ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PENANGKAPAN


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana sungguh tidak menyangka, jika Selendang Merah, wanita yang ingin ia temui malah datang padanya?. Sedangkan Kelalawar Hitam merasa heran, dan ia mendekati keduanya yang masih berpelukan. Namun setelah agak lama mereka tersadar, saling melepaskan pelukan itu.


"Maafkan hamba gusti prabu. Bukan hamba bermaksud lancang."


"A-a-aku juga minta maaf nimas." Ada bentuk rasa canggung yang menyapa keduanya. Tadi itu seperti sedang melepaskan rindu pada seseorang yang dicintai.


"Nini. Apakah benar ini nini?." Kelalawar Hitam mendekati Selendang Merah. Ia juga merindukan wanita itu. Meskipun hanya beberapa hari saja berpisah darinya.


"Adi. Tidak biasanya adi bersama gusti prabu. Memangnya apa yang terjadi?."


Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam saling bertatapan satu sama lain. Kelalawar Hitam seakan memberi kode pada Prabu Praja Permana untuk menjelaskan pada Selendang Merah apa yang terjadi.


"Ini sangat gawat sekali nimas. Karena nimas saat ini sedang difitnah seseorang telah melakukan teror pembunuhan terhadap banyak orang di kota raja, bahkan di beberapa desa."


"Hamba memang melakukan pembantaian, tapi pada kelompok kawanan perampok. Hamba belum pulang ke kota raja sama sekali gusti prabu." Heran, siapa yang tidak heran dengan apa yang disampaikan oleh Prabu Praja Permana.


"Karena itulah nini. Kita harus segera mengatasinya. Aku takut ini siasat dari orang yang membenci nini, membuat kesan buruk untuk nini terhadap gusti prabu."


"Benar yang dikatakan adimas kelalawar hitam. Kita harus segera menangani masalah itu nimas. Aku takut nimas mengalami masalah saat kembali ke istana nantinya."


"Terima kasih karena telah mau menemui hamba gusti prabu. Juga adi yang mengingatkan aku."


"Jika nimas dalam masalah, dan mereka semua berusaha menjebak nimas, maka aku tidak akan memiliki orang kepercayaan lagi."


"Hamba akan segera menyelesaikan masalah ini gusti prabu. Maaf jika hamba telah merepotkan gusti prabu."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan membantu nini, untuk menangkap orang tersebut."


"Aku juga akan membantu nini. Kita bertiga akan menangkap siapa yang telah berani menggunakan wajah nimas untuk berbuat kejahatan."


"Sandika gusti prabu."


"Kalau begitu kita segera kembali ke istana. Kalau bisa, malam ini kita beri pelajaran pada orang itu."


"Ya, hamba setuju gusti prabu."


"Hamba juga setuju gusti prabu."


"Mari kita segera kembali."


Mereka segera meninggalkan tempat, karena mereka ingin segera kembali ke kota raja Kerajaan Sendang Agung. Mereka berharap dapat menyelesaikan masalah ini dengan cepat.


...***...


"Ya Allah. Hamba hanya berserah diri pada-Mu ya Rabb. Berikanlah hamba kekuatan hati, kekuatan iman. Untuk menghadapi masalah yang sedang terjadi. Rasanya hamba merasa sakit hati, saat mereka mengatakan jika nini selendang merah telah melakukan pembunuhan. Hamba mohon berikan petunjuk pada kami dalam menyelesaikan masalah ini." Air matanya perlahan-lahan menetes membasahi pipinya. Setelah sidang itu selesai, ia menyadari jika mereka semua hanya memojokkan dirinya untuk mencari kesalahan Selendang Merah. "memang nini selendang merah mengatakan jika ia seorang pembunuh bayaran. Tapi hamba rasa tidak mungkin ia melakukan kejahatan tanpa alasan, hingga membunuh banyak nyawa yang tidak berdosa." Hatinya tidak terima, rasanya sangat sakit menerima desakan dari mereka semua. "Berikan perlindungan pada nini selendang merah. Lindungilah ia jika tidak terbukti bersalah. Negeri ini sangat membutuhkan orang seperti nini selendang merah, untuk memulihkan negeri ini dari kejahatan ya Allah. Hamba mohon kabulkan doa hamba. Hamba sangat cemas dengan keadaannya, jika nini selendang merah celaka dalam penangkapan itu." Ia tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan sedihnya, kegelisahannya.


