
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam telah kembali ke istana dengan selamat. Selendang Merah langsung menemui Ratu Sawitri Dewi, karena memang permintaan Ratu Sawitri Dewi yang ingin berbicara dengannya.
"Hormat hamba gusti ratu. Sampurasun."
"Rampes." Ia memberi kode pada Selendang Merah untuk duduk di hadapannya. "Aku ingin mendengarkan cerita darimu nini. Aku telah bertemu dengan anakmu."
"Hamba akan mengatakan kebenarannya gusti ratu. Maaf jika hamba telah mengecewakan gusti ratu."
"Aku justru berterima kasih padamu nini. Karena nini telah menyelamatkan nyawa anak yang tidak berdosa. Nini dengan lapang hati, mau membesarkan anak itu. Dan bahkan memberikan nama yang sangat bagus padanya."
"Hamba hanya kasihan gusti ratu. Hamba akan menyesal seumur hidup, jika hamba tidak membawa anak yang tidak berdosa itu gusti ratu. Langkah hamba akan dikutuk, jika hamba tidak menyelamatkannya waktu itu. Hamba akan dihantui dosa besar, jika hamba mengabaikan tangisannya waktu itu gusti ratu."
Kembali ke masa itu.
__ADS_1
Rembulan indah saat ini sedang dikuasai oleh kemarahan yang luar biasa. Setelah ia menghajar habis-habisan Jaya Estu beberapa hari yang lalu. Dan kini ia sedang mencari keberadaan Nila Ambarawati yang sekarang entah berada di mana. Namun ia ingat, ada sebuah tempat yang dikatakan oleh Nila Ambarawati. Tempat mereka memadu cinta.
"Cuih. Rasanya aku mau muntah mendengarkan wanita ****** itu mengatakan tempat memadu cinta. Dasar tidak berguna. Semoga saja dia ada di sana!." Ia mencari Nila Ambarawati, karena ia juga ingin menghajar wanita itu. Ia sangat merasa terhina dengan apa yang telah mereka lakukan padanya.
Begitu ia sampai di sana. Ia tidak melihat wanita itu, hatinya semakin sakit. Karena merasa dipermainkan oleh mereka. Tempat itu kosong, tidak ada satupun orang di sana. "Bedebah!. Aku akan mencari keberadaannya sampai ketemu!." Ia sangat marah, hatinya merasa sakit yang luar biasa. Akan tetapi, saat ia hendak meninggalkan tempat itu, ia mendengar suara tangis bayi.
"Suara bayi?. Dari mana asalnya?." Telinganya mencoba untuk menangkap dimana asal suara itu. Ketika ia mendekati tempat itu, ternyata berasal dari arah belakang tempat itu. Matanya terbelalak terkejut, karena melihat keadaan bayi yang berdarah-darah. Bukan hanya itu saja yang membuat ia terkejut, bayi itu dikerumuni semut.
"Demi dewata yang agung!. Kenapa kondisi bayinya seperti ini." Ia segera mengambil bayi yang hanya beralaskan kain tipis saja?. "Benar-benar tidak punya otak. Akal pikirannya sudah mati rasa!. Apakah wanita ****** itu melahirkan di sini?." Ia terus saja mengumpat marah. Namun matanya meneteskan buliran putih, hatinya bergetar sakit melihat keadaan bayi malang itu. Bayi malang yang menjerit kesakitan, dan tangisnya itu sangat pilu.
Kembali ke masa ini.
Selendang Merah dan Ratu Sawitri Dewi sama-sama menangis. Mereka merasa sedih, dan tidak bisa disembunyikan perasaan sedih itu.
"Tidak bisa aku bayangkan, bagaimana kau membesarkannya saat itu. Rasa sakit hati yang kau terima dari pengkhianatan mereka terhadapmu."
