ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
SIAPA YANG LEBIH KUAT


__ADS_3

...***...


Kelalawar Hitam saat ini sedang berhadapan dengan Seta Aji. Laki-laki tua itu ternyata tidak bisa dianggap enteng ilmu kanuragannya.


"Sial!. Ternyata kakek tua ini memiliki kepandaian yang lumayan hebat juga." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa waspada terhadap musuhnya, karena gerakan tipuan itu beberapa kali menghantam tubuhnya.


"Heh!. Kau tidak usah banyak berpikir anak muda. Aku bukan anak kemarin sore yang bisa kau kalahkan dengan mudah!. Aku sudah merasakan asam garam pahitnya terjun di dunia persilatan." Dengan perasaan bergejolak, Seta Aji menunjuk ke arah Kelalawar Hitam. Perasaan marah yang selama ini ia pendam. "Aku tidak akan mengampuni orang-orang yang telah membunuh cucuku!." Ia memainkan sebuah jurus yang cukup berbahaya. Hasrat ingin membunuhnya saat ini sangat kuat.


"Kau jangan sombong dulu kakek tua!. Jangan remehkan kemampuan yang aku miliki. Meskipun kau memiliki banyak pengalaman hidup dari aku!." Kelalawar hitam menatap lekat mata Seta Aji, seakan menyelami alam bawah sadar laki-laki tua itu. Ia melihat semua gerakan jurus yang dimainkan oleh Seta Aji, dan ia mulai memainkan jurus itu.


"Bedebah busuk!. Bagaimana mungkin bisa kau meniru jurus yang telah aku pelajari selama ini!." Hatinya panas, ketika melihat Kelalawar Hitam memainkan jurus yang sama dengannya.


"Heh!. Sudah aku katakan padamu kakek tua!. Jangan remehkan kemampuanku!." Kelalawar Hitam menyeringai lebar. Ia melanjutkan gerakan yang sama persis dengan yang dimainkan oleh Seta Aji.


"kurang ajar!. Aku tidak terima kau mencuri jurusku!. Akan aku bunuh kau bocah tengik!." Hatinya semakin panas, ketika melihat Kelalawar Hitam memainkan jurusnya dengan baik.

__ADS_1


"Heh!. Tidak usah banyak bicara kakek tua!. Rasakan saja jurusmu sendiri, dan aku dengan senang hati akan menggali kuburan untukmu." Kelalawar Hitam tidak gentar sama sekali menghadapi laki-laki tua itu.


Mereka sama-sama menghentikan gerakan dari jurus itu, mengamati pergerakan lawan. Memprediksi kemana lawan akan bergerak. Jurus macan menerkam mangsa, bukanlah jurus biasa yang dengan mudahnya ditiru siapa saja. Butuh waktu yang lama untuk mengeluarkan aura macan dari tubuh si pengguna. Akan tetapi, kenapa Kelalawar Hitam bisa mempelajari. "Ah tidak!. Bagaimana mungkin bocah ingusan itu bisa mengetahui jurusku!." Hatinya mengutuk Kelalawar Hitam yang dengan mudahnya memainkan jurus yang ia miliki?.


Cukup lama mereka saling bertatapan mata, hingga mereka memprediksi kemana arah musuh akan bergerak. Mereka mengambil ancang-ancang seperti macan yang telah menargetkan mangsanya. Setelah itu mereka melompat dengan sangat tinggi, menerkam mangsanya. Terdengar keras Auman macan, dan hawa macan yang keluar dari tubuh mereka. Selain itu terlihat cakar yang tajam dari tinju mereka.


Keduanya saling mengadu kekuatan, saling baku hantam. Menunjukkan macan mana yang lebih kuat. Keduanya tidak memberi celah pada musuhnya. Mata mereka begitu liar mencari titik kelemahan musuhnya.


"Kurang ajar!. Ternyata bocah tengik ini bisa memainkan jurus macan menerkam mangsa dengan baik. Kurang ajar!. Tidak akan aku biarkan dia hidup!. Karena dia telah berani mencuri jurusku!." Dalam suana pertarungan itu, hatinya masih bercabang, dan tidak terima jurusnya dicuri oleh orang lain.


"Diam kau bocah tengik!. Aku tidak akan membiarkan kau hidup!. Karena kau telah berani mencuri jurusku!."


