ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
HATI YANG MENENTUKAN


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana, Ratu Sawitri Dewi dan Selendang Merah saat ini melihat kepergian Bedati Prabu Pranata Kusuma yang pergi meninggalkan istana ini. Mereka semua mengetahui, jika sang Prabu merasa kecewa. Karena salah satu anaknya tidak bisa menjadi ratu agung di kerajaan ini. Jadi mereka pulang dengan buru-buru.


"Maaf gusti ratu, gusti prabu. Apakah ini tidak apa-apa?." Selendang Merah merasa tidak enak hati, karena keadaan yang ia rasakan tadi.


"Tidak apa-apa nini. Biarkan saja ia seperti itu. Karena kau lah yang pantas untuk menjadi ratu agung di istana ini. Bahkan nanda prabu telah setuju." Ratu Sawitri Dewi hanya tersenyum kecil.


"Tapi, hamba sangat takut sekali gusti ratu. Itu bisa menimbulkan perang besar. Karena tatapan gusti prabu pranata kusuma sangat tidak suka dengan hamba." Selendang Merah memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. "Hamba tidak mau menimbulkan masalah yang besar, yang akan merugikan kerajaan ini."


"Kau tenang saja. Jika memang itu terjadi, maka aku sendiri yang akan ikut turun tangan. Kau tidak perlu khawatir, jadi tenang saja." Ratu Sawitri Dewi berusaha meyakinkan Selendang Merah. Semuanya akan baik-baik saja, jadi Selendang Merah tidak perlu mengkhawatirkan keadaan atau masalah yang akan terjadi.


"Benar apa yang dikatakan oleh ibunda ratu. Jika perang terjadi hanya karena mereka menginginkan kedudukan ratu agung di istana ini." Prabu Praja Permana setuju dengan apa yang dikatakan ibundanya. "Bukankah nimas juga bisa melihat tujuan mereka melalui tatapan mata batin nimas bukan?." Prabu Praja Permana tersenyum kecil. "Bukankah kita saat ini memiliki ikatan karena janji darah?. Jika nimas lupa." Lanjutnya lagi.


Sepertinya Ratu Sawitri Dewi dan Prabu Praja Permana memang memilih Selendang Merah untuk menjadi ratu agung di istana ini. Karena sudah beberapa kali menolak putri raja dan bahkan Patih sendiri untuk mengajukan diri untuk menjadikan putri mereka sebagai ratu agung. "Lagi pula mereka hanya mengincar tahta saja. Aku tidak suka dengan gaya mereka yang seperti itu." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi merasa kesal.


"Baiklah jika memang seperti itu. Hamba harap gusti ratu, serta gusti prabu selalu berhati-hati." Selendang Merah hanya bisa pasrah saja.


"Kalau begitu ibunda akan kembali ke bilik. Kalian berdua lanjutkan saja apa yang telah kalian rencanakan untuk membersihkan para kawanan perampok yang mungkin masih bercokol di negeri ini." Ratu Sawitri Dewi hanya beralasan saja, karena ia hanya ingin anaknya lebih banyak berbincang-bincang dengan Selendang Merah. Selain itu, supaya mereka tidak canggung lagi jika ingin membahas masalah negeri ini nantinya, jika memang jadi menikah.


"Apakah nanda perlu mengantar ibunda?." Prabu Praja Permana menawarkan dirinya.


"Ibunda rasa tidak perlu nak. Ibunda bisa sendiri." Balas Ratu Sawitri Dewi dengan senyuman lembut.


"Baiklah, ibunda pergi dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ibunda."


"Sampurasun, nini selendang."


"Rampes. Gusti ratu."


Ratu Sawitri Dewi memberikan ruang untuk mereka berdua agar lebih lama lagi berdekatan. Bukan hanya sebagai raja atau bawahan saja. Melainkan sebagai calon suami istri yang akan membawa Kerajaan Sendang Agung ke arah yang lebih baik lagi.


Prabu Praja Permana dan Selendang Merah hanya melihat kepergian Ratu Sawitri Dewi. Karena rasanya percuma saja memaksa mengantar Ratu Sawitri Dewi menuju ke biliknya.


"Mari nimas. Mari kita menuju pendopo istana. Agar lebih baik untuk berbicara." Prabu Praja Permana mempersilahkan Selendang Merah.


