
...**...
Kerajaan Sendang Agung.
Tersebar kabar bahwa yang akan menjadi ratu agung adalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Keadaan sedikit menghebohkan, namun ada yang menanggapi dengan baik dan ada juga yang menanggapinya dengan buruk. Tapi apakah keadaan ini akan aman sampai pengangkatan ratu agung nantinya?. Belum ada yang memastikannya.
Namun rakyat sendang agung telah membicarakannya. Mereka masih bimbang, dan ada yang menjamin jika selendang merah yang akan menjadi ratu agung.
"Nini selendang merah?. Nini selendang merah yang telah menyelamatkan desa kita waktu itu?."
"Benar kang. Nini selendang merah akan menjadi ratu agung. Apakah kakang setuju?."
"Sangat setuju atuh. Dia kan orang yang baik. Meskipun bergelar pendekar pembunuh bayaran, namun nyatanya dia yang telah menyelamatkan kita jauh sebelum gusti prabu meminta bantuan dengannya."
"Kalau saya teh seratus persen mendukung atuh. Saya pernah mendengarkan tentang nini selendang merah yang telah mengusir dan bahkan menangkap ketua perampokan itu. Jadi kita tidak perlu lagi untuk mendukung nini selendang merah untuk menjadi ratu agung di kerajaan ini."
"Gusti prabu aja percaya, sampai mau menikah dengan nini selendang merah. Sebagai rakyat kita harus percaya juga dengan apa yang dilakukan gusti prabu."
"Gusti prabu kan baru pertama kali menikah. Jika memang hanya sekedar memilih ratu agung, pasti gusti prabu memilih tuan putri dari kerajaan terkenal. Pasti ada kelebihan yang dimiliki oleh nini selendang merah, hingga dipercayai oleh gusti prabu. Dan bahkan ratu sawitri dewi sama sekali tidak malu memiliki menantu seorang pendekar pembunuh bayaran."
"Benar juga atuh. Sebagai orang yang lahir di kerajaan ini, sudah sepantasnya kita menerima keputusan baik dari gusti prabu praja permana."
Itu adalah komentar mereka yang sangat mendukung Selendang Merah. Namun mereka yang sama sekali tidak mengenali Selendang Merah, mereka masih ragu dengan kondisi kerajaan ini jika rajanya di dampingi oleh seorang pendekar pembunuh bayaran.
"Akan jadi apa negeri ini, jika ratu agung nya dari golongan pendekar pembunuh bayaran."
"Negeri ini akan semakin menderita jika yang akan menjadi ratu agung adalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Bisa-bisa kita akan dibunuh secara diam-diam jika kita tidak mau Patuh dengan apa yang ia katakan."
"Rasanya aku tidak mau memiliki ratu agung seorang pendekar pembunuh bayaran."
"Bagaimana kalau kita melakukan aksi protes pada ratu sawitri dewi. Kita meminta gusti ratu untuk mencari pengganti Selendang Merah yang sama sekali tidak layak mendampingi gusti prabu."
__ADS_1
Mereka semua menyuarakan apa yang tidak mereka sukai. Ada yang menanggapinya dengan baik karena telah mengetahui siapa Nini Selendang Merah. Ada juga yang jahat karena mereka belum kenal dengan Nini Selendang Merah.
...***...
Malam harinya, kawasan Kerajaan Sendang Agung.
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam saat ini sedang mengamati sebuah desa yang diyakini sebagai tempat orang-orang yang melakukan perampokan di malam hari.
"Apakah ini benar tempatnya ayuk?." Kelalawar merasa heran dengan keadaan sekitar.
"Kita harus memastikannya adi." Selendang Merah menatap lurus ke depan. Mata elangnya mencoba menerawang jauh ke depan. "Apakah kau melihat ada banyak orang di depan sana adi?. Sepertinya mereka baru saja ingin keluar dari persembunyian." Selendang Merah menunjuk ke depannya.