Kembali mereka beradu cakar pukulan. Dan saat itu, pertarungan mereka sangat dahsyat. Menimbulkan tekanan yang sangat kuat disekitar tempat itu. Hingga akhirnya mereka sama-sama melepaskan cakar macan terkuat dengan bantuan tenaga dalam yang mereka miliki. Keduanya sama-sama terkena serangan itu, dan berteriak kesakitan.


"Keghak!." Dada mereka sama-sama dihantam cakar yang lumayan dalam. Terlihat bekas cakaran yang cukup dalam di tubuh mereka. Keduanya terhempas ke tanah, karena luka yang mereka alami.

__ADS_1


"Adi!." Selendang Merah terkejut saat mendengar teriakan kesakitan. Ia terpaksa melompat menjauhi Suliswati yang masih bernafsu untuk membunuhnya.


"Mau kemana kau!." Suliswati mengerahkan tenaga dalamnya ke arah Selendang Merah. "Aku tidak akan membiarkan kau lari dari pertarungan ini!."


Selendang Merah berhasil menghindari serangan itu, ia menyadari serangan itu dapat membahayakan keselamatannya. Namun ia saat ini sedang mencemaskan keadaan adiknya. Akan tetapi wanita itu tidak membiarkan ia pergi ke mana-mana.


"Pertarungan kita belum selesai!. Dan kau jangan kabur!." Suliswaati menggunakan jurus meringankan tubuh. Ia mendekati Selendang Merah dengan memainkan jurus pedang lain miliknya. "Kau akan merasakan jurus tarian ular membelit mangsa." Ayunan pedang itu semakin kuat. Ia tidak akan melepaskan mangsanya. Jiwanya bergejolak untuk membunuh Selendang Merah. Dendamnya harus segera ia tuntaskan.


Selendang Merah terus menghindari pedang itu. Akan berbahaya jika mengenai kepalanya. Sebab Suliswati memainkan jurus itu untuk mengincar kepalanya. Sesekali ia tahan pedang itu dengan pedang miliknya. "Wanita ini benar-benar kurang ajar!. Akan aku bunuh dia!." Selendang Merah benar-benar sangat marah. Ia salurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya. Dengan bantuan selendang merah yang terikat rapi di pinggangnya, ia arahkan ke wajah Suliswati. Dari selendang itu keluar asap berwarna merah yang membuat Suliswati terkejut, dan menjauh dari Selendang Merah.


"Akh." Suliswati meringis kesakitan. Tubuhnya seakan tertusuk jarum yang sangat tajam dalam jumlah yang banyak. Sehingga sakit itu tidak bisa ia tahan lagi. Tubuhnya mendadak kaku, dan sulit untuk digerakkan. Selendang Merah mendekati Suliswati dan berkata. "Kau harusnya sadar!. Bahwa aku membunuh kekasihmu karena perangai biadab yang ia miliki." Selendang Merah mengatakan dengan suara amarah yang membuncah. "Jika kau masih ragu, maka kembalilah kau ke desamu. Kau tanyakan pada nini kasturi, nini maya, nini mala, nini talaga!. Kau tanyakan kepada mereka semua yang telah dinodai oleh kekasihmu itu!. Jika mereka tidak mau mengaku jika mereka dinodai kekasihmu itu!. Maka kau boleh kembali padaku!." Dengan marah yang luar biasa Selendang Merah menunjal kepala Suliswati. "Tapi aku sangsi kau bisa bertahan. Karena kau telah terkena jurus selendang lebur abu. Setidaknya dua atau tiga hari kau akan tetap berada di sini. Semoga kau tidak jadi santapan macan." Selendang Merah pergi meninggalkan Suliswati yang tidak bisa bergerak sama sekali.


"Bedebah!. Kembali kau!. Pengecut!. Jangan beraninya kau meninggalkan aku di tempat ini!."


Selendang Merah menghentikan langkahnya, dan menatap tajam ke arah Suliswati. "Aku masih berbaik hati membiarkan kau mengetahui betapa kejinya kekasih yang kau banggakan itu. Jika aku tidak mengasihanimu, sudah aku bunuh kau dari tadi." Mata itu menatap tajam ke arah Suliswati, seakan ia ingin menelan hidup-hidup wanita itu. "Jangan buat aku marah!. Sebagai wanita yang memiliki perasaan dan dikhianati oleh laki-laki aku masih mengampunimu. Tapi lain kali tidak." Selendang Merah mendekati adiknya yang sedang meringis kesakitan. Dan matanya melihat ke arah laki-laki tua yang sudah tidak sadarkan diri. Selendang merah membantu adiknya untuk berdiri, dan meninggalkan tempat itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2