ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEMARAHAN DAN KEINGINAN


__ADS_3

...***...


Masih dilingkungan Istana Kerajaan Sendang Agung. Kelalawar Hitam kembali melatih dirinya agar tidak kaku saat melakukan tugas. Tapi lagi-lagi pikirannya terganggu karena Selendang Merah yang telah memiliki anak?.


"Jadi nini selendang merah telah memiliki anak?. Tapi mengapa ia masih melakukan pekerjaan berbahaya itu?." Dalam gerakannya yang cepat, namun pikirannya entah ke arah mana. Rasanya perasaannya terlalu terabaikan, sehingga ia tidak dianggap sama sekali.


"Dulu ayahanda mengatakan, jika seorang pendekar pembunuh bayaran itu adalah seorang wanita, maka ia akan berhenti melakukan pekerjaannya saat setelah ia menikah. Sama seperti ibunda yang tidak lagi bekerja sebagai pendekar pembunuh bayaran. Bahkan sekarangpun ibunda tidak lagi melakukannya." Ia teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh ayahandanya. "Tapi mengapa nini selendang merah masih melakukan pekerjaannya?."


Hatinya bertanya-tanya, dan menginginkan jawaban yang memuaskan hatinya.


"Tapi tunggu. Jika aku memang menginginkan nini selendang merah, mengapa aku tidak mendapatkannya saja?. Aku ini adalah Pendekar pembunuh bayaran. Apa yang aku takutkan?." Ia mencoba untuk menghibur diri, dengan menyemangati dirinya. Ia tidak akan takut, bahkan berhadapan dengan raja jika suaminya memang seorang raja.


"Apapun caranya, aku hanya menginginkan nini selendang merah berada di sampingku sebagai pendamping hidupku. Aku tidak peduli, jika kawanku adalah pangeran wira wijaksana. Atau bahkan gusti prabu, juga suaminya." Hatinya seketika memanas, dan ia memiliki ambisi untuk mendapatkan cinta Selendang Merah. "Aku ini seorang pendekar pembunuh bayaran. Jadi, siapapun yang berani menghalangi aku untuk mendapatkan nini selendang merah, akan aku bunuh dia."


Dengan perasaan yang sudah tidak menentu, dibutakan oleh perasaaan cinta. Kelalawar Hitam telah membulatkan tekadnya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di suatu tempat yang jauh dari keramaian. Setan Sabit Jahanam juga telah mendengarkan kabar kematian temannya. Ia tidak terima sama sekali. Sehingga ia ingin segera berhadapan dengan Selendang Merah, yang telah membunuh Setan Tombak Pencabut Nyawa. Ia ingin pamit dengan gurunya, Jagat Sampurno.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan terburu-buru begitu?."


"Aku sudah tidak tahan lagi guru. Wanita angkuh itu harus segera aku bunuh. Atau aku yang akan dibunuhnya suatu hari nanti." Dengan perasaan dendam yang membara, ia mengepal tinjunya, seakan ia ingin meremukkan seseorang. "Sebagai salah satu anggota terkuat dari kelompok setan jahat, rasanya harga diriku sedang dipermainkan oleh wanita itu guru. Karena itulah aku harus segera menemuinya. Untuk bertarung dengan jantan, dan segera menyelesaikan masalah dengannya."


"Kalau begitu aku ikut denganmu. Aku ingin melihat jurus air samudera menggulung karang miliknya itu."


"Tapi guru akan membantuku, kan?. Jika wanita itu tidak bisa aku atasi."


"Huh!. Kau ini memang tidak berguna. Katanya kau mau berhada dengan jantan. Tetapi kenapa kau malah meminta bantuan dariku?."

__ADS_1


"Hehehe hanya waspada saja guru. Sebab wanita itu agak kasar guru."


"Ah!. Terserah kau saja. Mau ikut atau tidak itu tergantung padamu. Aku hanya ingin mematikan gerakan jurus air samudera menggulung karang. Hanya itu saja yang membuat aku ikut denganmu dodol."


"Ya, maafkan aku guru. Kalau begitu mari kita cari keberadaan wanita itu."


"Mari."


Apakah keduanya akan berhasil menemukan keberadaan Selendang Merah?. Apa yang akan mereka lakukan jika bertemu dengan Selendang Merah?. Temukan jawabannya.


...***...


Keesokan harinya. Selendang Merah baru saja pulang dari desa Lembung Basa. Ia pamit lagi dengan anaknya, karena tugasnya tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Karena ia bekerja dengan seorang Raja. Akan tetapi saat itu, ada beberapa orang yang mengajarkannya.


