ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEMARAHAN DAN RAHASIA


__ADS_3

...***...


Selendang Merah telah sampai di Istana Kerajaan Sendang agung. Namu ketika ia hendak memasuki gerbang istana, ia ditahan oleh Pangeran Wira Wijaksana. Tentunya Selendang Merah sangat terkejut. Apalagi saat Pangeran Wira Wijaksana marah padanya.


"Mohon ampun gusti pangeran. Apa yang hendak gusti pangeran inginkan dari hamba."


"Kau memang pengkhianat nimas rembulan indah."


"Apa yang gusti pangeran katakan?. Hamba sama sekali tidak mengerti."


"Kau mengatakan kau adalah wanita yang selalu setia pada seorang laki-laki. Tapi mengapa kau malah memiliki suami, dan kau memiliki seorang anak!."


"Bffuuh." Selendang Merah tertawa tertahan. Ia baru menyadari apa yang dikatakan oleh Pangeran Wira Wijaksana.


"Ahahaha aku kira apa. Ternyata kau belum bisa berkaca juga. Pangeran yang merasa dirinya lebih baik."


"Apa yang kau katakan?. Mengapa kau malah tertawa?. Apakah ada yang lucu dari ucapanku ini?."


"Sangat lucu sekali. Sehingga aku tidak bisa berhenti untuk tertawa."


"Kau benar-benar tidak sopan pada seorang pangeran."


"Hei!. Pangeran agung. Aku katakan padamu!. Kaulah yang berkhianat padaku. Kau tergoda dengan temanku, nila ambarawati. Kalian memadu cinta, dihadapanku. Seakan kau berpura-pura tidak tahu, bahwa kau adalah kekasihku. Kau pikir, siapa yang berkhianat?."


Pangeran Wira Wijaksana terdiam dengan apa yang dikatakan Selendang Merah.


"Bahkan, ketika kau diberi kesempatan untuk hidup oleh dewata agung. Kau malah menikahi empat orang wanita. Kau pikir kau hebat?. Dapat menaklukkan wanita manapun?. Maaf saja gusti pangeran yang agung. Aku bukanlah wanita, yang dengan mudah kau dapatkan."

__ADS_1


"Kau pasti akan aku dapatkan dengan cara apapun."


Srakh


Selendang Merah mengarahkan pedangnya tepat di dada kiri Pangeran Wira Wijaksana.


"Aku adalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Bekerja di bawah perintah gusti prabu praja Permana. Kau adalah musuh wanita, dan kau memiliki niat untuk menjatuhkan gusti prabu. Jika aku laporkan kabar ini pada gusti prabu, dan aku menyarankan hukuman mati, pasti gusti prabu akan dengan senang hati melakukannya. Karena orang busuk seperti kau pantas mati."


"Jaga ucapanmu rembulan indah. Harusnya kau tidak mengancamku, karena aku bisa saja membunuhmu."


"Lakukan saja jika kau bisa. Maka pada saat itu. Akulah yang akan menunjukkan kebusukan yang kau simpan selama ini. Kau juga tidak usah mengancamku." Selendang Merah memasukkan pedangnya kembali.


"Aku harap jaga perbuatanmu, atau kau akan menyesal. Dan jangan sekali-kali kau berani mendatangi anakku, atau mencaritahu siapa suamiku. Kau akan akan menyesal, jika berani menyentuh mereka." Sorot mata elang itu begitu menusuk tajam, hingga sampai ke ulu hati Pangeran Wira Wijaksana.


Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat, ia tidak peduli dengan panggilan Pangeran Wira Wijaksana yang masih marah padanya.


"Sepertinya wanita itu cukup tangguh, bisa menghadapi putraku wira wijaksana."


"Rasanya nimas selendang merah wanita yang sangat kuat. Sehingga ia berani berhadapan dengan siapapun."


"Kalau begitu, ibunda akan mendekati wanita itu. Bolehkan nanda prabu?."


"Tentu saja ibunda. Ibunda boleh mendekati nimas selendang merah. Tapi ibunda jangan mempengaruhi nimas selendang merah. Biarkan ia bertindak sesuai dengan keinginannya."


