ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KABAR TENTANG PATIH ARYA SERUPA


__ADS_3

...***...


Malam itu Selendang Merah dan Kelalawar Hitam langsung kembali ke istana setelah berhasil meringkus para kawanan perampok yang meresahkan. Mereka kembali dengan aman, meskipun sempat terjadi hal yang sangat mengkhawatirkan terhadap Selendang Merah yang tiba-tiba mendapatkan serangan gaib, alis santet hampir saja mencelakai Selendang Merah. Serangan gaib yang sama sekali tidak bisa diatasi jika saja Prabu Praja Permana tidak terhubung dengan Selendang Merah.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Kalian telah kembali dengan selamat. Aku sangat bersyukur sekali. Karena aku sangat takut saat kalian mengatakan dapat serangan santet." Prabu Praja Permana lega melihat keduanya baik-baik saja. Ia sangat takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari mereka berdua, terutama pada Selendang Merah.


"Syukurlah baik-baik saja gusti prabu." Selendang Merah dan Kelalawar Hitam juga bersyukur karena mereka masih baik-baik saja.


"Aku harap nimas lain kali lebih berhati-hati lagi. Karena serangan gaib itu hanya bisa dilawan oleh ayat Alquran. Makhluk gaib atau jin sulit dilawan jika tidak ada benteng di dalam diri kita." Prabu Praja Permana merasa resah setelah serangan gaib itu terjadi.


"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba boleh menyarankan, sebaiknya ayuk tetap berada di istana. Akan berbahaya jika ayuk pergi ke luar. Hamba takut terjadi sesuatu pada ayuk, yang nantinya bisa mempengaruhi gusti prabu juga." Kelalawar Hitam mengajukan saran pada Prabu Praja Permana. "Dengan kejadian tadi, hamba sangat cemas, masih banyak musuh dari ayuk. Atau bahkan dari gusti prabu yang tidak menginginkan gusti prabu serta ayuk bersatu. Makanya mereka menggunakan santet untuk mencelakai ayuk." Lanjutnya dengan perasaan cemas yang sangat luar biasa. Tentunya sebagai seorang adik, wajar baginya mencemaskan keadaan kakaknya.


Prabu Praja Permana tampak berpikir dan menimbang apa yang dikatakan oleh Kelalawar Hitam sepertinya ada benarnya juga. "Bagaimana menurut nimas?. Aku tidak akan memaksa nimas. Karena aku yakin pendekar seperti nimas tidak ingin dikekang bukan?." Prabu Praja Permana bertanya pada Selendang Merah. Karena ia tidak mau memaksakan kehendaknya, meskipun itu demi kebaikan bersama.


"Maaf jika hamba sedikit berpendapat gusti prabu. Menurut hamba sama saja. Walaupun hamba bersembunyi, hamba akan tetap dicari oleh mereka yang memiliki dendam terhadap hamba. Jadi itu semua percuma jika hamba bersembunyi di dalam istana ini." Jawab Selendang Merah. Karena akan banyak yang mencari keberadaannya nantinya.


"Ayuk. Aku mohon, dengarkan apa yang kami katakan. Ini semua demi keselamatan ayuk." Kelalawar Hitam tampak memohon pada kakaknya itu dengan sangat. "Untuk saat ini dengarkan apa yang kami katakan. Kami mohon pada ayuk. Atau kami yang akan memaksa ayuk." Sepertinya Kelalawar Hitam sangat serius ingin melindungi kakaknya dari ancaman bahaya. Rasa cemas seorang adik pada kakaknya yang merasa dirinya akan baik-baik saja.


"Kami mohon kali ini saja nimas. Bukan hanya adimas kelalawar hitam saja yang mencemaskan keadaan nimas. Namun ibunda ratu." Prabu Praja Permana hanya tidak mau itu terjadi. Karena itulah Prabu Praja Permana ingin Selendang Merah diincar oleh orang lain.


Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam terus berusaha untuk membujuk Selendang Merah agar mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Kami tahu bahwa nimas memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Tapi kami tetap mencemaskan keselamatanmu nimas." Prabu Praja Permana sangat terlihat dengan jelas mencemaskan Selendang Merah.


"Maaf gusti prabu. Hamba sebenarnya ingin menolaknya." Balas Selendang Merah, sehingga membuat Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam ingin menampol wanita itu, Tapi. "Tapi karena hamba akan menjadi seorang ratu agung, maka hamba akan mendengarkan apapun yang gusti prabu katakan. Maaf jika hamba agak bersikeras hati gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Oh, ayuk. Kau menakuti aku saja." Kelalawar Hitam menghela nafasnya yang terasa lelah. Sedangkan Selendang Merah malah tertawa.


"Baiklah kalau begitu. Nanti nimas bisa belajar banyak hal dengan ibunda. Semoga saja nimas bisa belajar banyak hal dengan ibunda nantinya." Prabu Praja Permana juga merasa lega. Ia tidak menyangka, jika Selendang Merah mau menuruti apa yang mereka katakan.


"Sandika gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Hamba pamit dulu gusti prabu." Selendang Merah pamit, ia pergi duluan ke biliknya.


"Benar-benar membuat resah saja." Keluh Kelalawar Hitam menghela nafasnya dengan pelan. Ia hampir saja mau baku hantam dengan kakaknya karena kakaknya itu tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan.


Sementara itu Prabu Praja Permana malah tertawa geli melihat betapa kesalnya Kelalawar Hitam pada kakaknya itu.


...***...


Keesokan harinya. Patih Mandala Restu datang dengan terburu-buru ke istana. Sehingga ia tidak melihat Ratu Sawitri Dewi yang sedang bersama Andara Wijaya dan Sandi Praha.


"Terburu-buru sekali. Siapa dia?." Sandi Praha baru melihat Patih Mandala Restu karena selama ini ia bertugas di luar istana.


"Beliau adalah patih mandala restu. Kalian bisa belajar banyak pada beliau nantinya, jika beliau tidak sibuk." Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil.


"Benarkah itu nenek ratu?." Andara Wijaya dan Sandi Praha sangat senang jika mendengarkan kata latihan.


"Nanti akan aku katakan padanya untuk melatih kalian berdua." Balas Ratu Sawitri Dewi.


"Terima kasih nenek ratu." Keduanya memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. Karena perhatian yang luar biasa mereka dapatkan.


Sementara itu di dalam istana.


"Hormat hamba gusti prabu." Patih Mandala Restu memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Silahkan duduk paman." Prabu Praja Permana mempersilahkan Patih Mandala Restu untuk duduk.


"Terima kasih nanda prabu." Terlihat kegelisahan di wajahnya, karena ada hal yang ingin ia sampaikan.


"Ada apa paman?. Kenapa paman terlihat gelisah?. Apa yang terjadi paman?." Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan sang Prabu.

__ADS_1


"Mohon ampun nanda prabu. Mungkin masalah ini agak sensitif untuk saya katakan pada nanda prabu."


"Katakan saja paman. Jangan sampai saya mengetahuinya dari orang lain."


"Maaf sekali lagi nanda prabu. Ini masalah patih arya serupa."


Prabu Praja Permana sedikit mengernyitkan keningnya karena merasa heran. "Apa yang terjadi dengan paman arya serupa?. Sehingga paman yang datang." Tentunya menjadi pertanyaan bagi Prabu Praja Permana.


Agak sedikit ragu ia mengatakannya. "Patih arya serupa saat ini sedang mengalami gangguan jiwa nanda prabu."


"Apa?." Prabu Praja Permana sangat terkejut mendengarnya. "Bagaimana bisa itu terjadi?. Padahal beberapa hari yang lalu, keadaan paman arya serupa masih baik-baik saja." Prabu Praja Permana merasa heran jika kabar buruk yang ia dapatkan mengenai Patih Arya Serupa. "Apakah paman mengetahui penyebabnya?. Lalu bagaimana keadaannya saat ini paman?."


