ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERASAAN GELISAH


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana dan yang lainnya sangat terkejut, ketika melihat Selendang Merah menopang Kelalawar Hitam yang dalam keadaan terluka.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang terjadi pada adimas kelalawar hitam?. Kenapa ia terluka parah seperti itu nimas?." Prabu Praja Permana terlihat sangat cemas luar biasa.


"Maaf gusti prabu. Saat ini keadaan adi kelalawar hitam sangat mengkhawatirkan. Apakah hamba boleh membawanya ke ruang pengobatan istana?."


"Mari nimas. Biar aku bantu membawa adimas ke dalam." Prabu Praja Permana segera membantu Selendang Merah.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang tejadi padanya?." Ratu Sawitri Dewi tampak cemas melihat keadaan bawahan anaknya yang terluka parah begitu?.


"Andara wijaya. Kita juga ikut." Sandi Praha memang tidak kenal, namun itu luka yang cukup parah. Dada terluka, dan luka itu seperti bekas cakaran hewan buas.


"Ya." Andara Wijaya mengikuti langkah Sandi Praha yang duluan pergi. Ia tidak menyangka jika paman mudanya kembali dalam terluka parah?.


Begitu sampai di ruang pengobatan, Kelalawar Hitam langsung dibaringkan ke dipan. Tubuhnya terlihat menggigil karena menahan sakit dari cakaran macan itu.


"Tabib. Aku mohon lakukan sesuatu pada adikku. Aku mohon sembuhkan dia." Selendang Merah terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Saya harap nini lebih bersabar. Saya akan mengusahakannya." Jawab tabib istana.


"Lakukan dengan baik. Sembuhkan lukanya." Prabu Praja Permana juga khawatir.


"Jika ada sesuatu yang bisa kami bantu, katakan saja." Bahkan Ratu Sawitri Dewi juga ikutan khawatir.

__ADS_1


"Sandika gusti prabu, gusti ratu." Tabib istana segera memeriksa keadaan Kelalawar Hitam.


Tabib istana melakukan tugasnya dengan baik. Sebisa mungkin ia akan melakukan pengobatan agar bisa menyelamatkan Kelalawar Hitam. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Sehingga mereka semua tampak sangat cemas. Bibir pucat itu merintih sakit, dan sesekali mengerang sakit.


"Oh adi. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu waktu itu adi." Ada perasaan menyesal dari dirinya. Ia merasa takut akan kehilangan adik yang baru akrab dengannya.


"Ibunda." Andara Wijaya mendekati ibundanya, dan memeluk ibundanya untuk menenangkannya. "Jangan bersedih ibunda. Aku yakin paman kelalawar hitam akan baik-baik saja."


"Semoga saja. Ibunda hanya cemas saja dengan keadaan pamanmu nak." Selendang Merah memeluk sayang anaknya. Ia cium kening anaknya dengan sayang.


"Nini selendang merah tidak malu menunjukkan kasih sayangnya pada anaknya. Aku benar-benar kagum akan sikap murah hatinya membesarkan anak musuhnya. Kau memang luar biasa nini selendang merah. Aku pastikan kau akan menjadi ratu agung di istana ini." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi merasa kagum dengan apa yang ia lihat. Biasanya wanita lain akan merasa jijik, atau bahkan marah ketika melihat anak musuhnya. Cenderung mereka akan melakukan hal jahat pada anak musuhnya yang sama sekali tidak mengerti apa salah mereka sehingga dijadikan tempat pelampiasan kemarahan serta dendam yang bersemayam di dalam diri mereka. Namum Selendang Merah tidak melakukan itu. Justru Selendang Merah membesarkan anak itu dengan penuh cinta dan kasih sayang. Wanita mana lagi yang kau cari, jika hanya dia yang seperti itu di dunia ini yang kau temui?.


Cukup lama bagi mereka semua menunggu, hingga akhirnya tabib istana berhasil mengobati Kelalawar Hitam. Keadaannya saat ini sudah membaik dari yang sebelumnya, sehingga mereka semua merasa lega.


