ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERTENTANGAN DAN PENGKHIANATAN


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana telah cukup sabar selama ini dengan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Wira Wijaksana. Kali ini pengaduan langsung dari ibundanya Ratu Sawitri Dewi.


"Aku telah mengatakan padamu untuk mengubah perangai mu dinda wira wijaksana. Tapi sepertinya kau tidak mengindahkan sama sekali peringatan yang telah aku berikan padamu."


"Itulah salahnya dinda wira wijaksana. Karena apa yang menurutmu itu benar. Akan tetapi belum tentu benar menurut orang lain."


"Apa yang kanda prabu ingin sampaikan padaku. Katakan saja."


"Aku hanya ingin mengatakan, jika dinda harus segera memutuskan masalah yang ada, atau dinda sendiri yang akan mendapatkan masalah nantinya."


"Kanda prabu jangan sesuka hati kanda prabu menggunakan kekuasaan kanda prabu untuk menekanku."


"Kalau begitu segera putuskan dengan baik. Aku tidak suka jika dinda mencla mencle masalah perasaan terhadap wanita."


"Sudah aku katakan, itu adalah urusanku. Kanda prabu tidak usah ikut campur."


"Dinda wira wijaksana. Dinda harus bertindak tegas. Kita ini adalah laki-laki. Tidak baik kita menyakiti hati wanita. Ibunda kita juga seorang wanita!."


"Kanda prabu belum menikah sama sekali. Jadi kanda prabu tidak usah menasihati aku. Jika kanda prabu menyukai nimas rembulan indah katakan saja terus terang. Jangan kanda prabu gunakan kekuasaan kanda prabu untuk menekan aku."


"Aku berkata yang sebenarnya dinda wira wijaksana. Kau pikir kau bisa berbangga hati setelah mendapatkan semua wanita di dunia ini?. Jika kau masih macam-macam pada nimas selendang merah, akan aku pastikan kau mendapatkan hukuman atas apa yang telah kau lakukan padanya. Juga pengaduan yang pernah masuk padaku beberapa bulan yang lalu."


"Kanda prabu tidak usah mengancamku."


"Jika kau tidak ingin aku ancam, maka perbaiki sikapmu. Jangan pernah kau dekati nimas selendang merah. Atau kau akan menyesal."


"Hukum saja aku jika kanda prabu sanggup."


"Kau jangan menguji kesabaranku wira wijaksana. Aku telah menutupi aibmu yang berada di desa merapi agung. Kau pikir aku bisa melupakan kesalahanmu itu?. Kau telah menodai seorang wanita, dan kau pergi begitu saja setelah dia hamil?. Harusnya kau menjalani hukum buang. Karena kau telah melempar bangkai busuk dihadapan ku. Namun sebagai seorang kakak, aku berusaha menutupi kesalahan yang telah kau perbuat."


Pangeran Wira Wijaksana tidak menyangka, jika Prabu Praja mengetahui masalah itu?.


"Dan aku ingatkan sekali lagi. Jika kau berani merencanakan untuk menjebak nimas selendang merah dengan cara yang sama, maka hukuman gantung akan segera menantimu dinda."


"Jadi kanda prabu sudah mengetahui semuanya?. Kau memang licik praja Permana. Ternyata diam-diam kau menyuruh orang lain untuk memata-matai aku!."


"Aku tidak menyuruh siapapun untuk memata-mataimu dinda. Semua rencana yang kau susun untuk menjebak nimas selendang merah, ada di raut wajah mu. Saat ini aku bisa melihat semuanya. Apa saja yang telah kau rencanakan."


Tiba-tiba saja tatapan mata Prabu Praja Permana seakan sama dengan tatapan Selendang Merah. Pangeran Wira Wijaksana sangat terkejut melihat itu. Ia seakan diterkam oleh elang yang selama ini telah menarget dirinya sebagai mangsa. Pangeran Wira Wijaksana seakan terpaku ditempat.


"Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa melihat apa yang ada di matanya saat ini. Aku merasakan perasaan yang tidak enak untuk melihat apa saja yang akan ia lakukan."


