
...***...
Selendang Merah baru saja sampai ke pondoknya, dan hari hampir malam, karena pondoknya cukup jauh di pedalaman hutan.
"Ibundaaaaaaa." Seorang anak remaja lelaki menyambutnya. Suara itu sangat ceria menyebut ibunya. Senyuman sumringah menyapa ibundanya dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa.
"Andara wijaya putra ibunda." selendang merah membuka kain merah penutup wajahnya, ia menyambut pelukan anaknya.
"Maafkan ibu karena pulang agak lama." Selendang Merah alias Rembulan Indah tersenyum lebar menatap putranya.
"Tidak apa-apa ibunda. Ibunda sudah mengatakannya sebelum pergi." Andara Wijaya selalu mengerti mengapa ibundanya selalu pulang terlambat. Jadi ia tidak akan merasa sedih atau kecewa lagi. Tapi, hal yang penting adalah, ia selalu merasa bahagia saat ibundanya pulang. Ia tidak akan melewatkan waktu berharga bersama ibundanya.
"Ibunda pasti lelah. Kalau begitu ibunda beristirahatlah. Aku yang akan membawakan minuman untuk ibunda." Andara Wijaya mengiring ibundanya untuk duduk di kursi yang ada di dalam pondok. Andara Wijaya selalu memperlakukan ibundanya dengan baik, hingga membuat Rembulan indah merasa terharu.
"Terima kasih ya nak. Kau memang anak ibunda yang sangat baik." Senyuman Rembulan Indah sangat tulus, ia bersyukur anaknya memiliki sifat yang perhatian padanya.
"Siapa dulu dong ibundanya." Balas Andara dengan semangat. Tak lupa senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tampannya, meski di umurnya yang remaja, anaknya dianugerahi wajah yang tampan luar biasa.
"Aku harap suatu hari kau tidak akan kecewa padaku, jika kau mengetahui siapa kau sebenarnya nak." Namun disisi lain, hatinya merasa sedih karena mengingat masa lalu yang pahit.
Terlebih lagi, ia tidak menyangka setelah delapan belas tahun berlalu. Dan ia bertemu lagi dengan Nila Ambarawati?. Apa yang akan terjadi jika ia mengetahui jika anaknya masih hidup?. Apa yang akan terjadi jika Andara Wijaya suatu hari nanti bertemu dengan ibu kandungnya?.
Rembulan indah hanya berharap hal baik-baik untuk Andara Wijaya, hatinya berat untuk mengatakan kebenaran itu. Ia hanya takut, jika Andara Wijaya malah membenci dirinya. Ia takut membayangkan hal mengerikan itu terjadi. Sebisa mungkin ia menekan perasaan sedih itu di hatinya yang sedang gundah saat ini.
...***...
__ADS_1
Sementara itu disisi lain. Di sebuah pondok.
Kelompok setan jahat sedang membicarakan selendang merah. Pertarungan mereka pada malam itu tidak bisa diterima begitu saja. Kekalahan memalukan yang mereka terima malam itu, benar-benar sangat memalukan. Apa yang akan mereka lakukan jika kelompok penjahat lainnya mengetahui informasi itu?. Pasti sangat memalukan.
"Memangnya siapa dia yunda?." Meskipun bukan kakak kandung, setan Cambuk Neraka tetap menghormati Setan Selendang jingga kematian yang lebih tua darinya.
"Benar nini. Aku baru melihatnya. Gayanya yang sombong membuatku kesal." Setan Sabit Jahanam tidak akan pernah melupakan gaya wanita bercadar merah itu.
"Apakah nini mengenalinya?." Begitu juga dengan Setan Tombak Pencabut Nyawa yang penasaran, mengapa wanita misterius itu tau nama asli setan selendang jingga kematian?.
Setan selendang jingga kematian atau nama aslinya adalah Nila Ambarawati menghela nafasnya pelan, apakah ia harus mengatakannya pada mereka?. Setan selendang jingga kematian bangkit dari duduknya. Ia belum menjawab pertanyaan mereka, ia berjalan pelan membelakangi mereka.
Rasa sakit dimasa lalu membuatnya kehabisan kesabaran, sehingga ia tidak tahu harus dari mana menceritakannya. Ia membalikkan badannya, melihat mereka semua yang penasaran dengan masa lalunya, juga dendam masa lalunya yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Wanita itu dulu seperguruan denganku. Dia merebut segalanya dariku, kekasihku, guruku, dan dia telah menghina harga diriku." Amarah, sakit hati, keluar begitu saja saat ia mengatakan semua yang ia rasakan.
Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain. Sejahat itukah wanita itu pada ketua mereka?. Apa yang membuat mereka akhirnya saling bermusuhan jika sebelumnya mereka adalah teman seperguruan?.
"Lalu apa yang akan kami lakukan yunda?. Apakah kami boleh membantu yunda menghabisi nyawanya?." Seakan merasakan kemarahan itu, Setan Cambuk Neraka ingin membunuh wanita itu.
"Jika memang kalian ingin menghabisinya. Kalian harus menambah kekuatan kalian. Memang aku akui wanita itu masih kuat." Setan Selendang Jingga Kematian tidak meremehkan kekuatan Rembulan indah saat ini.
"Dia memiliki beberapa jurus mematikan yang ia curi dari guruku. Diantaranya jurus elang pencakar sukma, jurus bidadari menyambar pelangi. Juga jurus yang memang ia kuasai kemarin jurus air samudera menggulung karang, yang ia gabung dengan jurus selendang menyapu angin." Setan Selendang Jingga Kematian mengingat semua jurus-jurus mematikan itu.
"Jurus-jurus itu tidak bisa dianggap enteng. Dia wanita yang cerdas, mudah mempelajari jurus apa saja. Bahkan dia bisa meniru jurus lawan jika terdesak. Itulah kemampuan rembulan indah yang paling aku benci." Ucapnya dengan penuh kemarahan yang luar biasa. "Kalian harus lebih berhati-hati saat berhadapan dengannya. Jangan sampai dia meniru jurus kalian." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Benar-benar musuh yang merepotkan." Setan Tombak Pencabut Nyawa baru kali ini mendengarkan kehebatan seorang pendekar wanita yang ahli dalam menggunakan kemampuannya.
"Selain itu, dia juga memiliki mata elang. Mata yang mampu membaca titik kelemahan musuh, jadi jika berhadapan dengannya kita harus waspada. Jika tidak, kita akan kewalahan menghadapinya." penjelasan dari setan selendang jingga kematian membuat mereka semakin keheranan. Pendekar wanita yang sangat sempurna sekali ilmu kanuragan serta ilmu kadigdyaan yang ia miliki.
Itu artinya, mereka akan kesulitan menghadapi wanita itu?. Termasuk Setan Selendang Jingga kematian sendiri?.
"Lalu bagaimana caranya mengatasi wanita itu nini." Setan Tombak Pencabut nyawa bertanya pada ketuanya. Apakah sesempurna itu, wanita yang menjadi musuh ketuanya, hingga tidak ada titik kelemahan yang membuat mereka dapat mengalahkannya?.
"Tapi yang harus kita waspadai adalah, dia yang nantinya akan menjadi penghalang kita nantinya, dalam menaklukkan daerah kekuasaan prabu praja permana. Mengingat dia adalah musuhmu yunda, ada kemungkinan dia akan bergabung dengan sang prabu." Setan Cambuk Neraka memikirkan kemungkinan itu terjadi nantinya.
"Kita harus memikirkan kemungkinan itu juga. Akan merepotkan jika itu terjadi." Setan Selendang Jingga kematian merasa geram memikirkan kemungkinan buruk itu terjadi.
"Kalian boleh berguru pada siapa saja. Tambah kesaktian kalian, dan cari tahu kelemahan mata elang itu." Hanya itu yang dapat dikatakan oleh Setan Selendang Jingga Kematian. Ia sendiri mungkin akan mencari guru baru, untuk belajar ilmu Kanuragan baru, atau dari gurunya yang menolongnya di masa lalu?.
"Jadi, untuk sementara waktu kita berpisah dulu. Tapi jangan lupa dengan tugas kalian, untuk membuat onar di desa-desa untuk memancing prabu bodoh itu keluar." Ucapnya dengan berat hati karena berpisah dengan anak buahnya.
"Baiklah nini. Jika itu saran yang terbaik untuk saat ini." Setan Tombak Pencabut Nyawa mengerti situasinya.
"Kami akan melakukan sebaik-baiknya. Kami akan terus melakukan kejahatan, memancing prabu bodoh itu keluar dari istananya." Setan Sabit Jahanam memiliki ambisi jika menyangkut kejahatan.
"Yunda tenang saja. Kami pasti akan melakukannya dengan baik." Setan Cambuk Neraka tidak mau kalah dari mereka semua. Ia juga memiliki semangat untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Apakah rencana mereka berhasil? Baca terus ceritanya.
...***...
__ADS_1