ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERASAAN CEMBURU


__ADS_3

...***...


"Jadi, nimas selendang merah kenalan rayi wira wijaksana?." Dalam hati prabu praja Permana sedikit merasakan kecemburuan. Ia mencoba menekan perasaan tiba-tiba muncul dibenaknya itu.


Begitu juga dengan Kelalawar Hitam yang melihat itu. Namun apalah daya, sepertinya ia hanya bisa melihat pelukan mesra mereka.


Selendang Merah melepaskan pelukannya, ia memastikan sekali lagi bahwa orang yang ia peluk tadi adalah Jaya Estu, kekasihnya?. Entahlah.


"Aku kira kau sudah mati karena jatuh ke dalam jurang. Ternyata kau masih hidup?." Selendang Merah sangat tidak percaya. Delapan belas tahun tidak bertemu?. Mengapa ini bisa terjadi?.


"Aku masih hidup. Aku diselamatkan oleh seorang pendekar tua. Aku kembali ke istana. Tapi saat aku kembali lagi ke sana, aku tidak menemukan kalian." Pangeran Wira Wijaksana menjelaskan kenapa dirinya masih bisa berada di sini hingga sekarang.


"Istana?." Selendang Merah menangkap kata istana yang keluar dari mulut pangeran Wira Wijaksana. Kemudian ia menatap ke arah prabu Praja Permana, memang ada kemiripan wajah mereka berdua.


"Maafkan aku rembulan indah. Bukan aku bermaksud untuk menyembunyikan jati diriku. Hanya saja saat itu aku memang ingin berguru sebagai orang biasa." Pangeran Wira Wijaksana mengerti dengan pertanyaan Selendang Merah. Ternyata tidak selamanya ia dapat menyembunyikan identitasnya.


"Jadi begitu." Selendang Merah mengerti situasinya, ia telah menyadarinya. Ternyata 18 tahun berlalu, dan ia masih belum menyadari ada perubahan yang tidak pernah ia duga selama ini. Karena dirinya yang terlalu tenggelam dalam dunia gelap.


Saking gelapnya ia hanya memperhatikan anaknya saja. Ya, hidupnya untuk anaknya, tidak ada yang lain.


"Maafkan kelancangan hamba pangeran. Hamba tidak tahu jika pangeran adalah keluarga gusti prabu praja permana." Ada perasaan bersalah di dalam hidupnya. Ia sangat menyesal karena sempat berharap, namun sepertinya harapannya telah pupus mengetahui jati diri kekasihnya dimasa lalu.


"Maafkan hamba gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada sang prabu. Ia merasa tidak enak hati pada sang prabu dengan apa yang ia perbuat tadi.


"Tidak apa-apa nimas." Ucap prabu Praja Permana dan pangeran Wira Wijaksana secara bersamaan, setelah itu mereka sama-sama terdiam.


"Oh dewata yang agung, aku sebagai apa di sini." Batin Kelalawar Hitam merasa miris, ia terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak mengenakkan hatinya.


"Kalau begitu ayo kita masuk raka prabu. Pasti kalian semua lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Untuk menghilangkan rasa canggung, pangeran Wira Wijaksana mempersilahkan mereka semua untuk masuk.


"Sampurasun."

__ADS_1


Selendang Merah memberi hormat kepada pangeran Wira Wijaksana, ia menyusul langkah sang Prabu, begitu juga dengan Kelalawar Hitam.


"Rampes." Balas pangeran Wira Wijaksana tersenyum kecil sambil menatap kepergian selendang Merah bersama kakaknya, juga pendekar bertopeng satu lagi yang belum ia kenal.


"Aku tidak menyangka, Dewata agung masih mempertemukan aku dengan kekasihku rembulan indah." Ia sangat merindukan wanita itu. Ia tidak menyangka jika pendekar yang dicari kakaknya adalah Rembulan Indah.


"Kelalawar hitam. Untuk sementara waktu, malam ini beristirahatlah di wisma prajutir. Prajurit akan mengantarmu ke sana." Prabu praja Permana memberitahu kepada Kelalawar Hitam untuk beristirahat di wisma prajurit,


"Sementara itu nimas selendang merah di dekat para emban. Saya nanti akan memanggil emban agar menunjukkan tempat istirahatmu."


Sang Prabu hanya ingin menjamu baik dua orang yang kini berjanji akan membantunya untuk menumpas kejahatan.


"Terima kasih gusti prabu." Keduanya terkesan dengan kebaikan sang Prabu, begitu baik memikirkan tempat istirahat bagi mereka.