__ADS_1
"Hamba telah berjalan di kegelapan, hanya untuk melampiaskan rasa sakit hati hamba gusti ratu. Tapi bagi hamba, andara wijaya adalah tempat hamba untuk kembali, putra kecil hamba yang memberikan hamba cahaya harapan. Karena itulah hamba tidak bisa mengatakannya pada pangeran wira wijaksana, jika anaknya masih hidup." Selendang Merah mencoba untuk menahan tangisnya. "Hamba tidak mau berpisah dari andara wijaya. Bagi hamba dia adalah anak hamba yang paling berharga dari apapun itu. Hamba sangat menyayanginya sebagai anak kandung hamba. Hamba tidak mau berpisah darinya gusti ratu."
Ratu Sawitri Dewi dapat merasakan ketulusan dari setiap kata yang diucapkan oleh Selendang Merah. Bahwa ia sangat tulus membesarkan Andara Wijaya tanpa memikirkan bagaimana kesakitan dan pengkhianatan kedua orang tua kandung Andara Wijaya padanya. "Kau adalah orang yang kuat. Kau bangga dengan apa yang kau lakukan. Karena itulah aku tidak meragukan kau menjadi ratu agung di kerajaan ini."
Tidak ada tanggapan dari Selendang Merah. Namun perasaan sayangnya pada Andara Wijaya itu sangat nyata. Ia tidak akan menyerahkan Andara Wijaya pada siapapun juga. Sedangkan Prabu Praja Permana, Kelalawar Hitam, Andara Wijaya dan Sandi Praha yang mendengar itu merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Selendang Merah.
"Ibunda. Aku juga sangat menyayangi ibunda. Karena itulah, aku tidak mau berpisah dari ibunda. Jangan tinggalkan aku ibunda." Dalam hati Andara Wijaya sangat berharap, jika ibundanya akan selalu bersama dirinya.
"Sungguh. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan nimas saat itu. Pasti sakit rasanya dikhianati oleh orang yang dicintainya. Asmara diujung waktu. Baginya hanyalah sebuah pengkhianatan yang membuat hatinya hancur berantakan." Prabu Praja Permana juga merasakan betapa sakitnya hati Selendang Merah. Dan disaat yang bersamaan, ia juga merasakan kelapangan hati Selendang Merah membesarkan Andara Wijaya. "Mungkin wanita lain tidak akan melakukan apa yang dilakukan oleh nimas selendang merah. Aku sangat yakin, mereka akan menulikan pendengaran mereka. Karena sakit hati yang mereka rasakan. Namun nimas selendang merah malah dengan tabah membesarkan anak itu seorang diri." Ada rasa simpati yang luar biasa ia rasakan ketika membayangkan, bagaimana seorang wanita membesarkan seorang anak dengan ketulusan cinta dan kasih sayang yang ia berikan.
"Ayuk. Sungguh kau adalah wanita yang sangat hebat. Aku sangat bangga memiliki saudara sepertimu ayuk. Rasanya aku ingin membunuh kedua orang yang telah memberikan luka pada ayuk." Hati Kelalawar Hitam merasa sakit mendengarkan cerita itu. "Sampai hati wanita setan itu menelantarkan anak yang telah ia lahir kan ke dunia ini. Ah namanya juga setan, mana mungkin ia memiliki hari nurani kecuali kesenangan saja." Rasanya Kelalawar Hitam hampir saja tertawa mengingat bagaimana perangai wanita itu. "Sungguh malang sekali anak yang lahir dari rahim wanita itu." Dalam hatinya merasa simpati pada Andara Wijaya.
"Kau memiliki kisah yang luar biasa andara wijaya. Namun kau masih beruntung, karena memiliki orang yang mencintaimu dengan tulus. Seorang wanita yang mengorbankan hidupnya hanya untuk membesarkan mu dengan penuh cinta. Sedangkan aku?. Aku malah langsung dicap anak rampok, anak maling. Kita memiliki perbedaan hidup. Meskipun sama-sama pahit, setidaknya kau memiliki seorang ibu yang sangat mencintai dirimu. Sangat berbeda dengan aku." Sandi Praha merasakan kecemburuan yang luar biasa. Kasih sayang yang selalu ia dambakan.
Jangan lupa jempolnya, vote, kasih hadiah. Plus komen, biar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Bukan ngemis, hanya saja pemacu semangat bias up crazy.
__ADS_1
...***...