ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
DESA LAYANG


__ADS_3

...***...


Saat ini Selendang Merah dan Kelalawar Hitam sedang mengamati desa Layang dari kejauhan. Sesuai dengan perintah Prabu Praja Permana. Bahwa mereka akan membasmi kejahatan yang sedang mengincar desa tersebut.


"Apakah kita akan bergerak sekarang?. Apakah kita tidak akan membahayakan mereka nantinya?." Kelalawar Hitam saat ini sedang berada di atas pohon, sambil mengamati kondisi desa yang sangat sepi. Seperti nama julukannya, Kelalawar, ia bergantungan di atas pohon seperti Kelalawar sungguhan. Mengamati apa yang ada di depan matanya dengan tatapan yang sangat tajam, seperti sedang mengincar mangsanya.


"Sebaiknya kita amati saja dulu. Aku ingin memastikan jumlah mereka berapa. Setelah itu baru kita bertindak. Supaya kita tidak salah dalam perhitungan nantinya." Selendang Merah tidak ingin gegabah dalam bertindak.


"Baiklah. Kalau begitu kita menyamar jadi penduduk sekitar saja. Aku juga ingin mengetahui, seberapa besar kekuatan kawanan perampok yang mengambil alih desa ini." Kelalawar Hitam melompat turun.


"Aku setuju. Tapi kita harus berganti pakaian. Aku tidak mau kita dikenal oleh mereka." Selendang Merah tentunya harus mengubah penampilannya. Agar mereka tidak dicurigai oleh musuh mereka nantinya.


"Baik nini." Kelalawar Hitam sangat setuju. "Akan berbahaya jika kita langsung ketahuan." Lanjutnya lagi.


Setelah itu mereka pergi ke suatu tempat untuk menggantikan pakaian mereka. Dan mereka akan menyamar menjadi rakyat di sini. Mengamati apa saja yang sebenarnya dialami oleh desa Layang.


Bisakah mereka menyelesaikan masalah yang terjadi di desa Layang?. Temukan jawabannya.


...***...


Disisi lain. Sang Prabu sedang melakukan pertemuan dengan menteri-menteri Istana yang terhormat.


"Saya akan memaafkan apa yang telah kalian lakukan." Ucapnya dengan perasaan bercampur aduk. "Saya telah mengamati apa saja yang telah kalian lakukan."


Tentunya mereka sangat terkejut dan tidak menyangka. Ternyata sang Prabu hanya beralasan mengembara, namun ternyata diam-diam malah mengamati apa yang mereka lakukan?.


"Demi mengembalikan keseimbangan tatanan tahta ini. Saya sangat berharap kita semua bisa lebih bertanggungjawab lagi." Sang Prabu menatap mereka satu persatu. "Sebagai orang yang memiliki kelebihan, untuk mengatur hal yang lebih tinggi dari yang lainnya. Saya harap kalian tidak merasa terbebani dalam menjalani tugas ini. Karena hanya kita yang mampu melakukan itu semua demi bersama." Ucap sang prabu dengan harapan, mereka mau berubah.


"Sandika gusti prabu." Mereka akhirnya mengalah, dan mengakui apa yang telah mereka lakukan selama ini.


"Paman arya serupa. Saya harap paman mencatat dengan baik, semua hasil pajak yang telah tersimpan. Serta hasil denda dari pejabat istana yang ketahuan telah menyalahgunakan kekuasaan mereka." Sang Prabu sangat serius untuk menghentikan apa yang telah dilakukan oleh para pejabat Istana.

__ADS_1


"Sandika gusti prabu." Menteri keuangan, Arya Serupa mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh Sang Prabu.


"Paman mandala restu. Saya harap paman menghitung semua bahan pangan yang masuk ke dalam lumbung istana. Jika berlebih dari yang seharusnya, nanti saya minta data warga desa yang harus dibantu untuk meringankan beban mereka."


"Sandika gusti prabu. Akan hamba lakukan dengan sebaik-baiknya." Mandala Restu memahami dengan baik, tugas yang diberikan sang Prabu.


"Kerajaan ini benar-benar harus segera diperbaiki. Rakyatnya harus diperhatikan." Ucap sang Prabu sambil menatap jauh ke depan. "Untuk masalah keamanan, dua orang kepercayaan saya sedang bertugas saat ini di desa layang. Untuk melihat dan memastikan desa itu aman." Ucapnya lagi.


