
...***...
Perlahan-lahan matanya terbuka, menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya. Namum kepalanya terasa sangat sakit, sehingga ia meringis karena tidak dapat menahan rasa sakit itu.
"Aku dimana?. Bagaimana bisa aku berada di sini?." Dalam hatinya bertanya. Matanya melihat ke sekelilingnya, tempat itu terasa sangat asing baginya. "Aku dimana?." Ia mencoba untuk bangkit dari tempat tidur itu. Berjalan menuju jendela kecil yang membuat ia melihat ke arah luar. Sayang sekali, ia sama sekali tidak mengenali daerah tempat ia berada saat ini. Seketika itu juga, ia teringat dengan apa yang ia lakukan terakhir kalinya. Ia melarikan diri dari pertarungan yang sangat membuatnya malu sampai ke ulu hati.
"Sial!." Ia memukul kuat jendela yang dibatasi kayu kecil itu dengan kesalnya. "Wanita itu. Kenapa dari dulu aku tidak bisa menandingi ilmu kanuragan yang aku miliki?." Hatinya berkecamuk sakit, mengingat sejak mereka ketika itu. "Kenapa wanita itu lebih hebat dariku?. Aku harus mencari cara untuk mengalahkannya." Hatinya sangat sakit. "Berapapun kekalahan yang aku terima, aku tidak akan menyerah. Aku akan kembali datang padanya. Aku akan segera mencari guru baru, dan akan aku kerahkan semua kemampuan yang aku miliki untuk membunuhnya." Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, meresapi setiap hembusan nafasnya yang terasa sakit. Mengingat apa saja yang terjadi.
"Wanita itu telah merusak kebahagiaan yang aku miliki. Entah itu bersama kakang jaya estu, dan sekarang. Disaat aku hampir saja menguasai sebagian daerah kekuasaan kerajaan sendang agung. Wanita itu kembali datang, merusak semua impianku yang ingin menjadi ratu penguasa di kerajaan sendang agung." Sakit, sesak, itulah yang ia rasakan saat ini. Hingga tanpa sadar ia menangis membayangkan kegagalan yang ia terima jika bertemu dengan rembulan indah, atau namanya yang sekarang adalah Selendang Merah.
"Jika dia seorang pembunuh bayaran, maka aku akan belajar dari orang yang memiliki kemampuan membunuh juga. Ya, aku akan melakukannya." Ia menghapus air matanya, dan mencoba untuk menguatkan dirinya kembali. Bahwa ia masih bisa bangkit dari kekalahannya. "Tunggu saja kau wanita bedebah!. Setelah ini akan aku balas semua kekalahan yang telah aku terima. Kau pasti akan mati di tanganku." Ia genggam kuat kepalan tangannya, seakan ia sedang menggenggam nyawa musuhnya, hingga ia ingin menghancurkannya.
...***...
Sementara itu, disuatu tempat. Terlihat seorang wanita cantik yang sedang termenung panjang. Ia mengingat sebuah kejadian yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Kejadian yang membuat ia kehilangan orang yang paling ia cintai, dibunuh oleh seorang pendekar wanita yang sangat kejam?.
"Wanita itu mengenakan cadar merah. Namanya selendang merah, jika aku tidak lupa dengan kejadian itu." Hatinya memanas mengingat nama itu. "Aku telah mempelajari ilmu kanuragan untuk membunuhnya. Aku harus membalas kematian kakang dharma yudha." Saat itu, ingatannya kembali ke masa lalu.
Kembali ke masa itu.
...***...
__ADS_1
Suliswati, itulah wanita cantik yang saat ini sedang bergandengan dengan Dharma Yudha. Seorang anak muda yang memiliki ketampanan yang sangat luar biasa. Mereka seakan menebar kemesraan di sepanjang jalan yang mereka lewati. Seakan dunia adalah milik mereka berdua saja. Namun saat itu ada seseorang yang melompat ke arah mereka berdua, sehingga membuat keduanya terkejut.
"Heh!. Kiranya dua orang yang sedang kasmaran. Untuk apa memasuki kawasan hutan sepi ini?. Apakah kalian akan memadu kasih di tempat sepi begini?."
"Kakang. Siapa dia?." Wanita muda itu terlihat sedikit takut, karena tatapan Selendang Merah seakan ingin menerkam dirinya.
