ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
TIDAK SEMUDAH ITU


__ADS_3

...***...


Wanita berpakaian merah itu pergi bersama pemuda peramal itu. Namun sepertinya ada yang aneh, sebab pemuda itu membawa wanita berpakaian merah itu ke tempat sepi.


"Maaf?. Kenapa kau membawaku ke tempat ini?."


"Kau tidak usah berpura-pura tidak tahu. Aku ini seorang peramal. Saat aku menatap matamu tadi, kau adalah orang yang telah menggagalkan rencana ku malam tadi."


"Ho, ternyata kau sadar juga akhirnya." Wanita itu mengubah penampilannya. Kembali ke aslinya sebagai Selendang Merah. "Maaf jika aku mengganggu kesenanganmu." Ucapnya dengan ramahnya.


"Heh!. Bedebah busuk!. Tidak semudah itu kau meminta maaf padaku!." Pemuda itu terlihat marah luar biasa. "Sebagai gantinya kau yang akan menjadi tumbal selanjutnya." Pemuda itu hendak menyerang Selendang Merah. Tapi Selendang Merah melompat ke atas pohon, dan dengan santainya ia menatap pemuda itu.


"Jurus pemikat bunga. Maaf saja, aku tidak akan terpengaruh oleh jurus itu. Jurus itu hanya untuk orang yang berhati lemah." Ucapnya sambil melempari ranting kayu yang ia patahkan dari pohon itu, tentunya ia lambari dengan tenaga dalamnya.


Zhep!


Pemuda itu menghindari serangan itu dengan melompat ke belakang. "Bagaimana mungkin kau mengetahui jurus itu?. Siapa kau sebenarnya?." Pemuda itu sedikit terkejut.


"Saat aku mendengarkan apa yang kau bacakan kemarin. Tentang bagian syair jurus pemikat bunga." Selendang Merah turun ke bawah, dan dengan santainya ia berjalan sambil mengamati pemuda itu. "Bunga mawar yang indah. Meskipun berduri, namun kau tetaplah sangat cantik. Merah muda yang terang, dan kau berbeda dengan mawar merah yang berdarah." Ia membacakan kembali kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu kemarin.


Pemuda itu hanya diam sambil mendengarkan apa yang dibacakan oleh Selendang Merah. "Artinya tumbal yang akan kau gunakan itu adalah seorang wanita yang masih perawan. Jika sudah menikah, jurus itu tidak akan ada gunanya." Selendang Merah melirik ke arah Pemuda itu. "Aku menyadarinya saat genderuwo yang ingin memangsa wanita itu berkata seperti itu." Lanjutnya lagi. Perasannya semakin berat dan sakit hati


"Lantas, apa yang kau inginkan?. Kau telah menggagalkan rencana yang telah aku buat." Pemuda itu terlihat sangat marah. Dan ia tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Selendang Merah.

__ADS_1


"Ada banyak orang yang menginginkan kematian mu. Karena kau telah membuta anak gadis mereka menjadi gila." Kali ini ada kemarahan yang keluar dari ucapannya. "Dan yang paling parahnya dari fakta yang aku dapatkan dari penglihatan ku malam itu. Genderuwo itu telah menanam benih laknat miliknya ke dalam tubuh gadis yang akan menjadi tumbal yang kau lakukan!." Selendang Merah sangat marah. "Beruntung aku menyadari dan berhasil menghentikannya. Jika tidak, selama ia menjadi gila, ia akan mengandung benih laknat anak siluman dari kau!." Setelah berkata seperti itu, Selendang Merah langsung menyerang pemuda itu. Ia tidak bisa lagi berbasa-basi. Hatinya sangat panas, marah atas kenyataan yang ia lihat pada malam itu.


"Jadi kau ingin menjadi pahlawan untuk mereka?. Berapa banyak uang yang kau terima dari mereka, hah?." Pemuda itu tidak menyangka jika ia berhadapan dengan Pendekar pembunuh bayaran?. Ia menghindari semua serangan yang datang ke arahnya.


"Nyawamu!. Cukup dengan nyawamu yang tidak berguna itu. Itu sudah cukup sebagai bayaran yang pantas aku terima!." Selendang Merah terus menyerang orang itu dengan jurus yang ia mainkan. "Karena kau telah merusak diri seorang wanita!. Dan kau renggut harta berharga mereka dengan paksa!." Gerakan yang dilakukan Selendang Merah semakin cepat, membuat pemuda itu semakin kewalahan. Hingga akhirnya ia terkena pukulan beruntun dari Selendang Merah.


DUAKH! DUAKH!.


Dada pemuda itu dihantam kuat oleh Selendang Merah. Sepertinya tidak ada ampun untuk pemuda itu. Karena Selendang Merah telah terbakar oleh amarah yang memuncak di dalam dirinya.


"Uhuk." Pemuda itu sedikit terbatuk, karena dadanya terasa sakit. Namun setelah itu ia melompat menggunakan jurus meringankan tubuh. Selain itu ia mengerahkan tenaga dalamnya ke arah Selendang Merah, sehingga musuhnya mundur juga. Karena tidak ingin terkena serangan tenaga dalam itu.


