ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
RAHASIA JATI DIRI


__ADS_3

...***...


Mereka semua telah mendengarkan dengan sangat jelas, apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Ia mengatakan jika Andara Wijaya adalah anak Nila Ambarawati?.


"Apa yang nimas katakan itu benar?."


"Nini katakan sekali lagi."


"Kalau begitu lepaskan totokan ini dulu."


"Tapi nimas harus berjanji, bahwa nimas harus mengendalikan kemarahan nimas."


"Hamba berjanji gusti prabu."


Prabu Praja Permana melepaskan totokan itu, sehingga Selendang Merah bisa bergerak lagi. Dan matanya menatap tajam ke arah Nila Ambarawati yang saat ini sedang kesakitan.


"Apa maksudmu rembulan indah?. Kau mengatakan jika anak muda itu adalah anakku?." Ia mencoba untuk berdiri, meskipun tubuhnya terasa sangat sakit.


"Apakah kau lupa?. Jika kau pernah mengkhianati aku. Kau dan kakang jaya estu bermain api di belakang ku. Hingga kau hamil!. Setelah anak itu lahir kau tinggalkan anak itu sendirian di gubuk itu." Hatinya memanas mengingat semuanya. "Untung saja aku menemukannya dalam keadaan mengenaskan, kau tinggalkan anak yang tidak berdosa yang hampir saja mati!. Aku korbankan hidupku demi membesarkannya dengan baik. Supaya dia tidak menjadi orang bejad seperti kedua orang tuanya!." Emosinya semakin meledak-ledak. Seakan ia hendak menerkam Nila Ambarawati dengan kukunya. "Demi melepaskan rasa sakit hati yang aku rasakan, aku putuskan untuk menjadi pembunuh bayaran. Untuk menutup mata hatiku pada orang-orang jahat yang telah membuat aku menderita, terjebak dalam permainan asmara yang penuh noda. Sejak saat itu aku bersumpah, jika aku akan membunuh siapa saja yang telah berkhianat karena asmara. Tapi sayangnya aku terlalu menikmati kematian orang lain dengan tanganku. Sehingga aku membunuh siapa saja yang berbuat jahat. Termasuk kau!. Orang yang ingin aku bunuh!."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Nimas, kendalikan kemarahanmu. Jangan sampai nimas dikuasai kemarahan yang merugi."


"Aku tidak menyangka jika kakakku telah melewati hari yang pahit." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa simpati pada kakaknya.


"Nini selendang merah." Dalam hati Aki Awuh merasa simpati. Dan ia tidak menyangka jika itu yang terjadi. Ia memeluk Andara Wijaya yang terlihat sangat terkejut.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, jika kau membesarkan anakku pada saat pertemuan pertama kita rembulan indah?. Kau sengaja menyembunyikan semuanya dariku."

__ADS_1


"Diam kau!."


"Nini\nimas." Kelalawar Hitam dan Prabu Praja Permana menarik tangan Selendang Merah agar tidak mendekati Nila Ambarawati.


"Tenanglah nimas. Jika nimas tidak bisa tenang. Kami terpaksa menotok nimas."


"Ayuk, tenangkan dirimu ayuk. Apakah ayuk tidak kasihan pada anak ayuk yang menyaksikan ini?."


Mata Selendang Merah menatap sedih ke arah Andara Wijaya. "Aku hanya tidak ingin ia mengetahui siapa kedua orang tuanya. Hidupnya hanya akan semakin menderita, jika ia mengetahui siapa orang tuanya. Malang sekali anak yang lahir dari kedua orang tua yang memiliki sikap seperti mereka." Suaranya terdengar parau karena menahan perasaan sesak dihatinya.


"Kakang jaya estu meninggal karena kau. Kekasihku jatuh ke jurang, karena kau yang telah menghajarnya. Setelah mengetahui, jika aku sedang mengandung anaknya."


"Kakang jaya estu adalah adik gusti prabu praja permana." Selendang Merah membalikkan tubuhnya yang terlihat bergetar menahan segala emosi yang ia rasakan.


"Apa?. Kakang jaya estu adalah adik praja Permana?."


"Apa?. Bukankah dia adik praja Permana yang memiliki banyak istri itu?."