Mereka semua yang hadir benar-benar menyimak apa yang disampaikan oleh sang Prabu. Mereka tidak menyangka, jika Raja baru ini benar-benar memperhatikan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang Raja.


"Ya Allah. Semoga saja nimas selendang merah, juga adimas kelalawar hitam mampu mengatasi masalah mereka dengan baik." Dalam hati Prabu Praja Permana sangat khawatir. Ia cemas dengan keadaan mereka berdua.


Apakah mereka berdua akan berhasil mengatasi masalah tersebut?. Mari lihat bersama.


Kembali pada Selendang Merah dan Kelalawar Hitam yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Mereka tidak mengenakan penutup wajah. Karena akan berbahaya jika mereka berbeda dari yang lainnya.


Saat ini mereka sedang mencari informasi, siapa saja kawanan perampok itu. Keduanya berada di pasar yang agak sepi dari yang biasanya, karena penduduk takut dengan ancaman kawanan perampok itu.


"Pasarnya kok sepi begini ya yunda. Tidak biasanya." Kelalawar hitam yang sengaja berkata agak sedikit keras. Hingga ia didekati oleh seorang bapak-bapak yang kebetulan seorang pedagang.


"Memangnya ada apa pak?. Kenapa memangnya?." Kelalawar Hitam bertanya karena penasaran.


"Desa ini dikuasai oleh sepuluh orang kawanan perampok den. Namun ketua mereka tidak ada di tempat."


"Ketua?. Kemana ketuanya pak?. Tidur?."


"Hush, jangan ngawur. Ketuanya itu katanya lagi keluar desa ini, karena mau menambah ilmu kanuragan. Gitu kabar yang beredar."


"Jika ketuanya tidak ada ditempat, mengapa tidak melawan?."


"Kami sudah mencoba melawan den. Tapi tetap saja kami keok melawan anak buahnya yang berani main keroyokan. Kami tidak berani menghadapi mereka."

__ADS_1


"Jadi begitu?. Terima kasih informasinya pak. Kami akan berusaha untuk mengatasi mereka."


"kalau begitu akan saya katakan pada yang lainnya-."


"Sshhh bapak jangan kasih tahu sama yang lain dulu. Karena sepertinya ini agak lama. Kami harus menyelidiki siapa saja kawanan perampok itu."


"Ah maaf den. Kalau begitu, aden bisa menginap di rumah saya nanti. Akan berbahaya jika aden menemui aki lurah tisno. Rumahnya dijaga kawanan perampok den."


"Baiklah. Kami akan membahasnya bersama bapak saja. Tapi ingat. Bapak jangan mengatakan apapun pada yang lainnya tentang masalah ini."


"Baik den. Tapi untuk saat ini aden bisa menyamar dulu. Jika aden mau melihat seberapa banyak kekuatan kawanan perampok, mereka berada di rumah-rumah mewah. Atau berada di kebun warga yang sedang panen den."


"Terima kasih informasi yang bapak berikan. Kami akan melihat keadaan sekitar dulu."


"Aden berhati-hati. Karena mereka bukan orang sembarangan den."


"Baiklah pak, kami pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Kelalawar Hitam dan Selendang Merah pergi meninggalkan pasar. Mereka menuju tempat-tempat yang dikatakan oleh bapak itu.


"Semoga saja dengan kedatangan mereka, kawanan perampok itu bisa diatasi segera mungkin." Ia sangat berharap, jika kedua orang itu mampu mengatasi masalah di desa ini. Karena mereka sudah tidak tahan lagi dengan kekejaman kawanan perampok yang menguasai desa mereka.


Sementara itu. Selendang Merah dan Kelalawar Hitam. Mereka mengamati beberapa kebun yang ada di desa ini. Kebun singkong, hasil pangan yang cukup memberikan hasil. Salah satu kebun ini ternyata diawasi oleh kawanan perompak.


"Cepat kerjakan!. Kau ini benar-benar pemalas!." Bentak seorang laki-laki berbadan agak tegap, dengan suara yang sangat keras. Tentunya suara itu menakuti warga desa, sehingga mereka bekerja dibawah tekanan dari salah satu kawanan perampok itu.


"Bagaimana ini nini. Apakah kita langsung mengatasi yang satu ini?."


"Langsung saja. Tidak perlu basa-basi lagi. Karena tindakan orang itu sungguh sangat keterlaluan." Selendang Merah sudah tidak tahan lagi melihat kelakukan salah satu kawanan perampok itu.

__ADS_1


Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...****...


__ADS_2