"Keadaannya saat ini terbilang sangat tidak baik nanda prabu. Kami terpaksa mengurungnya. Karena ia terus mengamuk, dan bahkan menyerang siapa saja yang mencoba mendekatinya." Jawab Patih Mandala Restu. "Hamba juga kurang mengerti nanda prabu." Lanjutnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Memangnya apa yang membuat paman arya serupa mengalami hal buruk seperti itu?." Sang Prabu bingung mau berkata apa. "Mungkin paman melihat gerak gerik mencurigakan dari paman arya serupa?. Mungkin ada kaitannya dengan apa yang beliau alami."


Patih Mandala Restu mencoba untuk mengingat apa yang terjadi. "Saat saya sedang bertugas di perbatasan desa, saya tidak sengaja bertemu dengan patih arya serupa." Ia mengingat bagaimana kejadian hari itu. "Patih arya serupa mengatakan ia ingin pergi ke gunung merapi untuk menemui seseorang. Tapi saya tidak bertanya lagi, karena ia tampak sedang terburu-buru." Lanjutnya.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan melihat keadaannya paman. Saya harap paman bisa mengatasinya untuk sementara waktu. Saya akan ke sana bersama adimas kelalawar hitam nantinya." Sang Prabu ingin mengetahui kebenarannya. "Silahkan paman lanjutkan meronda kembali."


"Sandika nanda prabu. Hamba pamit, sampurasun."


"Rampes."


Setelah memberi hormat pada Prabu Praja Permana, Patih Mandala Restu pergi meninggalkan tempat. Sesuai dengan perintah sang Prabu, bahwa ia akan kembali bertugas meronda sampai ke wilayah perbatasan. Meskipun sempat teledor, namun masih bisa diatasi dengan baik.


"Ya Allah. Kali ini apalagi masalah yang menimpa negeri ini?. Ampunilah dosa kami ya Allah. Haruskah hamba mengajak mereka semua masuk agama islam, supaya mereka semua menyadari karma apa yang akan mereka terima jika melakukan apa yang engkau larang ya Allah." Bukan bermaksud hati sang Prabu untuk mengeluh seperti itu. Hanya saja banyak yang melakukan hal-hal yang aneh untuk mendapatkan sesuatu. Apakah yang akan dilakukan sang Prabu?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di kediaman Patih Arya Serupa. Nyai Fatma Endang dan Putrinya tak henti-hentinya menangis karena keadaan Patih Arya Serupa. Mereka tidak tahan mendengarkan suara teriakan kesakitan Patih Arya Serupa. Karena kejadian malam tadi, banyak orang yang datang ke rumahnya. Membantu menenangkan Patih Arya Serupa, hingga terpaksa dipasung karena terus saja menjerit-jerit bahkan menyerang siapa saja yang mendekatinya. Kini banyak orang yang berjaga di rumahnya, takut Patih Arya Serupa akan mengamuk lagi.


"Saya harap nyai bisa bersabar, juga nimas lebih bersabar." Dharmapati Karang Agung mencoba menenangkan keduanya. Ia merasa simpati dengan keadaan Patih Arya Serupa.


Dharmapati Karang Agung hanya diam saja, ia tidak tahu harus berkata apa lagi disaat seperti ini. Ia juga tidak bisa banyak membantu, ia juga kesulitan malam tadi saat ikut menenangkan Patih Arya Serupa.


Sementara itu di luar, mereka melihat kedatangan Prabu Praja Permana bersama Kelalawar Hitam. Mereka memberi hormat pada sang Prabu.


"Hormat kami gusti prabu."


"Ya." Balas Prabu Praja Permana dengan senyuman kecil.


"Mari masuk gusti." Senopati Prabasuara mempersilahkan Prabu Praja Permana masuk ke dalam rumah Patih Arya Serupa.


