
...***...
Saat ini mereka masih berada di ruang pengobatan. Mereka menunggu Kelalawar Hitam sadar, setelah diobati. Namun rasa penasaran masih membayangi mereka. Bagaimana bisa kakek tua yang bernama Seta Aji bisa menyimpan dendam pada Selendang Merah?.
Kembali ke masa itu.
Selendang Merah baru saja ingin pergi dari pondok persinggahannya. Namun langkahnya terhenti, saat ia melihat ada beberapa orang yang berdiri di halaman pondok kecil itu. Raut wajah mereka yang terlihat sangat serius, dan ada juga yang terlihat sedih?.
"Maaf?. Siapakah kalian?. Apa yang kalian inginkan dari?." Selendang Merah merasa heran dengan kedatangan mereka semua.
"Maaf nini. Jika diizinkan, kami ingin berbicara denganmu saat ini." Seorang laki-laki yang terlihat muram mengatakan apa maksud kedatangannya.
"Kami semua datang ke sini, menemui nini karena kami ingin meminta bantuan dari nini." Wanita paruh baya itu terlihat memohon pada Selendang Merah.
"Baiklah. Kalau begitu masuklah ke dalam pondokku. Ceritakan apa permasalahan yang kalian alami." Selendang Merah mempersilahkan mereka semua masuk.
"Terima kasih nini." Setidaknya ada sekitar empat orang yang datang padanya saat itu.
Begitu mereka duduk di kursi yang ada di pondok, mereka satu persatu menceritakan apa saja yang mereka rasakan.
"Nini. Maaf jika aku datang padamu, karena kabar yang kami dengar. Kau adalah Pendekar Pembunuh bayaran. Kami ingin meminta bantuan dari nini." Utari, itulah nama wanita yang kini memulai duluan.
"Tidak apa-apa nyai. Sudah banyak yang datang padaku, dan meminta aku untuk membunuh orang lain. Katakan saja tujuan nyai, dan siapa yang hendak aku bunuh?." Tanpa basa-basi lagi ia membalas ucapan wanita itu.
"Anak gadis ku menjadi gila setelah ia bertemu dengan seorang pemuda peramal. Dan sekarang ia terpaksa dipasung, karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Anak gadisku yang cantik sekarang menjadi gila." Ia menangis sedih karena mengingat kondisi anak gadisnya.
__ADS_1
"Pemuda peramal?." Bingung?. Itulah yang ia rasakan.
"Benar nini. Anak gadis kami juga mengalami hal yang serupa setelah bertemu dengan peramal busuk itu." Sapta Pari laki-laki itu terlihat sangat marah. "Aku tidak terima anak gadisku menjadi gila, setelah bertemu dengannya."
*Aku tidak terima atas perbuatannya. Aku ingin nini membunuhnya. Aku akan membayar nini berapapun. Asalkan nini bisa membunuhnya." Hadi Suta menyerahkan kantong hitam kecil yang berisi kepingan uang. "Aku mohon pada nini agar membunuh bajingan busuk itu. Rasanya aku tidak ikhlas dengan apa yang telah ia lakukan pada anak gadisku." Sakit hati yang ia rasakan begitu dalam.
"Aku juga begitu nini. Bunuh saja laki-laki biadab yang telah membuat anak gadisku jadi gila. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatannya itu." Kala Daya juga terlihat marah. "Aku hanya memiliki satu anak gadis, tapi malah jadi gila karena lelaki biadab itu."
Selendang Merah menatap mereka. Setelah itu ia bangkit dari duduknya, dan sedikit berpikir. "Jadi kalian memiliki permasalahan yang sama?. Dendam pada orang yang sama?." Ia membalikkan tubuhnya, menatap mereka semua.
"Benar nini. Kami memiliki permasalahan yang sama. Meskipun kami berasal dari desa yang berbeda." Nyai Utari mengeluarkan kantong hitam kecil yang berisi uang. "Aku mohon, balaskan rasa sakit hati kami. Aku akan memberikan lebih banyak uang, jika nini berhasil membunuhnya." Lanjutnya.
"Kami mohon padamu nini." Ketiga laki-laki yang merupakan seorang ayah yang memiliki anak gadis. Memohon pada Selendang Merah?.
