ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEMARAHAN SANG PRABU


__ADS_3

...***...


Hari ini Prabu Praja Permana melakukan sidang untuk menentukan perkara apa saja yang telah meresahkan negeri ini.


"Saya telah melakukan pengembaraan. Dan saya menemukan banyak kendala keselamatan yang mengancam rakyat sendang agung." Sang Prabu mulai membuka pertemuan yang ia adakan bersama petinggi istana.


"Mengapa kalian hanya diam saja. Tidak melaporkan pada saya masalah ini?. Sehingga rakyat sendang agung mengatakan jika saya tidak memiliki tanggung jawab untuk keselamatan mereka?." Ada kemarahan yang ia ungkapkan kepada mereka semua. "Saya sangat kecewa pada kalian yang berusaha untuk menutupi masalah ini dari saya." Lanjutnya lagi.


"Maafkan kami gusti prabu. Kami hanya tidak ingin gusti prabu menjadi beban karena memikirkan masalah yang sedang dihadapi oleh rakyat." Balas mereka semua dengan takutnya.


"Tapi kalian semua justru malah memberi kesan buruk pada rakyat tentang diriku." Sang Prabu sangat murka pada mereka semua.


Sehingga mereka tidak lagi bersuara. Mereka tidak menyangka jika Prabu Praja Permana marah pada mereka.


"Aku akan menghukum kalian semua." Ucapnya dengan tegas.


"Ampuni kami gusti prabu. Jangan hukum kami." Mereka yang merasa paling bersalah, langsung bersujud dihadapan sang Prabu. Karena mereka sangat takut dihukum oleh sang Prabu.


"Kalian boleh bertindak semena-mena disaat adik saya yang memimpin. Tapi saya tidak akan mengampuni kalian yang telah berani mempermainkan saya dalam kesejahteraan rakyat saya." Ucap sang Prabu menatap tajam ke arah mereka.


"Saya perhatikan selama ini. Kalian hanya bersenang-senang diatas kesengsaraan rakyat saya." Ucapnya lagi. "Haruskah saya seret kalian ke tiang gantung, saya perlihatkan bagaimana para petinggi saya yang berani berpoya-poya diatas kesenjangan yang terjadi pada rakyat saya?." Ancam Sang Prabu pada mereka semua.

__ADS_1


"Tidak gusti prabu. Ampuni kami. Ampuni kesalahan kami gusti. Kami berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi gusti. Ampuni kami." Mereka mengemis ampunan pada Prabu Praja Permana. Mereka semua tidak menyangka diperhatikan oleh Raja mereka?. Karena mereka selama ini menganggap remeh sang Prabu.


"Apakah selama ini kalian pernah memikirkan saya serta rakyat saya?. Tidak!. Kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri." Balas Sang Prabu berusaha untuk menahan dirinya.


Sementara itu, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam memperhatikan itu dengan seksama. Ternyata Sang Prabu begitu perhatian pada rakyatnya. Hanya saja para petinggi istana yang berbuat semena-mena atas kekuasaan yang mereka miliki.


"Pilihan kalian adalah bersedia dihukum rakyat, atau kalian bersedia membayar denda kalian pada rakyat dari apa yang telah kalian minta selama ini." Sang Prabu memberikan pilihan pada mereka semua. "Jika kalian memilih dihukum rakyat, jangan harap kalian bisa menyogok mereka dengan memberi mereka imbalan. Saya sendiri yang akan menghukum kalian dengan hukuman buang. Karena negeri ini tidak butuh orang-orang berhati busuk. Saya akan memberhentikan kalian, dan mengirim kalian ke pulau buangan." Lanjut sang Prabu. "Jika kalian ingin berubah, maka saya akan mengawasi kalian melalui orang-orang kepercayaan saya." Kali ini sang Prabu menunjuk ke arah Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.


Mereka semua melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan aneh. "Mereka bukanlah sembarangan orang. Jika kalian berani memberontak pada saya. Atau berniat jahat pada saya, mereka akan langsung menghukum kalian. Karena mereka berdua adalah pengawal pribadi raja. Jadi kalian jangan berani macam-macam pada keduanya." Sang Prabu hanya tidak ingin mereka memperlakukan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam dengan buruk. Karena itulah ia sedikit memberi ancaman pada mereka.


"Kalian semua duduklah." Ucapnya lagi. "Setelah pertemuan ini selesai. Saya ingin kalian memikirkan dengan matang. Mengapa kalian bisa berada di istana ini. Apa tujuan kalian mengabdi di istana ini?. Saya hanya menginginkan kesejahteraan rakyat sendang agung. Jika kalian masih ingin mau diajak bekerjasama. Saya akan mengampuni kalian semua tanpa adanya dendam diantara kita." Lanjutnya lagi.


