ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERTARUNGAN PENUH KEBENCIAN


__ADS_3

...***...


Kelalawar Hitam saat ini sedang berhadapan dengan Setan Selendang Jingga Kematian, yang telah mengubah penampilannya. Sedangkan Selendang Merah, berhadapan dengan orang yang telah menyerangnya tadi. Sedangkan Prabu Praja Permana dan yang lainnya hanya memperhatikan pertarungan itu.


"Mohon ampun nanda prabu. Apakah kita perlu ikut dalam pertarungan itu?. Apakah kita perlu membantu selendang merah juga adiknya itu?."


"Paman arya serupa. Kita lihat saja dulu paman. Akan tetapi, jika nimas selendang merah mengalami kesulitan, maka kita perlu membantunya paman."


"Baiklah nanda prabu. Paman akan terus siaga."


"Semoga saja nimas selendang merah bisa menangkap wanita itu. Supaya negeri ini benar-benar terbebas dari kawanan perampok." Dalam hati Prabu Praja Permana berharap, jika masalah ini akan segera selesai. Tapi sepertinya itu tidak akan sesuai dengan keinginan. Karena pertarungan mereka yang sangat berbahaya.


"Ternyata kau memiliki jurus yang hampir saja dengan kakakku."


"Aku tidak sudi memiliki jurus yang sama dengannya. Akan aku habisi kau, biar dia menangis darah melihat kau terbujur mati di tanganku!."


"Kau tidak usah jumawa setan!. Aku tidak takut sama sekali menghadapai orang busuk seperti kau!."


"Tidak kau, tidak dia. Mulut kalian itu sangat kurang ajar!. Akan aku bungkam kau dengan jurus andalan ku!." Setan Selendang Jingga Kematian sangat marah, ia merasa kesal mendengarkan ucapan pedas itu.


"Keluarkan semua ilmu kanuragan yang kau miliki. Mari bermain-main denganku, agar kau tidak mati penasaran."


Setan Selendang Jingga Kematian memainkan sebuah jurus yang aneh, namun Kelalawar Hitam juga mengeluarkan jurus yang ia miliki. Mereka saat ini sedang mengerahkan tenaga dalam, untuk menjatuhkan lawan mereka.


Sementara itu, Selendang Merah saat ini sedang berhadapan dengan Pendekar Kinantara. Keduanya saat ini sedang menggunakan kekuatan kadigdayaan yang mereka miliki. Selendang Merah menyerang musuhnya dengan pukulan yang bertubi-tubi, akan tetapi masih bisa diatasi oleh Pendekar Kinantara dengan baik. Bahkan pukulan, ataupun sepakan, bahkan serangan selendang merahnya tidak bisa mengenai lelaki setengah baya itu. Hingga pada saat Selendang Merah menggunakan jurus telapak merah pencengkram pelana, musuhnya dengan mudahnya menghindari serangan itu dengan melompat ke atas pohon.

__ADS_1


"Kurang ajar!. Ternyata dia sangat kuat juga." Kesal, itulah suasana hati Selendang Merah saat ini. Karena ia tidak bisa mengalahkan Pendekar Kinantara.


"Heh!. Boleh juga ilmu kanuragan yang kau miliki. Pantas saja nila ambarawati bernafsu untuk mengalahkanmu." Ada kekaguman dari dirinya. "Kemampuanmu yang hebat itu membuat aku terkesan. Aku akan mengampuni, jika kau mau menjadi muridku."


Selendang Merah malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan Pendekar Kinantara. Rasanya ada sesuatu yang menggelitiki perutnya, sehingga ia tertawa terpingkal-pingkal.


"Bedebah!. Apa yang kau tertawakan!. Aku sama sekali tidak memberikan sebuah lawakan, sehingga kau tertawa seperti itu!."


"Ahaha aku tertawa karena ucapan bodoh mu itu. Ahaha siapa kau yang sudi menjadi muridmu kakek tua."


"Kurang ajar!. Kunyuk busuk!. Akan aku tunjukan-."


"Jurus pengiring kematian?."


Pendekar Kinantara sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Hatinya sangat panas, karena ada orang yang mengetahui jurusnya itu?. "Kau. Mengapa kau bisa mengetahui jurus yang aku miliki?!." Ia langsung melompat turun, karena ia merasa heran.


Deg!!!


