
...***...
Sosok misterius itu tertawa keras. Ia menertawakan apa yang dikatakan oleh Setan selendang jingga kematian. Entah dimana letak lucunya, namun ia tidak bisa menahan hasrat untuk tertawa.
"Kau ini masih saja bodoh ya." Ucapnya dengan nada merendahkan. "Tapi siapa sangka setan selendang jingga kematian itu adalah kau. Nila ambarawati." Sosok misterius menggunakan selendang merah untuk menutupi sebagian wajahnya itu ternyata mengenali siapa Setan Selendang Jingga kematian?.
Tentunya membuat mereka semua terkejut. Bagaimana mungkin orang itu tau nama asli dari Setan Selendang Jingga kematian?.
"Siapa kau bedebah!. Mengapa kau tau nama asliku?. Kau bahkan berani sekali mengatakan aku ini bodoh!." Setan Selendang Jingga kematian terlihat sangat marah. Ia tidak menyangka ada yang mengenali dirinya?.
Siapa orang itu?.
Wanita itu membuka selendang merah yang menutupi sebagian wajahnya itu.
"Apakah kau tidak ingat denganku?. Nila ambarawati." senyum itu, senyuman lebar penuh misteri. Menyuruh Nila Ambarawati atau yang kini dikenal sebagai Setan Selendang Jingga Kematian.
"Kau!. Bukankah kau!." Setan Selendang Jingga kematian terkejut, ia masih mengingat sosok itu, sosok yang paling ia benci.
"Delapan belas tahun telah berlalu, tapi aku tidak akan mudah melupakan semua yang kau lakukan padaku, bedebah busuk!." Umpatan dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya.
"Heh!. Kau lah yang berbuat salah. Tapi kau malah menyalahkan aku?!." sosok misterius itu ternyata adalah Rembulan indah, atau nama lainnya adalah pendekar pembunuh bayaran selendang merah.
"Aku telah bersumpah. Jika aku bertemu denganmu lagi, akan aku bunuh kau!." Kemarahan yang menguasai dirinya tidak bisa ia tahan lagi, ia langsung menyerang Selendang merah.
Selendang merah tidak akan tinggal diam jika dirinya diserang. Ia menghindari serangan setan Selendang Jingga kematian. Ia tidak akan begitu saja diserang oleh wanita itu. Dengan menggunakan jurus-jurus yang ia miliki, ia sesekali juga menyerang Setan Selendang Jingga Kematian.
"Apakah yunda mengenali orang itu?." Setan Cambuk Neraka sedikit heran, apalagi kemarahan yang ditunjukkan oleh kakaknya itu. Ia tidak tahu dendam apa, atau kejadian apa yang terjadi diantara mereka. Namun yang pasti sepertinya mereka saling bermusuhan.
__ADS_1
"Entahlah nimas. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya, atau saling dekat sebelumnya." Setan Tombak Pencabut Nyawa tidak mengerti. Tetapi sepertinya pertarungan mereka yang sangat cepat, sehingga mereka hampir tidak bisa melihat pertarungan itu.
Juga beberapa jurus yang dimainkan oleh Selendang merah, sama dengan jurus yang dimainkan oleh Setan Selendang jingga kematian. Apakah itu membuktikan bahwa mereka memang pernah mengenal satu sama lain.
"Kita tidak mungkin diam saja bukan?. Mari kita bantu ketua." Setan Sabit Jahanam menyarankan agar membantu ketua mereka menghadapi orang itu. Sepertinya Setan Selendang Jingga Kematian agak kesulitan untuk melawan Selendang Merah.
"Baiklah. Mari kita bantu yunda untuk menghadapi wanita itu." Setan Cambuk Neraka setuju. Ia tidak akan membiarkan setan selendang jingga kematian bertarung sendirian.
Selendang Merah terkejut karena mendapatkan serangan mendadak dari mereka bertiga, tetapi Selendang Merah selalu waspada, hingga serangan itu bisa ia hindari.
"Heh!. Main keroyokan. Benar-benar pengecut!. Pecundang seperti kalian tidak pantas melawan aku." Selendang Merah berada di hadapan mereka. Mata elangnya membaca semua gerakan tubuh mereka. Kurus-jurus apa saja yang mereka gunakan, sehingga ia bisa mengatasi jurus mereka dengan mudahnya.
