
...***...
Pertarungan antara mereka masih saja berlanjut. Dua orang yang menggunakan jurus yang sama. Yaitunya jurus pengiring kematian, jurus yang tidak enak untuk dirasakan. Gerakan mereka yang seperti sedang saling menarik tenaga dalam musuhnya.
"Kegh. Aku tidak menyangka, jika wanita itu memang sangat sakti. Pantas saja muridku nila ambarawati kewalahan menghadapinya." Dalam hati Pendekar Kinantara merasa cemas, karena tenaga dalamnya benar-benar terkuras karena jurus tiruan itu.
"Kakek tua ini ternyata memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Aku tidak akan membiarkan dia mengalahkan aku. Akan berbahaya, jika gusti prabu terluka dalam keadaan seperti ini." Dalam hati Selendang Merah, masih memikirkan keselamatan Prabu Praja Permana. "Baiklah. Kalau begitu akan aku gunakan pedang penghancur roh. Pedang itu satu-satunya harapanku." Selendang Merah menghentikan serangan tenaga dalamnya. Tentunya membuat Pendekar Kinantara terkejut. Karena ia menghentikan jurus itu begitu saja?. Matanya menangkap, wanita itu melompat ke belakang. Ia terlihat membuat gerakan pemanggil sebuah benda yang disimpan di dalam tubuhnya.
Dan benar saja. Ada sebuah pedang yang agak aneh. Mata Pendekar Kinantara menyipit kecil, karena ia penasaran dengan pedang yang ada di tangan Selendang Merah. "Kunyuk busuk!. Pedang apa yang kau gunakan itu?. Mengapa memancarkan hawa hitam seperti itu?." Marah, dan kesal. Itulah perasaan yang dirasakannya.
"Ini adalah perang penghancur roh. Pedang yang bisa membunuh siapa saja."
Mereka semua terkejut, bagaimana mungkin Selendang Merah memiliki pedang itu?. Mengapa ia bisa mendapatkan pedang berbahaya itu?.
"Heh!. Aku sama sekali tidak takut dengan pedang itu. Akan aku patah menjadi kepingan tidak berguna pedang itu."
"Lakukan saja jika kau bisa. Hyah!." Selendang merah melompat terbang, tubuhnya yang seringan kapas menerjang ke arah Pendekar Kinantara, sambil menghunuskan pedang itu ke depan.
"Wanita itu benar-benar gila. Dan pantas saja dia dijuluki pendekar pembunuh bayaran selendang merah penerbar maut." Kedua Senopati, merasa kagum dengan apa yang mereka lihat. Pertarungan yang sangat mengejutkan bagi mereka.
Apalagi ketika Selendang Merah dengan lihainya memainkan pedang itu. Membuat Pendekar Kinantara merasa kewalahan menghadapi jurus pedang itu.
Di sisi lain. Kelalawar Hitam dan Setan Selendang Jingga Kematian semakin ganas bertarung, membuat mereka benar-benar tidak bisa mendekati pertarungan itu, apalagi ikut campur dalam pertarungan itu.
"Mereka memiliki ilmu kanuragan yang sangat berbeda. Sama-sama memiliki keganasan dalam bertarung, namun nimas selendang merah juga adimas kelalawar hitam, saat ini berada dipihak ku." Dalam hati Prabu Praja Permana merasakan keganasan pertarungan itu.
Kembali pada Selendang Merah yang saat ini merasa unggul, dan ia berhasil melukai Pendekar Kinantara.
__ADS_1
Srakh!. Srakh!.
Dua kali sayatan di dadanya cukup membuat Pendekar Kinantara berteriak kesakitan. Ia tidak menyangka akan mendapatkan serangan ganas itu.
"Keghak." Teriakan panjang terdengar begitu saja.
"Guru!." Setan Selendang Jingga Kematian tidak menyangka jika gurunya akan mendapatkan serangan pedang aneh itu. Ia segera menghampiri yang terguling di tanah. Setelah ia mendapatkan sebuah sepakan dari Selendang Merah.
"Guru!. Bertahanlah!. Aku mohon." Hatinya sangat sedih dan tidak percaya, jika gurunya terluka?. Hatinya merasa sedih, karena gurunya terluka oleh musuhnya?.
