ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PATAH HATI


__ADS_3

...***...


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam telah sampai di Istana Kerajaan Sendang Agung. Mereka benar-benar membawa ketiga orang itu untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatan yang telah mereka lakukan.


"Salam hormat kami gusti prabu."


"Duduklah nimas, adimas."


"Terima kasih gusti prabu."


Prabu Praja Permana sangat senang melihat kedatangan keduanya. Sedangkan yang lainnya sama sekali berlawanan dengan sang prabu.


"Maaf kami agak terlambat kembali gusti prabu. Kami harus mengejar mereka bertiga. Maaf jika kami tidak bisa membawa ketua mereka, karena kami terpaksa membunuhnya."


"Heh!. Katakan saja jika kalian tidak mampu. Hanya bisa mengatasi anak buahnya saja."


"Jika kalian memang membunuhnya, mengapa tidak membawa jasadnya?."


"Kalian ini sungguh tidak sopan. Gusti prabu belum menanggapi laporan kami, tapi malah kalian yang menyanggah laporan kami. Apakah begitu?. Sikap pria agung?. Sungguh sangat memalukan sekali."


Mereka semua terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Sungguh menohok langsung ke ulu hati. Membuat nya ditatap benci oleh mereka semua.


Sedangkan Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam hampir saja tertawa jika tidak melihat kondisi saat ini. "Nimas selendang merah sangat liar biasa. Mereka semua terdiam." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa kagum pada Selendang Merah.


"Nini selendang merah. Mulutnya bukan pedas saat bertarung saja. Saat marah pun, sangat menusuk hati." Kelalawar Hitam bahkan kehilangan kata-kata saat berada pada posisi mereka.


"Lanjutkan laporannya nimas."


"Mohon ampun gusti prabu. Maaf jika hamba tidak bisa membawa jasadnya." Selendang Merah mencoba untuk menenangkan dirinya. " Dari pada membawa jasad yang sudah tidak bernyawa sebagai bukti. Hamba hanya tidak mau istana ini dipenuhi bau busuk bangkai manusia tidak berguna. Di sini saja baunya sudah membuat istana ini sesak."


"Nini, jaga ucapanmu. Jangan mentang-mentang kau seorang wanita. Kau sebenarnya saja berbicara."


"Itulah bukti pendekar itu kurang ajar."


"Kalianlah yang harus menjaga ucapan kalian. Aku ini adalah pendekar pembunuh bayaran. Jika gusti prabu memerintahkan aku membunuh kalian, dengan senang hati aku akan melakukannya."


"Kau benar-benar kurang ajar. Wanita tidak punya sopan santun!."


"Cukup!. Aku tidak mengumpulkan kalian di sini untuk bertengkar. Jika kalian tidak sanggup menghadiri rapat ini, sebaiknya angkat kaki dari ruangan ini."


"Maafkan kami gusti prabu."


"Baiklah. Laporan dari nimas selendang merah telah aku terima. Bagus jika nimas dapat mengatasi masalah di sana." Prabu Praja Permana hanya tidak ingin mereka bertengkar saat rapat diadakan. "Terima kasih aku ucapkan pada nimas selendang merah, juga adimas kelalawar hitam."

__ADS_1


"Kami melakukannya demi perintah gusti prabu."


"Baiklah. Kalau begitu tinggal beberapa desa lagi yang harus kita amankan. Mereka harus mendapatkan pengaman yang baik dari istana. Jadi jangan biarkan para kawanan perompak berkuasa di negeri ini."


"Sandika gusti prabu."


Setelah itu mereka meninggalkan tempat, kecuali Selendang Merah yang masih tinggal bersama Prabu Praja Permana.


"Apa yang hendak nimas sampaikan?. Katakan saja."


"Mohon maaf gusti prabu. Jika diperbolehkan, hamba ingin ke desa lembung basa."


"Apa yang hendak nimas lakukan di sana?. Apakah nimas ingin melakukan sesuatu di sana?."


"Hamba hendak menemui anak hamba di sana. Maaf jika hamba lancang menitipkan putra hamba di sana gusti prabu."


"Jadi nimas telah mempunyai anak?. Siapa ayahnya?. Apakah nimas sudah menikah?."


