ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
MANGSA?.


__ADS_3

...***...


Seseorang keluar melompat dari persembunyian, ia berdiri tidak jauh dari Selendang Merah dan sang Prabu.


"Jadi kau adalah pendekar pembunuh bayaran?. Untuk apa kau kemari." Selendang merah jadi sensitif, ia dapat mencium aroma darah kental dari senjata orang itu. "Dan sepertinya, kau baru saja siap berburu." Lanjut Selendang Merah. Ia tidak mungkin salah mengenali siapa orang tersebut, apalagi dibantu oleh mata elangnya yang dapat mengenali apapun dari lawannya.


"Hooo. Sepertinya hidung seorang pendekar pembunuh bayaran, memang tidak bisa diremehkan. Apalagi ilmu kadigjayaan yang ia miliki sangat mempuni." Mata elangnya juga dapat menangkap, ilmu kanuragan apa saja yang dimiliki lawannya.


"Dan siapa sangka kau bersama mangsaku." Mata itu melirik ke arah Prabu Praja Permana, yang masih duduk tenang di dekat api unggun.


Sedangkan selendang Merah mengernyitkan keningnya. Ia tidak salah mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu?. Orang itu mengatakan mangsa?.


"Apa maksudmu?. Kau berani mengincar guruku?. Apakah kau sudah bosan hidup?!." Amarah selendang merah keluar begitu saja, entah mengapa hatinya panas mendengar kata mangsa, yang ditujukan pada Prabu Praja Permana?.


Sedangkan orang misterius itu dan sang prabu terkejut, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang merah?. Ia mengatakan guru pada Prabu Praja Permana?.


"Sejak kapan prabu praja permana jadi gurumu!. Kau jangan berusaha untuk melindunginya!." Orang misterius itu merasa kesal, ia merasa dipermainkan oleh selendang Merah.


"Mohon ampun guru. Orang ini sepertinya sedang menargetkan guru." Ucapnya sambil menahan amarah. "Izinkan saya mengusirnya. jangan sampai guru gagal melakukan tapa puasa, menahan diri untuk tidak bertarung saat ini." Selendang merah memberi hormat pada sang prabu. Ia harus tetap berbohong, agar bisa melindungi prabu Praja Permana dari incaran pembunuh bayaran itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sepertinya selendang merah sedang melindungi diriku. Apa yang harus aku lakukan?." Batin Prabu Praja Permana merasa gundah. Ia tidak tahu apa yang terjadi, karena matanya yang saat ini sedang tidak bisa melihat.


"Muridku. Katakan padanya, agar segera pergi dari sini. Sebelum ia dikutuk oleh dewata yang agung. Karena mengganggu tapa puasa seseorang." Mau tak mau prabu praja Permana mengikuti sandiwara yang dimainkan oleh selendang merah.


"Banyak bicara!. Kau memang pengecut praja permana!. Hanya bisa berlindung dibalik seseorang!." Orang itu tidak mudah percaya begitu saja. Ia sangat marah, ia langsung menyerang prabu Praja Permana dengan menggunakan pedangnya.

__ADS_1


Akan tetapi Selendang merah menyadari serangan itu. Hingga ia melambari selendang merahnya, dengan tenaga dalamnya. Sehingga selendangnya itu menghantam kuat tubuh kiri pemuda itu.


Pemuda misterius itu tidak menyadari serangan itu. Hingga tubuhnya terlempar ke samping. Selendang Merah mengejarnya, selanjutnya pertarungan antara mereka tidak bisa dihindari lagi.


"Nimas selendang merah." Prabu Praja Permana sangat khawatir dengan apa yang terjadi. Namun ia tidak bisa membuka perban yang menutupi matanya. "Ya Allah. Hamba mohon lindungi nimas selendang merah." Prabu Praja Permana sangat khawatir.


Sementara itu. Selendang merah mencoba memukul dada pemuda itu. Akan tetapi ia berhasil menahan pukulan itu, ditangkisnya dengan kedua tangannya dan serangan itu tidak mengenainya.


Tidak hanya itu saja, pemuda itu mengibas pukulan itu. Mencoba menyerang balik selendang merah dengan sebuah tendangan keras, tetapi Selendang Merah berhasil menahan tendangan itu. Mereka saling menyerang, bertahan, sesekali menggunakan jurus-jurus andalan mereka. Hingga keduanya terkena pukulan dan ledakan akibat jurus yang mereka gunakan.