Saat mereka masuk, mereka disambut oleh Putri Ambar Suryati, Nyai Fatma Endang, dan juga Dharmapati Karang Agung. 


"Gusti prabu." Mereka semua memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Gusti prabu." Putri Ambar Suryati mendekati Prabu Praja Permana, dan memeluknya. Ia limpahkan kesedihan yang ia rasakan. Namun sang Prabu segera melepaskan pelukannya. Sang Prabu merasa tidak enak hati dilihat oleh yang lainnya.


"Tenanglah tuan putri. Saya hanya ingin memeriksa keadaan paman Patih." Prabu Praja Permana hanya tersenyum kecil. "Saya harap tuan putri lebih bersabar lagi."


Karena mendapatkan penolakan hanya sekedar pelukan, Putri Ambar Suryati hanya diam saja. Menganggukkan kepalanya bahwa ia akan mencoba bersabar lahir dan batin?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apakah itu suara teriakan paman Patih?." Prabu Praja Permana mendengarkan suara teriakan.


"Benar nanda prabu. Dari malam tadi kanda patih berteriak kesakitan. Hati saya sangat iba nanda prabu. Rasanya tidak sanggup mendengarkan teriakan memilukan dari kanda patih." Wanita itu kembali menangis sedih, karena ia tidak kuasa menahan suasana hatinya.


"Maaf bibi fatma endang. Mohon izin saya untuk menemui paman patih. Saya akan memeriksa keadaannya." Prabu Praja Permana tersenyum ramah menatap Nyai Fatma Endang.

__ADS_1


"Mari gusti. Ikuti hamba." Nyai Fatma Endang mempersilahkan Prabu Praja Permana untuk mengikutinya.


"Mari adimas."


"Mari gusti prabu."


Mereka semua mengikuti Nyai Fatma Endang, meninggalkan Putri Ambar Suryati yang tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dari Prabu Praja Permana.


Begitu sampai di gudang belakang. Suara itu semakin terdengar keras, hingga rasanya mereka tidak sanggup untuk menahan perasaan merinding.


"Maaf gusti prabu, hamba tidak bisa menemani gusti prabu masuk ke dalam." Nyai Fatma Endang hanya tersenyum kecil.


"Baiklah bibi. Kalau begitu bibi tunggu saja di luar." Balasnya. "Senopati prabasuara, dharmapati karang agung. Tolong tetap berada di luar, saya takut terjadi sesuatu nantinya."


"Sandika gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Adimas, mari kita masuk."


"Sandika gusti prabu."


Kelalawar Hitam mengikuti Prabu Praja Permana masuk ke dalam. Begitu mereka masuk ke dalam. Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam melihat hawa hitam yang menyelimuti tubuh Patih Arya Serupa.


"Berhati-hatilah gusti prabu. Karena ada hawa aneh yang menyelimuti tubuhnya. Hamba harap gusti prabu bisa melihat ada hawa jahat yang sedang menguasai diri gusti patih arya serupa." Kelalawar Hitam melalui matanya dapat menangkap apa yang terjadi di depan matanya saat ini.


"Ya, kau juga harus berhati-hati adimas. Aku juga bisa melihatnya. Ada jin jahat yang menguasai tubuh paman patih arya serupa." Entah karena terhubung dengan Selendang Merah atau apa. Prabu Praja Permana dapat melihat semuanya.


"Kalian tidak akan bisa menyelamatkan jiwanya lagi!. Karena dia telah menjual jiwanya padaku!." Suara Patih Rangga Dewa terdengar sangat berbeda. Sehingga terdengar aneh, dan membuat suasana sekitar merinding mendengarkan suara itu.


"Hai kau, iblis yang berada di dalam tubuh tubuh orang itu. Keluarlah!. Jika kau tidak mau keluar!. Maka aku terpaksa akan memusnahkan mu atas izin Allah SWT." Prabu Praja Permana mengancam jin yang berada di dalam tubuh Patih Arya Serupa.