"Hamba hanya memohon kepada-Mu yang maha pemilik kekuasaan. Tiada daya dan kekuatan lain, selain kekuatan Engkau yang maha esa." Ratu Sawitri Dewi mencoba untuk menghilangkan kegelisahan yang ia rasakan tentang Selendang Merah. Entah mengapa ia sangat menyayangi wanita itu, dan telah menganggap Selendang Merah adalah bagian dari keluarganya. Hanya berdoa, yang bisa ia lakukan saat ini. Ia berharap masalah yang terjadi segera selesai.


...***...


Malam telah datang. Patih Arya Serupa, Patih Mandala Restu dan yang ikut bersamanya saat ini sedang siap-siap di sebuah rumah, yang mungkin diduga akan menjadi target pembunuhan yang telah dilakukan Selendang Merah. Mereka telah waspada di tiap sudut rumah. Ketika wanita itu datang, mereka akan datang menyerbunya. Menangkapnya bersama-sama.


Agak lumayan lama juga mereka menunggu, hingga mereka melihat ada wanita berpakaian merah serta mengenakan cadar penutup wajah berwarna merah. Saat wanita itu hendak masuk, mereka semua langsung mengepungnya.

__ADS_1


"Heh!. Cukup sampai disini saja kau bertindak penjahat busuk!." Senopati Jengkal Sepatara mendengus kasar, ia menatap benci pada Selendang Merah.


"Tindakanmu akan kami hentikan malam ini juga. Kami bersumpah akan memenggal kepala mu malam ini juga. Karena kau telah melakukan pengkhianatan terhadap gusti prabu." Wajah-wajah sombong terpampang jelas di wajah mereka. Karena merasa bisa menangkap basah apa yang akan dilakukan oleh Selendang Merah.


"Ho, jadi selendang merah saat ini telah dicap sebagai pengkhianat oleh mereka?. Bagus kalau begitu." Dalam hati wanita bercadar merah itu merasakan kebahagiaan luar biasa.


"Sebaiknya kau menyerah saja. Tidak ada gunanya kau melawan kami." Patih Arya Serupa kali ini yang bersuara.


"Jika aku tidak mau, kau mau apa?."


"Bukan hanya pada saat sidang saja mulutmu kurang ajar. Bahkan di luar pun kau masih saja kurang ajar!. Tangkap dia, rantai dia dengan kuat. Setelah itu seret dia kehadapan gusti prabu." Perintah Patih Mandala Restu yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Selendang Merah.


Mereka mulai melakukannya, memainkan rantai yang telah siap mereka gunakan untuk menangkap Selendang Merah. "Mereka benar-benar telah melakukan persiapan. Sepertinya mereka sangat membenci selendang merah?. Heh!. Siapa yang peduli." Dalam hatinya merasa tidak peduli, bagaimana sikap mereka pada Selendang Merah. Namun yang pasti, saat ini ia melakukan perannya dengan baik.


Selendang Merah berusaha menghindari lemparan rantai yang datang ke arahnya. Dengan kekuatan tenaga dalam yang ia miliki, semua rantai yang datang ke arahnya malah berbalik menjadi senjata bumerang yang menyerang mereka semua. Mereka tidak menyangka mendapatkan serangan balik.


"Kurang ajar." Dua Patih dan beberapa Senopati yang ikut malam itu, merasa kesal dengan apa yang mereka lihat. Sehingga emosi mereka tersulut, untuk membantu mereka menangkap Selendang Merah.


"Aku ingatkan sekali lagi!. Sebaiknya kau menyerah saja. Tidak ada gunanya kau melawan kami semua!."


"Jika kau masih sayang nyawa, maka kau menyerah, dan mengakui jika kau telah salah berkhianat pada kami semua."


"Sebaiknya kalian pulang. Cuci tangan, cuci kaki, dan tidur. Jika kalian sayang dengan nyawa kalian. Mumpung masih malam, kalian bisa rebahan sambil bermimpi indah. Dan biarkan aku membunuh mereka."


"Wanita sinting!. Kau pikir kami akan menuruti apa yang kau katakan hah?!."


"Serang saja dia!."

__ADS_1


Mereka mulai menyerang Selendang Merah, hingga terjadi pertarungan di halaman rumah mewah itu. Pertarungan yang sangat cepat, dan tidak seimbang. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2