ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEGELISAHAN & RENCANA


__ADS_3

...***...


Pertarungan Andara Wijaya dan Sandi  Praha masih bertarung. Meskipun mereka telah mengalami luka-luka. Namun keduanya masih saja mengadu kesaktian mereka.


Mereka saling menyerang satu sama lain, tidak mau kalah karena mempertahankan apa yang menurut mereka benar. Kali ini mereka menjaga jarak, karena mengatur tenaga dalam mereka.


"Kau tidak boleh berpikiran buruk. Jika ayahmu seorang perampok. Maka kau harus mengubah pandangan baik terhadap dirimu."


"Kau tidak usah banyak bicara Sawung!. Karena kau tidak akan pernah mengalami apa yang aku rasakan!."


"Asal kau tahu saja sandi praha!. Ibundaku seorang pendekar pembunuh bayaran. Dan ada kemungkinan aku akan mengikuti jejaknya."


"Jadi kau lebih buruk dari aku!. Tapi kenapa mereka malah tidak membencimu!."


"Mereka semua telah mengetahui siapa ibundaku. Tapi ibundaku membunuh orang-orang jahat. Termasuk membunuh para rampok yang berani bercokol atau menguasai suatu tempat."


"Heh!. Kau tidak usah membanggakan dirumu. Aku sekali tidak tertarik, dan malah semakin ingin membunuhmu."


"Aku tidak akan membiarkan kau berniat semaumu. Hanya karena perasaanmu yang tidak sampai pada sari asmawati, lalu kau melampiaskan rasa sakit hatimu padaku?. Maaf saja. Aku bukan tempat yang seperti itu."


"Banyak bicara!. Terima saja kematianmu dengan tenang!."


Sandi Praha kembali menyerang Andara Wijaya. Pertarungan kembali bertarung, karena belum ada rasa puas yang mereka terima. Kali ini pertarungan lebih ganas dari yang sebelumnya. Adu kesaktian, meskipun terkena serangan ataupun sepakan, mereka masih saja melanjutkan pertarungan.


Hingga keduanya merasakan pukulan yang sangat kuat, membuat keduanya terlempar jauh dan membentur pohon yang ada di belakang mereka. Mereka terluka parah, karena tenaga dalam yang mereka kerahkan sangat berlebihan. Akibatnya saat ini mereka mengalami luka dalam.


"Awas saja kau sawung. Pertarungan kita hari ini belum selesai. Jika aku telah sembuh. Aku akan kembali datang padamu dan membunuhmu!." Meskipun keadaannya seperti itu namun ia masih saja membenci Andara Wijaya, dan malah mengancamnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat dalam keadaan sakit, agak sedikit kesusahan dalam berjalan.


"Mau sampai kapan dia akan membenci diriku?. Benar-benar keterlaluan. Kegh." Andara Wijaya menyeka darah di sudut bibirnya. Ia merasa heran dengan sikap Sandi Praha yang tidak mau sama sekali diajak bicara. "Aku harus waspada terhadapnya. Bisa-bisa aku disuruh kembali ke hutan sepi oleh ibunda. Jika ibunda mengetahui keadaanku seperti ini." Ada kecemasan di dalam dirinya dengan keadaan seperti itu. Apakah yang akan ia lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.


...***...


Di sebuah tempat, Nila Ambarawati atau nama lain dari wanita itu adalah


Selendang Jingga Kematian bersama gurunya Kinantara. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan.


"Wanita itu sudah tidak bisa diampuni lagi guru. Semua anak buahku telah tewas ditangannya."

__ADS_1


"Kita harus segera membunuhnya. Atau kita yang akan dibunuh olehnya."


"Tapi tunggu dulu guru." Ia menghentikan langkahnya. Mencoba untuk berpikir sejenak.


"Apalagi?. Apakah kau sedang memikirkan sesuatu?."


"Aku memiliki ide yang bagus guru. Bagaimana kalau kita sedikit bermain-main."


"Apa maksudmu?. Permainan apa yang kau inginkan?."


"Aku yakin guru akan setuju dengan apa yang aku katakan." Senyumnya itu terlihat sumringah sekali. Seakan apa yang akan ia rencanakan akan berhasil ia lakukan nantinya.


"Baiklah. Apapun itu, akan aku turuti. Asalkan permainan yang kau mainkan itu menantang adrenalin."


"Tentu saja guru. Aku yakin guru sangat menyukainya."


"Rasanya aku tidak sabar melakukannya."


