
...***...
"Akan menambah masalah baru, jika mereka meluas, membuat kejahatan. Karena itulah kami menyarankan untuk melakukan tempat berbeda, jika bhayangkara berniat untuk meringankan beban negeri ini."
"Kami tidak akan mungkin melakukan niat jahat seperti yang tuan-tuan terhormat pikirkan. Meskipun kemampuan tuan-tuan dalam ilmu kanuragan tidak seberapa, namun tuan-tuan bisa menggunakan akal pikiran untuk mengatasi masalah di sana."
Ucapan Selendang Merah, benar-benar membuat mereka semua merasa sangat tersinggung. Dalam hati mereka sangat mengutuk Selendang Merah, yang jelas-jelas merendahkan ilmu kanuragan mereka.
"Jika nini merasa paling kuat, mari kita adu kesaktian sekarang juga. Aku tidak akan keberatan menguji satu dua jurus, agar kau puas."
"Kau tidak usah sesumbar dulu wanita aneh!. Kau pikir hanya pendekar saja yang bisa menggunakan pedang?. Kami juga bisa menggunakannya."
"Benar!. Tidak usah pamer dihadapan kami, karena kami sangat mengetahui, apa yang harus kami lakukan.
"Saya rasa tidak usah, karena tuan baru saja terjatuh di halaman pendopo rumah tuan. Harusnya tuan segera diobati, karena tulang belakang tuan sedang sakit. Jika tuan terjatuh sekali lagi, tuan bisa mengalami kelumpuhan. Karena tulang belakang tuan sudah bergeser dari tempatnya. Sebaiknya tuan segera membawa ke tabib atau orang pandai mengenai itu. Saya takut tuan tidak bisa lagi menggunakan tenaga dalam tuan dengan baik nantinya." Selendang Merah menatap Dharmapati Teriris Deru.
"Sial!. Mengapa dia bisa mengetahuinya?."
"Tuan bhayangkara juga harus mengurangi minum yang memabukkan. Selain dapat merusak tubuh secara perlahan, apalagi minum arak ketika bertugas. Selain itu, arak yang tuan minum, membuat aliran darah tuan bhayangkara bisa rusak perlahan-lahan. Saya takut, tuan menemui kematian, karena aliran darah tuan tersumbat. Saya tidak jamin, ramuan apa saja yang dimasukkan oleh pedagang arak itu, sehingga aliran tenaga dalam tuan kacau seperti itu." Kali ini ia menunjuk ke arah Bhayangkara Ra Lilur.
"Memangnya kau ini dewa bisa melihat apa saja?." Hatinya mengutuk benci.
"Sementara itu, tuan mentri saphalara. Tuan harus lebih banyak bergerak lagi. Karena jika tuan hanya bermalas-malasan, tuan akan sulit menggunakan tenaga dalam tuan. Itu akan memudahkan musuh mengalahkan tuan, karena gerakan tuan sangat lambat."
Mereka semua benar-benar menyimak apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Keterkejutan, serta kekaguman terhadap pendekar wanita itu.
"Kau tidak usah berkata yang tidak-tidak tentang kami wanita selendang merah!."
__ADS_1
"Kau pikir kau siapa?. Berani sekali kau berkata seperti itu hah?."
"Jaga ucpanmu. Kau tidak usah berkata kau seakan sempurna wanita bercadar merah."
"Saya hanya berkata yang sebenarnya. Jika tuan-tuan tidak percaya, tapi mata saya bisa melihatnya."
"Nimas. Tidak salah aku bekerjasama denganmu. Matamu sangat bagus untuk melihat apa saja yang telah mereka lalui mengenai ilmu kanuragan mereka." Dalam hati prabu Praja Permana merasa kagum dengan kemampuan Selendang Merah.
"Siapa kau sebenarnya selendang merah. Mengapa kau bisa mengetahui yang telah kami lakukan?. Apakah kau seorang dukun?. Sehingga kau berani berkata seperti itu, seakan kau melihat apa yang kami lakukan."
"Aku bisa saja memperlihatkan kepada kalian, jika itu memang kenyataannya. Haruskan aku membuat kalian tidak sadar, dan kalian mengakui apa saja yang telah kalian lakukan selama ini?."
"Kau jangan berani menantang kami selendang merah. Jangan mentang-mentang kau orang kepercayaan gusti prabu, kau dengan sombongnya ingin pamer dihadapan kami?."