"Hei!. Wanita jelek bercadar. Jangan ikut campur dengan urusan kami." Dharma Yudha mendengus kesal. "Sebaiknya kau pergi dari sini, karena aku tidak memiliki urusan denganmu!."
"Tentu saja aku memiliki urusan denganmu. Yaitunya nyawamu!."
Tentunya keduanya sangat terkejut mendengarnya. Mereka bahkan tidak mengenali wanita bercadar itu sama sekali.
"Kakang. Apa yang wanita aneh itu katakan?. Aku sangat takut padanya."
"Tapi kakang."
"Pergilah. Akan aku hadapi wanita itu sendirian."
"Baiklah kakang. Aku harap kakang bisa mengusir wanita jahat itu." Suliswati pergi meninggalkan tempat itu. Ia harus mencari keberadaan Amara Senjani.
"Kau!. Berani sekali kau mengincar nyawaku. Sementara itu aku belum pernah berurusan denganmu!." Dengan geramnya ia menunjuk ke arah Selendang Merah.
__ADS_1
"Aku memang belum pernah berurusan denganmu. Akan tetapi hari ini aku akan membunuhmu. Karena kau telah menodai banyak wanita, dan membuat mereka menangis darah. Menjerit kesakitan atas apa yang telah kau lakukan."
"Hah?. Memangnya kau siapa?. Berani sekali kau mencari perkara denganku, hanya karena kau merasa iba dengan mereka semua?. Hah?. Kau pikir kau ini dewi penyelamat mereka hah?."
"Aku ini bukan dewi penyelamat untuk mereka. Namun aku pendekar pembunuh bayaran, selendang merah penebar maut. Itulah nama julukan ku. Bukan dewi penyelamatan."
"Bedebah!. Siapa yang berani mengirim mu kepadaku!. Akan aku bunuh dia, setelah aku membunuhmu!."
"Lakukan saja jika kau mampu."
Dharma Yudha sangat kesal, tanpa pikir panjang lagi, ia mengarang Selendang Merah. "Aku tidak akan mengampunimu wanita bercadar jelek!. Akan aku bunuh kau!. Akan aku buat kau menyesal, karena kau telah berani datang padaku!." Dharma Yudha menyerang Selendang Merah dengan cepat. Bukan hanya serangan atas saja. Ia seakan hendak mencakar tubuh Selendang Merah. Namun sepertinya Selendang Merah mampu mengatasinya.
Selendang Merah menghindari dengan menarik kaki kirinya ke atas, ketika tangan itu hampir saja mengenai kakinya, setelah itu kaki kanannya yang hampir saja terkena serangan. Setelah itu ia melompat salto beberapa langkah, dan tanpa diduga, ia menyalurkan tenaga dalamnya dan menyerahkannya ke arah Dharma Yudha.
"Hyah." Dharma Yudha berhasil menghindari serangan cepat itu dengan melompat ke atas. Hampir saja tubuhnya terkena serangan itu, jika ia tidak mewaspadai serangan itu. Akan tetapi jantungnya berpacu, karena serangan itu hampir saja mengenainya.
"Boleh juga kau rupanya." Selendang Merah melompat ke atas, menyamai tinggi Dharma Yudha. Sehingga mereka sama-sama berada di udara saat ini. Akan tetapi, begitu Selendang Merah mendekatinya, Dharma Yudha yang kali ini mengerahkan tenaga dalamnya. Menyerang Selendang Merah, tapi masih bisa dihindari.
Selendang Merah mengeluarkan pedang yang ia sandang di punggungnya. Ia arahkan ujung pedang itu, sambil mengayunkannya ke depan. Dharma Yudha melihat serangan itu, ia mundur dengan keadaan melayang. Tubuh mereka melayang di udara, yang satu maju terus untuk menyerang. Sementara itu yang satunya lagi mundur untuk menghindari ayunan pedang dengan kecepatan yang tidak bisa ia tangkap, namun ia dapat merasakan tebasan angin melalui pedang itu. Ia tidak mau tertusuk pedang itu. Hingga kakinya mendarat ke tanah, sedangkan Selendang Merah. Kakinya yang hampir saja menjejak di tanah, namun terpaksa mundur beberapa langkah ke depan. Karena ujung pedangnya berhasil di tepis oleh Dharma Yudha dengan menendang pedangnya.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa vote, komentar, untuk dukungan ke author yang tidak berwujud ini.
__ADS_1
...***...