
...***...
Prabu Praja Permana, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam saat ini telah kembali ke Istana Kerajaan Sendang Agung. Kedatangan mereka telah disambut oleh Ratu Sawitri Dewi.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh ibunda."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh nanda prabu."
"Sampurasun gusti ratu."
"Rampes."
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana. Namun Prabu Praja Permana menyadari, jika ada hal penting yang ingin disampaikan Ratu Sawitri Dewi padanya. Apalagi, tidak biasanya ibundanya menyambut kedatangannya.
"Ada apa ibunda. Wajah ibunda terlihat sangat cemas sekali. Apa yang membuat ibunda bersedih?. Katakan pada nanda."
"Sebenarnya ibunda agak keberatan ingin mengatakannya pada nanda. Tapi ibunda sudah tidak tahan lagi nak."
"Sebenarnya apa yang terjadi selama nanda pergi ibunda. Katakan saja pada nanda."
"Maaf nanda prabu. Bisakah kita bicara di tempat lain?."
"Oh baiklah ibunda."
"Kami pamit gusti prabu, gusti ratu. Sampurasun."
"Rampes."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam mengerti, mereka pergi dari sana membiarkan Ratu Sawitri Dewi yang ingin berbicara dengan anaknya. Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi menuju ruang pribadi Raja. Di sana Ratu Sawitri Dewi menyampaikan semua yang ia rasakan.
"Ada apa ibunda?. Katakan pada nanda dengan pelan, hati yang jernih, dan pikiran yang tenang."
"Sudah beberapa kali, kedua istri serta selir Dinda mu datang menemui ibunda. Rasanya ibunda sangat bosan mendengarkan keluhan mereka semua. Nanda prabu harus bersikap tegas pada dindamu. Ibunda tidak mau mereka semua menderita karena ulah dindamu yang tidak bisa diberi hati lagi."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jadi ia masih belum juga mau berubah ibunda?."
"Jika dinda mu itu mau berubah, maka ibunda tidak akan mengatakannya padamu nak. Ibunda sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya itu."
__ADS_1
"Baiklah ibunda. Nanda akan segera menemuinya. Dan menyelesaikan masalah ini dengannya."
"Ibunda mohon selesaikan secepatnya nak. Kasihan mereka yang saat ini sedang menangis sedih karena perbuatannya."
"Kalau begitu nanda akan mencari dinda wira yang. Ibunda tetaplah berada di Kaputren. Nanda tidak mau terjadi sesuatu pada ibunda nantinya."
"Berhati-hatilah nak."
"Nanda pamit ibunda. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh nanda prabu."
Prabu Praja Permana pergi meninggalkan ibundanya. Ia ingin mencari keberadaan adiknya Pangeran Wira Wijaksana. Apalagi masalah yang dilakukan oleh adiknya itu?. Sehingga ibundanya tidak tahan lagi?.
Sementara itu, Pangeran Wira Wijaksana justru malah menemui Selendang Merah dan Kelalawar Hitam, yang tadinya hendak meninggalkan istana. Karena ada pembicaraan yang penting untuk mereka bahas. Tapi langkah mereka dicegat oleh Pangeran Wira Wijaksana dan Bhayangkara Ra Lilur.
"Mau kemana nimas rembulan indah?. Apakah kau ingin menjalankan tugas dari kanda prabu?."
"Maaf gusti pangeran. Kami memang hendak menjalankan tugas dari gusti prabu. Apa yang membuat gusti pangeran menemui hamba."
"Lihatlah gusti pangeran. Tiba-tiba saja dia menjadi wanita yang jinak, jika dihadapan gusti pangeran. Itu membuktikan bahwa dia wanita yang sama. Suka ketampanan, serta kekayaan seorang laki-laki."
"Lihatlah gusti pangeran. Dia malah mendapatkan pembelaan dari anak muda ini."
"Tidak usah jadi seorang penjilat kau bhayangkara ra lilur. Aku tahu kau beberapa kali mengincar nyawaku dengan menyuruh pendekar kelas teri untuk membunuhku. Tapi sayangnya, mereka semua gagal untuk melakukan tugasnya."
"Jaga ucapan mu wanita bingal. Aku bisa menuntut mu, atas fitnah kejam yang kau katakan tadi."
