ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
DENDAM LAGI?.


__ADS_3

...***...


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam pamit, karena mereka harus menyelesaikan tugas yang diberikan Prabu Praja Permana. Meskipun masalah perampokan yang melanda negeri kerajaan Sendang Agung telah diatasi, namun mereka yakin. Anak buah dari Nila Ambarawati masih berkeliaran.


"Maaf ibunda, ayahanda. Kami terpaksa harus pergi lagi. Karena kami harus menyelesaikan tugas kami."


"Tidak apa-apa. Setidaknya kalian masih ingat dengan rumah kalian. Sejauh apapun elang terbang, pasti akan ingat dengan sarangnya bukan?." Elang putih, itulah nama julukan wanita itu ketika masih muda, dan menjalani takdirnya sebagai pembunuh bayaran.


"Terlahir dengan takdir membunuh. Itu adalah hal yang sikit untuk dijalani. Memiliki rumah itu adalah hal yang mustahil. Jika ia kembali ke rumah, maka musuh akan mengetahui keberadaannya. Aku harap kalian busa berhati-hati lagi saat kembali lagi ke sini."


"Tentu saja kami akan berhati-hati. Kami pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Keduanya melangkah pergi meninggalkan rumah mereka. Padahal baru beberapa hari mereka berada di sana.


"Mereka pergi lagi kakang."


"Tidak apa-apa nyai." Sudara atau nama lainnya burung hantu tersenyum kecil menatap kepergian kedua anaknya. "Mereka telah memutuskan untuk pergi. Bahkan ketika tidak disuruh pun, mereka dulu pergi dengan sendirinya. Jadi tidak perlu khawatir lagi nyai."


"Ya, kakang benar. Tapi aku hanya tidak menyangka saja. Jika anakku tumbuh menjadi wanita yang kuat." Ada rasa bangga di dalam dirinya melihat keputusan yang diambil oleh anaknya.


"Janji darah itu, tidak semua pendekar pembunuh bayaran dari keluarga besar kita mau melakukannya. Anak kita telah membuat keputusan yang luar biasa."


"Ya. Kakang benar. Dia adalah anak kita yang hebat."

__ADS_1


Sebagai orang tua, keduanya akan selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh kedua anaknya. Termasuk keputusan mereka untuk meninggalkan rumah.


...***...


Istana Kerajaan Sendang Agung.


Ratu Sawitri Dewi saat ini membawakan makanan dan minuman untuk kedua anak muda yang baru saja selesai latihan. Ia tampak bahagia dengan kehadiran Andara Wijaya dan Sandi Praha.


"Sepertinya kalian latihan dengan serius sekali. Apakah tidak merasa haus atau lapar?." Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil menatap keduanya. Ia memberikan secangkir air putih pada Andara Wijaya dan Sandi Praha.


"Terima kasih nenek ratu."


"Terima kasih gusti ratu. Maaf merepotkan."


Keduanya merasa sungkan dengan sikap baik ratu Sawitri Dewi. Karena mereka baru berada di istana ini.


"Hiks. Rasanya hamba tidak bisa menolak kebaikan gusti ratu. Tapi memang makanannya terlihat sangat enak sekali." Sandi Praha sangat terharu melihat banyak makanan yang dihidangkan di hadapannya. Sedangkan Ratu Sawtiri Dewi dan Andara Wijaya malah tertawa melihat raut wajah Sandi Praha.


"Kalau begitu makanlah. Aku membuatkan semua ini untuk kalian."


"Terima kasih gusti ratu. Semoga kebaikan gusti ratu dibalas oleh dewata agung." Sandi Praha tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak memakan makanan itu.


"Terima kasih nenek ratu. Makanannya terlihat sangat enak. Lebih enak lagi kalau dimakan bersama."


Ratu Sawitri Dewi tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Andara Wijaya. Suasana hatinya sangat baik, apalagi melihat kedua anak muda itu makan dengan lahapnya. "Sudah lama tidak memasak. Tapi alhamdulilah hirobbil'alamin, mereka sangat suka dengan masakan ku." Dalam hati Sawitri Dewi sangat bahagia.

