
...***...
Sekar Sentani, atau nama julukannya Setan Cambuk Neraka telah menemukan gurunya. Yaitu nini Amara Senjani, seorang pendekar wanita golongan Hitam yang juga membenci kerajaan Sendang Agung.
"Jadi kau salah satu anggota kelompok setan jahat yang terkenal itu?." Nini Amara Senjani hanya ingin memastikan bahwa, pendekar wanita muda ini benar-benar anggota kelompok setan jahat.
"Benar guru. Aku memang salah satu anggota kelompok setan jahat." Ia mengatakan sebenarnya. Ia tidak berbohong sama sekali kepada wanita itu.
"Lalu mengapa kau mau berguru padaku?. Apakah kau masih ingin menguasai ilmu kanuragan lainnya?." Nini Amara Senjani ingin tau alasan mengapa ia mau menjadi muridnya.
"Aku ingin menambah ilmu kanuragan, karena kami memiliki musuh yang cukup tangguh untuk dikalahkan." Sekar Sentani menjelaskan alasan mengapa ia berguru padanya.
"Siapa dia?. Katakan padaku!." Sebagai seorang pendekar yang memiliki pengalaman di dunia persilatan, mungkin ia mengetahuinya?.
"Nama julukannya adalah selendang Merah." Jawabnya sambil mengingat nama julukan itu. "Meski kami telah berkecimpung sudah lama menjadi anggota kelompok setan jahat, baru kali ini kami melihatnya." Ia merasa aneh dengan itu. "Tapi yunda nila ambarawati mengenalinya, dia adalah musuh yunda ku." Lanjutnya.
"Selendang merah?." Nini Amara Senjani nampak sedikit heran, ia berpikir sejenak. Ia mencoba mengingatnya sesuatu yang berkaitan dengan itu. "Apakah dia seorang pendekar pembunuh bayaran?." Tanya Nini Amara Senjani ingin memastikan lagi, apakah dugaannya benar?
"Benar guru, begitulah katanya. Dia adalah seorang pendekar pembunuh bayaran." Sekar Sentani tidak menyangka benar apa yang dikatakan gurunya.
"Bedebah!. Ternyata dia adalah, pendekar pembunuh bayaran selendang merah penebar maut itu." Ada amarah yang membuncah di dalam hatinya, ia teringat kejadian dua tahun yang lalu.
"Apakah guru mengenalinya?." Sekar Sentani sedikit penasaran. Jika dilihat dari kemarahan sang guru, sepertinya gurunya ini mengetahui Selendang Merah?.
"Dua tahun yang lalu, aku tidak akan melupakan hari itu." Api kemarahan semakin membesar di dalam hatinya. Peristiwa yang menyakitkan baginya, di hari itu, dimana orang yang ia cintai mati ditangan selendang merah.
__ADS_1
"Apa yang telah dia lakukan guru?." Sekar Sentani penasaran apa yang dialami oleh gurunya?. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara gurunya dengan selendang merah di masa lalu?.
"Aku telah bersumpah pada dewata agung. Bahwa aku akan membunuh pendekar itu, karena dia telah membunuh satu-satunya anak laki-lakiku." Wajahnya memerah menahan amarahnya, ia tidak terima dengan kematian anaknya.
"Maksud guru, anak guru dibunuh oleh selendang merah yang merupakan pembunuh bayaran?." Sekar Sentani tidak menyangka akan mendengarkan cerita sedih gurunya.
"Ya, dengan jurus air samudera menggulung karang, serta jurus selendang menyapu angin, ia membunuh anakku. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatannya." Hatinya sangat sakit menyaksikan anaknya pada saat itu.
"Lalu mengapa guru tidak membunuhnya pada saat itu?." Sekar Sentani heran, bukankah gurunya ini memiliki jurus hebat?.
"Aku sudah menghajarnya. Namun ia bisa melarikan diri setelah melukaiku dengan jurus selendang lebur abu." Ia ingat bagaimana hari itu. "Jurus yang dapat mempengaruhi pandangan lawan. Meski hampir sama dengan jurus halimun. Namun jurus itu dibubuhi racun, yang dapat melumpuhkan syaraf pergerakan lawannya." Ia seakan merinding, merasa kembali jurus itu. "Bukan seperti kena totokan, tetapi cukup berbahaya, karena kita bisa kaku selama dua hari." Lanjutnya. Ia seakan tidak ingin mengingat kenangan pahit itu.
"Lalu apa yang akan guru lakukan, jika mengetahui musuh kami dan musuh guru itu orang yang sama?." Melihat dendam yang disimpan gurunya, ada kemungkinan ia dapat peluang, untuk bekerjasama untuk membunuh pendekar sombong itu.
