
...***...
Di sebuah rumah yang sangat mewah, Kelalawar Hitam sedang berbincang dengan orang yang menyuruhnya untuk menghabisi prabu Praja Permana.
"Kau memang tidak becus!. Percuma saja aku membayarmu mahal-mahal, tapi kau tidak bisa melakukan tugasmu dengan benar!." Terdengar jelas kemarahan dari sang Adipati. Rasa kesal dan tidak puas, setelah ia mendapatkan berita dari orang yang ia sewa.
Srekk
Bunyi layangan pedang itu hampir saja memutuskan kepala Adipati Rassha Kentara, namun masih bisa ditahan oleh Kelalawar Hitam.
"Jaga ucapanmu itu Adipati bodoh!." Dengan penuh kemarahan ia menatap tajam sang Adipati." Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga, karena ada seseorang juga yang menginginkan kematianmu." Kelalawar Hitam merasa muak dengan apa yang dikatakan oleh Adipati Rassha Kentara.
"Selain kurang ajar, adipati ini benar-benar tidak tahu diri. Suka memerintah orang dengan penuh kesombongan." Dalam hatinya mengutuk Adipati Rassha Kentara.
"Apa maksud perkataan mu!. Siapa yang berani mengincar nyawaku?." Mata itu melebar kaget, ada orang yang menginginkan kematiannya?.
"Ada seseorang yang terlebih dahulu menyewaku. Harusnya kau berterima kasih padaku!. Karena aku masih berbaik hati, mengabulkan keinginanmu sebelum kau mati." Jawab Kelalawar Hitam dengan jelas, agar sang Adipati tidak mati penasaran.
"Apa kau bilang?. Jadi kau disewa oleh orang lain untuk membunuhku?." Sang Adipati penasaran, siapa yang menginginkan kematiannya? Kenapa ia malah diincar? Apa salahnya pada orang itu hingga meminta bantuan pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawanya?.
"Sama halnya denganmu yang menginginkan kematian Gusti Prabu Praja Permana, dan orang itu menginginkan kematianmu karena dia tidak suka dengan apa yang kau lakukan, adipati bermulut busuk!." Balas Kelalawar Hitam menyeringai lebar dibalik kain penutup wajahnya.
"Kurang ajar, katakan padaku siapa yang menginginkan kematianku, akan aku habisi dia!." Amarahnya semakin meledak, ia ingin mengetahui siapa yang ingin membunuhnya?.
Kelalawar Hitam tertawa keras, ia menertawakan kebodohan sang Adipati, tentunya sang Adipati tersinggung. Ia menyerang Kelalawar Hitam, namun Kelalawar Hitam menyadari serangan itu, hingga terjadi pertarungan antara mereka. Sepertinya sang Adipati memiliki sedikit ilmu Kanuragan, tapi tetap saja sang Adipati tidak bisa mengalahkan Kelalawar Hitam. Hingga akhirnya Kelalawar Hitam berhasil mengalahkan sang Adipati.
__ADS_1
"Istrimu sangat muak!. Dengan kelakuan bejat mu, yang mempermainkan hatinya dengan perselingkuhanmu, dengan beberapa wanita di luar sana. Dan dia membenci kelakuan bejatmu yang memeras rakyat, hingga ia tidak tahan dan menemuiku meminta bantuan padaku, untuk menghabisi nyawamu." Kelalawar Hitam telah mengatakan pada sang Adipati siapa yang menginginkan kematiannya.
"Tidak mungkin!. Tidak mungkin dinda manik kencana menginginkan kematianku." Ia tidak menyangka bahwa istri yang ia cintai menginginkan kematiannya?.
"Sayangnya aku tidak berbohong padamu. Dan terima saja kematianmu." Setelah berkata seperti itu, Kelalawar Hitam pergi meninggalkan tempat itu. Ia tahu sang Adipati tidak akan mungkin bertahan, dengan jurus lebur sukma yang ia hantam tepat di dada sang Adipati.
"Dinda manik kencana." Sang Adipati mengingat semua kesalahannya, kesalahan yang ia perbuat pada istrinya itu. Tapi semuanya percuma saja, ia tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya terasa sakit, ia tidak dapat menghindari kematian yang menghampiri dirinya.
...***...
Matahari telah condong ke barat, matahari mulai redup cahayanya, Selendang Merah atau Rembulan Indah dan putranya Andara Wijaya telah sampai di desa Lembung Basa.
"Terima kasih Nini masih mau datang ke sini." kepala desa lembung basa menyambut mereka dengan hangat, ia tidak menyangka bahwa selendang Merah membawa seseorang ke desa ini.
"Aku hanya tidak ingin pekerjaanku sia-sia ki, karena itu aku datang ke sini lagi memastikan bahwa desa ini aman." Balas Selendang merah tersenyum kecil dibalik kain penutup wajahnya.