"Ya. Dialah jaya estu yang kau cintai itu. Dia yang telah menanamkan benih padamu dimasa lalu, hingga lahirlah seorang anak laki-laki. Namun kau tinggalkan begitu saja. Jika aku tidak kembali lagi ke gubuk itu, aku pastikan anak itu telah menjadi mayat." Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku, jika kakang jaya estu masih hidup?. Dan dia adalah pangeran wira wijaksana!. Kau memang perebut semua kebahagiaan ku rembulan indah!."


"Heh!. Kau sendiri mengetahui siapa pangeran wira wijaksana bukan?. Asal kau tahu saja nila ambarawati. Ketika kami bertemu di istana. Dia malah ingin mengajak aku menikah, dan dia rela ingin berpisah dari semua istrinya."


"Kau jangan berkata dusta padaku!. Aku tahu kau seperti apa!."


"Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada gusti prabu. Bahkan kami harus meringkusnya, karena dia mencoba mengkhianati kakaknya sendiri. Apakah kau masih mau mencintai lelaki seperti itu?."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin!. Kau pasti berbohong." Nila Ambarawati masih tidak percaya.


"Terserah kau saja. Aku tidak peduli kau percaya atau tidak." Ia kembali melirik ke arah anaknya Andara Wijaya. Ia mencoba mendekati anaknya yang terlihat takut. Perasaan cemas yang luar biasa menghantuinya. Hingga ia menjatuhkan drinya dirinya dihadapan anaknya dengan bersimpuh.


"Nimas."


"Ayuk."


"Maafkan ibunda, karena tidak bisa mengatakan kau ini siapa nak. Ibunda hanya ingin kau bahagia tanpa mengungkit masa lalu kedua orang tua mu seperti apa nak." Selendang Merah menangis sambil melepaskan cadar merah yang menutupi wajahnya. Hingga terlihat wajah cantiknya yang tersembunyi selama ini.


"Bagi ibunda, andara wijaya adalah putra yang ibunda sayangi. Tempat ibunda kembali, tempat ibunda berlabuh setelah berjalan dari Kegelapan nak. Karena itulah jangan benci ibunda."


Andara Wijaya dapat merasakan ketulusan setiap ucapan dari ibundanya. Hingga tanpa sadar kakinya perlahan melangkah mendekati ibundanya. Mengulurkan tangannya, menarik kedua tangan ibundanya agar berdiri.


"Jika memang ibunda bukan ibunda kandungku. Namun kasih sayang ibunda begitu nyata. Sehingga aku merasa istimewa dicintai oleh ibunda yang sangat cantik seperti ibunda." Tidak ada kebencian yang terpancar dari sorot mata itu. Selain senyuman yang menawan dari anaknya. "Terima kasih karena ibunda telah menyelamatkan hidupku. Jika hari itu aku tidak diselamatkan oleh ibunda. Mungkin saja aku tidak akan melihat dunia ini. Juga tidak akan merasakan kasih sayang yang tulus dari ibunda." Tanpa sadar ia ikut menangis, merasakan kesedihan ibundanya.


"Oh, putraku." Selendang Merah memeluk erat anaknya dengan Isak tangis bahagia. "Terima kasih nak. Ibunda sangat menyayangimu."


"Aku juga sangat menyayangi ibunda."


Selendang Merah melepaskan pelukannya, menatap mata anaknya. Ia menangkup wajah anaknya dengan lembut. "Ibunda menyayangimu nak." Ia kecup sayang kening anaknya. Ia ungkapkan kasih sayanya sebagai seorang ibu.


"Terima kasih ibunda." Andara Wijaya kembali memeluk erat ibundanya. Ia tidak akan melupakan kasih sayang yang tulus ini.


Sedangkan Prabu Praja Permana, Kelalawar Hitam, dan juga Aki Awuh dapat merasakan perasaan tulus itu. Mereka semua terharu melihat itu. Sedangkan Nila Ambarawati merasa marah melihatnya?.


"Kau memang pandai dalam bersandiwara rembulan indah. Jika memang dia adalah anakku. Maka kembalikan padaku." Amarahnya kembali menyelimuti hatinya. Ia tidak terima dengan apa yang terjadi?.

__ADS_1


...***...


__ADS_2