"Nanda prabu tenang saja. Meskipun sebenarnya ibunda berniat ingin mendekatkan nanda dengannya. Tapi sepertinya nanda telah mencium bau rencana dari ibunda, untuk membalas pembuatan adikmu itu. Sebenarnya adikmu itu adalah anak selir, tapi karena ini rahasia permintaan dari mendiang ayahandamu, ibunda tidak bisa menolaknya. Tapi perbuatannya sungguh tidak bisa diampuni."


"Bersabarlah ibunda. Nanda akan mencoba memperingati dinda wira wijaksana. Tapi jika sudah tidak bisa diingatkan, nanda terpaksa menghukumnya."

__ADS_1


"Jadi nanda prabu tidak ragu lagi?. Apakah nanda akan bersikap jahat pada adik nanda?."


"Ini bukan masalah jahat ibunda. Hanya saja nanda tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Meskipun bukan ibunda yang disakiti, namun dia telah menyakiti hati wanita. Nanda bertahan karena nanda tidak tega dengan mereka yang akan ditinggalkan oleh dinda wira wijaksana. Karena itulah nanda masih bersabar ibunda."


"Baiklah putraku nanda prabu. Melalui nimas selendang merah, kita akan menghukumnya. Sepertinya nimas selendang merah tidak suka pada laki-laki yang berani mempermainkan wanita."


"Kalau begitu mari kita masuk ibunda. Nanti hanya dosa yang akan kita dapatkan, jika kita mencari-cari kesalahan orang lain, meskipun memang itu yang ia lakukan."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ampunilah hamba. Setidaknya hamba bersyukur, jika hamba melahirkan seorang putra yang baik hati."


"Ibunda jangan seperti itu. Bagaimanapun juga, dinda wira wijaksana tetaplah putra ibunda. Jadi nanda mohon, untuk saat ini nanda akan berusaha menyadarkannya. Allah SWT tidak pernah dendam pada umat-Nya, meskipun telah berbuat dosa yang sangat besar. Ibunda tidak boleh menjadi wanita jahat, karena masalah ini ibunda."


"Baiklah nak. Kalau begitu, masalah ini ibunda serahkan pada nanda prabu. Tapi nanda prabu harus berhati-hati, jangan sampai membahayakan diri."


"Kalau begitu nanda izin pamit. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Praja Permana mencium tangan ibundanya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Nanda prabu."


Setelah itu, Prabu Praja Permana pergi dari sana. Karena ia ingin bertemu dengan Selendang Merah. Ia akan memberikan tugas baru pada Pendekar wanita itu. Jadi ada alasan untuknya menemui Selendang Merah.


"Apakah harus aku ceritakan pada wira wijaksana. Agar ia menyadari, jika ia adalah anak dari selir kanda prabu?. Tapi selir jahat itu telah tiada, karena ia terbukti ingin membunuh anakku. Kejahatan yang telah ia perbuat sangat banyak. Menjadi selir banyak raja, membunuh putra mahkota, dan setelah itu membuat anaknya menjadi putra mahkota. Akan tetapi Allah SWT sangat menyayangiku, sehingga aku terhindar dari fitnah yang ia lakukan. Dan anakku selamat dari tangan jahatnya, dan ia malah dihukum mati oleh kanda prabu, disaat anaknya masih bayi, dan belum mengetahui apa-apa. Apakah ia tidak berpikir, bahwa karma itu ada?."


Ratu Sawitri Dewi merasa heran dengan perilaku seseorang yang rakus akan tahta. Apakah ia tidak merasa puas sedikitpun dengan apa yang ia dapatkan?. Sehingga ia rela menjadi wanita yang seperti itu?. Ya Allah, semoga saja nanda prabu tidak seperti itu. Dan semoga saja perangai kanda prabu yang menginginkan pendamping lebih dari satu tidak menurun pada putra hamba nanda prabu." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi sangat berhadap, jika anaknya tidak menjadi laki-laki yang seperti itu.


Sepertinya Ratu Sawitri Dewi dan Prabu Praja Permana menyembunyikan sebuah rahasia yang sangat besar dari Pangeran Wira Wijaksana. Apakah mereka akan mengatakannya?. Bagaimana reaksi Pangeran Wira Wijaksana mengetahui tentang dirinya yang sebenarnya?. Apakah ia akan sadar, atau justru semakin menjadi-jadi setelah mengetahui semuanya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2