"Kau harus membayar semua ini. Pedang penghancur roh telah berhasil melukai dadaku." Dengan suara yang parau ia mencoba berbicara dengan muridnya. "Aku tidak yakin akan bertahan lama lagi. Karena pedang itu memang sesuai dengan namanya."
"Tidak guru!. Aku yakin kau bisa bertahan!." setan Selendang Jingga Kematian jangan geram, ia mengetahui dengan jelas bagaimana dampak dari jurus pedang penghancur roh.
"Jurus pedang sangat ganas. Gunakan jurus pematik api semburan kilat. Habisi dia dengan jurus itu." Setelah berkata seperti itu, ia terdiam, dan bahkan matanya terpejam. Pedang Penghancur roh itu tidak bisa dianggap remeh. Karena sangat berbahaya dalam membunuh lawannya.
"Siapa yang menyuruh kalian pergi dari sini hum?. Setelah apa yang kalian perbuat, maka kalian harus bertanggungjawab atas apa yang kalian lakukan. Kalian pikir akan bisa lari dariku?. Rasanya sangat mustahil.
"Tidak usah kau bersedih dengan kematiannya. Karena kau juga akan mati menyusulnya." Selendang Merah mendengus kecil.
"Nini. Apakah dia sudah tewas?."
"Tentu saja dia sudah mati. Karena pedang penghancur roh, tidak bisa hadir begitu saja tanpa sebab."
"Kau akan aku bunuh selendang merah. Kau akan mati ditanganku!."
"Coba saja kalau kau sanggup. Aku tidak akan mati dengan mudahnya."
__ADS_1
Kali ini malah pertarungan Setan Selendang Merah, dengan Selendang Merah. Pertarungan yang sangat menguras api. Selendang Merah mencoba menangkan dirinya, dan berpikir kembali ke masa itu. Namun Selendang Merah masih unggul, sehingga Setan Selendang Jingga merasa kesal. Dan mengeluarkan jurus pematik api semburan kilat.
"Jadi, masih ada satu jurus lagi yang cukup berbahaya?. Akan aku curi jurus itu." Seringaian sangat jelas sekali di wajahnya. Ia tidak sabar melihat jauh ke dalam mata seseorang, dan ia tidak menduga jika akhirnya ia selalu meniru jurus lawan?.
"Maju saja ke sini. Akan aku habisi kau." Begitu ia melangkah, terdengar seperti parikan api dari batu. Sedangkan mereka semua yang ada di sana sangat terkejut.
Apalagi pertarungan itu kembali terjadi, karena kali ini pertarungan antara Selendang Merah dengan Setan Selendang Jingga Kematian. Tidak ada satupun dari mereka yang sanggup melerai mereka. Bahkan Kelalawar Hitam pun hanya bisa menyimak saja. Namun saat itu, tubuh keduanya sama-sama terkena serangan, sehingga terluka dalam.
"Nini." Kelalawar Hitam segera menangkap tubuh Selendang Merah, agar tidak membentur pohon.
"Ohok."
"Nanda prabu." Patih Arya Serupa sangat terkejut, melihat prabu Praja Permana yang tiba-tiba terbatuk, dan muntah darah?. Itu sama persis yang dialami oleh Selendang Merah.
"Nimas. Kau terluka nimas." Dalam hati Prabu Praja Permana merasakan perasaan yang luar biasa cemas pada Selendang Merah."
"Nini. Bertahanlah. Aku akan menyalurkan tenaga dalam nini." Kelalawar Hitam begitu perhatian pada Selendang Merah. Sementara itu Setan Selendang Jingga Kematian sedang mengerang kesakitan. Sakit yang luar biasa. Ia melangkah dalam kerumunan itu, dan pergi meninggalkan tempat.
"Nimas." Prabu Praja Permana mendekatinya, karena ia sangat khawatir dengan keadaan Selendang Merah yang masih terluka parah. "Nimas, ayo kita kembali ke istana. Ada banyak hal yang harus dijalankan." Ia tidak tega melihat keadaan Selendang Merah yang sedang terluka. Ia juga dapat merasakannya.
"Sandika gusti prabu."
"Adimas, tolong bawa nimas selendang merah menuju ke istana."
"Sandika gusti prabu."
"Dan kalian!. Segera kembali istana. Setelah ini kita sidang. Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi. Apakah ceritanya masih seru?. Temukan lanjutan cerita.
__ADS_1
...***...