"Ya Allah. Ledakan apa itu?. Semoga saja nimas selendang merah baik-baik saja ya Allah." Prabu Praja Permana sangat khawatir karena mendengarkan suara ledakan itu. Hatinya sangat cemas luar biasa akan keselamatan Selendang Merah.


"Kau cukup kuat juga. Meskipun kau seorang wanita." Pemuda itu begitu kagum dengan ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh selendang merah.


"Heh!. Tidak perlu kau memujiku!." Selendang merah mendengus kecil. Ia cukup kewalahan juga melawan pemuda itu.


"Namaku selendang merah. Untuk apa kau menyebutkan namamu padaku?." Selendang Merah merasa heran dengan pemuda itu. Setelah itu ia mengatur hawa murninya. Ia tidak ingin terlihat ngos-ngosan setelah bertarung.


"Mungkin lain kali aku akan berburu lagi. Tapi saat pertemuan itu, aku tidak akan kalah darimu." Setelah berkata seperti itu, Kelalawar hitam melompat pergi menjauh dari sana. Meninggalkan pertarungan yang baru saja mereka lakukan.


Selendang Merah hanya diam ditempat. Tidak berniat mengejarnya, meskipun ada pertanyaan dihatinya. Apakah benar mereka akan bertemu lagi?. Tapi itu yang dikatakan oleh pemuda itu sebelum ia pergi.


Tapi tidak mungkin ia terus bersama sang prabu bukan?. Lalu apa yang harus ia lakukan?. Keselamatan Prabu Praja Permana sepertinya saat ini terancam, karena ada seseorang yang menginginkan kematiannya melalui pendekar pembunuh bayaran.


"Gusti Prabu?." Selendang Merah menyadari, bahwa ia telah meninggalkan sang Prabu karena pertarungan tadi. "Gusti prabu baik-baik saja?. Apakah gusti prabu terluka?." Selendang Merah nampak cemas akan keselamatan sang prabu. Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Saya baik-baik nimas." Balasnya dengan senyuman kecil. "Terima kasih karena nimas telah menolong saya." Lanjutnya.


"Syukurlah jika gusti prabu baik-baik saja." Selendang Merah merasa lega mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan nimas sendiri?. Apakah nimas terluka karena pertarungan tadi?. Saya sempat mendengarkan ledakan dari pertarungan kalian." Prabu Praja Permana tampak cemas.


"Hamba baik-baik gusti prabu. Tidak ada yang perlu dicemaskan." Jawab Selendang Merah dengan tenangnya.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin kalau begitu nimas." Prabu Praja Permana sangat bersyukur mendengarnya.


"Lalu apa yang akan gusti prabu lakukan setelah ini?." Entah mengapa Selendang Merah menaruh perhatian pada sang prabu.


"Sepertinya saya akan kembali ke istana untuk sementara waktu. Saya tidak mau merepotkan nimas dengan kondisi saya yang sekarang." Jawab sang Prabu tersenyum kecil.


"Lalu bagaimana dengan orang yang mengincar gusti prabu?." Ada kecemasan di dalam hatinya. Setahunya, jika seorang pendekar pembunuh bayaran telah menemukan targetnya, maka ia akan mengincarnya sampai dapat.


"Hidup dan mati, saya serahkan hanya kepada Allah. Jika Allah SWT berkehendak, semuanya akan terjadi." Ucap sang Prabu dengan lembut.


"Baiklah gusti prabu. Jika memang begitu, izinkan hamba mengantar gusti prabu sampai ke istana." Selendang merah menawarkan dirinya untuk membantu sang Prabu.


"Terima kasih nimas. Tapi antarkan sampai gerbang kerajaan saja. Saya tidak mau nimas dilihat oleh prajurit. Dan mereka malah salah faham pada nimas." Sang Prabu tidak menolak kebaikan selendang merah. Sang prabu hanya tidak ingin wanita itu mendapatkan masalah nantinya.


"Sandika gusti prabu." Selendang Merah memaklumi kecemasan sang Prabu. Apalagi ini hampir subuh. Dan kemungkinan saja, mereka sampai di gerbang kerajaan sudah siang. Bisa jadi selain prajurit jaga, penduduk sekitar juga akan melihat mereka.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Baca terus ceritanya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2