"Maaf nimas. Apakah aku boleh bertanya?. Apa yang terjadi saat kalian kembali ke istana ini?. Dengan siapa kalian bertarung?. Sehingga adimas kelalawar hitam mengalami luka yang sangat parah seperti itu?." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut sang Prabu.


"Maafkan hamba gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Saat kami hendak memasuki wilayah kerajaan sendang agung. Tiba-tiba saja kami dihadang dua orang pendekar yang memiliki dendam pada hamba." Lanjutnya.


"Dendam?. Dendam apa yang membuat mereka datang pada nimas?." Rasa penasaran itu tentunya menyelimuti hatinya yang dipenuhi oleh rasa cemas yang luar biasa.


"Katakan saja. Kami akan mendengarkannya. Apakah itu resiko dari menjalani pekerjaan sebagai pembunuh bayaran?." Ratu Sawitri Dewi juga ingin mendengarkannya.


Sedangkan Andara Wijaya dan Sandi Praha hanya menyimak pembicaraan ketiga orang dewa di depan mereka. Keduanya tidak ingin mencampuri urusan orang dewasa, namun ini adalah pelajaran yang baik untuk keduanya jika bertindak berbahaya.


"Mohon ampun gusti prabu. Sebelumnya hamba pernah bercerita bahwa hamba pernah membunuh seorang laki-laki bejad yang menodai wanita cantik." Selendang Merah mengingatkan kembali kisah itu.

__ADS_1


"Ya, aku pernah mendengarkan cerita itu." Jawab sang prabu.


"Dan aku juga mendengarkan dan masih ingat cerita itu nini selendang merah." Ratu Sawitri Dewi mengangguk kecil. "Tapi bagaimana dengan orang yang satunya lagi?. Bukankah nini mengatakan ada dua orang?." Masih penasaran dengan cerita itu.


"Mohon maaf gusti ratu." Selendang Merah memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. "Yang satunya lagi. Hamba pernah membunuh cucunya yang sangat kurang ajar. Dia telah membunuh banyak orang dengan kalimat ramalan yang ia bacakan gusti ratu." Lanjutnya.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kenapa ada orang jahat seperti itu?." Keduanya tidak menyangka jika orang kedua yang dimaksudkan oleh Selendang Merah.


"Lalu bagaimana bisa paman kelalawar hitam terluka parah seperti itu ibunda?. Apakah ibunda tidak bisa membantu paman kelalawar hitam saat itu?." Andara Wijaya bertanya karena merasa penasaran.


"Ibunda saat itu juga sedang bertarung nak. Jadi ibunda tidak bisa membantu sama sekali. Rasanya sangat sedih melihat pamanmu terluka parah." Ada bentuk kesedihan yang ia rasakan saat itu.


"Memangnya adimas kelalawar hitam melawan siapa nimas. Apakah kekuatannya diatas kalian?." Prabu Praja Permana bertanya.


"Ia melawan kakek tua yang cucunya hamba bunuh. Saat hamba sedang berhadapan dengan suliswati, adi kelalawar hitam berhadapan dengan kakek tua itu." Meskipun hanya sekilas, Selendang Merah masih bisa melihat apa tang terjadi pada saat itu. "Sepertinya adi kelalawar hitam meniru jurus kakek tua itu. Jurus macan menerkam mangsa. Karena itulah ia terluka parah saat menerima jurus itu. Mereka sama-sama terluka parah waktu itu. Tapi hamba segera melumpuhkan wanita itu dengan menggunakan jurus selendang lebur abu. Karena hamba takut terjadi sesuatu pada adi kelalawar hitam." Selendang Merah mengingat bagaimana keadaan luka yang dialami adiknya. "karena jurus yang ia gunakan sangat berbahaya, dan juga mengancam keselamatan nyawa. Makanya keadaanya sangat memprihatikan."


"Jadi paman kelalawar hitam dalam bahaya?." Andara Wijaya penasaran dengan apa yang terjadi di sini.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Semoga saja adimas kelalawar hitam baik-baik saja." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa khawatir.


"Tapi tenang saja. Saat ini keadaannya akan segera membaik." Tabib istana tersenyum kecil menetap mereka semua.


"Oh terima kasih karena telah menyembuhkan adikku." Selendang Merah sangat bersyukur mendengarkan itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2