ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
HUKUMAN DAN RAHASIA


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana dan Selendang Merah telah memainkan jurus yang sama, yaitunya jurus penusuk raga. Lawannya jurus petik api menerkam raga. Jurus yang menggunakan jari yang disalurkan tenaga dalam, namun jika terkena jurus itu, bukan hanya menyakiti lawan, namun gerakan lawan juga akan terhenti. Karena aliran tenaga dalamnya benar-benar dilumpuhkan secara total. Meskipun hampir sama dengan jurus totokan biasa namun, dampak dari jurus ini, tubuh lawannya akan kesakitan sampai ke dalam. Sehingga akan berpengaruh pada tenaga dalam mereka. Benar-benar dikacaukan dari dalam, karena itulah jurus itu sangat berbahaya.


Prabu Praja Permana menyerang Bhayangkara Ra Lilur, sedangkan Selendang Merah menyerang Pangeran Wira Wijaksana. Lalu bagaimana dengan Kelalawar Hitam?. Seperti yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana, bahwa tugasnya adalah mengawasi pertarungan itu, bila Bhayangkara Ra Lilur melakukan kecurangan dalam penyerangan itu.


Dengan gerakan yang ringan, Prabu Praja Permana dan Selendang Merah terus menyerang mangsa mereka. Dengan tatapan mata yang tajam, serta sorot mata mereka yang tidak lepas dari target, keduanya benar-benar membuat mereka kewalahan.


"Gerakan mereka sangat kuat, sehingga pangeran wira wijaksana, juga bhayangkara itu tidak bisa mengimbangi gerakan mereka." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa kagum dengan apa yang ia lihat.


Selendang Merah membuat gerakan tipuan-tipuan untuk membuat Pangeran Wira Wijaksana kewalahan. Dan benar saja. Disaat Selendang Merah melihat kesempatan itu, ia berhasil menusukkan jarinya beberapa kali di dada Pangeran Wira Wijaksana, hingga membuatnya meringis kesakitan. Karena tusukan jari itu seperti menembus hingga ke tubuhnya. Hanya beberapa kali tusukan jari dari Selendang Merah, Pangeran Wira Wijaksana merasakan tenaga dalamnya benar-benar terkuras, dan ia tidak bergerak lagi.


"Kegh."


Ia meringis sakit, dan terlihat darah segar mengalir di sudut bibirnya. Ia tidak bisa bergerak sama sekali, karena jurus itu langsung menutup aliran tenaga dalamnya secara total.


"Khurang ajharr kau nimas rembulan indah. Tega sekali kau memperlakukan aku seperti ini."


"Kau tidak usah banyak bicara wira wijaksana. Bahkan aku sangat tega membunuhmu, jika aku mendapatkan perintah dari gusti prabu."


"Apakah kau tidak mencintaiku lagi nimas?. Apakah sampai disitu saja rasa cinta yang kau miliki untukku?."


"Aku ini bukan rembulan indah yang kau kenal. Hatiku sudah mati, sejak kau menyelewang di hadapanku dengan terang-terangan. Kau mengatakan jika aku masih mencintaimu?. Kau jangan banyak bermimpi wira wijaksana. Dan terima saja hukumanmu. Setelah ini kau tidak akan lagi bisa menggunakan tenaga dalammu. Kau pasti mengetahui resiko jika kau terkena jurus itu bukan?."


Deg!!!


Sedangkan Prabu Praja Permana juga berhasil melancarkan serangannya pada Bhayangkara Ra Lilur. Prabu Praja Permana tidak main lagi, jarinya menusuk dada serta punggung Bhayangkara Ra Lilur sehingga ia tidak bisa bergerak lagi.


"Ohokgh."


Bhayangkara Ra Lilur terbatuk dan muntah darah. Tubuhnya terasa sakit, dan kaku tidak bisa digerakkan sama sekali.

__ADS_1


"Akhirnya kejahatanmu terungkap juga. Dan kau akan menerima hukuman atas apa yang telah kau lakukan. Kau akan menerima hukuman buang."


"Gusti prabu. Izinkan hamba untuk membawanya ke penjara."


"Baiklah adimas. Aku serahkan penjahat ini pada adimas."


"Sandika gusti prabu."


