
...***...
Brak!.
Patih Arya Serupa sangat marah. Ia banting pintu gudang halaman belakang rumahnya. Ia sangat marah mendengarkan kabar mengenai calon ratu agung yang telah menyebar ke seantero negeri Kerajaan Sendang Agung.
"Sial!. Kenapa ini bisa terjadi?. Kenapa malah seperti ini?. Dan lagi!. Kemana pembunuh bayaran yang aku sewa tempo hari!. Mengapa mereka tidak melapor padaku!. Dasar tidak berguna!." Di dalam gudang itu ia marah-marah. Mengeluarkan semua rasa sakit hati yang ia rasakan di dal hatinya. Ia sangat kecewa dengan apa yang terjadi.
"Aku akan pergi ke gunung merapi setan merah." Dalam hatinya benar-benar panas dengan apa yang telah terjadi. "Wanita busuk itu harus mati. Aku tidak akan membiarkan dia orang asing mau berkuasa di kerajaan ini hanya karena ia merasa telah berjasa setelah berhasil membebaskan negeri ini dari kawanan perampok. Aku tidak akan membiarkannya menghalangi keinginan anakku untuk menjadi seorang ratu agung." Matanya saat ini dipenuhi oleh ambisi yang sangat bergejolak. Pikirannya dipenuhi beribu rencana jahat untuk menjatuhkan Selendang Merah yang ia anggap sebagai penghalang putrinya menjadi ratu agung di kerajaan Sendang Agung.
"Lihat saja. Apakah kau akan mampu berhadapan dengan pendekar pembunuh bayaran dari gunung merapi setan merah. Aku yakin kau akan mati di tangan mereka." Dalam hatinya lagi. Kali ini bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat licik. Sepertinya ia mengetahui, rencana apa yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan Selendang Merah, serta bagaimana caranya untuk menyingkirkan wanita bercadar merah itu. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.
***
Sementara itu di Istana Kerajaan Sendang Agung. Selendang Merah saat ini sedang bersama Ratu Sawitri Dewi. Ia diajarkan bagaimana tata cara seorang wanita dalam berbicara.
__ADS_1
"Sebagai ratu agung. Ucapan nanda akan selalu diperhatikan siapa saja. Entah itu penggawa istana, sampai rakyat akan memperhatikan bagaimana cara nanda berbicara nantinya." Ucap Ratu Sawitri Dewi dengan lembut. Senyumannya tak henti-hentinya terpampang di wajahnya yang masih cantik.
"Apakah harus seperti itu gusti ratu?." Selendang Merah dengan ragu bertanya. Akan tetapi, Ratu Sawitri Dewi malah tertawa geli melihat sikap kamu Selendang Merah. "Rasanya lucu sekali melihatmu yang seperti itu nini. Tidak seperti biasanya." Sungguh, Ratu Sawitri Dewi tidak tidak dapat menahan tawanya.
"Maafkan hamba. Sungguh hamba hanya bertindak sesuai dengan apa yang hamba lakukan saja." Selendang Merah merasa sangat canggung. Wanita dengan mulut kasar saat marah, dan tidak bisa mengendalikan dirinya saat bertarung. Dan kini dilatih berbicara sopan, lemah lembut untuk menjaga wibawanya sebagai seorang ratu agung nantinya?.
"Tidak apa-apa. Ini sama saja dengan belajar ilmu kanuragan. Pelan-pelan latihannya, simak gerakannya. Hayati dengan benar aliran tenaga dalamnya supaya mengalir dengan rata ke seluruh tubuh." Ratu Sawitri Dewi memberikan sedikit arahan pada Selendang Merah. "Dalam berbicara formal hampir sama saja. Kendalikan dengan baik dirimu. Kendalikan amarah yang akan menguasai dirimu. Setelah itu, lepaskan dengan kata-kata yang membuat mereka mengerti apa yang ingin kau sampaikan pada mereka." Lanjutnya.