"Setelah kau berhasil mempelajari beberapa jurus yang akan aku ajari. Bawa aku kehadapan pendekar bedebah itu untuk kita habisi bersama." Ya, Nini Amara Senjani telah membuat keputusan, untuk mengajari ilmu Kanuragan yang ia miliki untuk membunuh pendekar selendang Merah, yang telah merenggut nyawa anak yang ia sayangi.
Bisakah ia melakukannya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Marah, Kesal, sakit hati, itu yang ia rasakan sekarang. Apakah tidak ada perkataan lain yang ia dengar dari mulut rakyat yang protes tentang sang prabu?.
Saat ini dengan perasaan kesalnya ia meninggalkan desa. Ia benar-benar tidak tahan, ia ingin menghancurkan mereka semua. Namun jika itu ia lakukan, malah menambah masalah baru baginya nantinya.
"HQHAAAAAAAAA DASAR ORANG-ORANG TIDAK BERGUNA!. RAJANYA TIDAK BERES!. RAKYATNYA JUGA TIDAK BERES!. HANYA BISA MENGELUH SAJA!. BEDEBAH BUSUK!. KURANG AJAR!., MATI SAJA KALIAN SEMUAAAAAAAAAAA!." Teriaknya dengan keras, melampiaskan amarah yang membuat dadanya terasa sesak.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'azim." ucap seseorang tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dan ia lihat. sementara itu satu orang lagi sedang tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Kelalawar Hitam terkejut melihat siapa yang mendekatinya?.
"KAU!. PRABU PRAJA PERMANA BODOH!. KAU MEMBUATKU MARAH!. KESAL!. INGIN MEMBUNUHMU!." Kelalawar Hitam marah-marah. Matanya menatap tajam ke arah sang prabu, di balik kain penutup wajahnya, mulutnya sudah gatal berkata-kata kasar pada sang prabu.
"Astaghfirullah hal'azim, siapakah kau kisanak?. Mengapa kau marah-marah padaku seperti itu." Sang Prabu sungguh tidak mengerti mengapa orang itu memaki dirinya?. "Kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu, sehingga kisanak berkata seperti itu." Sang Prabu merasa heran.
"Itu urusanku!. Dan kau!. Apa yang kau tertawakan!. Aku sedang marah!. Bukannya membuat sandiwara tawa, tapi kau malah tertawa!." Bentak Kelalawar Hitam merasa jengkel, karena selendang Merah masih tertawa?.
"Sial. Sungguh sial aku hari ini. Kenapa aku malah bertemu mereka dalam keadaan marah begini." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa jengkel. Apa yang akan dilakukan mereka di sini?. Mengapa mereka masih bersama?. "Dan tampaknya, prabu bodoh itu sudah tidak memakai perban lagi dimatanya. Tapi dia tidak mengenaliku sama sekali." Ia melihat penampilan sang prabu yang sudah sehat segar bugar, tidak seperti sebelumnya.
Sementara itu, Selendang Merah mencoba menghentikan tawanya. Dan ia membalas ucapan Kelalawar Hitam. "Aku sedang menertawakanmu yang marah-marah tidak jelas. Aku kira kau tadi kesurupan, karena telah berani mengatai hal kurang ajar pada gusti prabu." Selendang Merah menjelaskan mengapa ia tertawa. "Aku tidak menyangka, kau yang sebelumnya mengincar Gusti Prabu, malah mengumpat memaki Gusti Prabu seperti itu." Lanjutnya lagi, meski ia tidak suka, entah mengapa ia malah tertawa. Bukankah itu terdengar sangat aneh?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apakah maksud nimas?. Apakah adalah orang yang mengincar nyawaku di malam itu?." Sang prabu baru menyadari siapa orang itu, setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang merah.
"Jika ia, kau mau apa?." Kelalawar Hitam malah menantang sang prabu, tidak ada rasa takut sedikitpun dari sorot matanya.
Sang Prabu malah tersenyum kecil, ia tidak marah?. "Jika kau masih mengincarku?. Itu adalah hak mu, aku tidak bisa menghindarinya. Dan mungkin saja itu semua sudah kehendak Allah SWT." Sang prabu terlihat tenang, tidak menunjukkan takut karena ancaman kematian yang dituju padanya.
"Benar-benar orang yang tenang karena ilmu Kanuragan yang ia miliki, juga sikap wibawa yang ada di dalam dirinya." Dalam hatinya berkata seperti itu?. Kelalawar Hitam dapat menangkap semua dari mata elang itu. "Apa karena itu nini selendang Merah mengikutinya?" Ia bertanya dalam hati, memikirkan kemungkinan mengapa selendang merah mengikuti sang prabu.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Baca terus ceritanya jangan lupa vote n komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1