Dalam hati Prabu Praja Permana juga merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Seakan-akan ia mendapatkan kekuatan baru, kekuatan yang telah menyerap di dalam dirinya. Apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan membara ingin membunuh seseorang tanpa perasaan ragu sedikitpun. Sementara itu, Pangeran Wira Wijaksana sedang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa. Semua rencana yang ia susun diketahui oleh Prabu Praja Permana?. Tapi bagaimana bisa?. Kekuatan macam apa yang sedang mengalir di dalam diri kakaknya itu?.


"Sepertinya kau memang tidak bisa didiamkan lagi kanda prabu."


"Jadi kau memilih jalan kekerasan dinda wira wijaksana?."


Prabu Praja Permana menatap tajam ke arah Pangeran Wira Wijaksana. Dan benar, Pangeran Wira Wijaksana menyerang Prabu Praja Permana. Terjadi pertarungan di ruangan itu, keduanya mengadu ilmu kanuragan yang mereka miliki.


"Kau pikir kau bisa mengalahkan aku praja permana. Aku sudah muak dengan sikap sok baik yang kau tunjukkan selama ini padaku. Dan aku telah bersumpah akan mengambil alih lagi kerajaan ini dari tanganmu!."


"Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu dinda wira wijaksana. Kau yang selama ini adalah budak nafsu, ingin memiliki semuanya dengan perasaan tamak. Dan kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semua itu dengan sesukamu?. Kali ini aku pastikan kau bertanggungjawab atas apa yang telah kau lakukan wira wijaksana."


Kembali Prabu Praja Permana menyerang Pangeran Wira Wijaksana. Ia tidak akan menahan perasaannya lagi. Perbuatan Pangeran Wira Wijaksana sudah melampaui batas, dan ia masih mau merencanakan sesuatu yang mengerikan?.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, di luar. Selendang Merah dan Kelalawar Hitam yang bersiaga hampir saja masuk, jika tidak dihadang oleh Bhayangkara Ra Lilur.


"Sudah aku duga. Kau akan terlihat dalam masalah ini. Memang manusia busuk kau!."


"Kau tidak usah menunjuk ke arah orang lain. Sementara kau sama saja."


"Kurang ajar!. Berani sekali kau menyamai kakakku dengan lelaki bejad seperti kau."


"Heh!. Tidak usah membela orang lain, jika kau sama saja."


"Nini. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk membunuh lelaki busuk itu."


"Lakukan saja adi. Aku juga ingin menghabisi manusia tidak berguna ini. Hanya menyusahkan gusti prabu saja, mari kita habisi dia adi."


"Baiklah nini. Aku tidak akan segan-segan lagi. Tanganku sudah gatal ingin mencabut nyawanya."


"Maju saja kalian berdua. Karena aku tidak takut dengan kalian berdua. Aku telah memiliki banyak pengalaman dari pada kalian."


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam merasa tertantang dengan apa yang diucapkan oleh Bhayangkara Ra Lilur. Mereka bertarung untuk mempertahankan hak mereka. Apakah mereka bisa menyelesaikan masalah mereka?. Sepertinya masalah kali ini sangat serius, karena mereka membela pada apa yang mereka anggap itu adalah sebuah kebenaran.


...***...


Sedangkan di dalam ruangan, Prabu Praja Permana masih berhadapan dengan Pangeran Wira Wijaksana. Mereka masih tidak mau mengalah satu sama lain. Saling menyerang, menunjukkan siapa yang berkuasa sebenarnya.


Perasaan terpendam dari lubuk hati mereka yang masih menyimpan perasaan sungkan. Namun hari ini mereka tidak lagi menyimpan perasaan itu.


"Kau tidak usah menahan diri lagi praja permana. Atau kepandaian yang kau miliki hanya sebatas itu saja?. Heh!. Sangat memalukan sekali."


"Kau jangan memancing kemarahanku wira wijaksana. Lihat saja posisimu yang sekarang. Kau sedang terpojok, hanya beberapa gerakan yang aku lakukan padamu."


Memang keadaan Pangeran Wira Wijaksana saat ini sangat tidak menguntungkan. Karena gerakan cepat yang tidak biasa dari Prabu Praja Permana sangat berbeda dari yang biasanya. Apa yang terjadi sebenarnya?. Dari mana kekuatan yang berbeda itu didapatkan oleh Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya.


