ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
TIDAK YAKIN


__ADS_3

...***...


Malam hari, di sebuah desa dekat perbatasan kota raja. Selendang Merah saat ini sedang berada di tempat hiburan rakyat. Hampir sebagian orang di sana mengenali dirinya, sehingga ia dipersilahkan masuk. Rasanya ia telah diistimewakan oleh mereka karena ia adalah bawahan Prabu Praja Permana.


"Silahkan masuk den ayu."


"Tidak biasanya datang ke sini. Apakah ini tugas dari gusti prabu?."


"Silahkan duduk den ayu."


Begitu ramahnya mereka semua padanya, sehingga dipersembahkan duduk di depan untuk menyaksikan acara wayang. Namum tidak ada reaksi darinya. Tatapannya begitu liar, seakan sedang mengintai mangsa. Dan benar, apa yang terjadi saat itu?. Selendang Merah malah menyerang ketiga orang yang berbicara dengannya tadi. Sehingga suasana di sana menjadi kacau.


"Lari!. Nini selendang merah mengamuk." Itu yang mereka teriakkan ketika itu. Mereka semua yang tidak memiliki ilmu kepandaian hanya bisa melarikan diri. Karena mereka tidak mau menjadi korban. Malam yang naas, malam yang malang. Mereka semua menjadi korban keganasan Selendang Merah. Pembunuhan malam itu terjadi dengan cepatnya. Malam berdarah yang sangat mengerikan.


...***...


Namun bukan hanya sampai di sana saja. Selendang Merah bahkan membunuh banyak nyawa yang tak berdosa. Hingga kabar itu sampai ke telinga Prabu Praja Permana. Pagi itu mereka mengadakan rapat mengenai perbuatan keji yang telah dilakukan oleh Selendang Merah.


"Aku harap kalian semua tenang."


"Mohon ampun gusti prabu. Kami semua sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh nini selendang merah."


"Kami meminta gusti prabu menangkapnya, dan memberikan hukuman padanya."


"Mohon ampun gusti prabu. Hamba rasa ini ada kesalahan. Tidak mungkin kakak hamba melakukan tindakan keji tanpa adanya alasan."


"Hei kau Pendekar pembunuh bayaran. Tidak usah membela kakakmu yang sudah jelas melakukan kesalahan."


"Mohon ampun gusti prabu. Kalau begitu beri hamba perintah untuk menangkap kakak hamba, jika memang ia terbukti telah melakukan kesalahan. Hamba sendiri yang akan membunuhnya."


"Kami tidak percaya gusti prabu. Mungkin saja dia dan kakaknya telah bersekongkol dalam masalah ini."


"Hei!. Tuan yang terhormat. Janganlah kau gunakan otakmu yang kotor itu dalam mengambil keputusan. Gusti prabu lah yang berhak menentukan semuanya. Jadi tuan jangan menguji kesabaran saya dengan perkataan tuan."


Mereka semua terdiam, mereka yang ingin mengadili Selendang Merah atas apa yang telah dilakukannya. Tentu saja sebagai adik, Kelalawar Hitam tidak menerima begitu saja.

__ADS_1


"Saya yang akan mengawal adimas kelalawar hitam, untuk menangkap nimas selendang merah. Jika ia terbukti melakukan perbuatan keji itu, maka kami yang akan membunuhnya. Jadi saya mohon kalian jangan mencoba untuk memanasi saya. Apalagi mencoba untuk mengambil kesempatan untuk menyalahkan nimas selendang merah dalam masalah ini." Tatapan sang Prabu begitu tajam, membuat mereka semua merasakan ada yang berbeda dengan Raja mereka. "Masalah ini belum jelas. Apakah benar nimas selendang merah yang melakukannya, atau ada seseorang yang sedang menyamar menjadi dirinya untuk melakukan kejahatan. Maka dari itu, saya dan adimas kelalawar hitam yang akan mencari tahu kebenarannya. Sementara itu kalian tetap perketat keamanan di kerajaan ini. Jika sampai terjadi pembunuhan lagi oleh nimas selendang merah, maka kesalahan itu akan saya limpahkan pada kalian, karena tidak bisa menjaga keamanan dengan baik. Kalian jangan hanya bisa menyalahkan orang lain dalam ketidakmampuan dalam menjaga keamanan."