"Hah!. Kau tidak akan bisa mengancam aku!. Karena aku telah melakukan perjanjian dengannya!. Jadi kau tidak usah merusak perjanjian kami dengan membawa nama tuhan!." Sepertinya jin yang berada di dalam tubuh Patih Arya Serupa sangat marah. Wajahnya terlihat makin seram.


"Apa yang harus kita lakukan gusti prabu?. Sepertinya dia semakin marah." Kelalawar Hitam sedikit merinding melihat wajah itu.


"Tenanglah adimas. Cobalah untuk menembus ke alam sukmanya, lihat apa yang terjadi padanya." Prabu Praja Permana mencoba untuk memberikan arahan pada Kelalawar Hitam. "Sedangkan aku, aku akan mencoba untuk menekannya dengan membacakan ayat suci Alquran." Lanjut Sang Prabu.


"Sandika gusti prabu." Kelalawar Hitam memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Meskipun ini pertama kalinya aku memasuki alam sukma jin, aku harap aku bisa kembali dengan selamat. Hii." Dalam hatinya bergidik ngeri membayangkan jika ia terjebak di alam sukma dan terjebak di sana karena tidak semudah itu lolos dari jin. Kelalawar Hitam menatap lurus mata Patih Arya Serupa.


Deg!!!


Kelalawar Hitam berhasil memasuki alam sukma Patih Arya Serupa. Sedangkan Prabu Praja Permana mencoba untuk menjaga tubuh Kelalawar Hitam. Selain itu ia mencoba untuk berdoa kepada Allah SWT. Dengan membacakan ayat kursi, alfatihah, alfalah, Al-Ikhlas, Annas, serta Al-Baqarah ayat 44-47. Sang Prabu Membacakannya dengan suara yang sangat lantang. Membuat Jin yang ada di dalam tubuh Patih Arya Serupa berteriak kesakitan.


"Hentikan!. Hentikan!. Kau tidak akan semudah itu untuk membunuh aku!." Jin tersebut malah semakin berontak dengan ganasnya.


Sedangkan di alam sukma. Kelalawar Hitam melihat hari dimana Patih Arya Serupa melakukan janji itu, dan ia melihat Patih Arya Serupa memperlihatkan lukisan seorang wanita pada setan itu. Matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali. Itu adalah lukisan kakaknya yang mengenakan cadar merah. Dan hatinya sangat bergemuruh, disaat ia mendengarkan bahwa Patih Arya Serupa ingin membunuh kakaknya.


Deg!!


Kelalawar Hitam sangat terkejut, karena jin itu menyadari keberadaannya dan malah melirik ke arahnya. Jin itu marah, hingga menyerangnya dengan kekuatan gaib. Sementara itu Prabu Praja Permana perlahan-lahan bisa menaklukkan Jin itu, dan berhasil mengusirnya dari tubuh Patih Arya Serupa.


"Kegh!." Prabu Praja Permana sedikit meringis, karena hawa jin itu sangat membuat suasana tidak nyaman sama sekali.


"Uhuk." Kelalawar Hitam juga telah sadar, ia sedikit terbatuk-batuk karena serangan hawa gaib dari jin yang menyerangnya di alam sukma.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Prabu Praja Permana sangat bersyukur karena semuanya baik-baik saja.


"Gusti prabu. Patih arya serupa telah berani bersekutu dengan setan itu. Dia menjual dirinya untuk mencelakai ayuk selendang merah. Dia ingin menyingkirkan ayuk, karena dia menganggap ayuk menjadi penghalang putrinya untuk menduduki tahta ratu agung." Kelalawar Hitam menjelaskan pada Prabu Praja Permana, apa yang telah ia lihat di alam sukma itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh merugi sekali apa yang telah ia lakukan." Prabu Praja Permana tidak menyangka Patih Arya Serupa akan melakukan itu.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2