Prabu Praja Permana telah cukup sabar selama ini dengan apa yang telah dilakukan oleh Pangeran Wira Wijaksana. Kali ini pengaduan langsung dari ibundanya Ratu Sawitri Dewi.


"Aku telah mengatakan padamu untuk mengubah perangai mu dinda wira wijaksana. Tapi sepertinya kau tidak mengindahkan sama sekali peringatan yang telah aku berikan padamu."


"Itulah salahnya dinda wira wijaksana. Karena apa yang menurutmu itu benar. Akan tetapi belum tentu benar menurut orang lain."


"Apa yang kanda prabu ingin sampaikan padaku. Katakan saja."


"Aku hanya ingin mengatakan, jika dinda harus segera memutuskan masalah yang ada, atau dinda sendiri yang akan mendapatkan masalah nantinya."


"Kanda prabu jangan sesuka hati kanda prabu menggunakan kekuasaan kanda prabu untuk menekanku."


"Kalau begitu segera putuskan dengan baik. Aku tidak suka jika dinda mencla mencle masalah perasaan terhadap wanita."


"Sudah aku katakan, itu adalah urusanku. Kanda prabu tidak usah ikut campur."


"Dinda wira wijaksana. Dinda harus bertindak tegas. Kita ini adalah laki-laki. Tidak baik kita menyakiti hati wanita. Ibunda kita juga seorang wanita!."


"Kanda prabu belum menikah sama sekali. Jadi kanda prabu tidak usah menasihati aku. Jika kanda prabu menyukai nimas rembulan indah katakan saja terus terang. Jangan kanda prabu gunakan kekuasaan kanda prabu untuk menekan aku."


"Aku berkata yang sebenarnya dinda wira wijaksana. Kau pikir kau bisa berbangga hati setelah mendapatkan semua wanita di dunia ini?. Jika kau masih macam-macam pada nimas selendang merah, akan aku pastikan kau mendapatkan hukuman atas apa yang telah kau lakukan padanya. Juga pengaduan yang pernah masuk padaku beberapa bulan yang lalu."


"Kanda prabu tidak usah mengancamku."


"Jika kau tidak ingin aku ancam, maka perbaiki sikapmu. Jangan pernah kau dekati nimas selendang merah. Atau kau akan menyesal."


"Hukum saja aku jika kanda prabu sanggup."

__ADS_1


"Kau jangan menguji kesabaranku wira wijaksana. Aku telah menutupi aibmu yang berada di desa merapi agung. Kau pikir aku bisa melupakan kesalahanmu itu?. Kau telah menodai seorang wanita, dan kau pergi begitu saja setelah dia hamil?. Harusnya kau menjalani hukum buang. Karena kau telah melempar bangkai busuk dihadapan ku. Namun sebagai seorang kakak, aku berusaha menutupi kesalahan yang telah kau perbuat."


Pangeran Wira Wijaksana tidak menyangka, jika Prabu Praja mengetahui masalah itu?.


"Dan aku ingatkan sekali lagi. Jika kau berani merencanakan untuk menjebak nimas selendang merah dengan cara yang sama, maka hukuman gantung akan segera menantimu dinda."


"Jadi kanda prabu sudah mengetahui semuanya?. Kau memang licik praja Permana. Ternyata diam-diam kau menyuruh orang lain untuk memata-matai aku!."


"Aku tidak menyuruh siapapun untuk memata-mataimu dinda. Semua rencana yang kau susun untuk menjebak nimas selendang merah, ada di raut wajah mu. Saat ini aku bisa melihat semuanya. Apa saja yang telah kau rencanakan."


Tiba-tiba saja tatapan mata Prabu Praja Permana seakan sama dengan tatapan Selendang Merah. Pangeran Wira Wijaksana sangat terkejut melihat itu. Ia seakan diterkam oleh elang yang selama ini telah menarget dirinya sebagai mangsa. Pangeran Wira Wijaksana seakan terpaku ditempat.


"Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa melihat apa yang ada di matanya saat ini. Aku merasakan perasaan yang tidak enak untuk melihat apa saja yang akan ia lakukan."