"Aku tidak semudah itu membunuh orang lain. Akan menyelidikinya terlebih dahulu." Ia tidak begitu saja melakukan apa yang mereka inginkan. "Siapa nama laki-laki itu, dan bagaimana ciri-ciri dari laki-laki itu. Sehingga aku mudah mencarinya."
"Baiklah. Aku akan melakukannya." Ia menyanggupi permintaan mereka. "Untuk mengobati anak kalian yang saat ini sedang dalam masalah gangguan jiwa. Aku memiliki kenalan. Namanya aki tama jagakarsa, seorang tabib hebat yang mampu menyembuhkan segala penyakit." Ia memberi saran pada mereka. "Saat ini beliau mungkin berada di desa bunga pasa. Carilah beliau di sana. Aku yakin ia masih berada di sana." Lanjutnya.
"Oh terima kasih banyak nini. Kau sangat baik sekali. Ini aku tambahkan uangnya." Sapta Pari sangat senang, jika memang ada orang yang bisa menyembuhkan anak gadisnya.
"Aku juga mengucapkan terima kasih padamu nini."
Suasana hati mereka sangat bahagia, karena ada kemungkinan anak mereka akan sembuh kembali. Mereka merasa tidak sia-sia saat menemukan Selendang Merah Pendekar pembunuh bayaran. Selain meminta bantuan, mereka malah mendapatkan saran untuk menyembuhkan anak mereka?.
Setelah itu, mereka menceritakan bagaimana ciri-ciri dari pemuda peramal itu, sehingga Selendang Merah mudah mencari siapa targetnya kali ini. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Selendang Merah saat ini sedang berada di desa lapai bulan. Menurut keterangan yang ia dapatkan, pemuda peramal itu berada di desa ini. Ia ingin mengetahui seberapa kuatnya pemuda peramal itu, sehingga membuat anak gadis orang menjadi gila.
Kebetulan saat itu ia melihat pemuda itu sedang melakukan pekerjaannya. Ada seorang wanita cantik, yang saat ini ingin diramal olehnya. Saat ini mereka berada di keramaian, pasar yang buka hanya hari-hari tertentu saja.
"Benarkah kakang bisa meramal?." Wanita itu tersenyum manis melihat ke arah pemuda tampan itu.
"Tentu saja. Aku bisa meramal masa depanmu dengan baik." Pemuda itu tersenyum manis, sehingga memikat hati wanita itu.
"Oh. Benarkah?. Kira-kira seperti apa yang akan terjadi?." Wanita itu terlihat sangat senang.
"Coba aku lihat garis telapak tanganmu manis?. Biar aku bisa melihat, apakah aku ada di dalam impian masa depanmu." Dengan rayuan gombal ia berkata seperti itu.
"Oh tentu saja." Wanita itu menunjukkan tangannya.
Pemuda peramal itu tersenyum manis melihat garis telapak tangan wanita itu. Sehingga membuat wanita itu menjadi penasaran, dan ingin mengetahui bagaimana hasil ramalan pemuda itu. "Bagaimana kakang?. Apakah hasilnya bagus?." Dengan perasaan tidak sabar bertanya.
Peramal itu tersenyum lembut. "Dalam waktu dekat, kau akan kedatangan seseorang yang akan mencintaimu seumur hidupmu. Dan kau akan hidup bahagia selamanya." Ucapnya.
"Benarkah?. Apakah benar apa yang kau katakan itu kakang?." Wanita itu terlihat bersemangat.
"Tentu saja. Bunga mawar yang indah. Meskipun berduri, namun kau tetaplah sangat cantik. Merah muda yang terang, dan kau berbeda dengan mawar merah yang berdarah." Dengan senyuman lembut ia menggoda wanita muda itu?.
Sedangkan Selendang Merah yang memperhatikan dan mendengarnya merasa heran. Maksud kata yang diucapkan oleh pemuda itu. Terdengar sangat aneh. Selendang Merah mencoba untuk menerjemahkannya, namun ia belum menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Akan aku lihat dulu. Mengapa wanita banyak gila setelah diramal oleh pemuda itu. Apa yang salah sebenarnya?. Mengapa itu bisa terjadi?." Dalam hati Selendang Merah bertanya-tanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...