"Tidak akan aku biarkan kau mencuri jurus yang telah aku pelajari dengan tekun. Kau pikir kau siapa berani berbuat seenaknya mengambil jurus lawan!." Pendekar Kinantara sangat berang, karena ia tidak akan membiarkan jurusnya ditiru oleh siapapun tanpa izin darinya. "Bersiap-siaplah kau wanita malang. Karena malam ini juga kau akan mati di tanganku." Pendekar Kinantara menggunakan jurusnya dengan baik. Memainkannya sesuai dengan apa yang telah ia pelajari selama ini.


Sedangkan Selendang Merah, juga mengikuti jurus yang sedang dimainkan oleh Pendekar Kinantara. Sementara itu, mereka semua melihat dengan jelas, bagaimana Selendang Merah meniru jurus itu dengan baik. Membuat mereka semua terkagum-kagum, karena jurus itu seperti Pendekar Kinantara memainkannya di depan cermin, saking sangat miripnya jurus yang mereka mainkan.


"Nimas selendang merah. Aku tidak menyangka jika kau mampu meniru jurus lawan dengan sempurna. Kau sangat hebat sekali." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Selendang Merah.


"Wanita itu benar-benar gila. Dia mampu meniru jurus lawan?. Itu hal yang mustahil dilakukan oleh seorang pendekar manapun." Dalam hati Patih Arya Serupa merasa kagum dengan kehebatan yang dimiliki oleh Selendang Merah.

__ADS_1


"Tunggu apalagi pak tua. Mari kita selesai pertarungan ini. Jika kau masih menganggap dirimu adalah seorang laki-laki."


"Bedebah!. Kau malah menantang aku. Maju saja kalau kau berani!."


"Baik, aku akan maju. Dan bersiaplah menerima jurusmu sendiri kakek tua."


Mereka kembali bertarung dengan sengitnya, apalagi tenaga dalam mereka menekan daerah sekitar, sehingga menimbulkan tiupan angin yang cukup kuat. Sementara itu, mereka yang menyaksikan pertarungan ini dapat merasakan dampak dari benturan dua tenaga dalam yang berusaha mendominasi satu sama lain.


"Kegh. Kurang ajar!. Ternyata dia mampu meniru jurus pengiring kematian milik guruku." Nila Ambarawati merasa kesal, dan tidak terima. "Aku membutuhkan waktu untuk mempelajari jurus itu. Namun dia?. Hanya sekali, dua kali lihat?. Dia mampu mencuri jurus itu?. Sangat kurang ajar sekali."


"Heh!. Kau tidak usah berekspresi seperti itu. Kakakku itu adalah pendekar wanita yang hebat. Sehingga mampu mencuri jurus lawan dengan cepat. Aku rasa kau tidak usah terkejut seperti itu melihat kemampuan yang dimiliki kakakku."


"Demit busuk. Itulah yang membuat aku murkanya. Aku tidak akan pernah mengampuninya."


"Kakakku tidak perlu mendapatkan pengampunan dari orang macam kau!. Justru kaulah yang akan aku singkirkan, karena kau tidak pantas berhadapan dengannya!."


"Kau benar-benar membuat aku marah!. Akan aku bunuh kau terlebih dahulu!. Hyah!."


Setan Selendang Jingga Kematian marah besar. Hatinya semakin membara, menyerang Kelalawar Hitam dengan cepat. Sedangkan Patih Arya Serupa melihat itu merasa bergidik ngeri melihat pertarungan itu.


"Sungguh mengerikan sekali pertarungan mereka. Jika tidak memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, aku rasa akan tewas dalam waktu sekejap mata."


"Mereka berbeda dengan kita paman. Mereka memiliki pengalaman bertarung dengan tingkat yang berbeda dari kita. Karena itulah paman. Jangan buat negeri ini lebih sengsara lagi, jika masih sayang nyawa." Prabu Praja Permana melirik ke arah Patih Arya Serupa.


"Maksud nanda prabu, nanda mengancam kami dengan menyuruh dua pendekar pembunuh bayaran itu untuk menghabisi kami?."

__ADS_1


"Bisa jadi seperti itu, jika sewaktu-waktu aku merasa bosan dan muak menghadapi kalian yang bisanya hanya berontak secara halus padaku paman." Prabu Praja Permana tersenyum kecil. Namun dari ucapannya itu, terdengar seperti sebuah ancaman bagi Patih Arya Serupa. Bagaimana kelanjutan pertarungan itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya, add penulisnya, dan komentar. Agar penulis yang entah gimana wujudnya ini semangat lanjutin ceritanya. Salam cinta untuk pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2