"Mari gusti prabu." Selendang Merah hanya mengikuti apa yang dikatakan Prabu Praja Permana saja. Sepertinya mereka memang perlu untuk membicarakan masalah sisa-sisa kawanan perampok yang mungkin masih berkeliaran di kawasan kerajaan Sendang Agung.


...***...


"Wanita bercadar merah itu harus segera kalian singkirkan. Karena dia hanya akan menghalangi rencana ku, untuk menjadikan anakku sebagai ratu agung." Patih Arya Serupa sangat berambisi.


"Baiklah gusti patih. Kami akan melakukannya dengan baik."


"Kami tidak akan mengecewakan gusti patih. Kami pastikan dia akan mati ditangan kami hari ini juga."


"Tapi kalian harus ingat. Jangan terlalu lama menatap matanya, atau kalian akan dalam masalah." Patih Arya Serupa mengingatkan mereka.


"Terima kasih informasi yang gusti Patih berikan pada kami."

__ADS_1


"Gusti Patih tidak perlu khawatir. Gusti Patih hanya menunggu kabar bahagia dari kami."


"Semua pekerjaan yang kami lakukan sangat rapi. Jangan ragu pada kami, pasti tidak akan mengecewakan gusti patih."


"Itu yang aku harapkan dari kalian."


"Kalau begitu kami pamit dulu."


"Ya, silahkan."


Setelah itu dua orang Pendekar pembunuh bayaran itu pergi dari sana. Karena mereka akan menjalankan tugas yang diperintahkan Patih Arya Serupa untuk membunuh Selendang Merah.


"Apakah ini tidak akan menjadi masalah nantinya kakang Patih?." Nyai Fatma Endang, istri Patih Arya Serupa mendekati suaminya.


"Benar ayahanda. Saya takut mereka akan gagal melakukan tugas mereka, dan malah tertangkap." Putri Ambar Suryati, satu-satunya putri dari Patih Arya Serupa, malah memikirkan hal yang buruk.


"Kalian tenang saja. Mereka orang-orang terlatih dalam membunuh orang lain." Patih Arya Serupa tersenyum kecil. "Wanita pembunuh bayaran itu tidak pantas berdampingan dengan orang agung seperti nanda prabu. Hanya Putri ayahanda saja yang pantas mendampingi beliau." Ia mengusap sayang kepala anaknya. Ia melakukan ini semua demi kebahagiaan anaknya. "Hanya kau yang pantas menjadi ratu agung. Bukan wanita bercadar merah itu." Lanjutnya lagi.


"Benarkah saya pantas menjadi ratu agung ayahanda?." Ia terlihat sangat berharap.


"Ibundamu pasti akan setuju. Karena memang kau yang pantas mendapatkan gelas ratu agung." Patih Arya Serupa selalu pandai meyakinkan anaknya.


"Benar apa yang dikatakan ayahandamu nak. Hanya kau yang pantas mendapatkan gelar ratu agung itu." Nyai Fatma Endang tersenyum meyakinkan pada anaknya.


"Oh, rasanya saya tidak sabar lagi ingin mendapatkannya ayahanda, ibunda." Suasana hatinya berubah lebih baik. "Besok, saya akan ke istana. Untuk menyapa kanda prabu. Saya ingin lebih akrab lagi dengan kanda prabu. Apakah saya boleh ikut dengan ayahanda ke istana besok?." Putri Ambar Suryati semakin terlihat bersemangat.

__ADS_1


Patih Arya Serupa dan Nyai Fatma Endang tertawa melihat tingkah anaknya saat ini. "Tentu saja boleh. Itu yang harus kau lakukan. Karena kau harus lebih dekat lagi dengan nanda prabu. Agar lebih lancar lagi hubungan kalian." Ucapnya. "Jika perlu, tunjukkan kedudukan serta derajat kalian yang berbeda. Permalukan dia dengan kemahiran yang kau miliki. Itupun jika kalian bertemu besok. Karena malam ini ia telah menjadi target pembunuh bayaran. Ahahaha!." Sepertinya Patih Arya Serupa terlalu bahagia. Begitu juga anak dan istrinya yang membayangkan jika mereka berhasil memegang gelar ratu agung. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya


...***...


__ADS_2