ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
MENGAPA BISA?.


__ADS_3

...***...


Kelalawar Hitam sedang mengamati pertarungan Selendang Merah dengan Setan Tombak Pencabut Nyawa. Ia juga harus mewaspadai wanita setengah baya itu.


"Sepertinya, dia adalah wanita yang sangat berbahaya. Aura yang ia pancarkan tidak enak sama sekali." Dengan mata elang yang ia miliki. Ia dapat melihat seberapa berbahayanya wanita itu. Ia harus waspada, karena akan berbahaya jika wanita itu ikut campur dalam pertarungan itu.


"Apa yang bisa kau lihat dengan mata elang milikmu itu anak muda."


Deg


"Aku tahu kau Pendekar pembunuh bayaran. Tapi sayangnya kau masih pemula. Sementara wanita itu lumayan lama juga dia melumuri tangannya dengan darah."


"Bagaimana mungkin nyai mengetahui saya seorang pendekar pembunuh bayaran?. Siapa nyai sebenarnya?. Nyai memancarkan aura yang tidak enak sama sekali."


Wanita itu tertawa keras mendengarkan pertanyaan dari Kelalawar Hitam. Apa yang membuat wanita itu tertawa?.


"Jika kau memang memiliki mata elang yang bagus, kau bisa melihat dengan cermat siapa aku sebenarnya."


"Baiklah, akan aku cari siapa kau sebenarnya nyai."


"Terserah kau saja. Lihat saja sesuka hatimu."


Kelalawar Hitam memfokuskan pandangannya, membuka mata batinnya. Dengan menggunakan mata elang miliknya, ia masuk ke dalam pikiran Petik Bidadari untuk melihat kebenaran mengenai wanita itu.


Sementara itu, Selendang Merah yang sedang berhadapan dengan Setan Tombak Pencabut Nyawa.


"Tidak akan aku biarkan kau mengalahkan aku kali ini."


"Jangan banyak bicara. Kau pasti akan aku ringkus, karena kau harus bertanggungjawab atas apa yang telah kau perbuat."


"Jangan anggap remeh diriku ini. Kau pikir jurus-jurus cirianmu itu dapat mengalahkan aku?."


"Aku tidak tahu cerita apa yang telah dikarang oleh nila ambarawati padamu. Tapi kau telah membuat aku kesal. Berani sekali kau mengatakan jika jurusku ini jurus curian."


Hatinya sangat panas dengan apa yang dikatakan oleh Setan Tombak Pencabut Nyawa.


"Kalau begitu akan aku tunjukan bagaimana jurus curian itu padamu." Sorot matanya yang tajam itu mencoba untuk menyelami pikiran Setan Tombak Pencabut Nyawa. Ia memasuki alam pikiran Lelaki itu, ia ingin mengetahui jurus apa yang baru-baru ini dipelajari oleh lelaki itu.

__ADS_1


Deg


Begitu ia berhasil melihat kejadian itu. "Jurus petik bunga pesona bidadari. Jurus yang lumayan bagus."


"Apa?. Bagaimana mungkin kau bisa mengetahui jurus yang baru saja aku pelajari?." Seketika itu, Setan Tombak Pencabut Nyawa ingat dengan apa yang dikatakan ketuanya, bahwa Selendang Merah bisa mencuri jurus lawannya melalui penglihatannya.


DEG


Disaat yang bersamaan, Kelalawar Hitam berhasil mengorek informasi mengenai siapa wanita itu.


"Bagaimana hah?. Apakah kau telah melihat apa yang ingin kau lihat hah?."


"Setengah siluman, yang mengaku bidadari tapi asli jeleknya membuatku ingin muntah." Kelalawar Hitam bergidik ngeri setelah apa yang ia lihat tadi.


"Kurang ajar!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!."


Amarah membuncah membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Berani sekali pemuda itu melihat wujud aslinya?.


"Kalau begitu!. Kau tidak akan aku biarkan lepas dari cengkraman ku."


"Kau tadi yang menantang ku untuk melihat wujud aslimu, wanita setengah ular sanca." Kelalawar Hitam memang melihat sosok itu dari diri wanita itu.


"Aku tidak akan kalah darimu wanita aneh. Akan aku tunjukkan bagaimana kekuatanku padamu."