__ADS_1


Sementara itu dari kejauhan, Prabu Praja Permana memperhatikan bagaimana ibundanya saat bersama Andara Wijaya dan Sandi Praha. "Alhamdulillah hirobbil'alamin, dengan kedatangan mereka berdua. Kekecewaan yang dirasakan ibunda sedikit terhapus kan." Prabu Praja Permana dapat merasakan perubahan ibundanya.


"Maafkan nanda ibunda. Pasti ibunda merasa kesepian, setelah nanda naik tahta. Dan maaf, hanya kesedihan yang ibunda rasakan karena sikap dinda wira wijaksana." Hatinya juga merasakan kesedihan mengingat semua itu. "Semoga saja ibunda bisa bahagia dengan kehadiran nanda andara wijaya, juga sandi praha." Hanya itu harapannya saat melihat ibundanya yang saat ini sedang menikmati kebersamaannya dengan Andara Wijaya dan Sandi Praha. Selama ini Pangeran Wira Wijaksana melarang anak-anaknya dekat dengan Ratu Sawitri Dewi. Itulah alasan lain, mengapa Ratu Sawitri Dewi merasa kesepian selama ini.


...***...


Sudah hampir tiga hari Suliswati menunggu kedatangan Selendang Merah, namun belum juga muncul. Tangannya sudah gatal ingin menghajar wanita itu.


"Sial!. Rasanya aku dipermainkan oleh kakek tua itu!. Dan bodohnya aku malah percaya dengan apa yang kakek tua itu katakan." Dengan perasan marah bercampur kesal, ia terus mondar mandir di sana. Di hutan perbatasan yang hampir memasuki kerajaan Sendang Agung. "Kalau aku bertemu lagi dengan kakek tua itu, akan hajar dia!. Membuatku marah saja!."


"Hei!. Cah ayu. Kenapa kau malah mengoceh sendiri di sini?."


Suliswati mencari arah suara itu, dan ia melihat ke atas pohon. Laki-laki tua yang mengatakan, jika orang yang ia cari berada di wilayah ini. "Hei!. Kakek tua!. Turun kau dari sana!. Akan aku hajar kau!. Berani sekali kau menipu ku!." Amarahnya membuncah hingga sampai ke ubun-ubun. Ia tidak lagi menunjukkan sikap sopannya pada orang yang lebih tua darinya. Akan tetapi kakek tua itu malah menertawakan dirinya.


"Hei!. Cah ayu. Kesabaran menunggu mangsa itu adalah hal yang sangat penting." Ia melompat turun mendekati Suliswati yang sudah siap dengan pedang di tangannya.


"Heh!. Tidak usah banyak bicara kau kakek tua!. Aku akan menghabisi orang yang telah berani mempermainkan aku!." Ia hampir saja menyerang laki-laki tua itu, akan tetapi berhasil ditahan dengan baik.


"Kau lihat ke sana." Ia menunjuk ke arah dua orang yang baru saja mendekat ke arah mereka. "Itu mangsa yang kau cari bukan?."


Suliswati menyimpan kembali pedangnya ke dalam warangkanya. Ia melihat ciri-ciri dari orang yang pernah ia temui waktu itu. "Tidak salah lagi. Dia adalah pendekar pembunuh bayaran itu. Aku tidak akan melupakan apa yang telah ia lakukan padaku waktu itu." Darahnya seakan mendidih melihat itu. Ia langsung melompat, mendekati dua orang yang baru saja ingin masuk ke wilayah kerajaan Sendang Agung. Dengan jurus meringankan tubuh, Suliswati mendekati dua orang tersebut. Selain itu, laki-laki tua itu juga mengikuti Suliswati.


Kedua orang tersebut adalah Selendang Merah dan Kelalawar Hitam. Mereka sedikit terkejut, melihat ada dua orang yang mendekat ke arah mereka, sehingga mereka terlihat waspada.


"Heh!. Tidak salah lagi. Memang kau orang yang aku cari." Ucapnya sambil memainkan pedang ditangannya yang masih tersaring rapi di warangkanya. Pandangannya begitu sinis dan seakan merendahkan Selendang Merah.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2