Mereka semua hanya terdiam, dan tidak menduga sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Mereka sangat merasakan adanya perbedaan. Tapi yang pasti, Prabu Praja Permana tidak yakin, jika itu adalah perbuatan Selendang Merah. "Nimas. Sekarang kau ada dimana?. Katakan padaku, jika kau tidak akan mungkin melakukan perbuatan jahat itu. Kau sendiri yang mengatakan padaku." Dalam hati Prabu Praja Permana berusaha meyakinkan dirinya, jika Selendang Merah saat ini sedang dalam perjalanan menuju desa Kencana Tepian. Apakah yang akan dilakukan oleh Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya.


...***...


Di desa Kencana Tepian.


Selendang Merah saat ini sedang berhadapan dengan lima orang yang diduga sebagai kawanan perampok. Pertarungan yang sangat menguras tenaga, karena jumlah mereka yang lumayan banyak.


"Hei!. Kalian para kawanan perampok bodoh!. Sebaiknya kalian menyerah saja!. Aku sedang tidak dalam keadaan baik."


"Kau tidak usah mengancam kami wanita bercadar merah."


"Kami melakukan apa yang kami sukai!."


"Kau tidak usah mengatur kami, apalagi mencampuri urusan kami!."


"Hoo kalau begitu aku juga akan melakukan apa yang aku sukai. Dengan senang hati akan aku bunuh kalian semua yang tidak berguna ini. Hanya menjadi beban, dan hanya bisa membuat keonaran yang tidak berguna sama sama sekali!." Dengan emosi yang meledak-ledak, Selendang Merah tidak ragu lagi menyerang mereka semua. Sehingga mereka tidak sanggup menahan dua jurus yang dimainkan oleh Selendang Merah. Mereka semua benar-benar dihajar oleh Selendang Merah tanpa ampun.


"Kalian semua. Urus mayat mereka. Aku telah selesai menjalankan tugas dari gusti prabu praja permana."


"Gusti prabu Praja Permana?. Apakah itu betul nini?."


"Tentu saja betul. Apakah kalian masih meragukan kebaikan dari raja kalian?."


"Ah tidak sama sekali nini."


"Baiklah. Kalau begitu kubur mereka. Jika dibiarkan tergelempang di sana, aku takut akan menjadi bangkai busuk, dan kalian yang akan repot nantinya."


"Baik nini."


"Kalau begitu aku akan pergi dulu."


"Apakah nini tidak mampir dulu?. Mungkin nini haus setelah bertarung tadi."

__ADS_1


"Ah tidak. Terima kasih. Saat ini aku sedang terburu-buru. Karena ada seseorang yang harus aku cari."


"Kalau begitu berhati-hatilah nini di perjalanan."


"Aku pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Selendang Merah segera meninggalkan tempat. Karena ia harus segera mencari keberadaan Setan Selendang Jingga Kematian. Ia harus segera menyelesaikan masalah masa lalu. Apakah yang akan ia lakukan setelah bertemu dengan wanita itu?. Temukan jawabannya.


...***...


Disisi lain. Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam yang saat ini dalam perjalanan menuju desa Kencana Tepian untuk mencari keberadaan Selendang Merah. Tentunya Kelalawar Hitam bertanya pada sang Prabu. Mengapa justru mencari keberadaan Selendang Merah di sana?.


"Bukankah kejadian itu tidak jauh dari kota raja?. Tapi mengapa justru kita mencari ke desa kencana tepian gusti ratu?."


"Itu karena nimas selendang merah yang mengatakan padaku. Jika ia akan menuju desa Kencana tepian. Jika tidak menemukan wanita itu, ia akan menuju desa hamparan tebu. Itulah yang dikatakan oleh nimas selendang merah."


"Lalu bagaimana dengan kejadian itu?."


"Aku telah menyuruh telik sandi untuk menyelidiki masalah di sana."


"Jadi sekarang kita akan mencari nini selendang merah yang asli?. Karena gusti prabu yakin jika ada seseorang yang sedang menyamar menjadi nini selendang merah?."


"Ya. Aku tidak mau dia mengalami masalah saat kembali ke istana sendang agung. Adimas sendiri sudah mengetahui, bagaimana mereka yang ingin mencari-cari kesalahan nimas selendang merah."


"Baiklah kalau begitu gusti prabu. Hamba akan membantu gusti prabu."


"Mari adimas."


"Mari gusti prabu."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Apakah mereka akan bertemu dengan Selendang Merah?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2