ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
MEREKA SIAPA?.


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang mengamati Andara Wijaya dan Sandi Praha yang sedang latihan bersama Kelalawar Hitam. Saat ini ia masih memikirkan apa yang akan ia lakukan tanpa Selendang Merah?. Namun di sisi lain, masih ada yang harus ia kerjakan.


"Mohon ampun nanda prabu. Saya menghadap." Patih Mandala Restu menemui Prabu Praja Permana yang saat ini sedang duduk di pendopo halaman belakang istana.


"Duduklah paman." Prabu Praja Permana mempersilahkan Patih Mandala Restu untuk duduk di hadapannya.


"Terima kasih nanda prabu." Setelah memberi hormat, Patih Mandala Restu duduk dengan tenang.


"Ini masih pagi paman patih. Tapi wajah paman terlihat sangat kusut sekali." Prabu Praja Permana tersenyum kecil.


"Rasanya sangat meresahkan sekali nanda prabu. Kabar tentang kanda patih arya serupa yang menjadi bahan gunjingan sepanjang jalan ketika saya menuju istana ini." Itulah yang membuat ia merasa resah.


"Itu adalah resiko dari sebuah perilaku tamak yang kita petik setelah melakukan sesuatu yang tidak baik paman. Saya harap paman jangan sampai bernasib yang sama, hanya karena keinginan tidak baik." Prabu Praja Permana masih mengamati Andara Wijaya, Kelalawar Hitam dan Sandi Praha.


"Semoga saja saya tidak melakukan pembuatan bodoh itu nanda prabu. Rasanya hidup saya akan menderita jika saya melakukan itu. Hidup saya akan terhina seumur hidup jika semua orang mengetahui apa yang saya kerjakan." Patih Mandala Restu merasa merinding membayangkan jika dirinya melakukan perbuatan bodoh itu.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika paman masih memiliki urat malu yang belum putus." Matanya masih belum lepas dari ketiga anak muda yang masih semangat untuk berlatih. "Saya sangat menghargai keputusan paman." Matanya sempat melihat ke arah Patih Mandala Restu. Namun setelah itu ia arahkan lagi ke arah ketiga anak muda yang masih berlatih.


"Sepertinya nanda prabu sedang mengamati mereka bertiga. Memangnya siapa mereka bertiga itu?. Maaf, paman belum mengenal mereka." Patih Mandala Restu merasa penasaran dengan mereka bertiga.


"Apakah paman tidak menyadari jika anak muda yang memiliki raut wajah yang ceria itu adalah putra dari dinda wira wijaksana?." Prabu Praja Permana balik bertanya.


"Putra dari nanda wira wijaksana?." Patih Mandala Restu sedikit heran. "Tapi anak itu terlihat sudah besar. Apakah nanda prabu tidak salah?."


Prabu Praja Permana hanya menghela nafasnya. "Paman Patih tidak perlu heran begitu. Bahkan di umurnya yang kelima belas tahun ia telah memiliki hampir lima anak dari wanita yang berbeda." Jika Prabu Praja Permana bisa mengatakan hal yang seperti itu maka akan ia katakan pada Patih Mandala Restu agar ia tidak terlalu heran lagi. Namun seperti pepatah yang baik mengatakan. Simpanlah atau sembunyikan aib saudaramu, maka Allah SWT akan menyimpan aib mu juga.

__ADS_1


"Maaf nanda prabu. Karena selama ini paman belum pernah melihatnya." Begitu besar rasa penasaran yang ada dihatinya saat ini.


"Ia dibesarkan oleh nimas selendang merah. Jadi wajar saja paman tidak melihatnya." Jawab Prabu Praja Permana.


"Jadi begitu?. Lalu bagaimana dengan duanya lagi?." Patih Mandala Restu masih bertanya.


"Yang lebih dewasa adik nimas selendang merah. Dan yang satunya lagi anak anak angkat saya. Namanya sandi praha."


"Nanda prabu memiliki anak angkat?."


