
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam telah sampai di istana. Mereka membawa pendekar Seribu Tendangan Maut dalam keadaan tertotok. Saat itu juga diadakan sidang oleh Prabu Praja Permana.
"Hadirin sekalian. Nini selendang merah, serta kelalawar hitam telah telah membawa salah satu kawanan perampok yang telah meresahkan negeri ini."
"Tentu saja kita harus memberi hukuman pada mereka gusti prabu."
"Jangan beri ampun pada orang yang telah merusak negeri ini gusti prabu."
"Hukum mati lebih pantas ia terima gusti prabu."
"Benar gusti prabu. Hukum mati saja dia."
"Penjahat seperti dia, memang pantas menerima hukuman mati gusti prabu."
"Tenanglah kalian semua. Mesipun kita telah mengetahui bahwa pendekar ini telah bersalah. Kita dengarkan dulu laporan dari nini selendang merah, serta adimas kelalawar hitam."
"Mohon ampun gusti prabu. Untuk hukuman mati, hamba rasa pertimbangkan terlebih dahulu."
"Hei! Nini selendang merah!. Apa yang membuatmu berkata seperti itu?. Katakan pada kami semuanya?."
"Jangan-jangan kau adalah temannya, sehingga kau membelanya!."
"Gusti prabu. Kami semua yakin, nini selendang merah memiliki hubungan khusus dengan perampok itu, sehingga dia membela lelaki itu!."
Selendang Merah yang tadinya duduk tenang sekarang berdiri dengan kesalnya. Menatap tajam ke arah mereka semua yang tidak menyukainya sama sekali. Sementara itu, Ratu Sawitri Dewi hari ini mengikuti sidang. Ia ingin melihat bagaimana wanita bercadar merah itu mengatasi bawahan anaknya.
"Hei!. Jaga ucapan kalian. Yang bertanya itu gusti prabu. Apakah kalian telah dipersilahkan gusti prabu untuk mengeluarkan pendapat dalam sidang ini?. Dimana sopan santun kalian sebagai pria agung?."
Mereka semua terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Perkataannya langsung menusuk hati mereka sampai ke dalam.
"Asal kalian tau saja. Jika yang kalian inginkan adalah hukuman mati baginya, maka aku tidak akan susah-susah membawanya dalam keadaan hidup. Lebih baik aku bunuh saja dia sana. Dari pada menyusahkan aku menyeretnya ke istana ini hanya untuk bertanggungjawab atas perbuatannya." Dengan geramnya Selendang Merah berkata seperti itu. "Asalkan tuan-tuan terhormat ketahui. Ada beberapa orang wanita, yang telah berhasil ia nodai. Dan jika aku membunuh bajingan busuk ini." Selendang Merah kali ini menatap benci pada Pendekar Seribu Tendangan Maut, dan ia bebaskan totokan nya.
"Maka mereka yang bernasib malang, akan semakin menderita. Jika aku membunuh bajingan busuk ini. Maka anak-anak yang akan terlahir, tidak memiliki bapak, dan maka rasa malu yang luar biasa, yang akan ditanggung oleh keluarga mereka." Suara marah Selendang Merah, seakan menggelegar di ruang sidang itu.
__ADS_1
"Jika memang tuan-tuan ingin tetap memberikan hukuman mati padanya. Maka aku akan mengajukan sebuah syarat."
"Apa yang nimas inginkan?. Katakan."
"Mereka yang akan menggantikan pendekar bejad ini, untuk menikahi wanita-wanita yang telah dinodai olehnya."
"Kau jangan berkata yang tidak-tidak nini selendang merah. Kau benar-benar membuat kami marah."
"Jika tuan marah, dan keberatan. Maka jangan sekali-kali tuan, menyarankan untuk hukuman mati. Karena saran yang tuan berikan, akan membuat orang lain menderita. Jika tuan ingin melihat nasib seseorang, jangan tuan hanya melihat ke atas. Sesekali, lihatlah ke bawah. Biar mata tuan tidak kelilipan."
"Kurang ajar. Dia pandai sekali membuat aku tidak berkutik."
Mereka semua terdiam, dan tidak berani lagi untuk melawan. Dan ruangan sidang kembali tenang.