"Hentikan!. Aku menyuruh kalian untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menambah masalah."
"Sekali lagi maafkan kami gusti prabu."
"Baiklah, nanti akan saya pertimbangkan lagi masalah ini. Tapi saya mohon kalian tetap bekerja sama untuk mengatasi masalah kawanan perampok, yang mulai meresahkan."
"Sandika gusti prabu." Mereka semua hanya menurut saja. Karena mereka yang bekerja bagian dalam Istana, kena hukuman membayar pajak. Ada yang menerima begitu saja, atau mengutuk terpaksa.
Setelah pertemuan hari itu.
Selendang Merah bersama Prabu Praja Permana sedang berdua masih tinggal di ruang pertemuan itu.
"Maaf nimas selendang merah. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri masalah pribadi nimas. Namun ada hal yang harus nimas ketahui." Prabu Praja Permana menatap Selendang Merah dengan serius. "Saya harap nimas tidak terlalu menggunakan emosi, hanya karena nimas ingin melupakan masa lalu nimas dengan dinda wira wijaksana."
__ADS_1
"Maafkan hamba gusti prabu. Maafkan hamba, karena hamba tidak bisa mengendalikan diri hamba. Hamba berjanji akan berusaha untuk tidak mencampur adukkan masalah yang lain dengan pekerjaan ini."
"Aku memakluminya nimas. Tapi nimas harap menyelesaikannya dengan baik, agar tidak menimbulkan dendam baru."
"Tujuan hamba datang bersama gusti prabu, memang murni untuk melakukan pekerjaan. Hamba tidak menyangka, jika pangeran wira wijaksana adalah adik gusti prabu. Sekali lagi maafkan hamba."
"Baiklah kalau begitu nimas. Aku akan mengatakan dinda wira wijaksana, agar tidak mengganggu nimas dalam waktu yang agak lama. Sampai masalah ini benar-benar selesai. Karena aku tidak ingin nimas, merasa terganggu, hingga nimas dalam bahaya, jika tidak bisa mengendalikan amarah nimas ketika bertugas."
"Terima kasih gusti prabu. Hamba akan selalu mengingat kebaikan yang gusti prabu berikan. Maafkan hamba jika tidak bisa membalas kebaikan gusti prabu."
"Tidak apa-apa nimas. Ini demi kebaikan bersama. Nimas jangan merasa sungkan padaku. Kita bekerjasama untuk semua orang. Rasanya aku yang mendapatkan kebaikan dari nimas."
Selendang Merah hanya tertawa kecil. "Hamba kira gusti prabu adalah, orang yang agak kaku. Ternyata gusti prabu orang yang pengertian. Rasanya hamba akan semakin kurang ajar, jika gusti prabu tidak memberi batas pada hamba."
Prabu Praja Permana juga ikutan tertawa kecil. "Benarkah?. Wah, akan aku hukum siapa saja yang bersikap kurang ajar padaku. Tapi aku harap aku tidak diincar oleh seorang pendekar pembunuh bayaran, setelah ia dihukum."
"Ampuni hamba gusti prabu, hamba tidak berani bersikap kurang ajar pada gusti prabu. Apalagi berniat mengincar gusti prabu."
Mereka benar-benar tertawa lepas, untuk menghilangkan sedikit beban pikiran yang ada dibenak mereka saat ini. Pikiran yang mengganggu langkah, serta hati mereka. Sehingga kegelisahan melanda diri mereka masing-masing.
"Nimas tidak perlu bersedih hati, hanya karena masalah percintaan. Aku yakin nimas adalah orang yang kuat. Aku percaya, nimas memiliki kelebihan yang tidak ada pada orang lain."
"Terima kasih gusti prabu. Maafkan hamba, jika hamba telah melibatkan masalah ini. Sebisa mungkin hamba akan menghindarinya, agar tidak mengganggu pekerjaan hamba."
"Ya. Tapi nimas harus berjanji, agar selalu tenang. Akan merugi seseorang ketika ia menggunakan kemarahannya, jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya."
Prabu Praja Permana hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Selendang merah. Mungkin ia akan menegur adiknya nanti, karena itu dapat mengganggu pekerjaan Selendang Merah. Ia hanya ingin menghibur hati Selendang Merah, yang mungkin sedang bersedih hati, karena mengingat masa lalu. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...