"Aku berkata yang sebenarnya. Karena semua itu telah tertulis jelas di wajahmu yang menyebalkan itu."
"Kurang ajar!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku."
Bhayangkara Ra Lilur tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Ia hendak menyerang Selendang Merah, akan tetapi saat itu Prabu Praja Permana datang.
"Apa yang kalian ributkan?. Mengapa kalian sampai ingin berkelahi?."
"Gusti prabu."
__ADS_1
"Ini hanyalah kesalahpahaman saja gusti prabu."
"Baiklah. Aku tidak akan memperumit kan masalah kalian. Namun aku ingin membahas satu masalah denganmu dinda wira wijaksana. Ikuti aku ke ruang pribadi raja."
"Sandika kanda prabu."
Pangeran Wira Wijaksana mengikuti Prabu Praja Permana menuju ke ruang pribadi Raja. Apa yang akan mereka bahas?. Temukan jawabannya. Sedangkan Selendang Merah, dan Kelalawar Hitam masih melirik tidak suka ke arah Bhayangkara Ra Lilur. Seperti ada dendam yang timbul diantara mereka.
"Tidak akan aku biarkan kalian berlama-lama berkeliaran di istana ini. Akan aku pastikan, dalam waktu dekat ini kalian akan angkat kaki dari istana ini."
"Kau tidak usah banyak bicara. Meskipun kau seorang bhayangkara yang bertugas menjaga keselamatan raja. Tapi ingat, kami adalah kaki tangan gusti prabu. Jika kau berani macam-macam pada kami, kau akan berhadapan langsung dengan gusti prabu."
"Jika kau lupa, kami ini adalah pendekar pembunuh bayaran. Tanpa disuruh gusti prabu. Kami bisa bergerak atas nama rakyat sendang agung, dan aku pastikan kau membayar atas apa yang kau telah kau lakukan pada dua adipati yang telah kau bunuh. Karena mereka menuntut keadilan keselamatan desanya."
Bhayangkara Ra Lilur terdiam. Ia tidak lagi berkata apa-apa, karena ia tidak menyangka, jika kedua pendekar pembunuh bayaran ini mengetahui rahasia yang telah ia simpan?. Bagaimana bisa mereka mengetahui rahasia itu?.
"Sudahlah adi. Dari pada kita meladani bhayangkara tidak berguna ini, lebih baik kita melakukan persiapan untuk besok."
"Baiklah nini. Rasanya hanya akan membuang tenaga sia-sia, dan kita tidak mendapatkan apa-apa dari orang tidak berguna ini."
Selendang merah dan Kelalawar Hitam pergi meninggalkan tempat. Karena mereka sangat malas berurusan dengan Bhayangkara Ra Lilur. Sedangkan Bhayangkara Ra Lilur sangat mengutuk keberadaan keduanya yang akan mengancam jabatannya. Ada kemungkinan ia akan dipecat, jika ia terbukti bersalah di hadapan Prabu Praja Permana.
"Segera mungkin, kedua itu harus segera aku lenyapkan. Karena kehadiran mereka akan mengancam jabatan ku."
Perasaan hatinya yang telah dibumbui oleh rasa benci dan tidak suka. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya. Sementara itu, Prabu Praja Permana sedang berbincang dengan Pangeran Wira Wijaksana.
"Aku langsung saja pada inti permasalahannya dinda. Karena sudah berapa kali mereka datang padaku. Mereka mengadu karena tidak tahan lagi dengan sikap dinda pada mereka."
"Apakah karena itu kanda prabu memanggilku?. Hanya untuk membahas tuntutan mereka pada kanda prabu?."
"Mereka adalah istri dinda. Tentu saja mereka protes dengan apa yang dinda lakukan. Jika dinda tidak bisa mengendalikan perasaan dinda. Maka ingatlah, bahwa dinda telah memiliki anak dari mereka."
"Kanda prabu tidak usah ikut campur. Urus saja negeri ini dengan baik. Karena kanda prabu yang bertanggungjawab, atas apa yang terjadi pada negeri ini."
"Ya, salah satu masalah yang ada di negeri ini adalah karena dinda sendiri. Jika aku memang ingin menyelesaikan masalah negeri ini, maka semuanya berasal dari dinda."
Bagaimana tanggapan Pangeran Wira Wijaksana dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...