"Mohon ampun gusti prabu. Bukan hamba bermaksud kurang ajar pada gusti prabu. Namun itulah yang terjadi, jika gusti prabu memberi hukuman mati padanya. Hamba takut, wanita yang sedang mengandung akan terguncang, dan anak yang lahir tanpa bapak. Akan malang nasib mereka gusti prabu."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Aku tidak menyangka jika kejadiannya akan seberat ini. Kita harus mencari jalan keluarnya."
"Hamba dan kelalawar hitam telah berjanji akan kembali lagi ke sana gusti prabu. Apa yang akan kami katakan pada mereka. Bahkan mereka menuntut gusti prabu."
"Benar gusti prabu. Mereka berkata, apa yang telah gusti prabu lakukan adalah hal yang sia-sia. Karena penderitaan yang mereka rasakan tidak akan mudah diobati begitu saja, meskipun gusti prabu telah membantu mereka."
"Sama seperti kalian. Sudah diampuni, masih saja ada yang berniat untuk menjatuhkan gusti prabu. Bahkan kalian lebih kurang ajar daripada penduduk desa itu."
"Sudahlah nimas. Untuk masalah ini. Aku akan mempertimbangkannya lagi. Mungkin aku akan ikut nantinya bersama nimas ke desa itu. Untuk melihat keadaan mereka semua."
"Sandika gusti prabu."
"Prajurit!. Bawa tahanan ke penjara. Besok pagi, kita tentukan hukumannya."
"Sandika gusti prabu."
Pendekar Seribu Tendangan Maut dibawa ke penjara oleh Prajurit.
"Lalu bagaimana dengan nimas, juga adimas?. Apa saja selain kejadian itu?. Laporkan padaku."
__ADS_1
"Mohon ampun gusti prabu. Sepertinya, desa itu memang harus dijaga dengan ketat. Karena kondisi hutannya yang masih lebat, sarang perampokan yang lebih besar lagi, pasti masih ada di sana."
"Benar gusti prabu. Hamba juga mencium bau yang sangat tidak enak di sana. Hamba yakin, masih ada yang lebih besar lagi dibandingkan perampok yang berhasil kami tangkap."
"Baiklah nimas, adimas. Kalau begitu. Setelah sidang nanti, aku akan ikut kalian kembali ke desa itu."
"Sandika gusti prabu."
Setelah itu sidang berakhir. Mereka semua pergi meninggalkan ruangan sidang. Tinggal Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi.
"Ternyata wanita cadar merah itu memang sangat tangguh. Bahkan mereka semua tidak sanggup berkutik dihadapannya."
"Nimas selendang merah selalu saja marah. Jika apa yang tidak sesuai keinginannya. Dan ia akan marah, jika mereka menyela pembicaraan nanda."
Ratu Sawitri Dewi tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putranya Prabu Praja Permana. Ia tidak menyangka akan melihatnya secara langsung.
"Dalam sidang yang pernah ibunda lihat, dari ayahanda prabu sampai nanda prabu. Baru kali ini, ada seseorang yang berani bertindak dihadapan seorang raja demi keadilan."
"Ibunda benar. Nanda sangat terkesan padanya. Rasanya nanda sangat bersyukur sekali nanda bertemu dengannya ibunda. Serta nimas selendang merah mau diajak bekerjasama untuk mengurangi beban negeri ini."
"Apakah nanda prabu mulai menyukai wanita cadar merah itu?."
Prabu Praja Permana hanya dia. Ia juga tidak mengerti, mengapa dirinya begitu tertarik pada Selendang Merah. Akan tetapi, apakah itu alasan untuknya mencintai wanita bercadar merah itu?.
"Jika nanda prabu menikahi wanita bercadar itu, ibunda yakin. Mereka semua tidak akan semakin berkutik pada nanda prabu. Terutama adikmu yang berambisi itu."
"Astaghfirullah hal'azim ibunda. Janganlah ibunda berkata seperti itu. Cinta adalah sesuatu yang muncul karena perasaan sayang. Jadi jangan campur adukkan semua ibunda."
"Baiklah nak. Ibunda hanya tidak ingin nanda merasa khawatir, dan terbebani dengan masalah yang ada."
"Nanda akan berusaha sekuat tenaga. Namun setidaknya, dengan adanya nimas selendang, serta adimas kelalawar hitam. Nanda bisa mengatasi masalah yang ada."
"Semoga Allah SWT, selalu melindungi nanda prabu."
"Aamiin ya Allah."
__ADS_1
Prabu Praja Permana hanya berusaha untuk memulihkan kembali negeri ini. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...