
...***...
Malam telah tiba, Selendang Merah masih memantau keadaan wanita muda yang telah diramal pemuda itu. Selendang Merah merelakan dirinya untuk mengamati wanita itu dari kejauhan. Matanya terus mengamati wanita muda itu yang sedang tertidur pulas. Akan tetapi, saat malam terus berjalan sampai menuju puncaknya. Tiba-tiba saja wanita muda itu mengamuk. Berteriak kesakitan, sehingga membangunkan penghuni rumah itu.
"Oh anakku!. Apa yang terjadi padamu nak!." Terdengar suara wanita meraung menangis sedih karena melihat keadaan anaknya.
"Aku harus melihatnya." Selendang Merah yang berada di atas pohon dari tadi langsung turun, masuk ke halaman rumah itu dan masuk dengan paksa. Tentunya membuat mereka semua terkejut.
"Hei!. Siapa kau?. Kenapa-."
"Nanti saja bertanya, dan kalian tinggal anak ini. Biarkan aku obati dia." Ia melirik ke arah kedua orang tua dari anak itu.
"Tapi-."
"Cepat!. Tinggalkan bilik ini atau kalian akan celaka!." Bentak Selendang Merah dengan suara yang sangat keras. Membuat kedua orang tua anak itu terpaksa mengikuti perkataan orang asing itu.
"Tapi pak-." Wanita itu masih tidak percaya.
"Kita lihat saja buk, mungkin dia memang mau membantu anak kita." Ayahnya hanya pasrah saja ketika melihat keadaan anaknya.
Sementara itu Selendang Merah melihat wanita muda itu mencakar-cakar tubuhnya. Karena tidak tega, ia menotok dengan tenaga dalamnya. Sehingga wanita muda itu terdiam, dan tidak mengamuk lagi.
"Oh anakku!." Ibu dari anak itu tidak tega melihat keadaan anaknya.
"Tenanglah buk." Sang ayah mencoba menguatkan hatinya ketika anaknya diobati oleh wanita bercadar merah itu?.
Selendang Merah mencoba untuk menyelami alam bawah sadar wanita muda itu. Sangat gelap, membuat tidak nyaman di sana. Namun saat itu ia mendengarkan suara teriakan seorang wanita dari arah belakang. Matanya terbelalak terkejut, melihat sosok menyeramkan terus mengejar wanita muda itu.
"Kenapa kau malah lari cantik?. Bukankah kau menginginkan seorang pangeran tampan?. Tapi kenapa kau malah lari?." Sosok menyeramkan itu terus mengejarnya.
"Tidak!. Tidak!. Bukan kau pangeran yang aku inginkan!. Bukan kau!. Tidak!." Wanita muda itu berteriak keras, terus berlari.
"Hahaha!. Kenapa kau malah menghindar manis. Kau masih perawan. Dan darahmu lebih segar dari wanita bersuami. Hahaha!." Sosok menyeramkan itu tidak menyerah untuk terus mengejar. Hingga akhirnya wanita muda itu terjatuh, dan ia berhasil menangkapnya.
__ADS_1
Sedangkan Selendang Merah tidak mungkin hanya diam di tempat. Ia baru saja mencerna kata-kata yang diucapkan pemuda peramal itu. Hatinya benar-benar mendidih, dan ia tidak akan mengampuni orang itu. Selendang Merah mencabut pedang Pemangkas Pancasona miliknya. Dengan sekali tebasan, kepala makhluk menyeramkan itu putus.
Disaat yang bersamaan, pemuda peramal itu terkejut dan terbangun dari semedi yang ia lakukan. Ia terkejut, karena ada yang berhasil memusnahkan jin utusan dirinya untuk memakan hawa murni gadis itu. "Kurang ajar!. Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?. Akan aku cari dia sampai dapat. Jika perlu, dia yang akan aku jadikan dia tumbal utama dari kekuatanku." Matanya menatap tajam ke arah depan. Ia tidak suka ada yang mengganggu kesenangannya.
Sementara itu, Selendang Merah sedang mengobati wanita muda itu yang terkena pengaruh jurus pemikat bunga. Jurus yang sering digunakan untuk menarik perhatian lawannya, namun setelah itu memangsa musuhnya hingga menjadi gila.
"Uhuk." Wanita muda itu telah memuntahkan racun pengaruh dari jurus pemikat bunga. Setelah itu ia baringkan wanita muda itu ke tempat tidurnya.
"Bagaimana keadaan anak saya nini?. Apakah dia baik-baik saja?." Ibu dari anak itu mendekati mereka. Ia melihat wajah pucat anaknya.
"Bagaimana nini?. Kenapa tiba-tiba anak saya mengamuk?." Ayah dari anak itu juga bertanya pada Selendang Merah.
"Kali ini nyawa anak bapak dan ibuk masih selamat. Karena aku telah membebaskannya dari pengaruh jurus pemikat bunga." Jawabnya. "Jurus pemikat bunga sangat berbahaya. Dan anak bapak hampir saja mengandung anak genderuwo." Jelasnya.