Kelalawar Hitam membawa Bhayangkara Ra Lilur yang masih dalam keadaan tertotok. Ia gendong Bhayangkara Ra Lilur, karena tubuhnya tidak bisa digerakkan. Setelah itu Prabu Praja Permana mendekati Selendang Merah.


"Penjahat ini telah hamba tangkap gusti prabu. Hukuman siap menunggunya."


"Hukum saja aku kanda prabu. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan kau lakukan padaku."


"Astaghfirullah hal'azim dinda. Sudah aku katakan, jangan menguji kesabaranku. Karena aku masih menghormatimu sebagai adikku. Dan kau masih saja bersikeras hati?."


Namun saat itu juga, kedua istrinya datang bersama Ratu Sawitri Dewi. Mereka terlihat sangat sedih, dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Pangeran Wira Wijaksana.


"Dia bahkan tidak peduli lagi dengan kami, sejak nini selendang merah datang. Bahkan tanpa perasaan ia ingin berpisah dengan kami."


"Kau dengar itu keluhan mereka wira wijaksana. Kau malah menelantarkan mereka?. Lalu bagaimana jika suatu hari nanti kau bertemu dengan yang lebih cantik dari pada aku?. Kau pasti dengan tega akan menelantarkan aku."


"Aku tidak akan berkata apa-apa lagi. Kalian semua memang menyusahkan aku saja."


"Kau memang sama dengan ibundamu wira wijaksana. Anak selir yang menginginkan lebih, dan akhirnya malah mendapatkan malapetaka."


"Heh!. Jadi ibunda ratu telah menutupi fakta bahwa aku ini bukan anak kandung ibunda ratu?. Akhirnya aku mengetahui kebenaran itu."


"Jika kau memang mengetahui siapa ibundamu, seharusnya kau tidak mengikuti hal yang buruk wira wijaksana. Kau harus mengubah lingkaran takdir itu. Tapi kau justru memasuki lingkaran yang sama."


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian katakan padaku. Bagiku kesenangan yang aku rasakan adalah kehendak yang selalu ingin aku dapatkan. Walaupun suatu hari nanti aku akan mendapatkan karmanya."

__ADS_1


"Kata-kata itu. Sama persis dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang telah melahirkanmu wira wijaksana. Kata-kata sebelum ia dihukum mati oleh kanda prabu."


Ratu Sawitri Dewi tidak akan pernah melupakan apa yang dikatakan oleh wanita selir mendiang suaminya.


"Rasanya sangat sakit mendengarkan ucapan yang sama dari turunan darah yang sama." Hati Ratu Sawitri Dewi sangat sedih mengingat apa yang terjadi dimasa itu. Benar-benar mengguncang jiwanya.


"Ibunda."


Prabu Praja Permana mendekati ibundanya, dan ia mencoba untuk menenangkan ibundanya agar tidak bersedih. Apakah yang akan terjadi setelah ini?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu, di suatu tempat. Shetan Cambuk Neraka sudah tidak tahan lagi, karena kedua temannya telah mhati ditangan Selendang Merah. Saat ini ia sedang berunding dengan gurunya Nini Amara Senjani.


"Jadi dua temanmu telah dibunuh oleh wanita itu?."


"Begitulah kabar yang aku dengar guru. Wanita itu benar-benar memburu kelompok shetan jahhat."


"Apakah kau takut dengan ancaman yang ia berikan padamu?."


"Aku tidak akan takut dengan ancaman yang ia berikan pada kami waktu itu guru. Dalam waktu yang dekat ini, akan aku cari dia, dan akan aku pastikan jika dia membayar dua nyawa yang telah ia bunuh."


"Bagus kalau begitu. Aku juga akan ikut denganmu. Dia harus membayar kematian anak laki-laki ku satu-satunya yang aku cintai."


"Dua hari lagi guru. Aku ingin menyempurnakan ajian pukulan tapak tangan dewa yang guru ajarkan. Supaya aku benar-benar bisa membubuhnya dengan jurus itu guru."


"Baiklah. Kalau begitu kita segera latihan, agar bisa menyempurnakan ajian pukulan tapak tangan dewa."


"Mari guru."


Setelah itu mereka langsung pergi keluar gubuk itu, untuk melatih kembali ajian itu agar sempurna. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Apakah mereka berhasil mengalahkan Selendang Merah yang telah mereka anggap sebagai musuh mereka?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya, agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2