
...***...
Di istana Sendang Agung saat ini sedang membahas tentang pengangkatan Patih baru. Mereka semua tidak menyangka, jika Prabu Praja Permana mengumpulkan mereka semua untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi Patih?. Sungguh ini tidak terduga sama sekali bagi mereka semua.
"Yang akan menilai menjadi Patih bukan hanya saya saja. Melainkan ibunda ratu sawitri dewi serta adi kelalawar hitam." Prabu Praja Permana menjelaskan pada mereka semua. "Jadi saya rasa kuatkan tekad mereka semua, dan kalian tidak akan bisa lolos begitu saja." Prabu Praja Permana sedikit tersenyum lebar.
Mereka semua saling bertatapan satu sama lain. Mereka tidak menyangka, jika Kelalawar Hitam akan menjadi juri penilaian mereka yang ingin menjadi Patih?. Mereka sedikit mengetahui, jika kakaknya saja melihat apa yang mereka lakukan, lalu bagaimana dengan adiknya?. Rasanya mereka tidak terlalu bersemangat untuk mengikuti pengangkatan Patih.
"Benar yang dikatakan ibunda ratu." Prabu Praja Permana menyetujui itu. "Istana ini tidak boleh diisi dengan orang-orang yang memiliki ambisi yang tidak baik. Maka akan sengsara hidup rakyat nantinya." Itulah yang ia cemaskan.
"Nanda benar-benar harus segera bertindak, nanda jangan sampai terkecoh dengan sikap baik mereka." Ratu Sawitri Dewi tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
"Ya, ibunda. Nanda akan mencoba menghentikan itu." Prabu Praja Permana memang sangat cemas jika itu ada di dalam tatanan kepemimpinannya. "Aku tidak akan membiarkan istana ini dipermainkan lagi oleh orang-orang seperti itu. Cukup sekali saja kalian mempermainkan kami." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa bersyukur dengan adanya Kelalawar Hitam di istana ini.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Dengan begini nanda sangat terbantu sekali. Meskipun aku yang mengajukan diri untuk menyarankan Kelalawar Hitam yang akan menjadi patih, namun ia menolaknya. Karena ia takut akan terjadinya pemberontakan. Makanya ia hanya menjadi pengadil yang menilai siapa yang layak menjadi Patih." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi merasa sedikit kecewa, karena Kelalawar Hitam menolak jabatan untuk menjadi patih.
Kembali ke waktu itu.
Setelah Selendang Merah pergi meninggalkan istana.
"Adi, mari ikut dengan kami sebentar. Ada hal yang ingin kami katakan padamu adimas." Prabu Praja Permana menatap Kelalawar Hitam.
"Sandika gusti prabu." Kelalawar Hitam memberi hormat. "Apa yang diinginkan Gusti Prabu sebenarnya?." Dalam hatinya penasaran.
"Lalu bagaimana dengan kami paman prabu?. Apakah kami boleh ikut?." Andara wijaya memberanikan dirinya untuk ikut?.
"Maaf nanda andara wijaya. Nanti saja saat sidang yang akan kita lakukan setelah sholat Zuhur. Saat ini nanda berdua silahkan menunggu di wisma putra saja." Balas Prabu Praja Permana.
"Baiklah paman prabu, nanda mengerti." Andara Wijaya tidak membantah sama sekali. "Kalau begitu kami pamit dulu paman prabu. Paman Kelalawar hitam, nenek ratu. Sampurasun." Andara Wijaya memberi hormat.
"Rampes." Balas ketiganya.
"Nanda juga pamit ayahanda prabu, paman kelalawar hitam, nenek ratu. Sampurasun." Sandi Praha juga memberi hormat.
__ADS_1
"Rampes." Balas mereka lagi.
Setelah itu Andara Wijaya dan Sandi Praha pergi meninggalkan mereka semua.
"Mari adi. Mari kita menuju pendopo belakang. Biar lebih santai saat berbincang-bincang nantinya." Prabu Praja Permana mempersilahkan Kelalawar Hitam untuk mengikutinya. "Mari ibunda." Tak lupa juga pada ibunda tercintanya Ratu Sawitri Dewi.
"Mari gusti prabu."
"Mari nanda prabu."
Mereka semua menuju ke sana. Begitu sampai di pendopo halaman belakang istana. Mereka semua langsung membahas satu masalah yang sangat penting.
"Adi. Sebenarnya aku dan ibunda setuju ingin mengangkat mu menjadi patih di istana ini." Sang Prabu memulai duluan dari tujuan mereka memanggil Kelalawar Hitam secara pribadi.
"Aku tahu kau mampu menjadi Patih di istana ini kelalawar hitam." Ratu Sawitri Dewi sangat setuju jika Kelalawar Hitam menjadi patih. "Karena itulah kami merekomendasikan dirimu untuk menjabat sebagai Patih di kerajaan ini."
"Mohon maaf gusti prabu, gusti ratu." Kelalawar Hitam memberi hormat. "Maaf jika hamba mengeluarkan pendapat hamba." Ucapnya dengan hati-hati.