"Desa ini masih aman nini. Kami sangat bersyukur, karena nini lah desa ini jadi aman. Tidak seperti gusti prabu praja permana, yang tidak peduli dengan keselamatan kami nini." Ada raut wajah kekecewaan tergambar di sana. Kekecewaannya terhadap Prabu Praja Permana. Ia tidak mengerti mengapa orang seperti selendang merah justru mau membantu keselamatan mereka dibandingkan rajanya?.
Selendang Merah menghela nafasnya pelan, rasanya sesak mendengarkan perkataan seperti itu. "Ki Awuh tenang saja. Aku rasa gusti prabu praja Permana sedang berusaha, untuk menghentikan aksi kejahatan, yang dilakukan oleh kelompok setan jahat. Apalagi beliau baru naik jabatan sebagai raja baru." Bukannya bermaksud ia membela sang prabu, hanya saja terlalu dini menyalahkan sang prabu. "Aku yakin sang prabu akan segera memperhatikan desa ini." Lanjutnya lagi, ia berharap sang prabu bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di negeri ini.
"Semoga saja nini. Kami tidak terlalu berharap dengan apa yang dilakukan gusti prabu." Ki Awuh sangat berharap besar, dengan apa yang dikatakan oleh selendang Merah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Selendang merah tentang sang prabu, hanya saja mereka sudah dilanda ketakutan karena keganasan para perampok yang datang merusak perkampungan mereka.
"Oh iya nini, kalau boleh tau, siapa pemuda yang bersama nini ini?." Ki Awuh akhirnya penasaran siapa yang bersama Selendang Merah.
"Dia adalah putraku ki. Namanya sawung, dan aku ingin menitipkannya di desa ini. Lebih tepatnya pada aki." Selendang Merah memperkenalkan anaknya pada Ki Awuh. Ia sengaja mengatakan nama anaknya Sawung, karena ia tidak ingin anaknya dalam bahaya.
__ADS_1
"Nama saya sawung, ki." Andara Wijaya tersenyum ramah, ia mengulang menyebut namanya.
"Jadi anak muda gagah ini adalah anakmu nini?." Ki Awuh tidak menyangka jika anak muda tampan ini adalah anaknya selendang merah?. Artinya selendang merah sudah menikah?.
"Tapi kenapa nini menitipkan anak nini di desa ini?. Mengapa menitipkan padaku?." Tentunya menjadi pertanyaan bagi Ki Awuh bukan?. "Lalu kemana ayahnya?. Sehingga nini mengantarkan anak nini ke desa ini?." Lanjutnya dengan penuh tanda tanya.
"Maaf sebelumnya ki. Mungkin ini agak mendadak, anakku Sawung sangat ingin mengenal dunia luar, jadi aku membawanya kemari." Rasanya berat menjelaskan pada ki Awuh tentang anaknya. "Mengenai ayahnya, ayahnya sudah meninggal saat ia dalam kandungan ki." Kesedihan melanda selendang merah, rasanya sangat sesak mengingat masa itu.
"Maafkan atas kelancangan ku nini. Maaf jika aku telah membuat nini bersedih." Ki Awuh merasa bersalah karena berkata seperti itu
"Tidak apa-apa ki. Itu hanyalah masa lalu. Tapi aku mohon agar bisa menerima putraku di rumah aki."
"Baiklah, Sawung boleh tinggal di desa ini nini, anggap saja desa ini adalah rumahnya sendiri. Sebagai ucapan terima kasihku pada nini." Ki Awuh menerima Sawung di desa ini, ia juga tidak bisa menolak kebaikan dari Selendang merah yang telah membantu desa ini dari ancaman marabahaya.
"Terima kasih ki. Aku sangat senang aki mau menerima putraku tinggal di sini." Selendang Merah tersenyum kecil, hatinya.
"Nini tidak perlu sungkan lagi. Kebaikan nini pantas kami balas dengan kebaikan juga." Ki Awuh tidak merasa keberatan jika putra selendang merah berada di desa ini.
Jika ibundanya memiliki ilmu kanuragan yang mempuni, mengapa anaknya tidak?. Bukan bermaksud memanfaatkan kesempatan hanya saja ini suatu keberuntungan.
"Tapi berjanjilah padaku ki, jika ada prajurit istana yang datang kemari menanyakan perihal putraku, jawab saja dia adalah anak kenalanmu. Aku tidak mau sawung sampai berurusan dengan pihak istana." Itulah permintaan Selendang Merah pada Ki lurah. Ia hanya tidak ingin anaknya mengalami masalah nantinya hanya karena ilmu Kanuragan yang dimilikinya.
"Baiklah Nini, aku akan menjaga anakmu di sini." Itulah janji Ki Awuh pada Selendang merah, dengan begitu ia merasa aman jika jauh dari putranya. Ia tidak akan merasa gelisah lagi ketika meninggalkan anaknya sendirian. Tapi ia berharap anaknya akan baik-baik saja berada di desa ini. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1