
...***...
Selendang Merah mengatur kembali hawa murninya. Ia mencoba meredakan rasa sakit di tubuhnya akibat mempelajari jurus seribu tendangan maut.
"Heh!. Kau jangan jumawa dulu. Meskipun kau adalah pendekar pembunuh bayaran. Jurus itu tidak mudah untuk dipelajari begitu saja. Ahahaha."
"Jika aku tidak bisa mencuri jurus itu dengan sempurna, maka akan hadapi kau dengan jurus serigala berburu mangsa."
"Keluarkan semua kemampuan yang kau miliki cadar merah. Aku tidak takut dengan jurus-jurus mu. Setelah ini kau akan aku berikan kenikmatan yang tidak akan pernah kau lupakan."
"Bedebah!. Aku tidak akan berlama-lama berhadapan dengan orang biadab seperti kau."
Selendang Merah kembali marah, mendengarkan ucapan pendekar Seribu Tendangan maut. Harga dirinya sebagai seorang wanita seakan dihina oleh pendekar mesum itu.
Pertarungan Selendang Merah kali ini tampak berbeda. Karena jurus yang dimainkan oleh Selendang Merah juga berbeda. Gerakannya sangat cepat, lompatannya sangat tinggi, seperti seekor serigala yang sedang berburu mangsanya.
DUAKH DUAKH DUAKH
Pendekar Seribu Tendangan Maut terkena hantaman yang sangat kuat tepat di dadanya. Bukan hanya tendangan atau pukulan saja, melainkan cakaran yang sangat tajam. Sehingga terlihat robekan di dadanya. Pendekar Seribu Tendangan Maut berteriak kesakitan.
"Kau jangan pernah bermain denganku. Aku ini telah memiliki banyak jurus yang aku curi dari berbagai macam pendekar yang pernah aku hadapi. Jika satu jurus tidak bisa aku mainkan, maka jurus yang lainnya bisa aku gunakan."
Dengan geramnya Selendang Merah menjitak kepala Pendekar Seribu Tendangan Maut yang sudah tidak berdaya. Tenaga dalamnya benar-benar terkuras habis, karena ia tidak bisa mengikuti arah gerakan jurus serigala berburu mangsa. Jurus yang memang tujuan membuat lawannya kewalahan.
"Dan sekarang, kau harus bertanggungjawab, atas apa yang telah kau lakukan dihadapan gusti prabu praja permana."
Selendang Merah menotok Pendekar Seribu Tendangan maut agar tidak melawan. Dengan begini tugasnya selesai. Dan ia akan mencari Kelalawar Hitam, agar segera kembali ke istana Sendang Agung.
...***...
Kelalawar Hitam menggunakan jurus pekikan suara Kelalawar berburu mangsa. Tentunya ketiga orang itu tidak bisa bergerak, karena suara itu membuat mereka merasa sakit. Setelah musuhnya lengah, ia menghajar habis-habisan ketiga orang itu.
"Orang lemah seperti kalian tidak akan bisa mengalahkan aku."
Kelalawar Hitam meninggalkan tempat itu, ia masuk ke dalam rumah besar itu. Rasanya kondisi bangunan itu terlihat aneh. Karena banyak ruang yang terlihat seperti rumah tahanan. Dan benar saja, ia melihat banyak warga desa yang ditahan di dalam ruangan itu.
"Tolong. Jangan sakiti kami. Pergi kau!. Jika kau hanya akan menyakiti kami."
__ADS_1
"Kembalikan anak gadis kami!. Kau benar-benar bajingan busuk!."
"Benar-benar manusia berhati binatang. Kembalikan anak gadis kami!."
Mereka menghujat Kelalawar Hitam dengan kata-kata yang menyakitkan, seakan-akan ia adalah penjahat yang telah berbuat kejam pada mereka semua.
"Diam!."
Mereka semua terdiam karena mendengarkan suara bentakan keras itu.
"Aku datang ke sini justru ingin membebaskan kalian bodoh!. Aku ini adalah utusan dari Prabu praja permana!."
Mereka semua tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Kelalawar Hitam.
"Itu mustahil, mana mungkin kau adalah utusan dari gusti prabu praja permana. Kau jangan berbohong pada kami!."
"Ya, tidak usah kau berbohong pada kami semua."
"Terserah kalian saja. Tugasku hanya membebaskan kalian. Jika kalian tidak percaya, datang saja ke istana. Jangan buat aku marah dengan menghajar kalian satu persatu."