"Sandika gusti prabu." Mereka akhirnya menyerah, mengakui semua kesalahan yang telah mereka lakukan. Kesalahan apa saja yang telah mereka lakukan.


"Apakah saya telah salah mengancam mereka semua?." Ia bertanya pada mereka berdua.


"Itu adalah tindakan benar gusti prabu. Kami sangat bangga memiliki raja yang seperti ini." Selendang Merah tersenyum bangga dibalik kain merah tipis yang menutupi wajahnya.


"Hamba rasa itu tindakan yang tepat gusti prabu. Jika demi kesejahteraan rakyat. Kami akan mendukung apa saja yang akan gusti prabu lakukan. Kami akan menjamin keselamatan gusti prabu." Kelalawar Hitam sangat setuju.


"Terima kasih saya ucapkan pada kalian yang mendukung saya." Sang Prabu sangat senang mendengarnya.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kami lakukan gusti prabu?." Tanya Selendang Merah.


"Beri kami tugas untuk mengamankan desa terdekat gusti. Kami akan melakukannya dengan sebaik-baiknya." Kelalawar Hitam mulai bersemangat jika bertugas bersama Selendang Merah.


"Baiklah. Saya akan memberikan kalian tugas untuk mengamankan desa yang tak jauh dari kota raja. Saya sangat khawatir, karena desa itu katanya sedang dikuasai oleh salah satu anak buah kelompok setan jahat." Sang Prabu sangat berharap, keduanya bisa melakukan tugas dengan baik.


"Sandika gusti prabu." Keduanya langsung menyambut perintah dari raja dengan baik.


"Kami pamit gusti prabu. Sampurasun." Keduanya memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Rampes." Balas Sang Prabu mempersilahkan keduanya berangkat melaksanakan tugas mereka. "Semoga saja mereka dapat melakukan tugas mereka dengan baik. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan pada kalian berdua." Dalam hatinya sangat berharap sekaligus cemas karena takut terjadi sesuatu pada mereka. "Mau sampai kapan mereka akan seperti itu?. Setelah aku ancam baru mereka meminta tugas padaku?. Memangnya selama ini mereka tidak mengetahui tugas apa yang mereka kerjakan?. Sehingga mereka hanya berleha-leha saja?. Ini sungguh sangat keterlaluan." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa heran dengan petinggi Istana. "Apakah mereka ingin menghancurkan negeri ini secara perlahan dari dalam?. Astaghfirullah hal'azim ya. Lindungilah negeri ini dari pikiran dan orang-orang yang jahat seperti itu ya Allah." Itulah yang ditakutkan oleh Prabu Praja Permana selama ini. "Aku tidak akan membiarkan negeri ini kacau. Selama aku menjadi raja, akan aku lakukan dengan baik. Semoga Allah SWT meridhoi apa yang akan aku lakukan. aamiin ya Allah." Sang Prabu hanya berharap akan ada perubahan di negeri yang ia pimpin saat ini.


Sementara itu, disisi lain. Pangeran Wira Wijaksana memperhatikan bagaimana kesungguhan dari kedua orang itu menjalankan perintah Prabu Praja Permana.


"Sungguh beruntung sekali kanda prabu menemukan orang-orang yang mau bekerjasama dengannya. Sangat berbeda sekali denganku." Terselip rasa iri dihatinya ketika ia menjadi raja. Tidak ada satupun yang mendukungnya. Ia merasa bekerja sendirian.


Sedangkan kakaknya Prabu Praja Permana dapat dengan mudah mengetahui siapa saja petinggi Istana yang berani bermain-main dengan hukum kerajaan. Dan bahkan mengetahui siapa saja petinggi Istana yang telah melakukan penyelewengan kekuasaan.


"Sepertinya negeri akan pulih ditangan kanda prabu. Sementara mereka semua membenci setiap kebijakan yang aku putuskan." Hatinya sangat sakit mengingat bagaimana mereka protes terhadap dirinya Pada saat itu. "Suatu saat nanti akan aku tunjukan bagaimana seorang raja kuat berkuasa pada kalian." Di dalam hatinya mulai menunjukkan sikap tidak suka yang ia rasakan.


Ia tidak menyangka, pengembaraan yang dilakukan oleh kakaknya itu membawakan hasil. Kakaknya lebih mengetahui lebih jelas akar permasalahan yang ada di sini. Ditimbang memerintahkan abdi dalam istana, yang ternyata selama ini hanya menyenangkan hati Raja saja. "Kita lihat saja kanda prabu. Sampai sejauh mana kau bisa mempertahankan tahta yang kau miliki saat ini. Apakah kau sanggup bertahan lebih lama lagi?. Aku ingin menjadi saksi kehancuran mu pada saat itu kanda prabu." Pangeran Wira Wijaksana menyeringai lebar. Membayangkan kakaknya Prabu Praja Permana diadili rakyatnya sendiri.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.


...***...


__ADS_2