Selendang Merah mewaspadai serangan itu dengan jurus air Samudera menggulung karang. Jurus itu ia gabungkan dengan jurus selendang menyapu angin. Sungguh jurus jitu yang lumayan membuat mereka kerepotan menghadapinya.
Ketika mereka bertiga hendak melangkah menyerang, namun mereka terkena hantaman Selendang Merah, sehingga mengenai dada mereka. Mereka terlempar cukup jauh karena serangan itu. Setan Selendang Jingga kematian terkejut melihat itu. Ia tidak menyangka anak buahnya terkena serangan jurus itu.
"Beraninya kau menyerang mereka." Setan Selendang Jingga kematian semakin marah, ia membalas serangan Selendang Merah. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Selendang Merah pada ketiga anak buahnya.
"Heh! Katakan pada mereka. Kekuatan seperti itu tidak akan bisa melukaiku!" Selendang Merah telah mewaspadai serangan balik dari setan selendang jingga kematian. Sehingga ia dengan mudah ia menepis serangan itu.
"Sombong!. Kau terlalu sombong bedebah busuk!." Hatinya dipenuhi kemarahan yang luar biasa. "Mulut kurang ajarmu itu harus aku cincang. Biar tidak bisa berbicara lagi." Dengan ganasnya ia menyerang Selendang Merah. Ia lampiaskan kemarahannya pada orang yang paling ia benci.
Lagi dan lagi pertarungan diantara mereka terjadi. Jurus-jurus mereka semakin ganas. Meskipun sama-sama wanita, namun tenaga dalam mereka tidak bisa dianggap remeh. Pertarungan itu cukup lama berlangsung, hingga akhirnya selendang merah berhasil memukul mundur setan selendang jingga kematian.
"Akh." Ia meringis kesakitan karena terkena pukulan dan tendangan ditubuhnya.
"Yunda." Mereka semua yang masih kesakitan mencoba untuk mendekati Setan Selendang Jingga Kematian.
__ADS_1
"Bedebah. Ilmu kanuragannya yang ia miliki semakin tinggi." Ia mengeluarkan sumpah serapah. Tubuhnya terasa sakit, hingga ia sedikit kesulitan untuk bergerak.
"Tidak usah kau mengumpat mengeluarkan sumpah serapah yang tidak berguna seperti itu." Selendang Merah menatap muak pada wanita itu. "Jika kau masih penasaran atau tidak suka, mari kita lanjutkan pertarungan kita. Atau kau terlalu takut berhadapan denganku?. Katakan saja kalau kau takut padaku." Lanjutnya dengan senyumannya yang meremehkan.
"Diam kau bedebah busuk!." Setan Selendang Merah benar-benar emosi tingkat tinggi mendengarkan ucapan itu.
Selendang Merah hanya tertawa geli melihat kemarahan yang ditunjukkan Setan Selendang Jingga Kematian. Rasanya ada kepuasan tersendiri baginya membuat orang lain emosi seperti itu pada dirinya.
"Orang itu sangat kurang ajar!. Biar aku hadapi dia nini." Setan Tombak Pencabut Nyawa merasa tersinggung dengan itu.
"Benar yunda. Aku ingin menghajar wanita kurang ajar yang telah berani merendahkan yunda." Setan Cambuk Neraka juga tidak terima dengan itu.
"Untuk saat ini kita mundur saja. Lain kali akan kita habisi dia dengan tangan kita." Ya, ia berjanji akan akan membalas kekalahan itu.
"Awas saja kau bedebah busuk!. lain kali kita akan bertemu lagi. Dan saat itu, akan aku buat mulutmu itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata sombong lagi padaku." Hatinya telah dipenuhi oleh rasa dendam dan benci yang semakin bertambah.
"Datang saja sesuka hati yang kau inginkan. Aku akan menerima kedatanganku dengan senang hati." Balas Selendang Merah dengan suara yang sangat keras. Karena kelompok Setan Jahat meninggalkan dirinya.
"Delapan belas tahun. Bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui. Dan kau datang padaku dengan membuat kelompok kejahatan?. Kau itu masih memiliki hati atau tidak?. Wanita macam apa kau ini." Hatinya bertanya-tanya. Ia juga seorang wanita. Tetapi tidak wanita yang seperti itu. Meninggalkan bekas luka pada orang lain, dan setelah itu pergi sesuka hatinya?.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
Baca terus kisahnya.
Asmara di Ujung Waktu.
Mohon dukungannya ya.
__ADS_1
...***...