"Ayuk benar. Mereka sangat banyak. Mari kita hadapi mereka dengan jurus air samudera menggulung karang." Kelalawar Hitam juga melihat apa yang dilihat kakaknya. Ia tidak menyangka akan sebanyak itu.
Kelalawar Hitam dan Selendang maju, mereka menghadang sekitar 15 orang pemuda yang hendak masuk ke pemukiman warga. Mereka semua sangat terkejut karena dihadang oleh dua orang asing.
"Mau kemana kalian?. Tidak akan aku biarkan kalian berbuat kejahatan di tempat ini." Selendang Merah menatap tajam ke arah mereka.
Namun mereka semua malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.
"Hei!. Kalian itu hanya berdua saja!. Mana mungkin bisa mengalahkan kami!."
"Jangan banyak bicara nini cadar merah!. Aku yakin bibirmu sumbing, sehingga kau menggunakan cadar penutup wajah. Ahaha!."
Mereka malah semakin terbahak-bahak mendengarkan ucapan salah satu teman mereka. Sedangkan Selendang Merah sudah greget ingin menangkap mereka semua.
"Mari kita lakukan dengan cepat adi. Aku sudah muak dengan ucapan mereka." Selendang Merah sudah mulai terbakar amarah.
"Ba-ba-baiklah ayuk." Kelalawar Hitam sedikit terkejut melihat hawa yang menyelimuti tubuh kakaknya itu. "Aku harap malam ini kalian tidak mati di tempat." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa khawatir.
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam langsung menyerang mereka semau. Sehingga terjadi pertarungan di sana. Mereka menggunakan jurus air samudera menggulung karang.
__ADS_1
...***...
Di Istana Kerajaan Sendang Agung.
Prabu Praja Permana sedang melaksanakan sholat isya. Berharap dan berdoa kepada sang pencipta, bahwa akan ada kebaikan yang menyertai kerajaan ini.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Setelah mengucap salam dua kali, sambil memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Prabu Praja Permana berzikir, setelah itu berdoa.
"Alhamdulillah hirabbli'alaminwaasola tu wassalamua asrofil ambiya iwal murssalin nawassah bihiajami'n. Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba, dosa orang-orang muslim. Jauhi lah kami semua dari marabahaya yang akan menimpa negeri ini." Pikiran sang Prabu sangat kacau saat mengetahui jika para kawanan perampok masih saja berbuat kejahatan di negeri yang ia pimpin. "Hamba mohon ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan malam apabila gelap gulita. Lindungilah orang-orang yang berjalan di atas kebaikan. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan ya Allah. Lindungilah nimas selendang merah, serta adimas kelalawar hitam saat ini yang sedang bertarung melawan kejahatan. Hamba mohon padamu ya Allah. Hamba tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka. Robbana zollam na amfusana waaillam taqfirlana lanakunanna minal qhoshirin. Robbana atina fiddunya hasanatau wakina azabannar. Aamiin ya rabbal a'lamiin." Prabu Praja Permana baru selesai melaksanakan sholat isya. Hatinya saat ini merasa gelisah. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Kembali ke pertarungan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam yang hampir saja mengalahkan separuh dari mereka.
"Kurang ajar!. Mereka sangat kuat!."
"Kita tidak boleh menyerah begitu saja!. Mari kita hajar mereka!."
"Maju!. Jangan sampai kita gagal melakukan tugas kita!."
Mereka yang masih tersisa terus mencoba untuk melawan. Namum percuma saja, karena kekuatan mereka tidak seimbang sama sekali. Mereka akhirnya dapat dikalahkan.
"Huh! Dasar orang-orang tidak berguna!." Selendang Merah mendengus kesal.
"Tenanglah ayuk. Mari kita bereskan mereka semua." Kelalawar Hitam hanya tertawa kecil melihat kemarahan kakaknya itu.
Deg!!!
Ketika ingin melangkah, tubuhnya merasa aneh. Apakah yang terjadi pada Selendang Merah?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1