Apakah yang akan mereka lakukan?. Permainan apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...***...


"Kemana aku harus mencari wanita itu?. Atau aku harus mengalahkan beberapa anak buahnya, agar menunjukkan kepadaku, dimana dia berada." Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sedikit merasa pusing. Mengapa setelah sekian lama tidak bertemu, dan wanita itu malah membawa luka baginya?. Dan juga Pangeran Wira Wijaksana yang kini sedang menjalani hukuman buang.


"Tidak dimasa lalu, ataupun sekarang. Mereka berdua sangat menyebalkan. Membuat hatiku merasa sakit. Aku rasa mereka memang pantas hidup bersama. Dan bodohnya aku malah hadir diantara keduanya." Selendang Merah seakan mengutuk pertemuannya dengan kedua orang itu dimasa lalu.


"Aku harus menyelesaikan masalah ini. Ini semua demi putraku andara wijaya." Dalam hatinya mulai bertekad agar ia bisa menyelesaikan semua masalah ini. Namun pikirannya yang saat ini masih kusut. Dan memikirkan kejadian masa lalu yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.


Kembali ke masa itu.


Rembulan indah, itu adalah namanya. Seorang wanita yang saat ini sedang berlatih ilmu kanuragan seorang diri. Dengan lincahnya ia memainkan beberapa jurus yang telah ia pelajari dari gurunya.


Namun saat itu, gurunya memperkenalkan dua orang murid baru yang ingin belajar ilmu kanuragan dari nini serunti.


"Rembulan indah. Kau akan memiliki dua teman lainnya yang akan menemani latihanmu setiap hari."


"Terima kasih guru. Semoga saja kami bisa berteman dengan baik."

__ADS_1


"Hum. Bagus itu rembulan indah." Nini Serunti sangat senang, dan ia yakin mereka akan menjadi murid yang baik. "Kenalkan dia adalah rembulan indah. Kakak seperguruan kalian."


"Namaku rembulan indah."


"Aku nila ambarawati."


"Namaku jaya estu."


Mereka saling memperkenalkan nama masing-masing. Agar lebih mudah memanggil orangnya?. Ya, anggap saja seperti itu. Sejak saat itu, mereka berlatih dengan baik. Sangat baik, sehingga nini Serunti merasa bangga memiliki murid yang hebat seperti mereka.


Hingga terjadi sesuatu pada mereka. Ketika Nini Serunti terbunuh oleh seorang pendekar yang sangat sakti. Ketiganya juga tidak bisa mengatasi Pendekar itu.


Kembali ke masa ini.


...***...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Kelalawar Hitam baru saja sampai, ia langsung menemui Prabu Praja Permana. Meskipun masih ada mata yang menatap tajam ke arahnya, namun ia mencoba mengabaikannya.


"Hormat hamba gusti prabu."


"Silahkan duduk adimas."


"Terima kasih gusti prabu." Kelalawar Hitam memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Bagaimana keadaan di sana adimas. Apakah semuanya baik-baik saja?."


"Semuanya baik-baik saja gusti prabu. Mereka semua menyampaikan salam sejahtera pada gusti prabu. Juga salam maaf karena telah berpikiran buruk pada gusti prabu."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika semuanya baik-baik saja." Prabu Praja Permana tersenyum kecil menatap mereka semua. "Tinggal beberapa desa yang harus kita selamatkan. Dan juga saat ini nimas selendang merah sedang mencari keberadaan ketua kelompok setan jahat." Prabu Praja Permana menjelaskan kepada mereka, agar tidak salah faham karena Selendang Merah saat ini tidak hadir dalam pertemuan itu.


"Kita semua harus bekerjasama dalam membenahi negeri ini. Saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya hanya menginginkan kedamaian negeri ini. Marilah kita bekerja karena Allah SWT. Jangan sampai kita lalai karena kedamaian yang kita miliki. Kita harus tetap menjaga keutuhan. Saya harap jangan ada yang menyalahgunakan kepercayaan rakyat atas tahta yang kita miliki. Dan saya mohon pada kalian semua untuk bekerja dengan baik selaku orang-orang yang diberikan kepercayaan untuk menjadi atasan rakyat."


"Sandika gusti prabu."


Mereka semua hari ini mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Mereka mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Apakah yang akan terjadi?. Bagaimana kisah asmara antara Prabu Praja Permana dan Selendang Merah yang sedang dijodohkan?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya, supaya lebih semangat lanjutin ceritanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2