
...***...
Kelalawar Hitam dan Selendang Merah sudah tidak tahan lagi. Mereka mendekati orang itu, menahan gerakan orang itu dengan cepat.
"Hei!. Siapa kalian?." Lelaki itu menepis tangan mereka dengan kuat. Sehingga keduanya hampir saja terjajar.
Sementara itu, penduduk desa yang melihat itu hanya diam, menepi. Karena mereka takut terjadi sesuatu yang akan melibatkan mereka nantinya.
"Siapa mereka?. Mengapa mereka berani sekali melawan sendil tepi."
"Entahlah nyi, mungkin mereka orang baru di sini?. Atau pendekar yang kebetulan lewat di desa ini."
"Sudahlah. Kita lihat saja, mereka mau melakukan apa."
Mereka berbisik-bisik karena penasaran dengan dua orang yang datang dari mana. Mencegah apa yang telah dilakukan oleh Sendil Tepi pada mereka semua?. Entahlah. Mereka tidak mengetahui apa tujuan dua orang itu datang ke sini.
"Siapa kalian?. Berani sekali kalian ikut campur dengan urusanku!."
"Kami sudah muak dengan tingkah laku kalian yang semena-mena terhadap kami!."
"Kami tidak akan membiarkan orang asing seperti kau menguasai kami!."
"Setan alas!. Aku tidak pernah melihat kalian di daerah sini. Dan kalian berani berkata seakan-akan kalian adalah penduduk desa ini."
"Itulah kau. Seperti katak dalam tempurung. Tidak mengetahui sama sekali seluk beluk desa ini."
"Kami selama ini bersembunyi, untuk mempersiapkan diri. Menghajar kalian yang telah berbuat sesuka hati di desa kami!."
"Setan belang!. Jadi kalian adalah pemuda yang dilatih untuk melakukan pemberontakan!. Hiyaaaaah."
Sendil Tepi menyerang Kelalawar Hitam, sepertinya ia bernafsu sekali ingin menyerang Kelalawar Hitam. Sementara itu Selendang Merah memperhatikan pertarungan mereka. Matanya memperhatikan bagaimana jurus-jurus yang dimiliki oleh Sendil Tepi. Dan matanya tak luput dari sekitar, banyak penduduk yang ketakutan karena melihat pertarungan itu.
"Kalian semua pergi dari sini. Cari tempat perlindungan yang aman."
"Baik nini." Mereka semua menuruti apa yang dikatakan Selendang Merah. Karena mereka takut akan menjadi korban mereka.
__ADS_1
"Bedebah!. Berani sekali kau memerintahkan mereka pergi dari sini!." Sendil Tepi sangat emosi. Ia marah karena warga desa telah meninggalkan tempat.
"Kau tidak berhak menahan mereka di sini. Ini adalah kebun milik mereka sendiri. Dan kau!. Malah memperlakukan mereka seperti budakmu!." Kelalawar Hitam sangat marah. Ia sampai menunjuk kiri ke arah Sendil Tepi.
"Cukup sampai di sini kekuasaan keji yang kalian mainkan." Selendang Merah juga tak kalah marahnya.
"Kalian tidak usah banyak bicara. Akan aku habisi kalian berdua!. Karena kalian telah berani ikut campur dalam urusanku!." Sendil Tepi sangat marah. Tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang asing itu.
Pertarungan kembali terjadi. Dua melawan satu. Namun pertarungan mereka benar-benar sangat kuat, karena itulah Selendang Merah menyuruh mereka pergi dari sana.
Sendil Tepi ternyata memiliki ilmu kepandaian yang cukup merepotkan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam. Jurus-jurus yang dimainkan lelaki itu lumayan hebat.
"Heh!. Tidak semudah itu kalian mengalahkan aku!." Sendil Tepi berbangga hati karena ia berhasil memukul mundur kedua orang asing itu.
Kelalawar Hitam tersenyum miring. Menatap remeh pada musuhnya. "Aku hanya menguji ilmu kanuraganmu saja. Dengan begitu aku tidak akan sungkan lagi mengahadapi jurus yang kau miliki." Ucapnya dengan santainya.
"Kau tidak usah berkelit lagi. Katakan saja jika kau tidak sanggup untuk menahan serangan ku!." Sendil Tepi merasa jengkel karena dipermainkan oleh Kelalawar Hitam.
"Nini. Serahkan dia padaku. Biar aku yang menghadapinya."
"Nini tenang saja. Jurus air samudera menggulung karang dapat mengatasi serangannya. Karena tidak mungkin seekor kuda dapat menahan ombak air yang besar." Kelalawar Hitam maju. Dan ia memainkan jurus air samudera menggulung karang.