Penemuan itu turun, dan ia mengatur tenaga dalamnya agar hawa murninya tidak kacau. Matanya menatap tajam pada wanita yang kini melakukan hal yang sama dengannya. "Kurang ajar!. Aku tidak akan mengampuni mu!. Karena kau telah lancang mencampuri urusanku!. Selain itu kau mengetahui jurusku. Akan aku pastikan kau mati hari ini." Kali ini pemuda itu terlihat sangat serius. Ia tidak akan membiarkan wanita bercadar merah itu mengalahkannya begitu saja.


"Lakukan saja sesukamu. Yang pastinya, aku akan membunuhmu!. Karena kau adalah laki-laki biadab yang tidak pantas hidup di dunia ini." Selendang Merah memainkan jurus cakar elang memangsa. Jurus yang mengeluarkan hawa seekor elang raksasa. Sehingga menimbulkan dampak tipuan angin yang lumayan besar.


Pemuda itu tidak mau kalah dengan Selendang Merah. Ia mengeluarkan jurus andalannya. Jurus Pencakar langit merenggut sukma, jurus yang menggunakan hawa Kegelapan yang sangat pekat. Jurus itu tercipta dari kumpulan tumbal para gadis muda, jiwa murni mereka yang telah dimakan oleh makhluk halus itu.


Dua hawa murni yang berbeda itu saling bergesekan, sehingga menimbulkan tekanan tenaga dalam yang sangat kuat. Kekuatan tenaga dalam yang sangat mengerikan untuk dirasakan oleh siapapun juga termasuk oleh tumbuhan yang ada disekitar mereka.


"Majulah. Tidak usah banyak membuat gerakan yang tidak berguna. Aku sudah muak menunggu, dan melihat gerakan kau yang sama sekali tidak enak untuk dilihat. Jiwa seni membuat gerakan nilai rendah!. Sama seperti yang memainkannya." Selendang Merah menatap tajam ke arah musuhnya. Pancaran hawa elang semakin membesar, ketika amarah yang ia rasakan semakin bergejolak.


"Diam kau!. Akan aku bunuh kau dengan jurus andalanku ini!. Akan aku perlihatkan, siapa yang lebih kuat diantara kita!." Pemuda itu tersulut amarah yang membara saat mendengarkan ucapan wanita bercadar merah itu. Ia langsung menyerang musuhnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Selendang Merah, dengan ganasnya ia menyerang pemuda itu dengan jurus yang ia miliki. Keduanya mengadu kesaktian yang mereka miliki. Namun sayangnya Selendang Merah memang lebih unggul dibandingkan pemuda itu. Sehingga pemuda itu berhasil dikalahkan. Meskipun Selendang Merah beberapa kali juga terkena pukulan.


DUAKH DUAKH DUAKH


Selendang Merah berhasil menjatuhkan lawannya, hingga mengakui kekalahannya. "Itu adalah hukuman untukmu!. Aku sangat benci dengan laki-laki Seeperti kau!. Aku harap kau mati dengan rasa sakit yang lebih dari ini." Selendang Merah menatap tajam pemuda yang kini sedang mengerang kesakitan.


"Kau-." Pemuda itu tidak dapat menahan rasa sakit yang diakibatkan oleh jurus elang memangsa. Apabila terkena cakaran elang itu, jangan harap kau bisa bertahan hidup.


"Uhuk." Selendang Merah terbatuk darah, dan tubuhnya terasa lemah. Ia menjatuhkan tubuhnya, namun ia berhasil menumpu tubuhnya. Sehingga ia tidak mendarat di tanah. "Kurang ajar!. Tenaga dalam ku cukup terkuras juga menghadapi manusia busuk itu." Umpatnya sambil melirik kesal ke arah musuhnya yang tidak sadarkan diri. "Aku harus pergi menemui aki tama jagakarsa. Aku ingin memintanya untuk membuat ramuan yang bisa membunuh benih laknat itu dari kandungan anak gadis mereka." Selendang Merah berusaha menguatkan dirinya agar ia tidak pingsan di sana. Ia cemas dengan keadaan wanita yang saat ini mungkin diobati oleh kenalannya itu.


Kembali ke masa ini.


Mereka semua menyimak cerita sedih dari apa yang dialami oleh wanita malang yang ternodai akibat perbuatan jahat nafsu mereka yang ingin memiliki kekuatan, tapi malah mengorbankan orang lain.


"Malang sekali nasib mereka." Ratu Sawitri Dewi merasa bersimpati dengan apa yang ia dengar.


"Karena itulah hamba menerima permintaan mereka gusti ratu. Karena hamba merasa sakit hati dengan apa yang ia lakukan." Selendang Merah memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. Ia hanya merasa simpati pada mereka semua. "Tapi hamba masih bersyukur, karena mereka berhasil disembuhkan. Namun sayangnya mereka terpaksa melahirkan anak makhluk gaib itu. Karena janin dalam kandungan mereka telah menyatu dengan rahim mereka. Jika dipaksakan untuk mengugurkan kandungan itu, nyawa mereka akan menjadi ancamannya."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh itu adalah hal yang mengerikan. Melahirkan anak yang berbeda dengan manusia biasa."


"Lalu apakah mereka sekarang sudah besar?."


"Jika masalah itu hamba tidak mengetahui dengan pasti, tapi hamba terus membantu mereka agar menekan kekuatan jahat dari tubuh anak-anak itu. Hamba takut jika suatu hari nanti, malapetaka yang akan mereka terima."

__ADS_1


Nasib hidup tidak ada yang tahu, karena itulah terus hadapi takdirmu meskipun terasa sulit. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2