Dengan geramnya Kelalawar Hitam membuka paksa kunci penjara itu dengan menggunakan tenaga dalamnya. Namun pada saat itu, Selendang Merah datang dengan beberapa orang wanita yang memang ditawan oleh Pendekar Seribu Tendangan Maut.
"Apa yang membuatmu marah Kelalawar hitam."
"Nimas."
"Oh putriku."
"Bapak."
Mereka semua sangat senang melihat anak mereka kembali. Tapi sayang, keadaan anak mereka terluka parah. Sebagai orang tua, mereka sangat sedih melihat keadaan anak mereka.
"Apakah nimas telah berhasil mengalahkan ketuanya?."
"Ya. Saat ini ketuanya sudah aku ikat. Kita bawa ke istana untuk diadili." Selendang Merah mendekat, dan berbisik pada Kelalawar Hitam. "Aku yakin, diantara mereka sudah ada yang berisi karena perbuatan bejad lelaki itu. Jadi kita harus melaporkan perbuatan ini pada gusti prabu. Kasihan jika anak yang mereka kandung lahir tanpa adanya bapak."
"Baiklah nimas. Mari kita segera ke istana."
__ADS_1
"Maaf semuanya. Untuk saat ini, kami mohon kembali ke rumah masing-masing. Masalah perampokan yang menimpa desa ini, akan kami sampaikan pada gusti prabu praja permana. Jadi aku mohon untuk saat ini kalian bersabarlah menunggu keadilan dari gusti prabu."
"Jadi kalian ini adalah utusan gusti prabu praja Permana?. Untuk apa beliau peduli pada kami, setelah apa yang kami alami?. Apakah kebaikannya yang sekarang akan mengubah yang telah terjadi?."
"Kami tidak akan memaafkan prabu praja permana, yang telah lalai dalam keselamatan rakyatnya. Raja yang tidak becus sama sekali dalam memperhatikan rakyatnya."
"Aku mohon kepada kalian tenanglah. Kami akan segera kembali, dan memberitahu kepada gusti prabu. Kami janji akan segera kembali."
"Kalau begitu kami pamit. Sampurasun."
"Rampes."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam hanya menghindari perdebatan antara mereka semua. Karena mereka bukanlah tipe orang yang sabar hanya mendengarkan keluhan mereka. Dari pada kebablasan marah, keduanya memilih mengalah.
...***...
Di istana Kerajaan Sendang Agung.
Pangeran Wira Wijaksana sedang berbincang-bincang dengan Bhayakara Ra Lilur. Tampaknya mereka lagi-lagi merencanakan sesuatu yang menyangkut bagaimana caranya menyingkirkan Prabu Praja Permana. Dan sekarang tujuan mereka adalah membunuh Selendang Merah. Pendekar wanita yang menjadi abdi Sang Prabu.
"Orang suruhan hamba waktu itu berhasil dikalahkan gusti pangeran. Wanita itu sangat kuat, dan ilmu kepandaian yang ia miliki tidak bisa dianggap enteng begitu saja."
"Dia memang wanita yang kuat. Saat aku sama-sama berguru dengannya, ia adalah wanita yang sangat kuat. Aku sendiri bahkan tidak bisa mengalahkannya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan gusti pangeran?. Tampaknya wanita itu sangat berbahaya."
"Selain berbahaya, ternyata dia sangat pintar. Bahkan dia mengetahui rahasiaku untuk menyingkirkan kanda prabu dari istana ini."
"Dia mengetahuinya?. Tapi bagaimana bisa?."
"Itulah yang membuat aku bingung dari mana ia mengetahuinya. Atau jangan-jangan ada penyusup di ruangan ini?."
Keduanya mencoba untuk mengitari ruangan itu. Mencari apa saja yang mencurigakan, namun tidak terlihat mencurigakan sama sekali.
"Bagaimana caranya wanita itu mengetahuinya?. Bahkan dia mengetahui apa saja yang kami lakukan saat pertemuan itu."
"Dia seperti jelamaan dewi kidul, yang bisa mengetahui apa saja yang disembunyikan dari orang lain. Sangat berbahaya, dan kita harus mewaspadainya."
__ADS_1
Apakah yang akan mereka lakukan?. Sepertinya mereka sangat takut dengan Selendang Merah. Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...****...