"Apakah aku harus berkata jujur pada gusti prabu?." Dalam hatinya merasa gelisah. Karena ia tidak mungkin mengatakan jika anak itu adalah... "Benar gusti prabu. Hamba sudah menikah, akan tetapi ayahnya belum kembali, karena pekerjaannya yang membuatnya tidak bisa kembali dalam waktu yang dekat. Maafkan hamba yang tidak bisa berkata jujur pada gusti prabu."


"Tidak apa-apa nimas. Jika nimas memang ingin melihat keadaannya, maka nimas boleh ke sana. Tapi nimas harus segera kembali."


"Terima kasih gusti prabu. Hamba berjanji akan segera kembali."


"Tapi bagaimana jika suami nimas kembali, akan tetapi nimas juga putranya tidak ada di rumah?."


"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah saat ke sana."


"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu. Hamba mohon pamit, sampurasun."


"Rampes."


Prabu Praja Permana merasa gemuruh. Wanita bercadar yang telah mencuri hatinya, ternyata telah mempunyai pendamping hidup, dan bahkan memiliki anak?.


"Maafkan aku gusti prabu. Aku terpaksa berbohong. Karena aku yakin, gusti prabu akan menyampaikan berita ini pada pangeran wira wijaksana. Hamba hanya tidak ingin, jika ia terus menerus mengejar hamba." Memang ada perasaan bersalah di dalam hatinya. Tapi ia terpaksa melakukan itu, agar merasa aman berada di istana ini.


...***...


Di suatu tempat. Nila Ambarawati atau nama lainnya Setan Selendang Jingga kematian mendapatkan kabar, jika anak buahnya Setan Tombak Pencabut Nyawa telah tewas dibunuh oleh Selendang Merah.


"Kurang ajar sekali dia. Beraninya dia membunuh anak buahku. Ilmu kanuragan yang ia miliki memang tidak mudah untuk diatasi."


"Lalu apa yang akan kau lakukan, jika kau telah mengetahui kelebihan yang ia miliki?."

__ADS_1


"Tentu saja aku harus lebih memperdalam ilmu kanuragan yang telah guru berikan padaku. Aku akan membunuhnya setelah aku menguasainya dengan sempurna."


"Bagus. Kau harus mempelajarinya dengan serius lagi. Jika kau berhasil mempelajarinya dengan baik, maka aku akan menambah satu jurus andalan milikku."


"Benarkah itu guru?. Apakah aku akan mendapatkan jurus baru lagi?."


"Tentu saja kau akan mendapatkannya. Tentunya kau ingin membalaskan kematian anak buahmu bukan?."


"Tentu saja guru. Bukan hanya dendam anak buah saja. Tapi wanita itu harus membayar penderitaan yang aku alami selama ini guru."


"Kalau begitu tetapkan lah pikiranmu. Jangan sampai bercabang, hanya karena kau terlalu bernafsu untuk menghabisinya. Nanti kau yang akan merasa rugi sendiri."


"Pesan guru akan aku ingat dengan baik. Terima kasih banyak guru."


"Kau tidak usah berterima kasih padaku. Jika perlu, aku sendiri yang akan membantumu."


"Suatu kehormatan bagiku mendapatkan bantuan dari guru."


Jurus apa yang akan diterima oleh Setan Selendang Jingga kematian?. Temukan jawabannya.


...***...


Di Wisma Prajurit.


"Jadi nimas akan ke desa lembung basa?. Apakah aku boleh ikut?."


"Sepertinya aku tidak bisa mengajakmu. Karena anakku tidak bisa bertemu dengan orang asing."


"Anak?. Jadi nimas telah menikah?."


"Aku telah menikah. Tapi putraku tidak bisa aku bawa, jadi aku ke desa lembung basa untuk menemuinya."


"Baiklah kalau begitu. Aku harap nimas segera kembali karena aku tidak mau menjadi pusat perhatian para lelaki agung di istana ini."


"Aku hanya pergi sebentar saja. Aku hanya ingin memastikan keadaan putraku aman-aman saja."


"Berhati-hatilah nimas. Aku akan menunggu sampai nimas kembali."


"Aku pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Selendang Merah meninggalkan Kelalawar Hitam yang tidak percaya sama sekali. "Jadi nimas selendang merah telah menikah?. Jadi aku tidak bisa lagi mengatakan perasaanku padanya?." Dalam hatinya merasa sedih, karena orang yang ia cintai telah memiliki pendamping hidup.

__ADS_1


Apa yang terjadi?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2