ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
SANTET


__ADS_3

...***...


Selendang Merah merasakan sakit dan panas yang berbeda, sehingga ia merintih kesakitan. Ia tidak mengerti sama sekali, mengapa tubuhnya mendadak terasa sakit aneh seperti itu.


"Kegh. Sakit." Selendang Merah mencengkeram kuat tangannya. Ia tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya.


"Ayuk!. Apa yang terjadi padamu ayuk!." Kelalawar Hitam tampak panik melihat keadaan kakaknya. "Ayuk?." Matanya membulat sempurna, melihat penampilan kakaknya yang terlihat menyeramkan. "Ayuk. Apa yang terjadi padamu?." Kelalawar Hitam mencoba menerawang mata Selendang Merah.


"Rasanya sangat sakit sekali adi. Coba lihat ke dalam alam sukma ku, mungkin kau bisa melihat apa yang terjadi padaku adi." Selendang Merah terus merintih, karena ia tidak tahan lagi dengan sakit yang ia rasakan.


"Baiklah ayuk. Kalau begitu, tahanlah sebentar ayuk." Kelalawar Hitam kembali mencoba menerawang masuk ke dalam alam sukma Selendang Merah.


Sementara itu, disaat yang bersamaan. Prabu Praja Permana juga merasakan hal yang sama. Tubuhnya terasa sakit, seperti ditusuk jarum tajam, serta terbakar lahar gunung api yang panas.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang terjadi padaku?." Sakit itu terasa menyiksa tubuhnya. "Nimas?. Nimas selendang merah?. Apakah nimas bisa mendengarkan aku?." Dalam keadaan sakit, Prabu Praja Permana mencoba untuk berkomunikasi dengan Selendang Merah.


"Hamba mendengarnya gusti prabu." Suara Selendang Merah terdengar lain. Ia juga sepertinya sedang merintih kesakitan. "Apa yang terjadi gusti prabu?. Kenapa tubuh hamba terasa sakit." Selendang Merah berusaha untuk menenangkan dirinya.


Sedangkan Kelalawar Hitam sangat panik, dan ia belum bisa menerawang apa yang terjadi pada kakaknya?. Ia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan alam sukma kakaknya saat ini. Karena terasa gelap, sehingga ia tidak bisa melihat apa yang menyebabkan kakaknya kesakitan. Sementara itu, di gunung Merapi. Mbah Kuasa sedang melakukan tugasnya. Ia membuat boneka dari jerami, ia menusuk boneka itu dengan jarum tajam, sesekali ia arahkan boneka itu ke api yang sangat panas.


Deg!!!


Disaat itulah Kelalawar Hitam dapat melihat apa yang terjadi pada kakaknya. Kelalawar Hitam melihat ada jarum raksasa serta bara api yang menyakiti kakaknya. Begitu ia kembali dari alam sukma kakaknya.


"Santet!. Ayuk!. Ayuk kena santet!." Kelalawar dapat melihat dengan jelas orang yang menyeramkan itu melakukan perbuatan busuk itu.

__ADS_1


"Gusti prabu. Sakit yang kita rasakan adalah perbuatan santet. Itu yang dilihat adi kelalawar hitam." Selendang Merah semakin merintih kesakitan, hingga ia ingin berguling di tanah saking sakitnya yang mendera tubuhnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kalau begitu sabarlah nimas. Aku akan mencoba mengatasinya." Prabu Praja Permana mencoba menenangkan dirinya. Prabu Praja Permana mengatur tenaga dalamnya, dan entah mengapa Selendang Merah melakukan hal yang sama. Mereka benar-benar terhubung oleh janji darah.


"Oh, syukurlah jika ayuk sudah mulai tenang." Kelalawar Hitam menghela nafasnya yang agak lelah. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada kakaknya.


Disisi lain, Mbah Kuasa semakin gencar dengan ilmu santet yang ia lakukan, dan ia akan membunuh mangsanya dengan kekuatan yang ia miliki. "Kekuatan maya pada selalu menyertai diriku. Akan aku tusuk jiwa kosong dengan jarum pembunuh sukma. Wahai manusia yang lemah. Sukma mu sekarang berada di tanganku!. Akan aku bakar kau dengan api yang berasal dari gunung api yang membara. Seperti bara api sakit hati yang ia rasakan!. Rasakanlah sakit yang membakar jiwaku!. Akan aku sampaikan pada sukma mu yang kini aku genggam. Matilah kau dalam penderitaan yang mengenaskan!." Mbah Kuasa membacakan mantram aneh itu. Niat jahatnya berasal dari ambisi Patih Arya Serupa yang ingin membunuh Selendang Merah.