Selendang Merah bersumpah, jurus itu hanya dimiliki oleh keluarganya saja. Dan bagaimana mungkin Kelalawar Hitam bisa memiliki jurus itu?. Pikiran Selendang Merah jadi bercabang karena melihat gerakan jurus itu sama persis dengan jurus yang ja mainkan selama ini.
"Bagaimana mungkin dia memiliki jurus itu?. Gerakannya sempurna tanpa celah." Dalam hati Selendang Merah merasa curiga dengan Kelalawar Hitam.
Sementara itu, Sendil Tepi merasa terkejut. Hawa dari jurus yang dimainkan oleh Kelalawar Hitam mengandung hawa dingin. Kakinya terasa berat karena menahan hawa dingin itu.
"Sialan!. Jurus apa yang ia mainkan?." Sendil Tepi sedikit gentar. Ia belum pernah berhadapan dengan jurus yang memberikan dampak aneh pada musuhnya. "Bebedah busuk!. Aku tidak akan kalah begitu saja." Sendil tepi tidak akan menyerah hanya karena gertakan dari jurus itu.
Sedangkan Kelalawar Hitam mulai menyerang Sendil Tepi. Dengan lihainya ia menyerang Sendil Tepi tanpa memberikan celah untuk membuat pertahanan dari serangan yang ia berikan padanya.
Kelalawar Hitam dengan gencarnya menyerang Sendil Tepi. Hingga akhirnya lelaki itu kewalahan menyeimbangkan gerakan jurus itu. Kelalawar Hitam berhasil memukul mundur Sendil Tepi.
"Aqkh. Sakit sekali pukulannya. Benar-benar seperti dihantam gelombang air samudera yang menghantam karang." Sendil Tepi merasa kewalahan. Ia tidak sanggup menyeimbangkan gerakan jurus itu. Nafasnya ngos-ngosan karena seperti dikejar bayangan yang tak kasat mata dari jurus itu.
__ADS_1
"Bagaimana?. Apakah kau masih ingin bermain-main denganku?."
"Diam kau!. Tidak usah banyak bicara!. Aku masih sanggup untuk mengahdapimu!."
Namun apa yang terjadi?. Selendang Merah yang geram mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sendil Tepi merasa geram. Selendangnya yang telah ia lambari dengan jurus air samudera menggulung karang, serta digabung dengan jurus selendang menyapu angin. Jurus itu menghantam dada Sendil Tepi. Membuatnya terlempar jauh. Terluka parah karena gabungan jurus itu melukai dirinya dari dalam dan luar.
"Aaaaaakh." Sendil Tepi terluka parah. Ia tidak bisa lagi bergerak, karena tenaga dalamnya benar-benar terserap habis oleh jurus gabungan itu.
Lalu bagaimana dengan Kelalawar Hitam yang melihat itu?. Ia mendekati Selendang Merah yang tampak marah.
"Apa yang nini lakukan?. Mengapa nini menyerangnya?." Kelalawar Hitam tampaknya bingung.
"Aku sudah muak!. Kau terlalu lama bertindak. Aku sudah tidak tahan lagi." Jawabnya dengan nada kesal.
"Hanya karena itu nini menyerangnya?." Kelalawar Hitam sungguh tidak mengerti dengan tindakan Selendang Merah.
"Satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Mengapa kau bisa menguasai jurus air samudera menggulung karang. Siapa kau sebenarnya?." Nada itu sangat serius bertanya padanya.
"Jadi Nini mengetahui jurus yang aku mainkan tadi?." Kelalawar Hitam mengernyitkan dahinya. "Bagaimana mungkin nini mengetahui nama jurus itu?." Ia malah balik bertanya pada Selendang Merah?.
"Aku sangat mengenali gerakan jurus itu. Karena kau juga memiliki jurus itu." Jawabnya dengan tegas.
"Aku mempelajari jurus itu dari seseorang. Katanya jurus itu sangat langka. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memainkan jurus itu. Begitu kata guruku." Jawabnya agak takut.
"Jadi begitu?." Selendang Merah tidak ingin berpikiran aneh. Tidak mungkin Kelalawar Hitam adalah keluarganya?.
"Baiklah. Kita habisi ringkus saja orang itu. Kita bawa dia ke istana. Biar gusti prabu yang akan menghukum dia."
"Baiklah nini."
Sepertinya mereka tidak mau terlalu lama membahas masalah jurus itu. Mereka kembali fokus pada tugas mereka di desa ini.
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1