Selendang Merah mencoba mengingatnya dengan baik. Ia berharap ini tidak akan mengecewakan Ratu Sawitri Dewi dan Prabu Praja Permana yang telah memberikan kepercayaan padanya sebagai calon ratu agung. Apakah ia berhasil melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
"Salam hormat hamba pangeran praja permana. Lebih tepatnya gusti prabu praja permana. Sudah lama rasanya tidak mendengarkan kabar tengang gusti prabu. Terkahir kita bertemu saat gusti prabu mengembara hingga sampai ke kerajaan manik mutiara." Ada jeda saat ia mengingatkan dirinya dimasa lalu yang mengembara karena sakit hatinya atas apa yang telah dilakukan oleh adiknya serta ayahandanya yang sama sekali tidak mau percaya dengan apa yang telah ia lakukan.
"Mungkin surat hamba agak aneh, bisa sampai datang ke tangan gusti prabu. Tapi saat hamba mendengarkan kabar tentang bahwa gusti prabu memiliki calon ratu agung, hati hamba bergetar sakit. Apakah hamba tidak bisa mendapatkan lagi perasaan cinta itu?. Apakah karena sikap masa lalu hamba pada gusti prabu, sehingga gusti prabu menolak lamaran yang diberikan ayahanda prabu pada gusti prabu?. Sungguh!. Rasanya hamba-." Prabu Praja Permana mengurung rapi surat itu. Dan rasanya ia tidak mau lagi membacakan surat yang berisikan penyesalan dari Putri Intan Ayu terhadap dirinya dimasa lalu. Bagi Prabu Praja Permana, masa lalu itu memang sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Ya Allah. Ampunilah dosa hamba. Bukan hamba bermaksud untuk menyimpan dendam atas apa yang telah ia lakukan pada hamba dimasa lalu. Dan masa sekarang, hamba telah menetapkan hati hamba hanya untuk nimas selendang merah. Wanita yang mencintai hamba tanpa memandang kekurangan yang hamba miliki. Hamba mohon lindungilah kami dari orang-orang yang berniat jahat pada kami ya Allah." Dalam hati Prabu Praja Permana berdoa, dan meminta harapannya kepada Allah SWT. Ia hanya ingin menjaga cinta sucinya yang telah ia percayakan pada Selendang Merah. Bahwasannya wanita itu tidak akan mungkin mengkhianati cintanya.
Kembali ke masa itu.
Perjalanan Pangeran Praja Permana telah sampai di sebuah kerajaan yang cukup makmur. Banyak orang yang lalu lalang di sekitar daerah itu. Ini adalah kota raja kerajaan Manik Mutiara. Kerajaan yang terkenal dengan manik mutiara yang sangat indah. Banyak pedagang luar yang menjual atau malah berburu benda berharga itu.
"Luar biasa sekali ramainya. Aku baru datang ke negeri ini." Dalam hatinya merasa kagum dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia mencoba mendekati mereka yang menawarkan barang, serta jasa angkut para pedagang yang melihat pelanggan mereka yang kesusahan membawa barang yang mereka beli.
Akan tetapi, tiba-tiba saja matanya menangkap seorang wanita yang terlempar dan hampir saja membentur tiang bangunan yang cukup besar. Mereka semua terkejut, begitu juga dengan pangeran Praja Permana. Dengan gerakan yang cepat, menggunakan ilmu kanuragan meringankan tubuh, ia dapat menangkap wanita itu. Sehingga wanita itu aman dari bahaya yang mengancam keselamatannya.
"Apakah kau baik-baik saja?. Apakah kau terluka?." Pangeran Praja Permana terlihat sedikit khawatir. Ia segera menurunkan wanita itu, agar berpijak baik di tanah.
"Saya baik-baik saja. Terima kasih telah menyelamatkan saya." Ucapnya dengan sedikit gugup. Karena orang yang menyelamatkan dirinya itu adalah orang yang sangat gagah dan tampan.
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1
...***...