Prabu Praja Permana membacakan ayat kursi, surat alfatihah, surat Al-Ikhlas Al-falah, Annas, dan Al-falah. Prabu Praja Permana memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dan Alhamdulillah hirobbil'alamin, karena kekuatan jahat akan kalah dengan kekuatan kebaikan. Apalagi kekuatan kebaikan itu karena Allah SWT.


Sukma Prabu Praja Permana dan Sukma Selendang Merah seakan pergi menuju asal sumber santet itu. Mereka melihat ada sosok yang menyeramkan sedang melakukan kejahatan itu.


"Gusti prabu. Ternyata itu orangnya."


"Baiklah gusti prabu."


Selendang Merah dan Prabu Praja Permana mendekati sosok itu. Tentunya ia melihatnya, dan membalas serangan itu. Hingga terjadi pertarungan di alam sukma. Prabu Praja Permana membacakan ayat kursi untuk melemahkan kekuatan setan jahat, membuat Mbah Kuasa berteriak keras.


DUARH!.


Terdengar suara pecahan yang sangat kuat. Itu berasal dari boneka santet yang digunakan Mbah Kuasa untuk menyakiti Selendang Merah. Mbah Kuasa sangat terkejut, dan jarum itu mengenai wajahnya. Selain itu wajahnya melepuh, karena cipratan dari ledakan itu. Mbah Kuasa menjerit kesakitan. Sakit yang luar biasa, apalagi ketika ia mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Prabu Praja Permana.


Disaat yang bersamaan, Patih Arya Serupa terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut karena rasa sakit yang luar biasa. Wajahnya terasa sangat panas. Seakan-akan seperti terbakar oleh bara api yang sangat panas.


"Kgaaah!. Sakit!. Sakiiiit!. Sakiiit!." Patih Arya Serupa berguling di tempat tidurnya. Suara teriakannya itu didengar oleh anak dan istrinya. Mereka terbangun dari tidur, saat mendengarkan suara teriakan itu berasal dari bilik Patih Arya Serupa.

__ADS_1


"Ibunda. Apakah terjadi sesuatu pada ayahanda?." Putri Ambar Suryati takut mendeng suara jeritan itu. Ia memeluk ibundanya, ia tidak sanggup mendengar suara teriakan yang membuatnya merinding takut.


"Kita harus melihat keadaan ayahandamu nak. Ibunda takut terjadi sesuatu padanya." Nyai Fatma Endang memberanikan dirinya untuk turun dari tempat tidurnya. Ia ingin melihat keadaan suaminya. Apalagi suara teriakan-teriakan itu semakin keras, dan sangat tidak enak untuk didengar.


...***...


Perlahan-lahan kondisi Selendang Merah sudah mulai membaik. Begitu juga dengan Prabu Praja Permana. Keduanya telah terbebas dari marabahaya kekuatan gaib yang dapat mengancam keselamatan mereka.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, santet bisa kita atasi nimas."


"Syukurlah gusti prabu. Terima kasih telah membantu hamba."


Keduanya mengatur hawa murni mereka setelah kembali dari alam sukma. Kesadaran mereka telah kembali.


"Bagaimana ayuk?. Apakah baik-baik saja?." Kelalawar Hitam dari tadi menunggu kakaknya dalam keadaan sangat panik.


Selendang Merah tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja adi. Terima kasih karena telah membantuku tadi." Ia sangat bersyukur memiliki adik yang sangat baik padanya.


"Oh ayuk." Kelelawar Hitam memeluk kakaknya. Ia menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan, ia takut kehilangan kakaknya. "Syukurlah ayuk baik-baik saja. Aku sangat takut sekali, karena santet itu tidak mudah diatasi. Setidaknya dengan terhubungnya ayuk dengan gusti prabu, itu sangat membantu ayuk terbebas dari santet itu." Kelalawar Hitam mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Ya. Syukurlah aku baik-baik saja adi." Selendang Merah dapat merasakan kecemasan adiknya. "Itu juga karena bantuan darimu." Selendang Merah merasa lega. Ia tidak dapat membayangkan jika dirinya celaka, maka dampaknya juga akan dirasakan oleh Prabu Praja Permana.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2