ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
IKATAN YANG ANEH


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana masih bertarung melawan Pangeran Wira Wijaksana. Mereka serius bertarung, karena mempertahankan apa yang mereka anggap itu adalah kebenaran dari hati mereka masing-masing.


"Dinda wira wijaksana. Sebaiknya dinda menyerah saja. Selagi aku masih berbaik hati pada dinda."


"Aku tidak butuh belas kasihan darimu praja permana. Sebentar lagi aku akan menguasai kembali kerajaan ini."


"Jadi dinda memang tidak mau mendengarkan aku?. Baiklah, kalau begitu aku tidak akan ragu lagi."


Pangeran Wira Wijaksana memainkan jurus petik api menerkam raga. Jurus yang pernah ia pelajari dimasa lalu bersama Selendang Merah. Dengan gencarnya ia menyerang Prabu Praja Permana. Lama kelamaan sang Prabu merasa terpojok karena jurus itu sangat cepat, sehingga sang Prabu sedikit kewalahan mengimbangi gerakan jurus itu.


Hingga sang prabu terkena pukulan jurus itu tepat di punggungnya. Sang Prabu meringis kesakitan.


"Kegh."


Pukulan dari jurus petik api menerkam raga itu meninggalkan bekas di punggungnya, terlihat bekas telapak tangan Pangeran Wira Wijaksana di sana. Selain itu ada sedikit asap yang keluar dari sana.


"Uhokgh."


Sang Prabu terbatuk, dan memuntahkan darah, sehingga terlihat bekas lelehan darah di bibirnya.


"Ahahaha aku lebih unggul dibandingkan kau praja permana. Karena kau dan aku memang pada dasarnya memiliki kekuatan yang berbeda."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sebaiknya kau jangan sombong dulu dinda wira wijaksana. Di atas langit kegh masih ada langit."


Prabu Praja Permana mencoba untuk mengatur tenaga dalamnya yang sempat terkuras. Sebisa mungkin ia tidak panik setelah mendapatkan serangan kuat itu.


Sementara itu di saat yang bersamaan, Selendang Merah juga merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Prabu Praja Permana. Ia tidak bisa konsentrasi lagi saat bertarung dengan Bhayangkara Ra Lilur. Ia meringis kesakitan sambil menyentuh punggungnya yang terasa panas, dan ada lelehan darah yang mengalir di sudut bibirnya?.


"Heh!. Apa hanya segitu saja kepandaian yang dimiliki oleh pendekar pembunuh bayaran?. Sangat memalukan sekali."


"Nini!. Apa yang terjadi?. Mengapa nini terluka seperti itu?."


"Sepertinya. Gusti prabu. Ya gusti prabu."


Tanpa mendengarkan apa yang ditanyakan oleh Kelalawar Hitam, Selendang Merah melangkah cepat memasuki ruang pribadi raja. Tentu Pangeran Wira Wijaksana terkejut, karena ia tidak jadi menyerang Prabu Praja Permana. Sementara itu, Kelalawar Hitam dan Bhayangkara Ra Lilur juga ikut masuk, karena mereka penasaran, mengapa Selendang Merah masuk ke dalam.

__ADS_1


"Nimas rembulan indah?."


"Gusti prabu. Apakah gusti prabu terluka?. Apakah gusti prabu terkena jurus petik api menerkam raga?."


Mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah.


"Bagaimana nimas selendang merah mengetahuinya?. Aku memang terkena jurus itu."


"Demi dewata yang agung. Hamba harus menyalurkan tenaga dalam ke tubuh gusti prabu. Karena jurus itu akan menggerogoti tubuh gusti prabu. Pembuluh darah gusti prabu bisa hancur jika tidak segera diobati."


"Nimas rembulan indah!. Untuk apa kau peduli padanya!. Biarkan saja dia mati!."


Namun Selendang Merah tidak menggubriskan apa yang dikatakan oleh Pangeran Wira Wijaksana. Karena keselamatan Prabu Praja Permana sekarang adalah hal yang sangat penting baginya.


"Gusti prabu. Hamba harap gusti prabu bertahan sebentar. Memang pengobatannya agak memakan waktu. Tapi hamba berharap gusti prabu bisa menahannya."


"Terima kasih nimas selendang merah. Untuk kedua kalinya kau menolongku."


Selendang Merah berdiri di belakang Prabu Praja Permana. Ia menotok beberapa aliran darah sang prabu agar racun dari jurus petik api menerkam raga tidak menyebar. Setelah itu ia salurkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun tersebut. Tentunya bukan hanya menyalurkan tenaga dalam saja. Melainkan dengan jurus totok raga aliran darah, racun itu berhasil dikeluarkan melalui muntahan sang prabu berupa darah kental. Selendang Merah juga mengalami hal yang sama, membuat mereka yang melihat itu merasa aneh.