"Benar paman patih. Itulah yang terjadi." Prabu Praja Permana tersenyum kecil. Ia tahu jika Patih Mandala Restu akan bertanya banyak hal tentang mereka. Namun ia harus waspada dengan jawaban yang akan ia berikan pada Patih Mandala Restu.


...***...


Selendang Merah saat ini sedang dalam perjalanan menuju desa Bayang Kabung. Desa yang paling ujung dari kerajaan Sendang Agung. Perjalanan menuju ke sana hampir mencapai satu hari. Karena itulah menggunakan bedati.


"Pak. Apakah ini masih lama?." Selendang Merah agak mengeraskan suaranya karena ia tidak tahan lagi.


"Kita hampir memasuki desa lubung setia. Dan mungkin kita akan sampai besok pagi nimas." Balas laki-laki yang sedang menjadi kusir bedati itu.


Akan tetapi tiba-tiba saja bedati itu terhenti, karena kuda itu dikejutkan oleh beberapa orang yang melompat di hadapan mereka. Selendang Merah merintih kecil, karena kepalanya membentur bedati itu.


"Ada apa pak?. Kenapa malah berhenti mendadak?." Keluh Selendang Merah sedikit kesal.


"Maafkan saya nimas. Ada beberapa orang yang mencegat perjalanan kita." Jawabnya agak sedikit takut, karena mereka membawa senjata berupa golok.


Matanya menatap ke depan. "Ternyata cuman kumpulan kunyuk jelek saja." Selendang Merah menatap kesal ke arah mereka semua.

__ADS_1


"Hei!. Kau!. Turun!. Kami adalah tukang rampok!. Jika kau dan tuan atau nyonya yang ada di dalam bedati itu sebaiknya menyerahkan harta yang kalian bawa!. Dari pada celaka karena melawan kami!."


"Segera tinggalkan bedati itu!. Juga tinggalkan harta kalian!. Dan kalian pulang dengan jalan kaki!."


Mereka semua malah tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh salah satu dari teman mereka.


"Maaf nimas. Apakah yang akan kita lakukan?. Apakah kita akan menyerah begitu saja?." Sepertinya pak kusir itu sangat ketakutan. Ia tidak memiliki ilmu kepandaian apapun untuk melindungi dirinya juga melindungi Selendang Merah. Tanpa banyak bicara, Selendang Merah turun dan berjalan mendekati mereka semua.


"Oh nimas. Apa yang nimas lakukan?. Jangan mendekati mereka semua." Pak kusir sangat takut, kakinya sampai kaku saking takutnya. "Oh gusti, maafkan hamba yang tidak bisa menyelamatkan nimas selendang merah. Hamba mohon jangan hukum hamba nantinya." Dalam hatinya sangat berharap jika ia tidak akan dihukum mati karena Selendang Merah yang ingin menghajar mereka semua.


Tanpa menghiraukan panggilan dari pak kusir, Selendang Merah terus berjalan, hingga berdiri di hadapan mereka semua. Mereka merasa terpukau saat ada wanita bercadar merah mendekati mereka semua.


"Kalian ini sungguh tidak sayang nyawa." Selendang Merah melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam. Tapi mereka semua malah tertawa karena merasa lucu dengan apa yang dikatakan Selendang Merah.


"Kau mau mengancam kami manis?. Berani juga kau rupanya. Ahahaha!."


"Dari pada bertarung, nanti kau akan berkeringat. Jika kau berkeringat, nanti penampilanmu tidak akan cantik lagi."


"Sebaiknya kau tidak usah melakukan perlawanan yang sia-sia. Kau ikut kami ke tempat yang akan memberikanmu merasakan kepuasan dunia."


Kembali mereka tertawa terbahak-bahak setelah bertakwa seperti itu. Ada bentuk rasa kepuasan tersendiri bagi mereka yang seakan mempermainkan perasaan Selendang Merah.


DUAKH!. DAUKH!.


Selendang Merah tanpa aba-aba menyerang mereka semua. Selendang merah yang entah kapan ia keluarkan itu menghantam mereka semua. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2