"Katakan saja adi, semoga saja aku bisa membantumu." Prabu Praja Permana sangat senang mendengarnya.
Ratu Sawitri Dewi dan Prabu Praja Permana menimang dengan baik, apa yang telah dikatakan Kelalawar Hitam.
"Tentunya gusti prabu tidak mau itu terjadi bukan?. Jika itu terjadi?. Maka akan banyak orang yang akan sengsara jika hamba yang akan menjadi Patih." Kelalawar Hitam memberikan alasan yang pasti, sehingga Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi mengerti dengan apa yang ia sampaikan.
"Baiklah, jika adi berkata seperti itu. Meskipun sebenarnya kami ingin kau yang menjadi Patih." Prabu Praja Permana juga tidak mau memaksakannya.
"Kalau begitu kau yang menjadi salah satu pengadil. Dengan menggunakan matamu itu. Kau bisa melihat, siapa yang layak menjadi patih di istana ini." Ratu Sawitri Dewi juga mencoba untuk memahami apa yang diinginkan Kelalawar Hitam.
"Sandika gusti ratu." Kelalawar Hitam memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. Ia hanya tidak ingin negeri ini berperang karena dirinya. Ia tidak ingin mereka melakukan pemberontakan karena mereka yang tidak terima jika dirinya menjadi Patih. Selain itu, ia bukanlah tipe orang yang mudah menahan sabar. Ataupun memutuskan masalah tanpa adanya kekerasan. Pasti sulit baginya, jika ia melakukan kesalahan yang sangat fatal.
...***...
Selendang Merah telah sampai di desa bayang Kabung. Kedatangannya telah disambut baik oleh nyai Asih Teladan. Ia sangat bahagia saat melihat kedatangan Selendang Merah.
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Kau telah sampai nimas mustika ayu dewi." Nyai Asih Teladan tersenyum ramah.
Selendang Merah sebelum sampai telah membuka cadar merahnya. Ia juga tersenyum ramah menatap Nyai Asih Teladan. "Saya baru saja sampai." Ucapnya dengan suara ramah.
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Supaya lebih enak untuk berbicara." Nyai Asih Teladan sangat antusias menyambut kedatangan Selendang Merah.
"Terima kasih nyai. Saya merasa terhormat sekali bisa belajar di sini." Selendang Merah merasa nyaman.
"Siapa saja bisa belajar di sini. Termasuk nimas sendiri." Senyuman ramah menyambut ucapan Selendang Merah, atau yang kini namanya Mustika Ayu Dewi.
"Pak. Istirahatlah dahulu. Besok saja kembali ke istana. Pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Selendang Merah melihat ke arah pak kusir yang melihat mereka.
"Baik nini." Pak kusir langsung membawa kudanya ke tempat yang paling aman.
"Kalau begitu nanti akan saya tunjukkan bilik istirahat untuk tuan." Nyai Asih Teladan mempersilahkan Pak Kusir yang membawa Selendang Merah untuk beristirahat.
"Terima kasih nyai." Pak Kusir terlihat sangat senang mendengarnya.
Setelah itu mereka berdua masuk. Banyak murid wanita ternyata, selain dirinya yang akan belajar di sana.
"Silahkan duduk." Ucapnya dengan ramah.
"Terima kasih nyai." Selendang Merah duduk bersila di bawah, namun masih di depan meja kecil ukuran untuk duduk saja.
Nyai Asih Teladan menuangkan air minum, lalu menyerahkannya ke tangan Selendang Merah.
"Terima kasih nyai." Sudah sekian kali ia mengucapkan terima kasih pada wanita itu. "Rasanya aku sangat canggung sekali. Ini seperti bukan aku yang biasa." Dalam hatinya sangat heran dengan dirinya yang sekarang.
"Aku telah menerima surat dari gusti ratu sawitri dewi yang mengatakan untuk mengajarimu banyak hal di sini." Ia duduk bersama Selendang Merah. "Tapi aku harap kau bisa belajar dengan baik. Karena tidak banyak yang berhasil belajar dengan baik." Ia menepuk pelan pundak Selendang Merah. "Belajar lah dengan sepenuh hati, supaya tidak goyah nantinya, atau berhenti ." Nyai Asih Teladan menjelaskan pada Selendang Merah agar tidak terkejut nantinya.
"Saya akan belajar dengan baik." Selendang Merah terlihat sangat yakin. "Hidup ini penuh dengan rintangan. Jika kita tidak sanggup, mungkin ia kurang motivasi diri, kurang percaya diri." Balas Selendang Merah dengan senyuman lembut. "Hati adalah hal yang penting saat memutuskan sesuatu. Dan semoga saja saya bisa belajar dengan baik di sini." Senyumnya semakin semakin terasa agak berbeda.
"Ya. Itu yang aku harapkan. Semoga saja bisa belajar dengan baik." Balasnya dengan senyuman ramah. Ia tidak menduganya sama sekali, jika Ratu Sawitri Dewi mengirim seseorang yang akan menjadi Ratu agung di istana kerajaan Sendang Agung. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Next.
__ADS_1
...***...