
...***...
Prabu Praja Permana menunggu jawaban dari Selendang Merah. Apa yang akan ia jawab?. Ia juga bingung mau menjawab apa. Apakah ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Prabu Praja Permana?.
"Nimas. Katakan padaku. Apa yang yang terjadi sebenarnya?. Mengapa ketika kau mengalami luka itu?. Aku juga itu terkena luka yang sama?."
"Aku juga ingin mengetahuinya. Karena aku belum lama mengenal dunia hitam ini."
Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam menuntut jawaban dari Selendang Merah. Namun tiba-tiba saja ada seseorang melompat ke arah mereka.
"Ayahanda."
Spontan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam memanggil ayah pada lelaki itu.
"Kau?. Kenapa kau memanggil ayahanda pada ayahandaku?."
"Dia adalah ayahandaku."
"Kalian berdua adalah anakku."
Untuk sementara waktu Prabu Praja Permana mengurung niatnya untuk mengatakan apa yang menjadi pertanyaan di dalam hatinya. Karena ia melihat ada pertemuan keluarga saat ini.
"Apa maksud ayahanda?."
"Ketika kau pergi meninggalkan rumah. Ibumu hamil, dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan anak laki-laki itu adalah pemuda yang berdiri di sampingmu saat ini."
"Itu tidak mungkin kan ayahanda?."
"Tentu saja itu mungkin putraku. Karena yundamu pergi sebelum kau lahir. Dia telah memilih untuk meninggalkan rumah. Selain itu ia memutuskan untuk menjadi seorang pendekar pembunuh bayaran, dengan julukan selendang merah penebar maut."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam saling bertatapan satu sama lain. Mereka hanya ingin memastikan, kebenaran apa yang dikatakan oleh lelaki itu pada mereka.
"Jadi kau adalah adikku?."
"Kau adalah yundaku?."
"Rasanya sangat mustahil."
"Ayahanda ingin menjemput kalian. Karena saatnya kalian kembali pulang."
__ADS_1
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam tidak percaya, jika tujuan ayahanda mereka datang adalah menjemput keduanya?. Sementara itu, bagaimana dengan janji mereka pada sang Prabu?.
"Mohon ampun ayahanda. Masih ada yang harus kami kerjakan sebelum kami pulang."
"Jadi kalian masih ingin meneruskan janji kalian pada gusti prabu praja permana?."
"Tentu saja ayahanda. Kami telah bersumpah pada gusti prabu. Bahwa kami akan mengabdi sampai masalah ini selesai."
"Putriku selendang merah. Ayahanda harap kau tidak menyesal dengan apa yang telah kau putuskan. Dan janganlah engkau melihat ke depan, atau menoleh ke belakang. Jika suatu hari nanti terjadi kesalahan dengan kontrak yang telah kau ciptakan."
"Tentu saja tidak ayahanda. Aku telah bersumpah, akan mengabdi pada gusti prabu dengan sungguh-sungguh."
"Baiklah, jika memang itu telah menjadi keputusan kalian. Maka ayahanda tidak bisa memaksa kalian pulang untuk saat ini."
"Terima kasih ayahanda. Terima kasih telah memahami apa yang telah kami putuskan hari ini."
"Sebagai seorang ayah, aku sangat percaya dengan perjalanan yang akan kalian lalui."
"Gusti prabu. Aku percayakan putriku pada gusti prabu."
"Aku akan berusaha menjaga kepercayaan paman."
Setelah itu, Laki-laki yang sama seklai tidak diketahui identitasnya itu pergi meninggalkan mereka semua dengan cepat. Tentu saja menjadi pertanyaan bagi Prabu Praja Permana.
"Nimas, adimas kelalawar hitam. Tolong jelaskan kepadaku, apa yang baru saja terjadi?. Siapa lelaki tadi?. Katakan padaku semuanya."
"Mohon ampun gusti prabu. Yang datang menghampiri kami tadi adalah ayahanda kami. Meskipun hamba sendiri tidak menyangka jika nini selendang merah adalah kakak hamba. Namun tidak mungkin laki-laki tadi berbohong, dan nini selendang merah juga berbohong dan mengaku-ngaku anak dari ayahanda burung hantu."
