereka yang hadir di sana.
"Apa yang kanda prabu maksudkan?. Jika boleh kami semua mengetahuinya."
"Apakah dinda dewi masih belum mengetahuinya?. Bukankah dinda dewi juga melewati hal semacam itu?."
"Maksud gusti prabu adalah permaisuri raja?." Kali Patih Arya Serupa yang bertanya, jika tebakannya tidak salah.
"Ternyata patih kerajaan Sendang agung sangat peka sekali. Sehingga tanpa bertanya telah mengetahuinya."
__ADS_1
"Jadi maksud kanda datang ke sini untuk menjodohkan putri kanda dengan nanda prabu?."
Prabu Tenggara Dewa tertawa kecil. "Memang itulah tujuan kedatanganku dinda dewi. Selain menjalin kembali hubungan kerjasama penjualan tanaman obat." Ia menatap lekat ke arah Ratu Sawitri Dewi. "Aku harap dinda dewi bersedia menerima perjodohan ini dengan baik."
Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil. "Bisa saia aku menerima perjodohan itu kanda prabu. Tapi aku tidak jamin, jika putri kanda prabu menjadi permaisuri utama nanda prabu."
"Kenapa?. Apakah nanda prabu telah menerima lamaran dari kerajaan lain?." Ia tidak menyangka jika akan seperti itu?.
"Bukan hanya nanda prabu saja yang menginginkan ia menjadi ratu agung di istana ini kanda prabu. Melainkan aku juga menginginkan dirinya menjadi ratu agung di kerajaan ini."
"Apakah dinda dewi telah memiliki calon ratu agung untuk nanda prabu?."
"Ada. Tentunya kami telah memiliki calon ratu agung tersebut kanda prabu."
"Katakan padaku siapa dia dinda?. Katakan padaku, aku ingin mengetahuinya."
"Belum saatnya kami mengatakannya kanda prabu. Maaf jika aku menyinggung perasaan kanda prabu."
"Jadi orang yang akan menjadi ratu agung kerajaan sendang agung itu sangat istimewa?. Sehingga dinda dewi merahasiakannya?."
"Baiklah jika dinda dewi tidak bisa mengatakannya, tapi setidaknya aku telah mengatakannya dengan baik. Jika memang boleh, biarkan ada kompetensi bersaing, siapa yang pantas menjadi ratu agung di istana ini dinda dewi."
"Akan aku pikirkan kanda prabu. Tentunya belum dalam waktu dekat ini. Karena kami semua harus menyelesaikan masalah ketua kawanan perampok yang belum tertangkap."
"Kalau begitu, kabari aku jika semuanya sudah selesai dinda dewi."
"Tentu saja kanda prabu. Aku harap kanda prabu bersabar menunggu."
"Terima kasih atas kebaikan dinda dewi. Dan aku ucapkan terima kasih pada nanda prabu, karena menerima dengan baik kedatanganku hari ini."
"Sama-sama paman prabu. Semoga paman selalu dilindungi oleh sang pencipta selama diperjalanan pulang nantinya."
Pertemuan hari itu ternyata membahas tentang perjodohan. Siapa yang akan menjadi ratu agung, atau menjadi selir raja?. Atau menjadi istri kedua raja?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
Setelah pertemuan itu selesai, tinggal Prabu Praja Permana, Ratu Sawitri Dewi, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.
__ADS_1
"Aku hanya menginginkan dirimu menjadi ratu agung di istana ini nini selendang merah. Karena aku percaya dengan kemampuanmu."
"Bukankah nini selendang merah telah menikah?. Atau itu hanya karangannya saja?." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa aneh. Mengapa Ratu Sawitri Dewi bersikeras, menginginkan kakaknya itu menjadi istri utama dari Prabu Praja Permana?. "Bukankah mereka telah mengetahui, jika nini selendang merah adalah anak pembunuh bayaran?." Ia merasa ada yang aneh dengan mereka semua.
"Hamba akan memikirkannya gusti ratu. Hamba hanya tidak ingin menjatuhkan martabat gusti prabu nantinya."
"Tidak perlu terburu-buru nini selendang merah. Aku sangat mengerti dengan keadaanmu yang sekarang. Setidaknya kau pernah mencoba untuk menjadi lebih baik, saat mencobanya."
"Terima kasih atas kebaikan gusti ratu pada hamba. Semoga hamba tidak mengecewakan gusti ratu, juga gusti prabu." Hatinya masih galau, karena ia belum bisa menerima kebaikan itu. Karena ia merasa berdosa jika menyematkan nama ratu agung di depan namanya.
...***...
Sementara itu, di desa Lembung Basa. Andara Wijaya dan Aki Awuh sangat senang, karena wanita yang mereka rawat perlahan-lahan mulai sembuh kembali. Meeka hanya tidak menyangka saja, jika wanita itu telah kembali pulih.
"Terima kasih karena kebaikan aki, juga anak muda ini. Jika tidak, mungkin saja aku telah mati."
"Memangnya bibi, habis bertarung dengan siapa?. Kenapa bisa terluka parah seperti itu?." Perasaan penasaran yang tinggi mulai menguasai dirinya yang masih ingin serba tahu. "Tapi beruntung, masih bisa diselamatkan teman aki awuh."
"Rasanya aku sangat bersyukur, telah ditolong oleh kalian. Suatu saat nanti, aku pasti akan membalas kebaikan yang kalian lakukan padaku hari ini."
"Ibunda berkata, jika menolong itu jangan sampai pamrih. Tolonglah orang lain dengan ikhlas, maka kebahagiaan bukan hanya didapatkan oleh penerima saja, melainkan orang yang memberikan akan juga merasa senang."
"Wah?. Hebat sekali ibundamu mengajarimu."
"Hehehe, tentu saja ibundaku sangat hebat." Dengan bangganya ia berkata seperti itu.
"Memangnya siapa ibunda mu cah bagus?. Aku ingin bertemu dengannya." Sambil menatap mata Andara Wijaya. Entah mengapa ia seperti memiliki hubungan batin yang sangat kuat dengan anak muda itu. "Aku tidak melihat ibundamu berada di sini."
"Tentu saja bibi tidak akan bertemu dengan ibundaku. Karena ibundaku saat ini sedang betugas di lingkungan istana kerajaan sendang agung."
"Jika aku boleh mengetahuinya, siapa nama ibundamu?. Mungkin aku kenal dengannya. Karena aku juga bekerja di istana kerajaan sendang agung."
Nila Ambarawati sangat penasaran dengan nama dari ibunda ana muda itu. Bagaimana kelanjutannya?. Jangan lupa komentarnya.
...***...
__ADS_1