
...***...
Selendang Merah saat ini sedang berhadapan dengan pendekar seribu tendangan maut. Pertarungan mereka lumayan ganas, karena jurus-jurus yang mereka mainkan.
"Jurus tendangan seribu. Jurus itu pasti akan curi."
"Bedebah busuk!. Kau pikir jurusku ini dengan mudahnya kau bisa mencurinya?."
"Heh!. Sangat mudah bagiku untuk mencurinya. Bahkan kau belum bisa mencapai tingkat akhir, dari jurus tendangan seribu."
"Kau jangan berkata yang tidak-tidak. Seakan kau mengetahui, jika jurus yang aku mainkan ada kecacatan."
"Tentu saja ada. Buktinya, sesekali kau harus mengatur hawa murni yang kau miliki, sehingga kau bisa mengatur tenaga dalam. Karena jika tidak, maka jurus seribu tendangan maut itu, malah akan membuat aliran tenaga dalammu kacau."
"Kau!. Bagaimana bisa kau mengetahui kelemahan jurus yang aku mainkan?. Kau itu dewa atau setan, hah?. Berani sekali kau mencaritahu kelemahan dari jurusku."
"Aku adalah dewa kematianmu. Akan aku bunuh kau. Jangan remehkan kemampuan pendekar wanita pembunuh bayaran selendang merah."
"Jadi yang aku hadapi sekarang adalah pembunuh bayaran selendang merah penebar maut?. Mimpi apa aku malam tadi. Hingga aku didatangi pendekar wanita pembunuh bayaran."
"Sangat malang sekali kau. Akan aku buat mimpi semakin buruk. Hyaaah."
Selendang Merah menyerang Pendekar Seribu Tendangan Maut. Ia tidak akan memberikan ampun pada pendekar itu.
"Akan aku tunjukan padamu, bagaimana jurus mematikan milikku."
Pertarungan yang sangat sengit. Selendang Merah masih mencoba untuk mencari celah, untuk meniru jurus itu. Karena lumayan sulit juga, menyeimbangkan kakinya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja, ia pasti bisa mencuri jurus itu dengan baik.
...***...
Sementara itu, Kelalawar Hitam masih bingung. Mengapa tidak ada tanda-tanda kehidupan di desa ini. Mengapa mereka tidak ada di rumah?. Atau berada di kebun?.
"Benar-benar membuatku kesal. Mengapa tidak ada satupun orang yang bisa aku temui?. Memangnya pembegalan seperti apa yang mereka lakukan?. Sehingga tidak ada satupun orang di sini."
__ADS_1
Namun saat ia terus berjalan, ia melihat sebuah rumah yang lumayan besar. Ia melihat ada tiga orang berwajah gahar sambil memegang golok.
"Baiklah, aku akan ke sana. Mungkin mereka adalah anak buah dari para perampok itu." Ia mendekati ketiga orang itu. Tentu saja ia tidak disambut dengan baik.
"Hei!. Siapa kau?. Mengapa kau malah datang ke sini?."
"Apakah kau sudah bosan hidup hah?. Sehingga kau dengan beraninya masuk ke wilayah ini."
"Sebaiknya kau pergi, sebelum kami menghajar kau. Tiga lawan satu, kau pikir kau jagoan hah?."
"Jangan banyak bicara. Jika kalian merasa kuat. Kenapa tidak coba saja?. Akan aku tunjukkan pada kalian, bagaimana kekuatan seorang pendekar pembunuh bayaran, dengan kalian pendekar ilmu cetek seperti kalian."
"Kurang ajar!. Dia berani meremehkan kemampuan kita."
"Habisi saja dia, jangan beri ampun."
"Serang!."
Ketiga orang itu menyerang Kelalawar Hitam. Mereka tidak terima ilmu kanuragan yang mereka miliki, direndahkan begitu saja oleh pendekar asing itu?.
"Heh!. Kemampuan ilmu kanuragan kalian baru seujung kukuku. Jadi kalian tidak usah berlagak di hadapanku. Dan aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga dalam, hanya untuk mengalahkan kalian bertiga."
"Kunyuk busuk!. Dari tadi kau berkata dengan sombong!. Hei!. Kalian, kita hajar dia."
Lagi, pertarungan antara mereka membuat suasana di depan rumah itu jadi kacau. Karena pertarungan mereka telah merusak yang ada di sana. Mereka bertarung dengan ganas, menghajar siapa saja yang datang, dan menangkis serangan ketika merasa bahaya. Para pendekar bertarung dengan gerak-gerusuk.
...***...