"Sudah gusti prabu. Dengan begitu gusti prabu baik-baik saja."


"Terima kasih nimas selendang merah. Alhamdulillah aku merasa lebih baikan."


"Syukurlah gusti prabu."


Selendang Merah berdiri di samping Prabu Praja Permana. Sorot matanya menjadi tajam menatap ke arah Pangeran Wira Wijaksana. Sedangkan Kelalawar Hitam segera mendekati Selendang Merah dan Prabu Praja Permana.


Sorot mata itu menatap Pangeran Wira Wijaksana dan Bhayangkara Ra Lilur dengan tajamnya. Ada perasaan berkobar di dalam hatinya saat ini, yang hendak ia sampaikan pada keduanya.


"Wira wijaksana. Berani sekali kau menggunakan jurus petik api menerkam raga pada gusti prabu praja permana. Kau pikir kau saja yang bisa menguasai jurus itu?."


"Sebaiknya kau jangan ikut campur nimas rembulan indah. Jadilah permaisuri ku yang baik. Dan kita kuasai negeri ini dengan cara kita."


"Sebaiknya kau jangan banyak bicara wira wijaksana. Justru aku sangat membenci orang seperti kau!."


"Tidak usah malu-malu nimas rembulan indah. Dulu kau tergila-gila padaku. Bahkan kau sampai cemburu pada nila ambarawati."

__ADS_1


"Cukup!. Tidak usah kau berkata lagi. Itu adalah kesalahan masa laluku!. Setelah aku mengetahui kau menikahi banyak wanita, itu membuat aku semakin ingin membunuhmu."


"Sudahlah nimas rembulan indah. Jangan basa-basi lagi. Mari bergabung denganku, dari pada kau menjadi anjhingnya praja permana yang tidak berguna itu."


"Kau pikir aku sudi ikut denganmu?. Akan aku balas perbuatanmu pada gusti prabu. Akan aku kembalikan jurusmu itu dengan jurus penusuk raga. Dengan kedua tanganku ini, akan aku hukum kau!."


"Nimas selendang merah Sepertinya sangat marah. Entah mengapa aku dapat merasakannya." Dalam hati sang Prabu merasakan perasaan yang membuncah di dalam hatinya saat ini.


"Lakukan saja kalau kau mampu. Meskipun aku belum mempelajari jurus itu. Aku tidak akan kalah begitu saja nimas rembulan indah."


Selendang Merah melompat ke arah Pangeran Wira Wijaksana, sehingga terjadi pertarungan antara mereka berdua. Sedangkan Prabu Praja Permana, Kelalawar Hitam dan Bhayangkara Ra Lilur?.


"Bhayangkara ra lilur. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang telah kau perbuat."


"Aku tidak akan mempertanggungjawabkan apa-apa gusti prabu. Karena pada dasarnya aku hanya mengabdi pada pangeran wira wijaksana."


"Baiklah kalau begitu keinginanmu. Aku terpaksa menangkapmu dan memberikan hukuman padamu."


"Lakukan saja jika gusti prabu mampu. Dalam keadaan terluka seperti itu?. Gusti prabu masih saja ingin bertarung?."


"Gusti prabu. Izinkan hamba untuk menangkap bhajingan busuk itu."


"Tidak apa-apa adimas. Aku masih bisa bergerak, dan kau tetap berada di dekatku. Jika ia berani berbuat curang padaku nantinya."


"Sandika gusti prabu."


Entah tuntunan dari mana, Prabu Praja Permana menggunakan jurus penusuk raga. Jurus yang sama dimainkan oleh Selendang Merah. Tentu saja Pangeran Wira Wijaksana yang melihat gerakan yang sama merasa aneh.


"Sejak kapan kau bisa menguasai jurus itu praja permana?. Jangan-jangan diam-diam kalian bertemu dan kalian mempelajari jurus sama untuk menangkap aku?."


"Kau tidak usah merasa heran seperti itu wira wijaksana. Kami tidak perlu bertemu secara diam-diam karena kami telah sepakat untuk membebaskan negeri ini dari ancaman apapun termasuk dari kau!."


"Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa memainkan jurus ini. Rasanya jurus itu telah melekat di dalam diriku, sejak aku mengenal nimas selendang merah."


Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Itu rasanya sangat mustahil hanya sekedar kenalan saja. Kapan mereka bertemu dan mempelajari jurus yang sama?. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2