"Sepertinya malam ini kita tidak bisa melakukan sidang. Sepertinya petinggi istana sudah beristirahat dikediaman masing-masing." Itulah alasan mengapa sang prabu menyuruh mereka beristirahat, apalagi tidak mungkin mengadakan pertemuan dadakan seperti ini.


"Kalau begitu saya juga akan beristirahat. Sampurasun." Sang Prabu pamit pada keduanya, ia juga merasa lelah, dan perlu menenangkan diri sejenak.


...***...


Tidak berselang lama, sang prabu telah membersihkan tubuhnya. Ia mencoba untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia mencoba melupakan apa yang ia lihat tadi.


Namun ketik ia mau memejamkan matanya, adiknya pangeran Wira Wijaksana mengetuk kamarnya, hingga ia kembali membuka matanya.


"Apakah aku boleh masuk?. Raka prabu." Pangeran Wira Wijaksana meminta izin pada kakanya agar diperbolehkan masuk ke kamarnya.


"Masuklah rayi." Balas sang prabu dengan suara lembut, namun bisa didengar oleh adiknya. Hingga pintu itu terbuka, dan memperlihatkan sosok adiknya.


Pangeran Wira Wijaksana menghampiri kakaknya. Ia duduk di samping kakaknya yang menatap heran dengannya.


"Ada apa rayi?. Kenapa kau tiba-tiba masuk ke kamarku?. Apakah ada hal penting yang ingin kau katakan padaku?." Prabu Praja Permana membanjiri pertanyaan pada adiknya. Ada apa gerangan yang membuat adiknya itu malam-malam begini datang ke kamarnya.

__ADS_1


"Maaf jika kedatanganku mengganggumu raka prabu." Pangeran Wira Wijaksana merasa tidak enak hati. Ia tahu kakaknya baru saja sampai di istana. Pasti lelah karena melakukan perjalanan jauh.


"Maaf raka prabu. Ini mengenai rembulan indah, ah maksudku selendang merah." Pangeran Wira Wijaksana merasa canggung menyebut rembulan indah dihadapan kakaknya.


"Ada apa dengannya rayi?. Apa yang ingin kau katakan padaku tentang nimas selendang merah."


Sang Prabu merasa tidak nyaman ketika adiknya menyebut nama asli selendang merah, sementara ia?.


Apakah hatinya sedang diselimuti oleh perasaan cemburu?. Cemburu?. Kenapa ia harus cemburu?. Siapa nimas selendang merah baginya?.


"Aku hanya tidak menyangka raka prabu. Selendang merah itu adalah rembulan indah. Dan tidak menyangka lagi, jika pendekar pembunuh bayaran selendang merah itu adalah rembulan indah."


Pangeran Wira Wijaksana hanya terkejut, apakah terjadi sesuatu pada wanita itu setelah berpisah selama 18 tahun?. Entahlah.


"Aku juga tidak menyangka rayi. Kau bertemu dengan kekasihmu setelah bertahun-tahun terpisah." Ada perasaan berat mengatakan jika selendang Merah adalah kekasih adiknya.


"Raka. Itu adalah masa lalu. Dan sekarang aku telah memiliki dua istri, dua selir. Jadi tidak mungkin rasanya aku menambah istri atau selir. Dan aku rasa rembulan indah tidak akan menyukainya." Refleks pangeran Wira Wijaksana bangkit dari duduknya. Ia merasa cemas, karena ia ingat, Rembulan indah pernah berkata padanya.


*Jadikan aku satu-satunya wanita yang kau cintai. Jika hatimu sudah bercabang, maka lupakan aku untuk selama-lamanya kakang.*


Pangeran Wira Wijaksana masih mengingat perkataan Rembulan indah pada saat itu, ketika mereka masih dirantai bunga asmara.


"Jika tidak dicoba, kau tidak akan tahu hasilnya rayi." Meskipun ia tersenyum, namun hatinya terasa pahit. Pahit sekali jika itu benar terjadi nantinya.


"Raka jangan membuatku berharap." Pangeran Wira Wijaksana terlihat gugup mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Ia semakin gelisah.


"Ya Allah, perasaan apa ini?. Hilangkan perasaan cemburu yang tidak beralasan ini ya Allah." Dalam hati sang prabu merasa berdenyut sakit aneh. Apakah ini pertanda bahwa ia sedang jatuh cinta?.


Tapi kenapa bisa?. Ia bahkan tidak pernah melihat wajahnya selendang merah. Bahkan ia tidak tahu Selendang Merah seperti apa. Tapi kenapa rasa cemburu itu seakan mendidih di dalam tubuhnya?


Apa yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya, jangan lupa vote dan komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2