"Hamba juga tidak menyangka gusti prabu. Jika ayahanda burung hantu masih mencari keberadaan hamba. Dan untuk masalah luka yang hamba dan gusti alami. Hamba mohon waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi gusti prabu."
Prabu Praja Permana menghela nafasnya dengan pelan. "Baiklah nimas selendang merah. Tapi lain kali jelaskan padaku penyebab dari semua ini. Aku harap nimas lebih berhati-hati lagi dalam bertindak, jika nimas tidak ingin membunuhku dengan cara yang sama sekali tidak aku ketahui."
"Mohon ampun gusti prabu. Tidak pernah terniat dalam hati hamba untuk membunuh gusti prabu. Hamba justru ingin melindungi gusti prabu dari masalah yang ada di negeri ini."
"Kalau begitu aku pegang ucapanmu nimas selendang merah."
Masalah di desa itu selesai. Namun suasana hati sang Prabu masih gelisah, karena ia belum menemukan jawaban dari teka-teki, mengapa ia juga mengalami luka yang sama dengan Selendang Merah?.
Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Ratu Sawitri Dewi saat ini sedang menatap sendang, yang merupakan sumber mata air bagi kerajaan ini. Ia melihat mata air itu dengan tatapan sedih.
"Kenapa kanda prabu meninggalkan aku seorang putra yang membuat uru hara di kerajaan ini?. Mengapa pada saat itu kanda prabu terpikat oleh kecantikan wanita itu?." Dalam hatinya sangat sedih, mengingat kembali apa yang telah terjadi.
"Dan sekarang ia berniat ingin mengambil kerajaan ini, setelah ia tidak diterima oleh rakyat sendang agung. Sementara itu, putraku praja permana sedang berusaha untuk memperbaiki kondisi negeri ini dengan baik." Ia ingat dengan apa yang dikatakan oleh anaknya. Ia hanya berharap anaknya mampu mengatasi masalah di negeri ini dengan cepat.
"Ya Allah. Berikanlah ketabahan pada diri hamba, serta putra hamba untuk menghadapi cobaan hidup ini."
Hatinya sangat berharap, akan ada seseorang yang membantu anaknya mengatasi masalah yang ada. Namun saat itu, kedua istri Pangeran Wira Wijaksana kembali mendatangi dirinya.
"Mohon ampun ibunda ratu. Apakah kami mengganggu ibunda ratu?."
"Jika kalian berdua ingin menyampaikan masalah putraku wira wijaksana. Aku harap kalian lebih bersabar, setelah putraku kembali. Aku belum bisa memutuskan masalah ini sendirian."
"Kami hanya tidak tahan lagi ibunda ratu. Kami tidak tahan lagi dengan sikap kanda pangeran."
"Jangankan kalian sebagai istrinya. Aku sebagai seorang ibu, berusaha untuk meyakinkan hatiku, aku mencoba untuk bertahan dalam rasa sakit. Aku harap kalian lebih bersabar lagi."
"Sandika ibunda ratu. Semoga kami bisa menguatkan hati kami ibunda ratu."
Sudah beberapa kali kedua istri Pangeran Wira Wijaksana melaporkan berita hal yang sama. Jika Ratu Sawitri Dewi menuruti amarahnya. Pasti akan ia lampiaskan kemarahannya kepada anaknya Pangeran Wira Wijaksana. Namun putranya Prabu Praja Permana mengatakan untuk tetap bersabar. Meskipun hatinya merasa sakit, namun sebisa mungkin ia akan menahan perasaan sakit hatinya.
...***...
Kembali pada Prabu Praja Permana. Karena masalah di desa itu telah selesai, mereka memutuskan untuk kembali ke istana Kerajaan Sendang Agung. Mereka akan menghadapi masalah baru. Karena masih banyak desa yang harus mereka selamatkan dari kekejaman para kawanan perampok.
"Apakah gusti prabu akan kembali ke istana?. Atau gusti prabu ikut dengan kami?."
"Untuk saat ini kita sama-sama Kembali ke istana. Karena ada hal penting yang harus aku urus bersama kalian."
"Sandika gusti prabu. Kami akan ikut bersama gusti prabu."
"Sandika gusti prabu. Kami akan kembali bersama gusti prabu, jika kami diperlukan di istana kerajaan sendang agung."
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1