Tentunya ia juga menyadari jika ia sedang diawasi oleh sesorang. Dengan siaga ia mengeluarkan pedang Pemangkas Pancasona miliknya. Dan pedang itu hampir saja menusuk tubuh salah satu pendekar yang ingin mencelakai dirinya.


"Oh!. Hampir saja kau dicium oleh pedang milikku."


"Aku akan selalu waspada, termasuk pada kunyuk jelek yang tiba-tiba saja hendak menerkam diriku."


"Heh!. Kau boleh saja waspada akan hal-hal seperti itu. Akan tetapi, setelah ini akan aku pastikan kau tidak akan bisa waspada lagi."


"Rupanya kau ingin menantang aku!."


Selendang Merah menyerang orang itu, hingga terjadi pertarungan antara mereka. Selendang Merah dengan menggunakan pedang Pemangkas Pancasona, untuk mengusir orang yang telah berani menghambat perjalanan menuju Istana Kerajaan Sendang Agung.


Mereka saling mengadu kekuatan mereka, namun tampaknya Selendang Merah sangat lihai dengan ilmu pedangnya. Sehingga orang yang tidak dikenal itu kewalahan.


"Kurang ajar. Ternyata dia adalah wanita yang cukup tangguh juga. Menyesal sekali aku menerima tawaran dari bhayangkara ra lilur, jika musuh yang aku hadapi sangat tangguh." Dalam hatinya merasa menyesal, karena ia tadinya tergiur dengan upah yang akan ia dapatkan jika berhasil membunuh Pendekar Wanita Selendang Merah.


"Kau tidak perlu banyak berpikir. Perhatikan saja gerakan jurus lawanmu, jika kau tidak ingin terluka karena pedang milikku ini."

__ADS_1


"Bedebah!. Berani sekali kau merendahkan aku. Akan aku tunjukkan padamu jurus pamungkas yang aku miliki!."


"Tidak usah banyak bicara kau!. Hadapi saja aku jika kau masih mampu. Jika kau tidak berani, segera pergi. Kau hanya membuang-buang waktuku saja. Aku tidak sudi melawan orang lemah seperti kau!."


"Kau benar-benar lancang!. Mulut kurang ajar!. Benar-benar wanita dengan mulut kasar!."


Orang misterius itu sangat marah. Ia tidak bisa membiarkan Selendang Merah, terus-terusan menghina dirinya. Ia memainkan jurus andalannya. Jurus yang dapat mengeluarkan asap kabut beracun dengan merapalkan sebuah mantram yang aneh.


Kabut asap tersebut membuat udara sekitar menghitam, dan tidak enak untuk dicium sama sekali.


"Bedebah busuk!. Jurus yang kau keluarkan saja busuk, apalagi hati yang mau miliki!." Dengan keramahan yang memuncak, Selendang Merah membanting Pedang Pemangkas pancasona yang ia genggam. "Baiklah, akan aku gunakan jurus semburan angin ****** beliung. Akan aku balikkan jurus busukmu itu. Benar-benar membuatku marah!." Selendang Merah berusaha untuk menahan batuknya. Karena asap hitam yang menyebar dari jurus ini membuatnya merasa sesak.


"Tapi tunggu dulu. Ah!. Jurus busuk ini tidak patut aku tiru." Selendang Merah tidak peduli lagi, ia segera memainkan jurusnya. Jurus yang berhasil ia curi dari Pendekar jahat lainnya.


"Kegh."


Orang misterius itu meringis sakit, karena asap hitam itu justru mengumpul di sekelilingnya. Membuatnya terkena jurusnya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa asap hitam dari jurusnya tadi malah menyerang balik dirinya.


"Kenapa asap hitam ini malah menyerang diriku!." Ia mengerang sakit, karena racun itu masuk ke dalam tubuhnya melalui pernapasannya.


"Kau telah salah berurusan denganku. Karena kau telah berani menghambat perjalananku. Maka akan aku bunuh kau."


Bukan hanya sekedar hembusan angin saja. Akan tetapi jurus angin itu mengandung tusukan jarum yang tak kasat mata, sehingga musuhnya merasakan serangan seperti ditusuk ribuan jarum. Orang misterius itu menjerit keras, ia tidak bisa menahan rasa sakit itu, hingga akhirnya menemui ajalnya.


Selendang Merah menghela nafasnya dengan pelan sambil mengatur tenaga dalamnya setelah bertarung tadi.


"Dasar tidak berguna. Membuang-buang waktu saja." Dengan kesalnya, ia meninggalkan tempat itu. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Istana Kerajaan Sendang Agung.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2