"Apa?. Kenapa itu bisa terjadi?." Ada kemarahan yang muncul dari diri ayah anak itu.
"Oh anakku. Kenapa bisa terjadi seperti ini nak." Ibunya menangis sesak. Ia tidak menyangka jika anaknya menjadi korban makhluk gaib.
"Tapi bapak dan ibuk tegang saja. Aku telah membebaskan anak bapak juga ibuk." Rasanya ia tidak tega melihat kedua orang tua itu menangis mendengar hal buruk yang akan menimpa anaknya. "Jaga anak bapak dengan baik. Untuk beberapa hari ini, jangan biarkan ia keluar dulu. Biar ia lebih tenang. Aku akan mencari pawang genderuwo itu." Selendang Merah hendak meninggalkan tempat itu, namun ditahan oleh wanita itu.
"Aku ini adalah Pendekar pembunuh bayaran." Jawabnya.
Spontan ibu itu menjauhi Selendang Merah, dan bapak itu juga menjaga jarak. Karena mereka takut akan dibunuh oleh Selendang Merah. "Kalian tidak usah takut. Targetku bukanlah kalian. Orang yang ingin aku bunuh adalah pawang dari mahkluk jelek itu." Jelasnya. "Aku mengetahui anakmu akan mengalami hal buruk, karena ia bertemu dengan seorang pemuda peramal. Dan pemuda itu adalah targetku. Karena banyak anak gadis yang menjadi gila setelah bertemu dengannya. Jadi aku menyelidikinya. Sekarang aku telah mengetahui apa penyebab mereka menjadi gila." Lanjutnya.
Namun tidak ada tanggapan dari keduanya. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. "Saya ucapkan terima kasih padamu nini. Karena nini telah menyematkan anak saya." Hanya itu yang dapat diucapkan oleh ibu itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga anak gadis kalian dengan baik." Setelah berkata seperti itu, Selendang Merah langsung pergi meninggalkan tempat. Setidaknya hari ini ia berhasil menyelamatkan satu korban. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
***
Disebuah tempat. Pemuda peramal itu sedang berada di sebuah pondok terpencil. Saat ini ia sedang berbicara dengan sosok makhluk halus yang selama ini memberikannya kekuatan. Dengan meramal ia dapat melancarkan jurus pemikat bunga. Namun malam tadi, ada seseorang yang bisa memutuskan jurus pemikat bunga itu.
"Maafkan aku. Sepertinya aku harus segera mencari orang itu. Aku yakin dia dapat merusak rencana kita." Pemuda itu merasa tidak suka.
__ADS_1
"Kau harus segera mencarinya, atua kau tidak akan mendapatkan kekuatan apapun dariku." Itu adalah sebuah ancaman.
"Tuan tenang saja. Dalam waktu dekat ini aku pasti akan bertemu dengan wanita bercadar itu. Akan aku bunuh dia, karena telah berani ikut campur." Ia tersenyum kecil.
"Baiklah. Sekarang pergi, dan temui dia. Aku tidak mau dia menjadi penghalang nantinya." Perintahnya.
"Akan aku kerjakan apa yang tuan inginkan." Ia memberi hormat pada sosok makhluk gaib itu. Setelah itu ia pergi untuk mencari keberadaan orang itu.
Tapi untuk sementara waktu, itu mencari mangsa baru. Untuk menggantikan tumbal malam tadi yang gagal ia lakukan. Kakinya melangkah menuju pasar yang tak jauh dari tempat itu. Matanya menangkap banyak wanita, dan ia melihat seorang wanita berpakaian merah yang tampak kebingungan. Ia segera menghampirinya dengan suasana hati yang berbunga luar biasa. Aroma wanita itu sangat manis, dan ia tidak bisa menolak aroma itu.
"Hai manis. Kau siapa?." Iya menyapa wanita itu.
"Apa yang membuatmu terlihat kebingungan manis?." Ia tersenyum manis.
"Kau siapa? Aku memang sedang bingung karena mencari seseorang." Matanya menatap penampilan pemuda itu.
"Apakah aku boleh membantumu mencari orang tersebut?." Ia menawarkan bantuan pada wanita itu.
"Apakah benar kau mau membantuku?." Ia agak ragu.
"Tentu saja aku mau membantumu. Kau jangan ragu dengan kebaikan dariku." Senyuman itu senyuman yang meyakinkannya.
"Baiklah kalau begitu. Tadi Aku telah berjanji pada seseorang untuk bertemu dengannya disini, tetapi dia tidak kunjung datang." Ucapnya.
"Memangnya dia seperti apa?." Pemuda itu bertanya.
"Aku sedikit lupa tapi dia berpakaian pendekar." Jawabnya.
"Kalau begitu ayo kita cari bersama." Balasnya.
"Mari." Wanita berpakaian merah itu keluar mengikuti laki-laki itu tanpa adanya perasaan ragu.
Setelah itu mereka pergi dari tempat itu. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...