Dalam hati Prabu Praja Permana juga merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Seakan-akan ia mendapatkan kekuatan baru, kekuatan yang telah menyerap di dalam dirinya. Apa yang ia rasakan saat ini adalah perasaan membara ingin membunuh seseorang tanpa perasaan ragu sedikitpun. Sementara itu, Pangeran Wira Wijaksana sedang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa. Semua rencana yang ia susun diketahui oleh Prabu Praja Permana?. Tapi bagaimana bisa?. Kekuatan macam apa yang sedang mengalir di dalam diri kakaknya itu?.


"Sepertinya kau memang tidak bisa didiamkan lagi kanda prabu."


"Jadi kami memilih jalan kekerasan dinda wira wijaksana."


Prabu Praja Permana menatap tajam ke arah Pangeran Wira Wijaksana. Dan benar, Pangeran Wira Wijaksana menyerang Prabu Praja Permana. Terjadi pertarungan di ruangan itu, keduanya mengadu ilmu kanuragan yang mereka miliki.


"Kau pikir kau bisa mengalahkan aku praja permana. Aku sudah muak dengan sikap sok baik yang kau tunjukkan selama ini padaku. Dan aku telah bersumpah akan mengambil alih lagi kerajaan ini dari tanganmu!."


"Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu dinda wira wijaksana. Kau yang selama ini adalah budak nafsu, ingin memiliki semuanya dengan perasaan tamak. Dan kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semua itu dengan sesukamu?. Kali ini aku pastikan kau bertanggungjawab atas apa yang telah kau lakukan wira wijaksana."


Kembali Prabu Praja Permana menyerang Pangeran Wira Wijaksana. Ia tidak akan menahan perasaannya lagi. Perbuatan Pangeran Wira Wijaksana sudah melampaui batas, dan ia masih mau merencanakan sesuatu yang mengerikan?.


...***...


Sementara itu, di luar. Selendang Merah dan Kelalawar Hitam yang bersiaga hampir saja masuk, jika tidak dihadang oleh Bhayangkara Ra Lilur.


"Sudah aku duga. Kau akan terlihat dalam masalah ini. Memang manusia busuk kau!."


"Kau tidak usah menunjuk ke arah orang lain. Sementara kau sama saja."


"Kurang ajar!. Berani sekali kau menyamai kakakku dengan lelaki bejad seperti kau."


"Heh!. Tidak usah membela orang lain, jika kau sama saja."


"Nini. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi untuk membunuh lelaki busuk itu."


"Lakukan saja adi. Aku juga ingin menghabisi manusia tidak berguna ini. Hanya menyusahkan gusti prabu saja, mari kita habisi dia adi."


"Baiklah nini. Aku tidak akan segan-segan lagi. Tanganku sudah gatal ingin mencabut nyawanya."


"Maju saja kalian berdua. Karena aku tidak takut dengan kalian berdua. Aku telah memiliki banyak pengalaman dari pada kalian."


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam merasa tertantang dengan apa yang diucapkan oleh Bhayangkara Ra Lilur. Mereka bertarung untuk mempertahankan hak mereka. Apakah mereka bisa menyelesaikan masalah mereka?. Sepertinya masalah kali ini sangat serius, karena mereka membela pada apa yang mereka anggap itu adalah sebuah kebenaran.


...***...


Sedangkan di dalam ruangan, Prabu Praja Permana masih berhadapan dengan Pangeran Wira Wijaksana. Mereka masih tidak mau mengalah satu sama lain. Saling menyerang, menunjukkan siapa yang berkuasa sebenarnya.


Perasaan terpendam dari lubuk hati mereka yang masih menyimpan perasaan sungkan. Namun hari ini mereka tidak lagi menyimpan perasaan itu.


"Kau tidak usah menahan diri lagi praja permana. Atau kepandaian yang kau miliki hanya sebatas itu saja?. Heh!. Sangat memalukan sekali."


"Kau jangan memancing kemarahanku wira wijaksana. Lihat saja posisimu yang sekarang. Kau sedang terpojok, hanya beberapa gerakan yang aku lakukan padamu."

__ADS_1


Memang keadaan Pangeran Wira Wijaksana saat ini sangat tidak menguntungkan. Karena gerakan cepat yang tidak biasa dari Prabu Praja Permana sangat berbeda dari yang biasanya. Apa yang terjadi sebenarnya?. Dari mana kekuatan yang berbeda itu didapatkan oleh Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2