Kembali pada Selendang Merah. Ia masih bertarung dengan Pendekar Seribu Tendangan Maut. Pertarungan yang tidak mau mengalah satu sama lain. Apalagi ketika Selendang Merah berhasil menguasai jurus Seribu Tendangan Maut itu dengan baik.
"Setan alas!. Kau benar-benar menguasai jurus itu!. Kurang ajar sekali kau!."
"Aku ini adalah pendekar pembunuh bayaran selendang merah penebar maut. Jadi mudah saja bagiku untuk meniru jurus andalanmu. Termasuk jurus penusuk jari menusuk sukma."
__ADS_1
"Bajingan!. Kau bahkan mengetahui jurusku yang lainnya. Kalau begitu, kau tidak akan aku biarkan hidup!. Karena kau telah lancang!. Mencuri jurusku!."
Dalam keadaan marah, Pendekar Seribu Tendangan Maut menyerang Selendang Merah. Ia marah, karena musuhnya sangat tangguh. Keduanya kembali bertarung dalam keganasan.
"Kurang ajar!. Jurus seribu tendangan maut ini, membuat tenaga dalam ku benar-benar terkuras." Dalam hati Selendang Merah mulai merasakan, jika tenaga yang ia miliki mulai berkurang. Sehingga ia hampir saja tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Hahahaha. Kau bahkan tidak bisa menguasai jurus itu dengan sempurna. Kau masih saja bersikap sombong padaku?. Kau pikir jurus itu mudah kau curi begitu saja, hah?."
"Kegh. Benar-benar jurus yang menyusahkan." Selendang Merah berusaha mengatur hawa murninya kembali, akan tetapi pada saat itu. Pendekar Seribu Tendangan Maut mengarahkan sebuah sepakan yang cukup keras. Sehingga tubuhnya terjajar ke belakang. Tubuhnya terhempas, dan menubruk pohon yang ada di belakangnya.
"Uhok." Ia terbatuk, memuntahkan darah. Membuat cadar merah yang menutupi wajahnya semakin memerah karena darah.
...***...
Sementara itu, di saat yang bersamaan Prabu Praja Permana yang sedang mengadakan pertemuan dengan menteri-menteri serta abdi dalam istana, tiba-tiba saja terbatuk dengan memuntahkan darah. Mereka semua terkejut melihat itu.
"Gusti prabu?."
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." Ia mencoba untuk mengatur hawa murninya. Pikirannya juga tertuju pada Selendang Merah. Entah mengapa, wajah kesakitan Selendang Merah membayangi pikirannya.
"Gusti prabu. Apakah gusti prabu sedang sakit?. Kalau begitu gusti prabu istirahatlah. Kami akan melanjutkan rapat ini, jika keadaan gusti prabu sudah baikan."
"Kalau begitu maafkan aku. Karena memang kondisi saya akhir-akhir ini sedang kacau. Jadi maafkan saya, jika rapat ini saya tunda."
"Kalau begitu kami pamit gusti prabu."
Mereka semua pergi meninggalkan ruangan itu. Mereka tidak mengetahui kondisi raja mereka saat ini. Apakah mereka masih memiliki harapan?. Tapi harapan dalam hal apa?. Itulah yang harus dipertanyakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?. Mengapa rasa sakit ini, seakan pindah dari seseorang. Rasa sakit yang dialami oleh nimas selendang merah, seakan membagikannya padaku." Dalam hatinya mulai merasakan seperti itu. Karena setiap ia merasakan kesakitan itu, ia selalu teringat dengan Selendang Merah. Ia seperti sedang melihat Selendang Merah kesakitan, atau mengalami luka dalam.
"Ya Allah. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon pertolongan. Jika memang terjadi sesuatu pada nimas selendang merah, tolong selamatkan ia ya Allah. Berilah kelancaran pada nimas selendang merah. Hamba ikhlas, jika memang hamba berbagi sakit dengannya. Tapi hamba mohon, jauhkan ia dari marabahaya yang menimpa dirinya. Serta berikan kekuatan padanya, untuk membebaskan negeri ini dari cengkraman para perampok, yang membuat negeri ini dipenuhi ketakutan. Aamiin ya Allah."
Itulah harapan sang Prabu. Kegelisahan yang ia rasakan, lagi-lagi ia merasakan rasa sakit yang sangat berbeda. Bahkan ia tidak bertarung sama sekali. Tapi mengapa ia malah mendapatkan rasa sakit itu?. Dan anehnya, setiap rasa sakit itu menerpa dirinya, pikirannya malah tertuju pada Selendang Merah. Apa yang terjadi sebenarnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...