Sepertinya pertarungan antara Kelalawar Hitam melawan Nyai Petik Bidadari. Pertarungan dua orang pendekar yang tidak ingin mengalah, dan sepertinya akan terjadi pertumpahan darah di desa Layang.


"Aku telah bersumpah, siapa saja yang bisa melihat wujud asliku, maka akan bunuh dia. Kau telah melihat itu, artinya kau akan mati ditanganku."


"Tidak semudah itu kau membunuhku. Maaf saja. Aku bisa melihat gerakan jurus yang akan kau gunakan padaku."


"Aku tidak peduli seberapa jauh kau bisa melihat jurus yang aku miliki. Tetap saja kau akan kalah melawanku."


"Kita lihat saja, seberapa besar kekuatan yang kau miliki."


Petik Bidadari menyerang Kelalawar Hitam. Mereka saling menyerang, memberikan pukulan, serta sepakan untuk menjatuhkan lawan. Sesekali menghindari serangan musuh, mempertahankan diri agar tidak mudah terkena serangan.


"Aku tidak akan kalah darinya. Kau akan lihat kekuatanku yang kau katakan aku seorang pemula."

__ADS_1


Kelalawar Hitam memainkan jurus andalannya, Kelalawar mencari mangsa di dalam kegelapan. Mengandalkan penglihatannya, Kelalawar Hitam dapat mematahkan serangan-serangan yang datang padanya.


"Boleh juga kekuatan yang ia miliki. Tapi tetap saja tidak akan bisa mengalahkan aku."


Dengan gencarnya Petik Bidadari menyerang Kelalawar Hitam. Meskipun diusianya yang tidak muda lagi, namun ia masih lincah memainkan jurus-jurus yang ia miliki.


Sementara itu, Selendang Merah dan Tombak Pencabut Nyawa memainkan jurus yang sama. Mereka menyerang satu sama lain.


"Jurus ini memiliki gerakan yang cukup lentur juga. Jurus ini memiliki pembaliknya, jurus yang dimiliki kaum siluman." Matanya melirik tajam ke arah Nyai Petik Bidadari yang sedang bertarung.


"Akan aku pikirkan cara membalikkan jurus ini. Benar-benar siluman kurang ajar!."


Hatinya terasa panas dan gerah, ternyata wanita tua itu adalah siluman?.


"Dia memainkan jurus itu dengan baik?. Aku tidak akan kalah. Mau taruh dimana muka ku jika guruku tahu jurus yang ia ajarkan padaku dicuri wanita bedebah ini?." Setan Tombak Pencabut Nyawa merasa gusar karena Selendang Merah bisa memainkan jurus itu.


Kembali mereka beradu kekuatan, mengadu kekuatan fisik, juga ilmu kanuragan yang mereka miliki. Saling mengincar lawannya. Meskipun nama jurusnya petik bunga pesona bidadari, namun jurus itu mengandung ketajaman pada telapak tangan.


Telapak tangan mereka seperti diselimuti hawa hitam, menjadi senjata mematikan jika terkena musuhnya. Sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang sengit. Karena mereka bisa menghindari serangan musuhnya.


Akan tetapi, disaat itu mereka berhasil menyerang musuhnya. Lengan kiri Selendang Merah terkena pukulan, sementara Setan Tombak Pencabut Nyawa terkena bagian bahu kanannya.


Keduanya meringis kesakitan, seperti disabet dengan menggunakan pedang yang sangat tajam, sehingga keduanya menjauh saling menghindar.


...***...


Disaat bersamaan.


"Kegh." Prabu Praja Permana yang sedang berada di ruang kerjanya meringis kesakitan. Lengan kirinya seakan disayat benda tajam.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mengapa hamba merasakan sakit?. Dan tiba-tiba hamba merasakan gelisah memikirkan nimas selendang merah?. Apa yang terjadi padanya ya Allah."


Kegelisahan melanda sang prabu. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan Selendang Merah yang berada di Desa Layang.


"Nimas, apakah marabahaya sedang mengincar nyawanya?. Kalau begitu aku harus ke sana memastikan keadaannya." Tanpa sadar kakinya melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Pikirannya dipenuhi ketakutan akan keselamatan Selendang Merah.


Apa yang akan terjadi?. Firasat apa yang ia dapatkan tentang Selendang Merah?. Mengapa tiba-tiba lengan kirinya merasa sakit?. Mengapa itu bisa terjadi?. Bagaimana kelanjutannya?. Baca terus ceritanya.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2